Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Bisma melamar Billa


__ADS_3

Walaupun tarian mereka terkesan tak jelas, tapi semua karyawan terlihat bahagia dan menikmati lagu sambil terus menari tak karuan sesuka hati mereka.


Billa terlihat sangat kebingungan dengan tingkah aneh mereka, dia hanya melihatnya sambil sesekali tertawa tanpa mengikuti kelakuan konyol mereka.


Ketika lagu berhenti semua orang berjongkok dan berlutut menghadap kearahnya.


Billa merasa sangat kaget, dia benar-benar dibuat bingung oleh mereka.


'Apa yang mereka lakukan?' Fikirnya.


Dari kejauhan dia melihat Bisma yang berjalan dengan perlahan kearahnya sambil membawa seikat bunga.



Deg!


Perasaan Billa mulai tak enak ketika melihatnya, seketika senyumnya memudar, dia menatap Bisma dengan tatapan sulit diartikan.



Seketika suasana berubah menjadi hening, Bisma mulai mengikuti yang lain, dia berjongkok tepat dihadapan Billa.


Billa sedikit menjauh, dia sangat grogi ketika Bisma melakukan hal itu.


"Aku nggak tau apa yang harus aku katakan. Aku bukan orang yang pandai merangkai kata buat mengutarakan rasa dihatiku." Ucap Bisma kemudian.


Dia menatap Billa lekat-lekat.


Billa merasa sangat malu, dia merasa tidak pantas diperlakukan seperti ini.


"Biar bunga ini jadi bukti dan semua yang ada disini jadi saksi cinta aku ke kamu. Kamu pasti udah tau perasaan aku selama ini seperti apa sama kamu. Kalau kamu menganggapnya itu cuma keisengan, kamu salah. Aku tulus cinta sama kamu. Aku sayang sama kamu." Ucap Bisma sambil menyodorkan seikat bunga.


Billa tak bergeming, seketika wajahnya memerah, dia tak tau apa yang harus dia katakan.


"Maukah kamu menikah denganku? Jadi pendamping hidupku?" Tanya Bisma kemudian.


Billa dan Semua karyawan disana dibuat tercengang dengan perkataan Bisma, mereka fikir Bisma hanya akan menembak perempuan itu.


Tapi ternyata Bisma mengajaknya untuk kejenjang yang lebih serius.


Beberapa karyawan dibuat baper oleh Bisma. Mereka berharap jika hal itu akan terjadi juga padanya.


Billa masih tak dapat mencerna perkataan Bisma dengan baik, dia begitu kaget dengan yang diucapkan Bisma.


Ternyata Bisma senekat itu.


"Bisma kamu ngapain sih? Ayo berdiri! Ini nggak lucu tau." Jawab Billa.


"Aku nggak lagi bercanda Bill, aku serius, aku mau kamu jadi istri aku, aku berharap banyak sama kamu." Ucap Bisma kemudian.


"Aku mau mempersunting kamu secepatnya." Lanjut Bisma.


Billa sangat tak menyangka jika Bisma akan melamarnya dengan cara seperti ini.


Billa bingung harus menolak Bisma dengan cara seperti apa.


"Terima aja udah nggak usah kebanyakan mikir!" Celetuk Bu Sri.


"Iya, terima dong buruan pegel nih!" Seru yang lain.


Bisma tersenyum mendengar dukungan dari mereka, dia yakin jika usahanya kali ini akan membuahkan hasil.


Sebentar lagi impiannya untuk memiliki perempuan itu akan terwujud.


"Jadi gimana? Kamu mau kan jadi istri aku?" Tanya Bisma sekali lagi.


Billa sangat bingung dengan situasi ini, bagaimana dia bisa menerima Bisma sedangkan dia telah memiliki kekasih.

__ADS_1


Dengan cepat Billa mengambil keputusan yang menurutnya tepat.


"Maafin aku Bisma, aku nggak bisa penuhi semua keinginan kamu. Aku nggak bisa terima cinta kamu. Aku udah punya pacar dan dia juga tulus cinta sama aku. Dan begitupun sebaliknya." Ucap Billa dengan tegas.


Seketika bunga yang Bisma pegang terjatuh mendengar penolakan itu. Hatinya terasa patah.


Dia fikir rasa seperti ini tak akan kembali dia rasakan. Dia tertunduk lesu, dia merasa sangat kecewa.


"Ahh apaan sih kok ditolak nggak seru banget!" Ucap salah satu karyawan.


"Iya nih udah cape-cape juga." Sambung yang lain. Merekapun kembali berdiri dan mulai meninggalkan tempat itu. Mereka merasa kecewa, sama seperti Bisma.


"Buang-buang waktu aja sih." Ucap yang lain.


"Kirain bakal diterima."


"Kacau loe Bis, DITOLAK!"


"Semangat ya! Jangan nyerah."


"Huuuu kacau."


"Menyedihkan."


"Jangan galau ya!" Ucap seseorang sambil menepuk pundak Bisma yang tertunduk.


Satu persatu karyawan itupun mulai berlalu meninggalkan mereka.


Bisma sama sekali tak memperdulikan perkataan mereka.


Bisma yang merasa kecewa tetap berusaha tegar, dia berusaha untuk tetap bersikap lembut kepada Billa.


"Kamu serius kamu udah punya pacar?" Tanya Bisma dengan suara mengecil.


"Iya Bisma." Jawab Billa.


"Kamu juga kenal kok. Nanti juga tau sendiri." Jawab Billa.


"Apa nggak ada kesempatan buat aku milikin kamu?" Tanya Bisma, matanya terlihat memerah.


"Maafin aku Bisma, aku nggak mungkin hianatin dia." Jawab Billa.


"Apa nggak ada sedikitpun perasaan buat aku dihati kamu Bill?" Tanya Bisma.


"Maaf Bisma, aku nggak pantes buat kamu. Aku cuma operator, sedangkan kamu?" Jawab Billa.


"Aku nggak perduli kamu siapa, yang jelas aku cinta sama kamu, kamu layak buat aku." Balas Bisma.


"Tapi maaf Bisma, aku udah berkomitmen dengan orang lain." Jawab Billa.


Tanpa mengucapkan sepatah katapun lagi Bisma pergi melangkahkan kakinya, walaupun itu terasa berat. Dia meninggalkan Billa dengan perasaan kecewa.


Kerja kerasnya selama ini sama sekali tak membuahkan hasil. Apa yang telah dia lakukan semuanya sia-sia.


Dia tak menyangka hatinya akan kembali patah, dan apa mungkin jika hatinya akan kembali utuh.


Billa sedikit kasihan melihat kepergian Bisma, diapun mersa tak enak hati.


Hati laki-laki itu telah dia patahkan.


Namun apa yang harus dia lakukan, diapun tak dapat memaksakan perasaannya.


'Semoga kamu bisa secepatnya lupain aku Bisma.' Ucap Billa dalam hati.


***


"Kenapa kamu tolak si Bisma sih? Diakan orangnya ganteng, baik, jabatannya tinggi lagi. Kasian kan dia?" Tanya Bu Sri disela kesibukan pekerjaannya.

__ADS_1


"Ada tiga alasan Bu. Pertama aku udah punya pacar, yang kedua aku malu, aku sadar aku siapa dia siapa. Kita nggak cocok dan yang ketiga aku nggak cinta sama dia." Jawab Billa.


"Tapi yang ibu liat dia nggak memandang kamu itu siapa. Keliatannya dia juga serius sama kamu. Dan menurut ibu kalian serasi." Balas Bu Sri.


Billa hanya geleng-geleng kepala mendengar perkataan wanita paruh baya itu.


***


Tok... Tok... Tok...


Billa yang sedang bersantai mendengar suara itupun segera membuka pintu.


"Mama?" Ucap Billa ketika melihat orang yang berdiri diambang pintu kontrakannya.


"Iya, Kamu nggak nawarin saya masuk apa? Atau jangan-jangan kamu nyembunyiin laki-laki lagi didalam." Ucap Tante Vera sambil celingukan kedalam.


"Astagfirulloh mama kok ngomongnya kaya gitu sih? Itu sama aja mama fitnah aku." Balas Billa.


Dia merasa kesal dengan kedatangan ibu tirinya itu.


"Ehh biasa aja dong, sombong banget sih kamu mentang-mentang udah kerja punya penghasilan sendiri." Ucap Tante Vera dengan nada sinis.


"Ya bukan gitu, maksud aku mama jangan berfikiran negatif terus tentang aku. Aku lagi belajar buat jadi orang yang lebih baik." Ucap Billa.


"What ever. Oh ya, saya kemari cuma mau minta duit. Biasa!" Ucap Tante Vera.


"Tapi aku belum gajian mah. Baru juga tanggal berapa." Jawab Billa.


"Ya udah, jadi tanggal berapa kamu gajiannya?" Tanya tante Vera lagi.


"Tanggal 1." Jawab Billa singkat.


"Ok, minggu depan saya kesini lagi, inget! Duitnya harus udah siap, ngerti! Utang kamu itu masih banyak! Kamu kerja seumur hidup juga saya nggak yakin akan lunas." Ucap Tante Vera meremehkan.


"Iya mah!" Ucap Billa singkat, dia tak ingin berlama-lama debat dengan ibu tirinya itu.


***


Malam minggu adalah malam yang ditunggu oleh Billa, malam ini dia memiliki janji dengan Dicky untuk dinner diluar.


Dia sengaja memilih kafe tempat Bisma bekerja agar laki-laki tau jika kekasihnya sekarang adalah Dicky.


Memang, Bisma masih bekerja dikafe Rangga, namun hanya pada malam minggu saja, selain kewalahan karena banyaknya pengunjung, Bisma juga masih sering tampil bersama bandnya.


Dicky yang tak taupun meng-iyakan pilihan Billa.


Billa terlihat lebih cantik dengan baju brukat yang dia kenakan.


Dickypun semakin kagum dengan kecantikan Billa, dia semakin mencintai perempuan itu.



Dicky dan Billa duduk disalah satu meja yang sebelumnya telah mereka pesan.


Dicky memberikan bunga mawar kepada Billa. Dengan senang hati Billa menerimanya.


"Bunga cantik untuk perempuan cantik." Ucap Dicky sambil menunjukkan senyum terbaiknya.


Billapun dengan senang hati membalas senyumnya.


"Makasih sayang. Kamu bener-bener udah berubah sekarang. Kamu bener-bener tepatin janji kam." Ucap Billa.


"Iya, semua berkat kesempatan yang kamu kasih buat aku." Ucap Dicky.


Dia mulai meraih kedua tangan Billa dan menciumnya dengan mesra.


"Oh ya Ky? Aku boleh tanya sesuatu nggak?" Tanya Billa, dia mulai berbicara dengan serius.

__ADS_1


__ADS_2