Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Billa yang sakit


__ADS_3

Dicky mencoba menghubungi Billa, namun perempuan itu tak kunjung mengangkat telfon darinya. Dicky mulai cemas, tidak seperti biasanya Billa seperti ini.


'Apa mungkin dia kecapean habis lembur kemari?' Fikir Dicky dalam hati.


Diapun memutuskan untuk menemui kekasihnya itu sepulang kerja nanti karena sekarang dia sudah sedikit terlambat.


Dickypun melajukan motornya dengan kecepatan sedang.


***


Billa yang melihat panggilan tak terjawab dari Dicky merasa sangat sedih.


Dia membanting ponselnya dengan sangat keras kelantai. Seketika ponsel itu tercerai berai. Dia sangat frustasi.


Billa menangis sejadi-jadinya, dia tak tau harus berbuat apa dalam situasi seperti ini.


Hidupnya yang susah payah dia rangkai seindah mungkin dengan mudahnya dihancurkan laki-laki itu hanya dalam waktu semalam.


Apa yang akan terjadi setelah ini?


Apa yang harus dia katakan kepada kekasihnya?


Apa yang harus dia jelaskan kepada keluarganya?


Dimana dia harus menyembunyikan rasa malunya?


Dimana dia akan menyembunyikan wajahnya?


Fikiran Billa benar-benar kacau, sehingga tak dapat memikirkan hal lain lagi, beban dihidupnya sudah terlalu berat dia pikul sendiri.


Billa benar-benar membenci Bisma, laki-laki itu telah memporak porandakan hidupnya, dia tak akan memaafkan kesalahan fatal yang telah Bisma lakukan kepadanya sampai kapanpun.


***


Bisma harap-harap cemas, dia sangat merasa gelisah. Apa yang dilakukannya malam itu terus menghantui fikirannya.


Dia merasa takut untuk menemui perempuan itu. Dia benar-benar merasa bersalah.


Dia tak tau bagaimana reaksi Billa ketika dia menemuinya nanti.


Perempuan itu pasti akan sangat membencinya.


Dia semakin cemas ketika mendapat kabar jika seminggu terakhir ini Billa tidak masuk kerja.


"Loe kenapa sih Bis?" Tanya Morgan yang melihat Bisma mondar-mandir sedari tadi.


"Gue udah ngelakuin apa yang loe saranin kemarin." Ucap Bisma.


Morgan sedikit tercengang dengan perkataan Bisma.


"Apa? Jadi loe udah gitu sama dia?" Tanya Morgan tak percaya.

__ADS_1


"Iya, kan loe yang saranin gue kaya gitu." Balas Bisma yang masih terlihat panik.


"Gue kan cuma bercanda Bis, loe nanggepinnya serius banget?" Ucap Morgan.


Bisma terdiam, dia tak dapat hidup dengan tenang setelah apa yang dia perbuat.


Dia sangat merasa bersalah.


"Hah loe harus tanggung jawab. Itu anak orang loh bukan anak ayam." Ucap Morgan sedikit meledek.


"Apaan sih loe? Orang panik juga." Ucap Bisma kesal.


"Terus gue harus ngapain sekarang?" Tanya Bisma kemudian.


"Ya loe harus temui dia. Terus nikahin, dan semua keinginan loe selama ini terwujud." Jawab Morgan dengan entengnya.


"Loe fikir semudah itu? Billa pasti benci banget sama gue. Gue nggak yakin dia masih mau liat muka gue setelah apa yang gue perbuat sama dia." Balas Bisma yang terlihat semakin panik.


"Kalau itu udah pasti, yang penting sekarang loe harus gantel, loe temuin dia." Balas Morgan.


Bisma berfikir jika perkataan Morgan memang benar, dia harus segera menemui perempuan itu untuk menjelaskan semuanya dan meminta maaf.


Apapun yang akan terjadi nantinya dia harus hadapi sendiri.


***


Satu minggu berlalu, Billa tak berani menunjukkan wajahnya didepan siapapun. Dia memutuskan untuk tidak pergi bekerja selama itu.


Dia tidak membiarkan siapapun menemui dirinya. Termasuk Dicky.


Billa benar-benar sangat malu, dimana dia harus menyembunyikan wajahnya ketika semua orang mengetahui apa yang terjadi pada dirinya.


Dia merasa harga dirinya sudah tak ada lagi.


***


Rafael mendapat kabar dari Dicky jika Billa tidak dapat ditemui dan dihubungi.


Rafaelpun merasa khawatir, dia segera meluncur menuju kontrakan Billa.


Ternyata sudah ada Dicky disana.


"Gimana Ky?" Tanya Rafael terlihat panik.


Dia benar-benar mengkhawatirkan keadaan adik tirinya itu.


Bagaimanapun juga Billa adalah satu-satunya saudara yang dia miliki, dia tak ingin sesuatu yang buruk terjadi kepadanya.


"Nggak dibuka Raf, dia kenapa ya?" Dicky balik bertanya.


Rafael mencoba mengetuk pintu kontrakan itu, siapa tau saja Billa mau mendengarkannya.

__ADS_1


"Dek! Kamu kenapa? Ini Coco, buka pintunya!" Ucap Rafael.


Namun tak ada jawaban dari dalam sana.


"Dari kemarin juga gue udah coba gedor-gedor tapi nggak dibuka." Ucap Dicky.


"Terus gimana dong?" Tanya Rafael.


"Coba dobrak aja!" Seru Dicky.


"Iya, loe bener!" Balas Rafael.


Rafaelpun mengambil ancang-ancang untuk mendobrak pintu itu.


Tiba-tiba seorang wanita paruh baya menghampiri mereka dengan tergesa-gesa.


"Jangan didobrak! Pake ini aja, kunci serep." Ucap Ibu-ibu paruh baya itu, dia adalah pemilik kontrakan.


Dia takut jika pintunya akan rusak dan dia harus memperbaikinya.


Itu akan menambah biaya pengeluarannya.


"Dari kemarin dong Bu." Seru Dicky sedikit kesal.


Ibu itu hanya cengengesan.


Dickypun segera membuka pintu itu.


Terlihat Billa yang tengah tertidur dikasurnya. Dicky dan Rafael segera menghampirinya.


Mereka terlihat sangat cemas.


"Bill, kamu sakit? Badan kamu panas banget." Ucap Dicky panik, dia meraba kening Billa.


Billa tak merespon, badannya terasa lemas, lidahnya terasa pahit. Dia sangat tak berdaya. Wajahnya terlihat sangat pucat.


"Iya, kita kedokter sekarang." Ucap Rafael.


"Jangan! Aku nggak mau." Ucap Billa spontan.


"Kenapa? Kamu harus diperiksa sayang." Ucap Dicky.


"Aku nggak mau. Jangan paksa aku!" Ucap Billa sedikit membentak.


"Gimana nih?" Tanya Rafael.


"Kita bawa aja kerumah loe, biar dia ada yang jaga. Kalau disini kasian kan?" Ucap Dicky dengan Bijak.


"Loe bener! Ayo!" Seru Rafael.


Rafael dan Dickypun segera mengemas sebagian baju Billa.

__ADS_1


***


__ADS_2