
Selama 2 hari berada diklinik bersalin, Billa banyak diajari oleh bidan cara mengurusi bayi yang baru lahir dengan benar. Dari cara memandikannya, memberinya asi, sampai menggendong bayipun bidan itu ajarkan.
Akhirnya Billa diperbolehkan pulang, Billa sudah sangat merindukan suasana rumah. Berada di klinik lumayan nyaman karena Bisma selalu menyediakan semua kebutuhannya, tapi tentunya tidak senyaman berada dirumah sendiri.
Mama Dinar sejak kemarin sore pulang ke Lembang, tapi dia berjanji akan datang ke rumah Billas bersama Liona untuk menginap.
Billa menyusui bayinya sesuai dengan apa yang bidan ajarkan, memberikan yang kiri dan kanan secara bergantian.
Bisma terlihat sedang berkemas, karena selama berada di klinik, rumah tidak ada yang membersihkan.
"udahlah Bisma, biar aku aja nanti yang beresin. Kamu istirahat dulu, pasti kamu juga cape. Kamu nggak bisa tidur kan selama diklinik." ucap Billa.
Bisma menghampiri Billa dan duduk bersandar disofa.
"aku nggak cape kok Bill, kamu mau mandi nggak? Sini Riannya biar aku gendong dulu." ucap Bisma.
"iya mau, badan aku udah lengket banget." ucap Billa, Bismapun mengambil Rian dari pangkuan Billa, sedangkan Billa bergegas untuk mandi.
"sayangnya papa, kamu lucu sekali." ucap Bisma sambil mencium pipi kecil Rian.
15 menit kemudian Billa kembali setelah mandi, langkahnya sangat pendek karena merasa ngilu dibagian bawahnya.
"masih sakit Bill?" tanya Bisma.
"iya, aku takut sobek." Bisma tersenyum mendengar perkataan Billa.
"jalan aja masih susah gimana mau beres-beres?" tanya Bisma, Billapun duduk disamping Bisma.
"...kamu jangan banyak gerak dulu ya!" seru Bisma.
Billa hanya mengangguk, dia mengambil alih Rian dari gendongan Bisma.
"Bill." ucap Bisma.
"apa?" tanya Billa.
"terimakasih ya udah mau melahirkan anak aku." ucap Bisma, dia mulai menatap Billa dengan serius.
"iya lah, kalau bukan aku terus siapa lagi?" tanya Billa, Bisma lagi-lagi tersenyum.
"maaf ya aku selalu menyakiti kamu." Bisma meraih tangan Billa lalu menciumnya.
Billa melihat penyesalan diwajah Bisma, kenapa laki-laki itu masih saja membahas tentang itu, padahal Billa sudah bisa melupakannya dan memaafkan Bisma sepenuhnya.
Tapi lain lagi dengan Bisma, rasa penyesalan itu masih dia rasakan sampai sekarang, bahkan wajah Billa yang menangis saat dirinya datang setelah melakukan hal itu masih terbayang diingatannya, saat itu Bisma merasakan kepedihan yang Billa rasakan.
Rasa cinta Bisma kepada Billa sangatlah berat.
"udah Bisma, nggak usah bahas itu lagi ya. Sekarang mending kamu pesenin aku makanan! Aku lapar." ucap Billa mengalihkan pembicaraan, dia tidak ingin Bisma kembali merasa bersalah.
"ya udah, kamu mau makan apa?" tanya Bisma.
"aku mau ayam penyet."
***
Hari minggu yang cerah, Rafael terlihat sudah rapi dengan setelan kemeja abu-abu berbalut jaket kulit hitamnya, hari yang ditunggu-tunggupun akhirnya datang juga. Dengan penuh semangat dia mengendarai motor jupit*r Mxnya sambil sesekali melirik kaca spion untuk memastikan penampilan kerennya tidak berubah.
Entah kenapa dia sangat semangat sekali akan bertemu Veni dengan tampilan berbedanya kali ini, tiba-tiba saja jantung Rafael jadi deg-degan ketika membayangkan Veni yang juga akan berpenampilan berbeda saat Rafael menemuinya nanti.
Senyuman khasnya terus saja mengembang dibibir Rafael, waktu tempuh antara kota Bandung dan Lembang sekitar satu jam, Rafael tiba disana pukul 8 lebih 45 menit, tentu saja dia datang lebih awal, karena tidak ingin membuat Veni menunggu dan akan marah kepadanya.
Rafael yakin sekali kalau rumah yang ada dihadapannya ini adalah Rumah Veni, alamatnya sesuai dengan yang Bisma berikan waktu itu.
Dengan percaya dirinya Rafael turun dari motor dan berjalan mendekat kearah pintu.
__ADS_1
Tapi Rafael mengurungkan niatnya untuk mengetuk pintu, dia merasa sangat grogi, takutnya yang membukakan pintu adalah mama atau papanya, mau bicara apa Rafael nantinya kalau ditanya macam-macam?
Rafaelpun berjalan kehalaman samping rumah itu dan melakukan panggilan telfon kepada Veni.
"halo?" ucap Veni dari sebrang sana.
"loe udah siap belum? Gue udah nyampe nih dihalaman samping rumah loe, gue tunggu sekarang." ucap Rafael.
"siap apaan?" tanya Veni.
"siap berangkatlah, cepetan turun!" seru Rafael.
"berangkat kemana? memangnya loe janjian sama gue? Gue baru aja bangun tidur." tanya Veni.
Kaki Rafael tiba-tiba melemas mendengar perkataan Veni, dia kecewa karena Veni melupakan janjinya.
"udah ya, gue mau lanjut tidur nih." ucap Veni.
"loe kok gitu sih Ven, gue udah jauh-jauh datang kesini." ucap Rafael lemas.
Veni cekikikan sendiri dikamarnya, dia bisa membayangkan ekspresi kecewa Rafael, pasti sangat lucu.
Venipun menyambar tas tangannya dan langsung turun kebawah untuk menemui Rafael.
"woy, mau kemana loe rapih amat." ucap Veni, Rafael yang sedang menghadap kebelakangpun sontak menoleh.
Rafael menelan salivanya, dia terkejut melihat Veni yang terlihat sangat cantik dengan dress yang melekat ditubuh berisinya.

Rafael sampai menganga dan tidak dapat berkata.
'jadi dia ngerjain gue tadi.' batin Rafael.
"jadi berangkat nggak? keburu siang nanti panas." ucap Veni yang membuyarkan lamunan Rafael.
"emm, iya. Gue fikir loe..." ucap Rafael gugup.
"loe mikir apa tentang gue?" tanya Veni.
"nggak, loe cantik Ven." tanpa sadar Rafael blak-blakan memuji Veni.
"hahaha, gue memang cantik dari dulu kali, kemana aja loe? Baru sadar?" tanya Veni yang diiringi tawa renyahnya.
Rafael menatap Veni yang tertawa.
'semakin sempurna.' barin Rafael.
"...tapi sayang hobi loe marah-marah terus." sambung Rafael.
"loe fikir gue orang gila mau marah-marah tanpa sebab? Udah yuk kita berangkat sekarang!" Veni jadi lebih antusias daripada Rafael, Rafaelpun terpaksa menurut karena tangannya ditarik oleh Veni.
***
Bisma dan Billa sedang menikmati peran barunya sebagai orang tua baru, mereka sangat bahagia dengan lahirnya Adrian, keluarga kecil mereka terasa menjadi sempurna.
Rumah mereka kini menjadi ramai dengan suara tangisan bayi disiang atau malam hari.
"oaa, oaa, oaa."
Billa menghentikan aktivitas menyapunya ketika mendengar suara tangisan Adrian yang sedang digendong Bisma.
"kenapa anak lucu mama nangis?" tanya Billa dan menghampiri mereka.
"kayanya mau minum asi deh Bill, kamu susui dulu ya Iannya!" seru Bisma. Billapun mengambil alih Ian dari Bisma kemudian duduk dikursi ruang tamu.
__ADS_1
Setelah mendapat ASI, Ian langsung berhenti menangis. Mungkin Ian menangis karena kehausan.
"langsung diam dia Bill." ucap Bisma.
"Iya, dia haus." ucap Billa.
"aku juga haus." ucap Bisma sambil mengedipkan sebelah matanya.
"tinggal minum aja!" seru Billa yang sama sekali tidak curiga dengan perkataan Bisma.
"Ian satu, aku satu ya!" ucap Bisma sambil mendekat kearah Billa.
Mata Billa seketika membulat mendengarnya.
"maksudnya apa?" tanya Billa sewot.
"aku juga mau minum susu Bill, biar sehat." ucap Bisma manja.
"bikin sendiri sana!" usir Billa sambil menggeser duduknya.
"nggak mau, pengen langsung. Plis." Bisma menyatukan telapak tangannya dengan memasang wajah melas.
Akhirnya Bisma mendapat jatah minum susu murni pagi itu.
***
Rafael dan Veni memasuki gedung bertingkat 3 yang menjadi tempat resepsi pernikahan Erick, temannya Rafael.
Baru saja menginjakkan kaki beberapa langkah didalam gedung itu, seseorang menegur Rafael.
"hey Raf, jadi ini cewe loe? Kapan nih nyusul si Erick?" terlihat Evan yang sedang menggendong anaknya yang berumur sekitar 1 tahunan.
"sorry, gue bukan..." ucap Veni yang langsung dipotong Rafael.
"ahh, iya. Secepatnya." ucap Rafael sambil nyengir kuda.
Veni mendengus kesal karena perkataannya dipotong, apalagi Rafael tidak menepis kalau Veni adalah pacarnya.
"ehh tapi kok kayanya gue nggak asing ya sama cewe loe ini?" ucap Evan sambil mengingat-ngingat pernah bertemu dimana dengan Veni.
"ahh masa sih? Mana istri loe?" Tanya Rafael mengalihkan pembicaraan.
"lagi ketoilet, ayo kita ucapkan selamat sama pengantinnya!" ucap Evan sambil nyelonong pergi mendahului Rafael, Rafael yang hendak pergi menyusul Evan, tangannya ditarik paksa oleh Veni yang sudah kesal sedaritadi.
"loe apa-apaan sih? Kenapa loe nggak bilang kalau gue bukan cewe loe?" cerocos Veni.
"udah diem aja dulu! Malu kalau gue ngaku masih jomblo." ucap Rafael dengan santai.
"tapi memang kenyataannya loe jomblo, kan." balas Veni dengan cukup kencang, sehingga tamu undangan yang lain menoleh kearah mereka.
Rafael langsung membekap mulut Veni ketika sadar teman-temannya memandangi mereka dengan aneh.
"loe kenapa Raf?" tanya Revi salah satu teman kantor Rafael yang juga datang keacara itu.
Orang-orang tidak mendengar dengan jelas apa yang Veni katakan karena music yang diputar cukup keras.
"nggak kenapa-napa hehehe." balas Rafael cengengesan.
Sedangkan Veni meronta-ronta minta dilepaskan.
'pasangan yang aneh' pikir orang-orang.
---------
Jangan lupa tinggalkan jejak anda setelah membaca, baca juga yaa novel keduaku yang judulnya HATI YANG TERBENGKALAI, baru beberapa episode...
__ADS_1