
Billa membukakan pintu rumahnya.
"hai." ucap orang itu kemudian.
"Coco?"
"Loe?" ucap Billa dan Bisma bersamaan.
"iya, ini gue, kenapa? Kalian kaya kaget gitu liat gue?" tanya Rafael yang terlihat bingung.
"nggak kok, kirain gue tadi mama Dinar yang datang, ehh ternyata loe." jawab Bisma.
"ohh." jawab Rafael singkat.
"apa? Mama Dinar? Maksud loe ibu kandungnya Billa?" tanya Rafael yang baru ngeh dengan perkataan Bisma.
"iya Co, jadi aku udah ketemu sama mama. Itu semua karena Bisma." jawab Billa sambil menoleh kearah Bisma.
Bisma menyunggingkan ujung bibirnya mendengar perkataan Billa, baru kali ini dia merasa menjadi orang yang berarti untuk istrinya itu.
"kalau gitu Coco ikut seneng de, akhirnya keinginan kamu untuk bertemu tante Dinar terkabul juga." ucap Rafael.
"iya Co, makasih." balas Billa.
"kok malah ngobrol disini sih? Kita lagi sarapan didalam, loe ikut kita sarapan sekalian!" ujar Bisma.
"iya bener Co, aku masak semur telur kesukaan Coco." ucap Billa.
"wah? Kebetulan banget nih Coco belum sarapan." balas Rafael dengan nada malu-malu tapi mau.
Mereka bertigapun masuk kedalam rumah sambil berbincang-bincang hangat.
***
Veni mengemudi mobil itu dengan kecepatan yang tidak tentu, kadang cepat, kadang mendadak mengurangi kecepatannya dan dengan mendadak kembali menambah lajunya.
Liona dan mama Dinar dibuat ketakutan olehnya.
"Ven, Ven hati-hati bawa mobilnya, jangan ngebut-ngebut, biar pelan asal selamat." seru mama Dinar dengan kaki yang gemetar.
"loe sebenernya bisa nyetir nggak sih? Ugal-ugalan banget bawanya." tanya Liona kesal.
"kalau gue nggak bisa nyetir, kenapa gue bisa punya sim?" Veni balik bertanya.
"ya karna loe ambil jalan pintas, loe nembak buat dapetin sim." jawab Liona dengan yakinnya.
Veni menyunggingkan ujung bibirnya mendengar perkataan adiknya itu.
"jangan ngebut-ngebut, Ven. Sebentar lagi kita sampai, nanti malah kelewat rumahnya." seru mama Dinar.
"iya mah, mama nggak usah khawatir, serahkan semuanya sama aku." balas Veni dengan percaya dirinya.
"huek." Liona mengejek perkataan Veni dengan meniru suara orang muntah.
***
Rafael, Bisma dan Billa baru saja selesai menikmati sarapannya, mereka merasa malas untuk sekedar berdiri karena perut yang sudah terisi penuh.
"gila, kenyang banget gue. Akhirnya gue ngerasain lagi masakan yang enak. Tiap hari gue makan masakan nyokap ambyar banget rasanya." ucap Rafael.
Bisma dan Billa terkekeh mendengar perkataan Rafael.
"aku kirain masakan mama udah enak Co." ucap Billa.
"makanya loe cepet-cepet punya istri biar ada yang masakin yang enak-enak." tambah Bisma.
"iya kalau istrinya pinter masak, kalau lebih parah dari nyokap gimana? Bisa-bisa setiap hari gue sakit perut." balas Rafael.
Billa dan Bisma kembali tertawa mendengar perkataan Rafael.
BRAAKK!!!
Terdengar suara yang sangat keras dari luar sana, Bisma, Rafael dan Billa sangat kaget dibuat suara itu.
"astaga! Suara apa itu? Kenceng banget?" tanya Billa yang terdengar panik.
Bisma dan Rafael saling menatap, merekapun sangat terkejut dengan apa yang mereka dengar.
"ayo kita liat kedepan sekarang!" seru Bisma, mereka bertigapun beranjak dari duduknya dan langsung berjalan dengan tergesa-gesa.
***
Veni menginjak pedal rem setelah menabrak motor yang terparkir dihalaman rumah Bisma, dia merasa kaget dengan apa yang baru saja terjadi, kakinya terasa gemetar, dia terlihat sangat panik.
__ADS_1
Liona terbentur jok depan sehingga keningnya terasa sedikit ngilu.
"astaga Ven, kamu nabrak motor orang." seru mama Dinar ketika melihat motor yang tadinya terparkir dengan benar seketika berubah menjadi terbalik.
"loe udah gila, loe kalau nggak bisa nyetir jangan sok-sokan deh, bisa-bisa kita semua celaka gara-gara tingkah loe." omel Liona.
"Diem loe, nggak usah banyak ngomong, orang panik juga." balas Veni.
"gimana kamu itu Ven, untung saja tidak terjadi sesuatu yang buruk sama kita, mama nggak izinin kamu bawa mobil lagi ya. Sim kamu mama tahan." seru mama Dinar.
"****** loe, harusnya pengemudi kaya loe itu ditangkap sama polisi, iya kan, ma?" ucap Liona yang membuat Veni semakin tidak karuan.
***
"astaga! Motor gue!" ucap Rafael spontan saat melihat motornya terguling.
Rafael terlihat sangat panik, apalagi bagian belakang motornya mengalami keruksakan yang cukup parah akibat tertabrak.
Bisma membantu Rafael untuk mengangkat kembali motornya.
Billa menggigit bibir bawahnya melihat kejadian ini.
Seketika pandangan Rafael beralih pada sebuah mobil yang berada tepat dihadapannya.
Tanpa berpikir panjang Rafael langsung menghampiri mobil itu dan menggedor kaca bagian kemudi.
"hey, turun loe!" seru Rafael dengan kesalnya.
"habis gue!" seru Veni dari dalam mobil, dia sedikit menoleh kearah mamanya.
"sudahlah, turun! Kamu harus bertanggung jawab. Selesaikan masalah ini dengan sebaik mungkin." ucap mama Dinar.
"tapi mama bantuin aku, ya!" balas Veni.
"woy! Turun nggak loe!" Rafael semakin kuat saja menggedor pintu mobil itu.
Venipun dengan terpaksa turun dari mobinya.
"apa yang akan terjadi Bisma?" tanya Billa pada Bisma.
"aku juga nggak tau, Bill. Kita liat aja." balas Bisma, Billa hanya manggut saja.
"loe nggak liat apa motor gue segede gitu loe masih tabrak juga?" tanya Rafael dengan nada tinggi.
"ya siapa suruh loe parkirin motor loe disitu? Gue kan nggak bakalan tabrak tuh motor kalau motornya nggak ada disitu." balas Veni dengan nada yang tak kalah tinggi.
"kalau loe punya mata sama otak ya nggak mungkin loe tabrak motor gue, ini halaman masih luas, loe bisa parkir sebelah mana kek, gue nggak mau tau, loe harus ganti motor gue sama yang baru." ucap Rafael.
"wow." ucap Bisma yang tak menyangka jika Rafael bisa semarah itu.
Veni membulatkan matanya mendengar permintaan Rafael.
"hah? Loe udah gila? Loe pikir seberapa parah keruksakan motor itu sampai-sampai gue harus ganti yang baru? Motor butut kaya gini?" tanya Veni dengan kasarnya, dia sengaja menendang motor Rafael.
Rafael semakin emosi ketika Veni dengan sengaja menendang motornya.
"wah, sembarangan loe! Loe pikir gampang apa bikin motor kaya gini? Main tentang-tendang aja, nggak ada sopan santunnya banget jadi cewe." ucap Rafael menggebu-gebu.
Veni sedikit kaget juga dengan perkataan Rafael.
"astaga! Ini nggak bener." gumam mama Dinar, diapun segera turun dari mobil, Lionapun mengikuti mamanya.
"emm, maaf sebelumnya, saya minta maaf atas kejadian ini. Dan tidak seharusnya anak saya marah-marah setelah apa yang dia lakukan." ucap mama Dinar.
"mama." Billapun menghampiri mamanya, mama Dinarpun langsung menyambutnya.
"iya Co, maafin Veni ini ya. Nanti kita cari jalan keluarnya sama-sama." ucap Billa bijak.
"ngapain loe minta maaf atas nama gue? Gue nggak ada niat sedikitpun buat minta maaf." sahut Veni dengan sinisnya.
"loe itu ngeselin banget sih kak, udah salah juga masih aja gengsi buat minta maaf." ucap Liona.
"diem loe anak kecil!" balas Veni.
Liona memasang muka masamnya kearah Veni.
"kalau loe nggak mau bertanggung jawab, gue bisa laporin ini kekantor polisi dengan tuduhan penabrakkan yang disengaja." ancam Rafael.
"siapa bilang disengaja? Orang nggak sengaja." ucap Veni, dia melipat kedua tangan didada dan memasang wajah tanpa bersalahnya.
"emm, maaf. Silahkan selesaikan masalah ini berdua, lebih baik mama dan Liona ikut kita kedalam." seru Bisma yang langsung di iyakan Billa.
"iya mah, kita masuk sekarang, mereka sudah dewasa dan bisa mengatasi masalahnya." ucap Billa.
__ADS_1
"ya sudah." balas mama Dinar.
Mereka berempatpun berjalan masuk kedalam rumah, Bisma menggandeng Billa karena merasa cemas dengan kehamilannya,
Liona menganga melihat itu, dia pikir jika yang dilakukan Bisma itu sangatlah manis, dia tersenyum-senyum sendiri ketika membayangkan jika dirinya yang berada diposisi Billa. Itu pasti sangat menyenangkan.
"mana sim sama ktp loe?" tanya Rafael.
"ngapain loe minta sim sama ktp? Loe itu bukan polisi." jawab Veni.
"ya, kalau gue polisi gue udah jeblosin loe kedalam sel." balas Rafael.
Veni sedikit kaget dengan perkataan Rafael, Rafael dengan sengaja merampas tas selempang yang sedari tadi Veni kenakan, Veni semakin kaget dengan apa yang Rafael lakukan.
***
Sementara itu, didalam rumah.
"jadi ini yang namanya Liona? Ternyata kamu lebih besar dari yang kakak pikirkan." ucap Billa.
Liona tersenyum kegirangan mendengar perkataan Billa.
"jadi menurut kakak aku udah besar?" tanya Liona, Billa mengangguk cepat. Liona beranjak dari duduknya lalu berpindah kesamping Billa.
"tuh kan, ma. Kak Billa aja bilang aku udah besar. Masa si kak Veni bilang aku anak kecil terus?" ucap Liona.
Mama Dinar hanya tersenyum menanggapi perkataan Liona.
"kakak tau nggak, aku pengen panget punya adik. Tapi mama nggak mungkin kasih aku adik, waktu aku denger aku bakalan punya keponakkan, aku seneng banget." ucap Liona dengan antusiasnya.
"berarti keinginan kamu sebentar lagi akan terwujud." balas Bisma.
Liona menoleh kearah Bisma, laki-laki itu tengah tersenyum kearahnya.
"kak, aku boleh peluk perut kakak?" tanya Liona.
"tentu boleh dong." jawab Billa.
Lionapun memeluk Billa dengan hangat, dengan senang hati Billa menyambut pelukkan Liona.
"Bill, Tadi mama beli mangga ini dijalan, mama buatkan jus, ya." ucap mama Dinar.
"mama nggak usah repot-repot, biar aku aja." balas Billa cepat.
"nggak, mama nggak merasa repot. Justru mama mau menganggap rumah ini sebagai rumah mama sendiri." balas mama Dinar.
Billa sedikit menoleh kearah Bisma, terlihat Bisma yang mengangguk sambil tersenyum kearahnya menandakan jika biarkan mama Dinar melakukan apa yang dia inginkan.
"ya udah kalau gitu." ucap Billa akhirnya.
Mama Dinar tersenyum mendengarnya.
"tunggu sebentar, ya!" ucap mama Dinar, diapun segera berjalan menuju dapur.
"Bill, perut kamu gerak." seru Billa.
"iya Bisma." balas Billa.
"iya, aku juga bisa rasain dia nendang tangan aku." seru Liona yang heboh sendiri.
Reflek Bisma memeluk perut Billa, sehingga Liona dan Bisma memeluknya, Billa melihat Bisma dengan tatapan yang sulit diartikan, pelukkan Bisma terasa berbeda dengan pelukkan Liona.
Bisma sedikit menoleh kearahnya, terlihat Billa yang sedang memperhatikannya, Bisma tersenyum kearah Billa, dua pasang mata itu dipertemukan dalam satu titik.
Liona yang melihat pasangan suami istri itu menjadi malu sendiri, dia melepaskan pelukkannya dari Billa, dia melihat Billa dan Bisma yang entah sedang apa itu sambil senyum-senyum sendiri, dia merasa kagum dengan kemesraan yang terjadi diantara mereka.
"ehem." dehem Liona yang membuyarkan lamunan Billa dan Bisma, seketika mereka tersadar, Billa terlihat grogi, sedangkan Bisma, dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"apa itu sakit, Bill?" tanya Bisma kemudian.
"nggak terlalu Bisma, hanya sedikit ngilu." jawab Billa.
"emm, kak bayi yang ada diperut kakak ini perempuan atau laki-laki?" tanya Liona.
"kamu maunya apa?" Billa balik bertanya.
"aku mau laki-laki, kalau perempuan nanti takutnya nyebelin kaya kak Veni." jawab Liona.
"berarti keinginan kamu sebenar lagi akan jadi kenyataan, karena yang ada disini itu insyaallah laki-laki." ucap Bisma sambil kembali mengusap perut Billa.
"wah, kalau gitu asik dong. Aku nggak sabar pengen cepet-cepet gendong dia." ucap Liona.
***
__ADS_1