
"nggak Bill, aku percaya sama kamu. itu memang anak aku." ucap Bisma.
"bukan, ini bukan anak kamu. kalau kamu percaya sama aku harusnya kamu juga percaya kalau ini bukan anak kamu!" sentak Billa sambil menepis tangan Bisma kasar.
Tante Vera tersenyum sinis melihat pertengkaran antara Billa dan Bisma.
Dia merasa sudah menang, dia sangat senang ketika melihat Billa menderita. Diapun segera pergi karena lukanya terasa sangat perih dan harus diobati.
"nggak Bill, aku mohon kamu jangan gini!" balas Bisma.
"tapi apa yang mama bilang itu semuanya bener, aku itu perempuan nggak bener, jadi kamu boleh ceraikan aku sekarang juga." ucap Billa, tangisnya semakin menjadi-jadi.
Bisma sangat tak tega melihat Billa yang menangis.
"aku mohon Bill, kamu jangan sampai termakan sama omongan mama. Aku percaya yang ada diperut kamu itu anak aku. Jangan berpikir aku akan tinggalin kamu hanya gara-gara perkataan mama." ucap Bisma.
"ceraikan aku sekarang juga Bisma." ucap Billa sambil meraung-raung tak karuan.
Dia sudah terlanjur tidak punya harga diri dihadapan Bisma, diapun ingin agar Bisma membencinya dan melupakannya yang sama sekali tidak pantas bersanding dengannya.
"sampai kapanpun aku nggak akan lakuin itu Bill, setelah perjuangan yang selama ini aku lakuin buat miliki kamu, nggak mungkin semudah itu aku tinggalin kamu." ucap Bisma.
Dia sangat terbawa perasaan ketika melihat Billa menangis, rasanya diapun ingin ikut menangis, tapi sekuat tenaga dia mencoba untuk menahannya.
"apa yang kamu liat dari aku? Aku itu menjijikan, aku nggak pantas buat kamu, aku nggak bisa diharapkan. Aku perempuan nggak bener." Bill terus saja mengutuk dirinya sendiri.
Bisma langsung menarik Billa kedalam pelukannya, dia merasa sangat tak kuasa melihat Billa yang terus menangis.
Billa tidak menolak mendapat pelukan dari Bisma, justru tangisnya semakin menjadi-jadi dalam pelukan Bisma.
"karena aku cinta sama kamu, aku nggak akan pernah tinggalin kamu apapun yang terjadi. Aku mohon jangan suruh aku pergi dari kamu, aku sayang sama kamu, kamu satu-satunya manusia yang aku punya." ucap Bisma tepat ditelinga Billa.
"aku akan tetap bertahan sama kamu, jangan pernah berpikir kalau kamu nggak pantas buat aku, kamu sangat layak Bill, kamu punya hati yang tulus. Aku akan terus nunggu sampai saatnya tiba kamu bisa sambut cinta aku." lanjutnya kemudian.
Billa seperti terhanyut dalam semua kata-kata cinta Bisma, dia merasa sedikit tenang berada dipelukkan Bisma.
Entah apa yang dia rasakan sekarang, dia sendiripun tidak mengerti.
Billa mencoba mengatur nafasnya yang tidak beraturan.
"ya udah. kamu jangan nangis lagi. Kita obatin dulu tangan kamu!" ucap Bisma mengalihkan pembicaraan, dia tidak mau melihat Billa berlarut-larut dalam kesedihannya.
***
Bisma memutuskan untuk membatalkan pergi kerumahnya, dia masih mengkhawatirkan keadaan Billa.
Bisma takut jika tante Vera akan kembali menyakitinya.
Bisma berpikir mereka harus cepat-cepat pindah dari sana sebelum tante Vera berbuat yang lebih nekat lagi.
Bisma menghampiri Billa yang sedang mencatut kukunya disofa yang berada di kamarnya.
Diapun duduk disebelah Billa.
"Bill, gimana kalau kita pindahnya besok? Soalnya aku dapat kabar rumahnya udah siap ditempatin, lagi pula lusa aku udah mulai kerja." ucap Bisma memulai pembicaraan.
Billa menghentikan aktifitasnya ketika mendengar perkataan Bisma.
__ADS_1
'apa harus secepat ini? Apa nggak ada waktu lagi untuk berpikir?' tanya Billa dalam hati.
Billa menatap Bisma dengan tatapan yang sulit diartikan.
"kenapa? Kamu harus percaya sama aku, aku mau yang terbaik buat kamu. Kalau kita terus-terusan tinggal disini mama Vera nggak bakalan berhenti ganggu kita." Lanjut Bisma.
"dia seneng liat kamu susah dan dia susah liat kamu seneng dia nggak bakalan berhenti recokin aku sama kamu." sambung Bisma.
Billa sama sekali tidak menjawab berkataan Bisma, dia sangat bingung.
Tapi apa yang dikatakan Bisma memang benar, ibu tirinya itu tidak akan tidur dengan nyenyak sebelum dia puas menghina Billa.
Akhirnya Billapun memutuskan untuk ikut pindah bersama dengan suaminya, semoga saja keputusan yang diambilnya ini memang tepat.
Billa beranjak dari duduknya, dia melangkah menuju lemari dan menurunkan koper yang berada diatasnya.
Bisma mengerutkan keningnya melihat Billa.
'apa yang dia lakukan?' pikir Bisma.
Sedetik kemudian dia ikut beranjak ketika melihat Billa yang kewalahan menurunkan koper itu.
"kamu mau ngapain? Ini berat, Bill. Kamu nggak boleh angkat yang berat-berat, apalagi tangan kamu masih sakit, kan?" ucap Bisma, dia segera mengambil koper yang hendak Billa bawa dan menurunkannya.
"ini buat apa?" tanya Bisma setelah berhasil menurunkan koper itu
Billa merasa kesal mendengar pertanyaan Bisma, bukankah dia yang mengajaknya pindah?
Tapi kenapa dia masih bertanya koper itu untuk apa?
Bisma tersenyum ketika mendengar Billa berkata seperti itu.
Dia merasa sangat senang karena akhirnya Billa mau ikut pindah bersamanya.
"ya udah, aku bantu masukin baju-baju kamu." ucap Bisma.
Billa hanya sibuk menurunkan pakaiannya dari dalam lemari.
Bismapun mengikuti apa yang dilakukan Billa.
***
Malam harinya, terlihat papa, mama dan Rafael sedang duduk bersantai diruang tengah sambil membahas tentang cek up papa tadi dan perkembangan kesehatan papa.
Papa sudah mulai pulih dan bisa beraktifitas normal kembali.
Bisma yang baru turun dari kamarnya melihat mereka, diapun langsung menghampiri ketiganya.
Dia sengaja menyuruh Billa untuk tidak keluar dari kamar, Bisma takut tante Vera akan kembali menghina dan menyakiti istrinya itu.
"pa, ma, Raf. Ada yang mau saya bicarakan." ucap Bisma sesampainya disana, diapun langsung duduk disebelah Rafael.
"soal apa?" tanya papa.
Bismapun menyampaikan niatnya untuk meminta izin membawa Billa pindah dari rumah itu dan meminta do'a agar Billa bisa betah tinggal bersamanya.
"apa? Besok? Kok mendadak?" tanya papa sedikit kaget.
__ADS_1
"iya pa, saya memang sudah merencanakannya jauh-jauh hari, saya mau belajar mandiri. Tapi saya janji setiap saya libur pasti saya akan ajak Billa main kesini sekalian jengukin papa." ucap Bisma.
"kalau itu keputusan kamu, papa bisa apa? papa hanya bisa mendo'a kan yang terbaik buat kalian. Tolong jaga Billa dan anak yang ada dikandungannya." ucap papa.
"sorry ya Bis, gue nggak bisa antar kalian, gue harus kerja besok." ucap Rafael.
"ya nggak apa- apa, gue tunggu loe main kesana." balas Bisma.
"itu pasti." balas Rafael.
Tante Vera melihat Bisma dengan tatapan yang tidak jelas, dia merasa kesal tapi juga merasa senang.
Dia kesal karena kalau merek pindah, dia tidak bisa lagi merecoki rumah tangga mereka, tapi dia juga senang karena akhirnya yang selama ini dia inginkan agar Billa keluar dari rumah itu untuk selamanya terwujud juga.
Diapun hanya memasang muka masamnya tanpa berucap satu patah katapun.
***
Pagi harinya, setelah berpamitan kepada semua penghuni rumah, Bisma dan Billapun bergegas pergi dengan barang bawaannya.
Sebenarnya Billa merasa sangair berat untuk meninggalkan rumah itu, meskipun dia seperti dineraka berada disana, tapi banyak kenangan yang dia lewati.
Apalagi ketika melihat rumah yang berada disebrang sana, rumah Dicky, dia merasa sangat sedih ketika mengingatnya.
Tapi mau bagaimana lagi, dia harus melanjutkan hidupnya, dia tidak bisa selamanya berada didalam keterpurukkan.
Dia harus belajar menerima kenyataan, dia harus ikhlas menjalani semua yang terjadi didalam hidupnya.
"ayo Bill!" seru Bisma yang membuyarkan lamunan Billa.
Billa melihat Bisma yang sudah berada diatas motornya, diapun segera menyusulnya.
Bismapun langsung menancap gas motornya dengan kecepatan sedang.
***
Setelah lebih dari setengah jam berkendara, akhirnya Billa dan Bisma sampai didepan sebuah rumah dikawasan komplek perumahan.
Bisma memarkirkan motornya dihalaman rumah itu.
Billa sedikit tidak percaya jika itu adalah rumah yang akan dia tempati.
Rumah itu tidak terlalu besar, memiliki dua lantai, halaman yang cukup luas dan bercat pink seperti warna kesukaan Billa.
Rumah itu terlihat sangat indah dipandang walaupun nampak sederhana.
"tolong bukain pintunya, kamu yang pegang kuncinya kan?" tanya Bisma.
"iya." balas Billa, diapun segera membuka pintu rumah itu.
Billa kembali menganga ketika melihat isi rumahnya, dia sangat tidak menyangka jika rumah itu benar-benar siap untuk ditinggali.
Disana sudah terdapat furniture yang lengkap, kursi, home teather, kitcen set dan semua peralatan rumah tangga lainnya.
Billa terus memuji rumah itu didalam benaknya, dia terus memperhatikan rumah itu tanpa berkedip sambil tersenyum-senyum sendiri.
__ADS_1