Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Nostalgia


__ADS_3




Dicky melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Billa merasa sangat bahagia ketika dekat dengan laki-laki itu.


Dia dapat sejenak melupakan rasa sedih yang bernaung dihatinya.


Dia sangat berharap lebih terhadap Dicky.


Tiba-tiba Dicky mengarahkan motornya ketepi jalan.


"Lho, kok kita berhenti disini? Rumah kitakan masih satu belokkan lagi?" Tanya Billa sedikit bingung.


"Kamu lupa tempat ini?" Dicky balik bertanya.


"Mana mungkin aku lupa? Waktu kita kecil aku suka ngumpet-ngumpet buat ketemu sama kamu disini." Jawab Billa dengan senyum yang mengembang dibibirnya.


"Ya udah, ayo kita kesana! Kita bernostalgia." Ajak Dicky.


"Ayo! Siapa takut?" Jawab Billa. Merekapun tertawa.


Sebuah danau berair jernih yang dikelilingi dengan bukit hijau menjadi saksi masa kecil mereka.


Dimana hanya ada tawa yang mereka ciptakan, melupakan sejenak kesedihan yang ada dihati.


Dicky dan Billa duduk ditengah hijaunya rumput yang terbentang cukup luas dipinggiran danau itu.


Tak terlalu banyak orang disana, hanya terlihat beberapa bapak-bapak yang tengah fokus memancing.


"Kamu masih inget nggak apa yang selalu aku bawa ketika kita pergi kesini?" Tanya Dicky.


"Permen karet." Jawab Billa dengan cepat.


"Yap, bener banget." Ucap Dicky, dia merogoh sakunya dan mengeluarkan sesuatu.


"Ini dia, ayo kita buat gelembung sama-sama!" Seru Dicky. Billapun menerima permen karet itu dan mulai memainkannya.


Ternyata Dicky terlebih dahulu membentuk gelembung itu, sedangkan Billa terlihat kesulitan.


Dengan isengnya Billa memecahkan gelembung permen karet itu hingga menutupi sebagian wajah Dicky.


"Curang." Ucap Dicky kemudian.


Billapun tertawa lepas melihat hal itu. Baru kali ini dia merasakan indahnya jatuh cinta, cinta masa kecilnya telah kembali.


"Kamu dari dulu nggak bisa-bisa ya bikin gelembung ini?" Tanya Dicky.


"Ya, aku nggak ada bakat nih." Jawab Billa.


Merekapun menarik nafas sejenak.


"Ky?" Ucap Billa kemudian.


'"Ya." Balas Dicky.


"Aku seneng banget deh bisa ketempat ini, bareng kamu lagi." Ucap Billa.


"Aku juga Bill, aku juga kangen banget sama tempat ini. Selama 8 tahun aku pergi, dan alhamdulillah tempat ini nggak banyak berubah." Balas Dicky sambil memperhatikan sekitar.


"Oh, jadi kamu cuma kangen sama tempat ini?" Tanya Billa kemudian.


"Sama kamu juga kangen kok." Jawab Dicky sedikit gombal.


Billa terseyum mendengar ucapan Dicky.


"Temen kamu itu sakit apa sih sebenarnya?" Tanya Dicky mengalihkan pembicaraan.


Billa tertunduk, pertanyaan Dicky membuatnya sedikit sedih.


"Iya, dia terkena kanker getah bening." Jawab Billa kemudian.


"Astaga? Aku nggak nyangka penyakit sebahaya itu terjadi sama dia." Balas Dicky sedikit kaget.

__ADS_1


"Iya Ky, aku juga nggak nyangka penyakit mematikan itu terjadi sama orang terdekat aku. Aku sedih banget Ky, dia satu-satunya sahabat yang aku punya." Ucapan Billa terdengar melemas.


Dicky sangat merasakan perubahan mood Billa, itu semua karena salahnya telah membahas tentang Felly.


Perlahan Dicky mulai meraih tangan Billa.


"Kamu jangan sedih. Sekarangkan ada aku disini, aku akan berusaha buat jadi teman terbaik dalam hidup kamu." Ujar Dicky.


Billa menoleh kearahnya, kemudian dia tersenyum.


"Makasih ya Ky, aku seneng kamu kembali lagi dihidup aku. Aku beruntung punya temen sebaik kamu." Jawab Billa.


"Iya, aku juga seneng punya temen deket secantik kamu." Balas Dicky sambil tersenyum.


Wajah Billa terlihat memerah mendengar ucapan Dicky.


"Oh ya, gimana ibu tiri kamu? Masih sama kaya dulu?" Tanya Dicky kemudian.


"Ya gitulah. Malah sekarang makin menjadi-jadi." Jawab Billa.


"Dasar, aku fikir dia bakal sadar kalau udah tua." Balas Dicky.


"Ya nggak apa-apalah Ky, aku udah biasa kok. Oh iya, nanti kamu bantu bicara ke mama ya kalau pulang sekolah kita jenguk Felly dulu. Semoga aja mama mau ngerti kalau kamu yang bicara." Ujar Billa.


"Ok deh. Ehh, udah sore nih. Kita pulang sekarang aja yuk!" Ajak Dicky.


Sebenarnya Billa masih ingin menghabiskan waktu bersama Dicky, berada didekat Dicky membuat Billa merasa tenang.


Tapi apa boleh buat, dia harap masih banyak waktu yang bisa dia habiskan dengan Dicky.


"Ya udah, ayo!" Balas Billa kemudian.


Kedua remaja itupun bergegas pergi meninggalkan danau itu.


***


Terlihat Tante Vera sedang mondar-mandir didepan teras rumahnya sambil menggerutu tak karuan.


Dia tak sabar untuk memarahi anak tirinya itu, mulutnyapun sudah terasa sangat gatal.


"Awas anak itu, makin gede makin berulah, kali ini habis dia ditangan saya. Saya usir baru tau rasa!" Gumam Tante Vera sambil mengepalkan kedua tangannya.


Motor Dicky memasuki pekarangan rumah Billa. Mereka baru saja sampai.


Tante Vera yang menyadari hal itu segera menghampiri keduanya. Dia siap menghabisi Billa dengan kata-kata pedasnya.


Tante Vera mengerutkan dahinya ketika melihat Billa diantar pulang oleh seorang laki-laki.


Dia menahan sejenak emosinya, perhatiannya seolah teralih pada laki-laki itu.


Sepertinya wajah laki-laki itu sudah tidak asing lagi menurut Tante Vera.


"Heh kamu!" Serunya kemudian. Billa turun dari motor dan disusul oleh Dicky.


"Saya Tante?" Tanya Dicky menunjuk dirinya.


Billa merasa cemas dengan apa yang akan terjadi, apa lagi dia melihat wajah ibu tirinya itu sangat tak enak dipandang.


"Siapa kamu? Kayanya saya pernah liat." Ucap Tante Vera sambil menerawang.


"Tante lupa ya? Aku Dicky tan, yang tinggal didepan sana." Jawab Dicky.


"Oh, iya saya ingat! Kamu yang waktu kecil sering jailin saya ya!" Ucap Tante Vera.


"Hehe, maaf ya tan." Jawab Dicky sambil cengengesan.


Tante Vera membayangkan suatu kejadian dimasa silam, dimana dirinya dikerjai habis-habisan oleh anak laki-laki kecil yang sekarang sudah merambah menjadi dewasa itu.


Saat itu dirinya memarahi Billa karena mereka selalu bermain hingga lupa waktu.


Dirinyapun mendapat lemparan telur dari Dicky dan beberapa temannya yang lain. Seluruh tubuhnya mengeluarkan bau amis.

__ADS_1


Dan yang lebih mengerikkan lagi, dirinya didorong hingga masuk kedalam got yang sangat-sangat kotor.


Tante Vera bergidig ngeri membayangkan itu, jangan sampai hal itu terulang lagi.


Diapun tersadar dari lamunannya, dia menatap ke arah Billa dengan tajam.


"Heh kamu! Kelayapan lagi kan...?" Ucap tante Vera yang langsung dipotong Dicky.


"Ehh, tunggu tan! Jangan marahin Billa ya. Tadi aku sengaja minta Billa temenin jalan-jalan, nggak jauh kok cuma sekitaran sini. Soalnya kangen juga sama daerah ini." Ucap Dicky.


Tante Vera merasa sedikit segan kepada Dicky, dia takut jika anak itu akan berbuat seperti dulu. Diapun mengurungkan niatnya untuk memarahi Billa.


"Oh, ya udah deh. Lain kali jangan telat-telat lagi ya!" Ucap Tante Vera.


Billa membulatkan mulutnya tanda tak percaya, dia merasa sangat heran, mengapa ibu tirinya itu tidak memarahi dirinya?


Entah malaikat mana yang merasuki fikiran ibu tirinya itu.


Apa lagi dia bersikap sangat baik kepada Dicky.


Tapi ya sudahlah, diapun merasa bersyukur karena dapat terhindar dari amarah ibu tirinya. Dia fikir Dicky adalah pahlawan dalam hidupnya.


***


Dicky dan Billa semakin akrab saja, mereka sering terlihat pulang dan pergi sekolah bersama.


Bahkan Dicky sudah tak canggung menggoda Billa didepan Bisma. Bisma merasa sangat cemburu.


Tapi Bismapun tak tinggal diam, dia terus berusaha untuk lebih dekat dengan Billa.


Dia selalu mencoba untuk mencari perhatian darinya, mencari bahan obrolan walau terkadang Billa bersikap cuek terhadapnya.


Sore ini cuaca sedikit mendung, awan hitam terlihat menggumpal disabagin langit Bandung.


Bisma yang melihat itu tidak mengurungkan niatnya untuk mengantar paket kerumah Rafael. Karena ini adalah pekerjaan yang harus dia laksanakan.


Dengan bermodalkan alamat, Bisma segera meluncur kerumah Rafael menggunakan motor milik bosnya, Rangga.


***


Billa terlihat tengah sibuk didapur mengerjakan pekerjaan rumah tangga yang seharusnya dikerjakan oleh ibunya.


Sesekali dia melirik kearah ibu tirinya yang tengah bersantai sambil asyik memainkan ponsel pintarnya.


Billa menggerutu sendiri, dia merasa sangat kesal dengan ibu tirinya itu. Tapi dia tetap mencoba ikhlas untuk menjalani semua ini.


Tok... Tok... Tok...


Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Tante Vera yang tengah asikpun merasa terganggu dengan itu.


"Hey! Kamu, bukain pintu gih!" Seru tante Vera.


"Aku kan lagi cuci piring." Jawab Billa.


"Ya tinggalin aja dulu, apa susahnya sih?" Ucap Tante Vera kesal.


"Tapi, mah? Kenapa nggak mama aja yang buka?" Tolak Billa.


Seketika mata Tante Vera membulat mendengar ucapan Billa.


"Ehh, ngebantah kamu ya? Cepet bukain sana jangan banyak protes. Pusing saya dengernya." Ucap Tante Vera kemudian.


Dengan perasaan kesal Billa meninggalkan pekerjaannya dan beranjak untuk membukakan pintu.


Ibu tirinya itu sangat ketelaluan, dia hanya menghabiskan waktunya dengan bersantai, sedangkan semua pekerjaan rumah harus Billa yang membereskan.


Krek...


Billa membuka pintu rumahnya dan melihat seorang yang berdiri dihadapannya.


'Cowo itu?' Fikir Billa sambil memperhatikan orang dihadapannya itu.

__ADS_1


Kira-kira siapa, ya yang datang?


__ADS_2