
"Bill, kamu belum tidur?" tanya Bisma kemudian.
Billa tak menjawab, sebenarnya dia merasa ngantuk, tapi dia tidak bisa tidur karena perutnya yang keroncongan, dia jadi kebingungan sendiri karena tidak ada makanan.
"ayo tidur! Ini udah malam." seru Bisma.
Tiba-tiba terdengar suara perut Billa yang berbunyi.
Bisma mengerutkan dahinya mendengar itu, diapun beranjak duduk.
"kamu belum makan, Bill?" tanya Bisma.
Billa hanya memasang wajah kesalnya tanpa membalas pertanyaan Bisma.
Bisma tersenyum ketika melihat ekspresi istrinya, menurut Bisma wajah Billa terlihat sangat lucu saat berekspresi seperti itu.
"kenapa nggak bilang dari tadi? Aku kan bisa beliin kamu makan." ucap Bisma.
Bisma beranjak dari tidurnya dan meraih jaketnya yang tergantung.
Billa hanya menoleh kearahnya tanpa berkata.
"aku kedepan sebentar, ya! Kamu tunggu aku pulang." ucap Bisma.
Diapun segera pergi keluar dari kamar.
Billa berpikir jika Bisma akan membelikannya makanan, dia melirik jam weker yang ada dimeja.
'jam 01.30, dimana laki-laki itu bisa menemukan makanan untuknya selarut ini?' pikir Billa.
Tapi Billa tidak memperdulikan hal itu, biarkan saja dia mencarinya sampai dapat.
Atau tidak dia akan melihat istrinya mati kelaparan.
***
Bisma baru saja kembali dari luar, untung saja masih ada tukang nasi goreng yang buka didepan komplek sana.
Bisma membuka pintu kamar perlahan, dia melihat Billa yang sudah terlelap.
Bisma menghembuskan nafasnya asal, dia menaruh tas plastik yang dibawanya diatas meja.
Sedetik kemudian dia duduk ditepi kasur, dia memandangi lekat-lekat wajah perempuan yang berada dihadapannya.
Sesekali dia tersenyum, Bisma pikir dia adalah laki-laki yang beruntung memiliki istri secantik Billa.
Tak hanya cantik, perempuan itu juga memiliki hati yang tulus.
Billa selalu tidak tega terhadap orang lain yang memohon kepadanya. Itulah kelemahannya, mungkin Bisma bisa sedikit memanfaatkan kelemahannya itu.
Perlahan tangan Bisma mulai menyentuh rambut Billa dengan penuh perasaan, dia sangat mencintai perempuan itu.
Hingga apapun dia lakukan untuk bisa memilikinya tanpa memikirkan apa yang dirasakan oleh perempuan malang itu.
Tapi dia berjanji, dia tidak akan pernah mengulangi kesalahannya lagi menyakiti Billa.
Billa merasakan ada sesuatu yang menyentuh kepalanya, sontak dia yang baru saja terlelap kembali membuka matanya.
Bisma sedikit kaget karena ternyata istrinya itu belum tidur pulas.
Billa beranjak dari tidurnya dan sedikit menjauh dari Bisma, dia menatap laki-laki itu dengan tatapan tajamnya.
"ngapain kamu?" tanya Billa sedikit panik.
"kirain aku kamu udah tidur, Bill." balas Bisma.
Billa tidak menggubris perkataannya.
"kamu makan dulu, ya! Ini aku beli nasi goreng." ucap Bisma kemudian.
Dia menyodorkan setorofoam berisikan nasi goreng itu pada Billa.
Billa sedikit menoleh kearah nasi goreng itu, dia merasa gengsi untuk menerimanya, tapi apa dia akan membiarkan egonya dan membiarkan perutnya kelaparan.
Bisma kembali tersenyum ketika melihat ekspresi Billa yang seperti orang kebingungan.
"aku suapin, ya?" tawar Bisma. Diapun segera membukanya dan menyiuk nasi goreng itu memakai sendok plastik.
"aku bisa sendiri." balas Billa kemudian.
"oh, ya udah." balas Bisma, diapun segera memberikannya kepada Billa.
Dengan sedikit ragu Billa menerima nasi goreng itu dan langsung menyantapnya.
Bisma terus memperhatikan Billa yang makan dengan lahapnya, sesekali dia tersenyum melihatnya.
__ADS_1
Billa sedikit menoleh kearah Bisma, dia merasa sangat risih karena Bisma terus memperhatikannya dengan tatapan yang aneh.
"kamu mau?" tanya Billa kemudian.
Bisma kembali tersenyum mendengar pertanyaan istrinya itu.
"nggak." balas Bisma cepat.
"terus ngapain liatin aku kaya gitu?" tanya Billa yang semakin geram.
Bisma semakin melebarkan senyumnya sebelum dia berkata.
"aku suka aja liatin kamu, kamu cantik, Bill." balas Bisma.
Billa merasa sebal dengan perkataan Bisma, diapun memutuskan untuk tidak berbicara lagi, atau tidak dia akan muntah ketika Bisma kembali berkata.
Dia segera menghabiskan nasi goreng yang masih tersisa, dia tidak memperdulikan Bisma yang terus saja memperhatikannya sambil tersenyum.
***
Pagi ini matahari bersinar memancarkan cahaya terangnya, dia seolah tersenyum hangat kepada setiap penduduk bumi yang mendapatkan sinarnya.
Tapi Billa belum juga mau membuka matanya, dia masih terjaga didalam tidurnya.
Jam sudah menunjukkan pukul 09:08, Bisma yang sedari tadi sudah terbangun sedikit tidak tega untuk membangunkan Billa yang masih tertidur pulas.
Mungkin perempuan itu masih ngantuk karena semalam sampai pukul 02:16pun mereka masih belum bisa tidur.
Hari ini Bisma masih mengambil cuti, jadi dia bisa sedikit bersantai.
Sambil menunggu Billa bangun, dia meraih ponselnya dan membuat panggilan pada seseorang.
"assalamualaikum." ucap seseorang disebrang sana dengan suara beratnya.
"waalaikumsalam." balas Bisma.
"kira-kira kapan rumahnya bisa saya tempati?" tanya Bisma kemudian.
"mungkin lusa pa. Kita sudah dalam tahap finishing." balas orang itu.
"oh, ok. Saya mau semua sesuai dengan yang saya inginkan." balas Bisma.
"baik, pa! Kami bekerja semaksimal mungkin agar bapa puas dengan hasilnya." balas orang itu.
Billa samar-samar mendengar seseorang yang sedang bicara, perlahan dia membuka matanya karena merasa terganggu dengan suara itu.
Bisma yang menyadari Billa sudah terbangun, langsung mengakhiri panggilannya itu.
Dia langsung beranjak dan menghampiri Billa dengan senyum yang mengembang dibibirnya.
"kamu udah bangun, Bill?" tanya Bisma.
Billa yang masih merem melek tidak menjawab pertanyaan Bisma, karena dia merasa pertanyaannya sangat tidak penting.
Billa segera beranjak dan melangkah menuju kamar mandi.
Bisma yang merasa dicueki langsung mengambil tindakan, dia mengikuti langkah Billa hingga kedalam toilet.
Billa merasa kaget ketika Bisma mengikutinya.
"mau ngapain kamu?" tanya Billa sedikit kesal.
"aku mau temenin kamu, takutnya nanti kamu muntah lagi." balas Bisma.
Billa langsung mendorong Bisma hingga keluar dari kamar mandi.
"jangan macam-macam kamu!" seru Billa kemudian.
Diapun menutup pintu kamar mandi dengan keras, dia merasa sangat kesal karena Bisma bersikap menyebalkan.
"tapi, Bill. Nanti kalau kamu butuh apa-apa gimana?" teriak Bisma dari luar.
Billa tidak menggubris Bisma yang teriak-teriak tak karuan.
Bisma hanya cekikikan ketika membayangkan ekspresi kesal Billa tadi.
Billa merasa sangat terganggu dengan adanya Bisma, dia seperti tidak mempunyai privasi.
Dia menjadi bingung sendiri, apa yang akan dia lakukan setelah ini.
Dibawah pasti ada ibu tirinya, Billa sangat malas jika harus berhadapan dengannya. Billapun memutuskan untuk menghindari kedua orang itu.
Billa baru saja keluar dari kamar mandi, dia melihat Bisma yang masih berada disana.
'kapan dia akan pergi?' pikir Billa
__ADS_1
Diapun tidak menghiraukan Bisma dan bersikap seolah Bisma tidak ada.
"Bill, sarapan yuk! Aku lapar nih." ucap Bisma dengan wajah melasnya.
Dia mulai melancarkan aksinya agar Billa merasa kasihan terhadapnya.
Billa tidak menggubrisnya, dia sedang sibuk memoles cream diwajahnya.
"kita cari makan diluar, ya?" pinta Bisma kemudian.
Billa benar-benar acuh terhadap Bisma, diapun segera beranjak dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar.
Bisma menghembuskan nafasnya asal melihat istrinya yang selalu bersikap dingin.
Diapun mengerti jika perempuan itu belum bisa menerimanya sebagai suami setelah apa yang telah dia perbuat.
Bisma sangat memahami hal itu, diapun tak tinggal diam, dia segera pergi untuk menyusul Billa kebawah.
***
Sesampainya dibawah, Bisma tidak melihat keberadaan Billa, dia mencari Billa kesetiap sudut rumah.
Namun yang dia temui adalah ibu mertuanya yang sadis itu.
"gimana? Kamu sudah transfer uangnya?" tanya tante Vera menegur Bisma.
"sudah mah, jadi mama bisa ambil sekarang juga." jawab Bisma.
Tante Vera langsung tersenyum kegirangan, tanpa berkata lagi, dia buru-buru pergi meninggalkan Bisma dan berniat untuk ke ATM mengambil uang yang baru Bisma transfer melalui m-banking.
Bisma hanya menggelengkan kepalanya melihat tante Vera.
Diapun memutuskan untuk mencari Billa diluar.
Dan benar saja, dari kejauhan dia melihat istrinya itu sedang berjemur dibawah sinar matahari pagi bersama dengan papanya.
Bisma tersenyum melihat kehangatan yang tercipta diantara mereka.
Diapun menjadi rindu akan sosok orang tua yang selama ini sudah meninggalkannya.
Bisma segera menghampiri Billa dan Om Ardi.
"pa, gimana udah enakan?" tanya Bisma kemudian.
"ya, beginilah. Papa senang karena mulai sekarang Billa ada yang jaga. Tolong jangan kecewakan dia. Saya mau melihat dia bahagia." balas om Ardi.
"papa bicaara apa sih?" bisik Billa pada Om Ardi.
Wajahnya bersemu merah ketika papanya berbicara seperti itu.
"iya, pa. Bisma janji, ya walaupun sekarang Billanya cuekin saya terus, tapi saya yakin lambat laun dia pasti bisa buka hatinya untuk saya dan mencintai saya seperti saya mencintai dia." ucap Bisma sambil tersenyum, dia sedikit menoleh kearah Billa yang sedari tadi terdiam.
Wajah Billa semakin memerah ketika Bisma berkata seperti itu, dia merasa sangat malu terhadap papanya.
Om Ardi tersenyum mendengar perkataan Bisma, diapun ikut menggoda Billa seperti yang dilakukan Bisma.
"iya, kamu yang sabar aja menghadapi sifat cueknya Billa, tapi sekalinya dia cinta sama seseorang, dijamin dia akan susah move on." ucap Om Ardi.
"berarti Bisma bakalan jadi orang yang paling beruntung kalau bisa dicintai sama Billa ya, pa?" tanya Bisma.
"ya pasti, karena cintanya Billa itu limitid edition." balas Om Ardi.
Bisma dan Om Ardipun tertawa bersamaan.
Sedangkan Billa, dia merasa sangat kesal karena sedari tadi mendapatkan ledekan dari kedua laki-laki itu.
Diapun memajukan bibirnya sambil menopang dagu.
Dia sangat sebal ketika diejek seperti itu.
Ketika sedang asyik tertawa, Tiba-tiba tante Vera terlihat berjalan tergesa-gesa dan melewati mereka tanpa sedikitpun menoleh.
Om Ardi yang heran segera menegur istrinya itu.
"ma, mama mau kemana? Kok buru-buru?" tanya Om Ardi kemudian.
Sontak Tante Vera menghentikan langkahnya dan menoleh.
"mama mau ke Bank, Pa. Sudah dulu, ya mama buru-buru nih." balas Tante Vera dan langsung kembali melanjutkan langkahnya.
Papa hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
Reflek Bisma dan Billa saling melempar pandangan, mereka seperti memiliki satu pikiran ketika mendengar perkataan Tante Vera.
Billa dan Bisma pikir Tante Vera akan langsung membawa uang yang Bisma berikan untuknya, tapi keduanya sengaja tidak memberi tahu Om Ardi.
__ADS_1
Billa merasa kesal dengan obrolan papanya dan Bisma yang terus saja meledek dirinya.