Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Mama?


__ADS_3

"kamu?" ucap Billa menggantung.


"iya, ini aku. Kamu kenapa? Mikirin apa? Mikirin aku? Nggak usah dipikirin, aku selalu pulang setiap hari, kan?" ucap Bisma sambil menunjukkan deretan giginya.


Billa merasa sebal dengian perkataan Bisma, apa lagi dia berkata dengan sangat percaya diri.


"pd banget kamu." balas Billa dengan kesalnya.


Bisma terkekeh melihat Billa yang kesal.


Sedetik kemudian dia berhenti tertawa dan duduk disamping Billa.


Billa menoleh kearah jam dinding, waktu baru menunjukkan pukul 13.07.


"kenapa jam segini udah pulang?" tanya Billa.


Bisma tersenyum mendapat pertanyaan dari Billa, ternyata istrinya itu sangat perhatian, pikir Bisma.


"Ada acara tahunan yang diadain outdoor, jadi hari ini semua karyawan kerja setengah hari, dan langsung pergi keacara itu." jawab Bisma.


"kenapa kamu nggak ikut kesana?" tanya Billa.


Bisma semakin melebarkan senyumnya.


"nggak ahh, males. Mendingan aku pulang dan ketemu sama kamu." balas Bisma sambil tersenyum.


Billa merasa sebal mendengar jawaban Bisma, dia tak membalas perkataan Bisma, dia malas jika percakapan mereka akan meluber kemana-mana.


"Oh, ya? Aku punya sesuatu buat kamu." Ucap Bisma reflek.


Diapun merogoh sesuatu dari dalam saku jaketnya.


Billa sedikit menoleh kearahnya.


"Ini dia." Ucap Bisma sambil menunjukkan dua lembar kertas kearah Billa.


Billa mengerutkan keningnya melihat kertas itu.


"Apa itu? Tiket nonton?" Tanya Billa sedikit ragu dengan apa yang dilihatnya.


"Iya, bukannya kamu pengen banget ya nonton film horror wanita tanah jahanam ini?" Tanya Bisma.


Beberapa hari ini Billa memang penasaran dengan film wanita tanah jahanam yang sering dipromosikan di televisi, Bisma yang mengetahui hal itu langsung mencari tiket untuk bisa menontonnya dan membuat Billa senang.


"Kamu serius?" Tanya Billa.


"Iya sayang, masa aku becanda? Ini udah ada tiketnya." Balas Bisma.


Billapun mengambil tiket itu dan melihatnya sendiri untuk memastikan, ternyata benar.


Tanpa sadar Billa tersenyum melihat itu, dia sangat senang karena keinginannya untuk menonton film itu terwujud.


"Makasih." Ucap Billa sedikit menoleh kearah Bisma.


"Nggak usah bilang gitu, kalau kamu mau sesuatu, bilang aja. Aku pasti bakal berusaha buat penuhin semua keinginan kamu." Ucap Bisma sambil tersenyum.


Billa merasakan sesuatu perasaan yang aneh ketika Bisma berbicara seperti itu.


Tiba-tiba saja dia merasa kasihan terhadap Bisma ketika melihat senyumnya, laki-laki itu selalu saja tersenyum bagaimanapun sikap Billa terhadapnya. Billa yang selalu acuh terhadap Bisma padahal semua yang Billa inginkan selalu dipenuhi oleh Bisma, tapi dengan cepat Billa menepis pikiran anehnya itu.


***


Hari Minggupun tiba.


Bisma dan Billa berjalan memasuki sebuah gedung bertingkat yang sering orang sebut Bioskop itu beriringan dengan banyak orang yang juga hendak masuk kedalamnya.


Tak lupa mereka membeli cemilan popcorn, cemilan khas ketika berkunjung ke bioskop.


Bisma sengaja merangkul pinggang Billa, ya walaupun perempuan itu terus menepis tangan Bisma, tapi Bisma melakukan itu hingga berkali-kali dan membuat Billa kesal sendiri, akhirnya Billa membiarkan Bisma melakukan apa yang dia inginkan.


Suasana didalam Bioskop terlihat remang-remang, Bisma dan Billa duduk dikursi yang sesuai dengan tiket.


Tak berselang lama, filmpun diputar.


Billa sudah merasa tegang ketika filmnya baru saja diputar, film itu ternyata lebih menyeramkan dari yang Billa bayangkan.


Billa menjadi merinding sendiri ketika mahluk halus difilm itu sesekali muncul, tanpa Billa sadari, dia merangkul lengan Bisma yang ada disampingnya untuk sekedar menghindari ketegangannya.

__ADS_1


Bisma yang melihat tangan Billa melingkar dilengannya kembali mengembangkan senyumnya, dia juga sengaja melingkarkan tangannya pada punggung Billa.


Billa tidak menolak pelukan dari Bisma karena dia merasa nyaman dengan apa yang Bisma lakukan.


Billa sedikit menoleh kearah Bisma, terlihat laki-laki itu tengah tersenyum kearahnya.


"apa?" tanya Billa sinis.


"nggak!" jawab Bisma.


"kamu nonton fimnya nggak?" tanya Billa.


"nggak, aku lebih suka liatin kamu." jawab Bisma yang terus menebar senyum.


Menurut Bisma Billa adalah sumber kebahagiaan dihidupnya, dia tak dapat berhenti tersenyum ketika bersama dengan perempuan itu.


"nggak jelas." ucap Billa.


"udah, kamu nonton aja lagi. Aku liatin kamu nonton." balas Bisma kemudian.


Billa kembali memfokuskan pandangannya pada layar, mengacuhkan Bisma yang gemar sekali memperhatikan dirinya.


Entah kurang waras kah laki-laki itu, Billa sama sekali tak perduli.


***


Semua orang berbondong-bondong meninggalkan ruangan ketika filmnya sudah habis diputar, Bisma dan Billapun berjalan keluar dari gedung bioskop itu.


"Kamu seneng sayang?" Tanya Bisma ketika mereka berjalan menuju parkiran.


"lumayan." balas Billa.


Bisma kembali tersenyum mendengarnya.


Deg!


Tiba-tiba mata Billa menangkap satu pemandangan yang janggal, dia segera memasang penglihatannya baik-baik.


Entah kenapa otaknya terasa beku, dia dengan samar-samar mengingat kejadian dimasa lalu.


Matanya telihat membulat dengan sempurna, mulutnya menganga tak beraturan.


Dia tertegun, entah apa yang harus dia lakukan. Kakinya seolah berat untuk melangkah, bibirnya tak mampu untuk berucap.


Ya, wanita paruh baya itu adalah ibu kandungnya, ibu yang telah meninggalkan putri kecilnya dulu.


'Astaga! Itu mama!' Ucap Billa dalam hati.


Bisma yang melihat perubahan Billa merasa aneh sendiri, dia tak tau apa yang sedang dipikiran istrinya itu.


"Sayang, kamu kenapa?" Tanya Bisma bingung.


Billa tak menjawab Bisma, dia masih sibuk dengan pikirannya tentang perempuan disebrang sana.


Billa melihat wanita paruh baya itu hendak berlalu, seketika Billa tersadar, itu benar-benar ibu kandungnya.


Dia masih ingat betul setiap lekuk wajah miliknya, mana mungkin dia dapat melupakannya.


Setiap detik didalam hari-harinya Billa hanya memikirkan tentang dirinya.


Bisma semakin bingung dengan sikap aneh istrinya itu.


"Sayang, kamu sakit?" Tanya Bisma lagi.


'Mama!' Seru Billa kemudian.


Billa segera berlari untuk menghampiri ibu kandungnya itu, dia akan memeluknya dan melepas semua kerinduan dihatinya.


Dia tak ingin kehilangan lagi ibu yang telah melahirkannya, cukup selama ini dia menderita tanpa kehadirannya.


"Sayang!" Seru Bisma sedikit berteriak.


Namun istrinya itu sudah sedikit menjauh, Bisma tak tinggal diam, dia segera menyusul Billa.


Billa melihat mereka memasuki sebuah mobil yang sedari tadi terparkir disebelahnya.


Billa semakin mempercepat langkahnya.

__ADS_1


"Mama! Tunggu aku!" Seru Billa sedikit berteriak.


Namun sayang, mobil itu telah melaju dengan kecepatan sedang.


Sedikit lagi Billa dapat menyentuh mobilnya, dia hanya kurang beruntung.


Billa jatuh tersungkur diatas aspal panas itu, seketika air matanya mulai menetes mengenai pipinya.


"Mama tunggu!" Ucap Billa disela isakannya.


Bisma terlihat panik melihat istrinya itu, dia segera menghampirinya.


Bisma sedikit melihat kearah mobil yang baru saja berlalu, dia melihat plat nomor mobil itu.


"Sayang!" Seru Bisma, dia berjongkok menyamai posisi Billa.


"Kamu kenapa? Ada apa?" Tanya Bisma panik.


Billa tak menjawab, diapun masih terlihat panik dengan apa yang baru saja terjadi.


Semua terjadi dengan sangat cepat, diapun tak dapat mencerna dengan baik kejadian ini.


Billa terus menangis, dia sangat menyesal tak dapat bertemu dengan orang yang sangat dia rindukan.


"Sayang, jawab aku!" Seru Bisma.


Billa sedikit menoleh kearah Bisma, tatapannya terlihat begitu khawatir, dia mulai meraih lengan Bisma.


"Tolong kejar mama!" Ucap Billa.


"Itu ibu kandung kamu? Kamu yakin?" Tanya Bisma.


Billa mengangguk cepat.


"Aku mohon kejar dia Bisma!" Ucap Billa mendesak.


Bisma melihat Billa dengan perasaan yang tak menentu, dia dapat melihat kesedihan dimata istrinya itu.


"Aku janji aku akan temui ibu kamu nanti. Tapi nggak sekarang, mobilnya udah jauh sayang." Balas Bisma.


"Sekarang aja Bisma, aku mau sekarang." Ucap Billa kekeh.


Bisma meraih tangan Billa, dia merasa tak kuasa jika melihat istrinya itu bersedih.


Tangan kanannya mulai menghapus air yang sedari tadi mengalir dari mata Billa.


"Kamu harus percaya sama aku, aku akan menemukan ibu kandung kamu. Kasih aku waktu." Ucap Bisma kemudian.


Billa menggeleng.


"aku nggak mau nunggu lagi, aku mau ketemu mama sekarang." ucap Billa disela tangisnya.


Astaga!


Bisma sangat tidak tega ketika Billa terus mendesaknya untuk bertemu dengan ibu kandungnya.


"iya, iya, kamu tenang dulu, ya!" seru Bisma menenangkan.


Billa benar-benar kehilangan kesempatan untuk bertemu dengan orang yang sangat dia rindukan.


"Kita pulang sekarang ya, kamu nggak bisa kaya gini. Kamu harus inget sama bayi yang sedang kamu kandung, dia pasti ikut tertekan dengan kondisi kamu yang seperti ini." Ucap Bisma.


Billa terdiam, hanya terdengar suara isakan dari mulutnya.


"Ayo!" Seru Bisma. Dia membantu Billa untuk berdiri.


Billa mengikuti Bisma, jauh dilubuk hatinya dia masih belum menerima, sesuatu yang belum dia genggam namun sudah terlebih dahulu terlepas.


Bisma merasa sangat sedih, kenapa masalah selalu saja menghampiri istrinya itu.


Seolah mereka datang sesuka hati tanpa permisi namun mereka enggan untuk pergi, mereka seakan nyaman berlama-lama tinggal bersama Billa.


Tapi Bisma berjanji, dia akan selalu ada bersama Billa apapun yang terjadi.


***


Mohon tinggalkan jejak anda setelah membaca !!!

__ADS_1


__ADS_2