
Bisma baru saja pulang dari masjid untuk menunaikan ibadah shalat magrib, dia duduk dikursi teras kontrakannya.
Entah apa yang sedang dia fikirkan, perasaannya masih saja belum tenang walaupun sudah melaksanakan sholat.
Dia kembali mengingat kejadian waktu Dicky meminta Billa untuk melakukan hal itu bersamanya.
Bisma benar-benar sangat gelisah, dia takut jika diam-diam Dicky kembali menemui Billa dan berbuat yang macam-macam.
Dia sama sekali tak bisa menenagkan fikirannya yang terus saja mengkhawatirkan Billa.
Bayangan perempuan itu yang sedang menangis terus saja muncul dibenaknya.
Bisma tak bisa tinggal diam, dia harus segera menemui perempuan itu untuk memastikan keadaanya baik-baik saja.
Diapun segera melepas sarung yang dikenakannya dan menyambar jaket yang menggantung.
Diapun bergegas pergi menggunakan motornya.
***
Billa berjalan sendirian ditrotoar jalan sambil menenteng tas besar berisikan pakaiannya.
Dia tak tau harus kemana membawa raganya pergi, walau kakinya terasa sangat lemas, dia terus berjalan menyusuri jalanan ditengah gelapnya malam ini.
Sungguh, tak ada sesuatu yang buruk dari ini.
Dia terlihat seperti orang gila, dengan pakaian yang lusuh, wajah yang tak menentu karena sedari tadi terus menangis, rambut yang berantakkan.
Sebenarnya kepalanya terasa sangat pusing, tapi dia mencoba untuk tetap bertahan agar tidak sampai tumbang.
Dari sekian masalah yang pernah dia hadapi, ini adalah hal yang paling buruk.
Semua masalah ini benar-benar telah merenggut semua yang dia miliki.
Kekasihnya, tempat tinggalnya, pekerjaannya bahkan papanya.
Billa merasa sudah tak ada yang bisa diharapkan dalam hidupnya, dia berfikir jika semua perkataan ibu tirinya memang benar.
Hidupnya hanyalah sebuah kutukan hingga sangat mustahil untuknya mendapatkan kebahagiaan.
Sudahlah, ini semua telah terjadi. Billa harus bisa menerimanya walaupun rasanya sangat perih.
Dia tak dapat melawan takdir, mungkin ini yang Tuhan kehendaki dalam hidupnya.
Tuhan hanya memberinya penderitaan, mungkin dia lupa untuk menyelipkan sedikit kebahagiaan untuknya.
Billa menyusut pipinya yang basah asal, matanya sudah membengkak karena terus menangis.
Dia harus berfikir jernih sekarang, untuk sekedar bertahan dalam hidupnya.
Dia tak bisa berlama-lama berada dalam keterpurukkan, dia harus segera bangkit.
Dia berfikir untuk pergi ke tempat kostannya waktu itu, disana masih ada beberapa barangnya yang belum sempat dia ambil.
Tapi, apa Billa akan sanggup kembali ketempat itu? Tempat dimana Bisma telah merenggut kehormatannya.
Jika bukan kesana, lalu dia harus pergi kemana lagi? Apa lagi malam semakin larut, apa dia harus tidur diemper jalan layaknya gembel.
Billa menggeleng cepat memikirkan hal itu.
Tanpa berfikir lagi dia segera menyetop angkot dan kostan menjadi tujuannya saat ini.
***
Bisma memarkirkan motornya dihalaman rumah Billa, dia segera turun dan berjalan menuju pintu.
Tok... Tok... Tok...
Bisma mengetuk pintu utama rumah itu.
Tak berselang lama pintu itupun terbuka, terlihat Tante Vera yang membukakannya.
"Assalamualaikum tante." Ucap Bisma basa-basi.
__ADS_1
Tante Vera menatapnya dengan sinis sambil melipat tangannya didada.
"Mau apa kamu?" Tanya tante Vera tanpa menjawab salam Bisma.
"Saya mau ketemu Billa tante, saya mau lhiat keadaannya." Jawab Bisma kemudian.
"Tunggu-tunggu! Jangan-jangan kamu yang sudah h****in dia?" Tuding Tante Vera.
Bisma menjadi malu sendiri mendapat tudingan seperti itu.
Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hebat banget ya, salut saya sama kamu." Ucap Tante Vera dengan nada yang meremehkan.
"Saya kasih tau, dia itu emang m*****n sama kaya ibunya. Pasti semua laki-laki dia layanin. Bukan cuma kamu aja! Jadi ada kemungkinan anak itu bukan anak kamu." Ucap Tante Vera.
Bisma sedikit tercengang dengan ucapan Tante Vera, Bisma sangat tak menyangka jika dia bisa berfikiran sejauh itu, sedangkan Bisma sendiri tak pernah berfikir sampai kesana.
Bisma sangat yakin jika Billa adalah perempuan baik-baik, hanya saja dirinya yang b*****n.
Dia menghalalkan segala cara untuk bisa memiliki perempuan itu.
Bisma memutuskan untuk tidak menggubris perkataan Tante Vera, karena itu hanya akan memperkeruh situasi saat ini.
Dia menarik nafasnya panjang sebelum berucap.
"Saya boleh ketumu Billa kan Tante?" Tanya Bisma kemudian.
"Dia nggak ada, sudah saya usir." Balas Tante Vera.
"Maksud tante apa? Tante usir Billa dari rumah ini?" Tanya Bisma sedikit kaget.
"Iya, jadi mulai sekarang rumah saya sudah terbebas dari anak-anak h***m." Balas Tante Vera.
Bisma menahan anarahnya berhadapan dengan Tante Vera, terbuat dari apa hati perempuan paruh baya itu hingga dia tega mengusir Billa yang sedang sakit disaat hamil muda?
"Tante kok tega usir Billa? Apa Tante nggak kasihan, dia lagi sakit Tan!" Ucap Bisma.
"Alah dia sakit juga gara-gara ulahnya sendiri, ehh nggak! Berdua sama kamu." Balas Tante Vera.
Apa dia baik-baik saja? Atau jangan-jangan sesuatu yang buruk telah terjadi kepadanya?
"Kalau gitu, Billa pergi kemana tante?" Tanya Bisma yang mencoba untuk tetap tenang.
"Mana saya tau, mau pergi ke neraka jahanam juga saya nggak perduli." Jawab Tante Vera asal.
Bisma benar-benar kesal menghadapi Tante Vera, kata-katanya sangat tak pantas diucapkan oleh seorang ibu.
Tanpa membalas perkataan Tante Vera, Bismapun segera berlalu meninggalkan rumah itu.
Hatinya terasa sakit ketika orang itu menghina habis-habisan perempuan yang dia cintai.
Jika saja dia bukanlah orang tua, mungkin Bisma sudah membuat mulutnya itu bungkam, namun Bisma masih mencoba untuk tetap menghargainya sebagai calon mertua.
Diapun segera menancap gas motornya untuk mencari Billa.
***
Billa baru saja turun dari angkot, dia segera berjalan melewati gang untuk sampai dikostan.
Terlihat ada beberapa pemuda yang sedang nongkrong diujung gang sana.
Billa terlihat ketakutan, dia sedikit ragu untuk melewatinya, dia masih merasa trauma dengan kejadian malam itu, dimana Bisma mengikutinya.
Terlihat beberapa ibu-ibu yang juga berjalan melewati gang, Billa segera mengikuti mereka dari belakang.
Beberapa pemuda itu terlihat berbisik-bisik, mereka menatap Billa dengan tatapan aneh, mereka membicarakan tentang penampilan Billa yang terlihat seperti gembel.
Billa yang mendapat tatapan seperti itu berusaha bersikap biasa saja, diapun segera mempercepat langkahnya beriringan dengan ibu-ibu itu.
Billa berhenti didepan kostan yang beberapa tahun pernah ditinggalinya.
Terlihat ada sebuah motor yang terparkir diteras kostan itu, dan keadaan didalam sana juga terdengar sangat ramai.
__ADS_1
'Apa mungkin udah ada yang nempatin?' Fikir Billa.
Billapun memutuskan untuk menemui Bu Rere, ibu pemilik kostan itu.
Dia segera pergi menuju rumah Bu Rere yang tidak jauh dari tempat itu.
Siapa tau masih ada kostan yang masih kosong dan Billa bisa menempatinya malam ini sehingga dia dapat beristirahat dengan tenang.
Untung saja dia masih memiliki sedikit uang sisa gajihnya bulan lalu.
Tok... Tok... Tok...
Billa mengetuk pintu rumah Bu Rere.
Tak berselang lama pintu itupun terbuka, terlihat seorang perempuan paruh baya berdiri dihadapannya.
"Malam Bu." Ucap Billa.
Bu Rere menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan, Billa yang mendapat tatapan seperti itu terlihat sedikit grogi.
"Mau apa kamu?" Tanya Bu Rere dengan sinis.
"Saya mau kost lagi ditempat ibu, apa masih ada kamar yang kosong? Saya lihat kostan yang kemarin saya tempati sudah diisi." Jawab Billa.
Bu Rere terlihat celingukan memperhatikan sekitar, sedetik kemudian dia menarik tangan Billa agar menjauh dari rumahnya.
Dia takut jika ada orang yang melihat kedatangan Billa.
Billa merasa sangat kaget dengan apa yang dilakukan Bu Rere.
Setelah menjauh beberapa meter dari rumahnya, Bu Rere menepis tangan Billa dengan kasar.
Billa sangat Bingung kenapa dirinya mendapat perlakuan seperti itu.
"Ibu kenapa sih Bu?" Tanya Billa kemudian.
"Dengerin saya ya! Saya nggak mau orang-orang tau kalau kostan saya itu pernah dijadiin tempat m****t sama kamu. Bisa-bisa mereka nggak mau lagi kost ditempat saya ini." Ucap Bu Rere dengan nada pelan tapi tidak menghilangkan kesan sinis.
Billa benar-benar tercengang dengan perkataan Bu Rere, dari mana dia mengetahui tentang hal itu?
"Ibu tau darimana?" Tanya Billa.
"Saya tau karena diseprai kamu itu banyak darah. Nggak ada lagi tempat buat kamu disini. Saya nggak mau nantinya kotsan saya ini terkena azab gara-gara perbuatan m***m kamu." Jawab Bu Rere.
Billa sangat tak menyangka, ternyata selain ibu tirinya ada juga orang yang tega menghina-hina dirinya seperti itu.
Billa merasa sakit hati, tapi dia tidak menangis, mungkin air mata sudah habis.
Billapun sangat malu ketika orang lain mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.
Tapi dia bisa apa, diapun tidak menginginkan hal itu terjadi.
"Tunggu sebentar!" Seru Bu Rere.
Dia segera pergi menuju rumahnya, Billa merasa sedikit bingung, apa yang akan dia lakukan?
Beberapa saat kemudian dia kembali dengan membawa tas besar.
Sepertinya Billa mengetahui tas itu, ya itu adalah tas miliknya.
"Ini barang-barang kamu yang ketinggalan, lebih baik sekarang kamu pergi dari sini." Seru Bu Rere, dia menaruh tas Billa ditanah.
Billa tak bisa berkata apa-apa, dia pasrah saja dengan apa yang dilakukan Bu Rernya.
Dia cukup tau diri untuk tidak memaksakan lagi kehendaknya untuk ngekost disana.
Diapun segera membawa tasnya itu, bebannya menjadi bertambah saat ini.
"Kalau gitu saya permisi Bu." Ucap Billa kemudian.
Dia segera berlalu meninggalkan Bu Rere.
"Jangan injakkan kaki disini lagi, ya!" Seru Bu Rere sedikit berteriak.
__ADS_1
Billa yang sudah sedikit menjauh tak menggubris perkataannya, itu hanya akan membuatnya lebih sakit hati lagi.
***