
Setelah 7 jam mengikuti pelajaran yang membosankan, akhirnya kini waktu yang ditunggu-tunggu oleh semua murid tiba. Ya, pulang.
Bisma sengaja mencari Felly, dia ingin mencari tau apa yang sebenarnya terjadi.
Bisma sedikit berlari ketika melihat Felly yang berada diujung koridor.
"Hey, tunggu!" Teriak Bisma.
Sontak Felly menoleh ke belakang. Terlihat Bisma tengah berlari kecil kearahnya.
"Ya, ada apa?" Tanya Felly.
"Boleh kita ngobrol sebentar?" Bisma balik bertanya.
"Ya, kenapa nggak?" Balas Felly.
"Loe kan temen Billa, loe pasti tau sesuatu tentang dia?" Tanya Bisma.
Felly mengerutkan keningnya mendapat pertanyaan dari Bisma.
"Maksud loe?" Tanya Felly sedikit bingung.
"Maksud gue apa loe tau Billa kenapa tadi pagi? Kok mukanya sampe kaya gitu?" Tanya Bisma kemudian.
"Emang kenapa loe mau tau banget tentang dia?" Felly balik bertanya.
Bisma menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendapat pertanyaan seperti itu.
Diapun bingung kenapa dia merasa sangat cemas kepada perempuan itu.
"Apa jangan-jangan loe suka sama dia?" Tanya Felly yang terus menodong Bisma dengan pertanyaan-pertanyaannya itu.
"Ya, loe bener. Tolong kasih tau gue Billa kenapa? Gue harus benerin kesalah pahaman ini." Ucap Bisma kemudian.
Entah kenapa Felly tersenyum mendengar pernyataan Bisma, dia merasa senang karena ada seorang laki-laki yang memperhatikan teman malangnya itu.
"Ok, jadi gini..." Felly menceritakan apa yang Billa ceritakan adanya tadi pagi.
Felly membongkar semua hal tentang Billa pada Bisma, tentang kehidupannya, tentang ibu tirinya.
Bisma sedikit tercengang setelah mendengar cerita Felly, dia benar-benar tak menyangka jika Billa mengalami hal menyedihkan seperti itu.
"Gue harap loe nggak mundur setelah loe tau tentang dia." Ucap Felly kemudian.
Bisma terdiam, dia semakin merasa bersalah, ternyata Billa memang benar.
Billa menjadi seperti ini gara-gara kesalahannya, karena kegoisannya.
Dia berfikir untuk cepat-cepat meminta maaf pada permpuan itu.
"Billa pantas kok buat dicintai, dia cantik, baik, dia punya hati yang ikhlas dan tulus. gue berharap loe bisa bikin temen gue itu bahagia. Dia pantas buat bahagia." Ucap Felly kemudian.
"Gue nggak akan mundur, thanks ya loe udah mau kasih tau dan dukung gue." Balas Bisma.
"Tapi loe harus janji loe jangan sampai kecewain dia, gue sayang banget sama dia." Balas Felly.
Bisma tersenyum mendengar perkataan Felly.
***
Billa sedang tidak mood untuk melakukan apapun, dia hanya terdiam dan mengurung diri dikamar.
Dia terlihat melamun, entahlah apa yang ada didalam fikirannya itu.
__ADS_1
Dia benar-benar tak habis fikir dengan hidupnya, selalu saja ada cara untuk membuat hatinya terluka.
Ibu tirinya itu sangat menjijikan, dengan perkataan kasarnya dia terus saja menyakiti hati Billa.
Entah sampai kapan keadaan seperti ini akan berlangsung?
Satu tahun, dua tahun? Billa sudah bertahan selama sepuluh tahun menghadapi keadaan ini seorang diri.
Apa mungkin tahun-tahun berikutnya dia akan tetap bisa bertahan?
Tuhan, kuatkan aku untuk menghadapi semua ini. Aku yakin dibalik semua yang terjadi Engkau telah mempersiapkan sesuatu yang indah untukku.
Aku hanya minta tabahkan hati ini, tenangkan fikiran ini dan hapuskan semua kesedihanku.
Aku bertahan demi orang-orang yang aku sayang, yang selalu ada untukku.
Titttt... Titttt....
Suara klakson motor itu terdengar sangat bising hingga membuat lamunan Billa membuyar.
'Siapa sih, berisik banget?' Tanya Billa dalam hati.
Billa sangat merasa terganggu dengannya, dia membuka jendela kamarnya dan melihat keadaan diluar sana.
Apa yang sebenarnya terjadi disana?
Ternyata suara motor dari rumah tetangga depan. Terlihat seorang laki-laki tengah cipika-cipiki dan berpelukan dengan Tante Dina, tetangganya.
Billa mengerutkan keningnya melihat sosok laki-laki itu.
"Tunggu, kok kayanya aku tau siapa cowo itu?" Gumam Billa. Dia sedikit memutar otaknya.
"Astaga, itukan Dicky." Ucap Billa spontan.
Ya, Dicky adalah sahabat masa kecilnya. Dia yang selalu menghibur Billa jika dimarahi ibu tirinya.
Namun beberapa tahun terakhir Dicky tak pernah terlihat lagi. Billapun merasa sedih karena telah kehilangan sahabat baiknya.
Billa membayangkan betapa lucunya Dicky dimasa kecil, dia selalu mengejek ibu tirinya untuk membela Billa. Billa tersenyum menginat hal itu.
Apa ini jawaban atas semua pertanyaan-pertanyaanku? Apa Dicky dikirim lagi untuk mengisi hari-hariku seperti dulu? Semoga saja iya.
Billa memperhatikan Dicky dari kejauhan sambil senyum-senyum sendiri.
***
Billa menutup kembali pagar rumahnya dengan perlahan. Dia mengawali pagi ini dengan mengucapkan Bismillah. Dia harap hari ini akan lebih baik dari kemarin.
Semua do'a terbaik telah ia panjatkan. Semoga semua berjalan sesuai harapan.
Wajahnyapun tidak terlihat sekusut kemarin, keadaan dan moodnya sudah sedikit membaik.
Dia mulai melangkahkan kakinya.
Tapi, tunggu...
Billa melihat seseorang yang tengah memanaskan motor di sebrang rumahnya. Dia merasa tak asing lagi dengan sosok itu.
Billa diam mematung sambil terus memperhatikan laki-laki itu.
Dicky melirik kearah Billa, dia sedikit berfikir.
Dia berfikir mengapa perempuan itu memperhatikannya seperti itu.
__ADS_1
Sedetik kemudian dia berjalan menghampiri Billa.
"Hai." Sapa Dicky sambil menunjukkan senyum terbaiknya.
'Astaga, senyumnya manis banget.' Ucap Billa dalam hati.
Billa benar-benar tak menyangka dengan Dicky yang sekarang, laki-laki itu terlihat sangat tampan dan menawan.
"Kamu masih inget aku?" Tanya Dicky kemudian.
"Dicky?" Jawab Billa sedit grogi.
"Ya, gimana kabar kamu? Udah lama ya kita nggak ketemu." Tanya Dicky.
"Aku baik kok. Kamu kemana aja? Lama nggak keliatan?" Jawab dan tanya Billa.
"Syukur deh kalo gitu. Aku nginep di pesantren di daerah Tasikmalaya." Jawab Dicky. Billa hanya manggut-manggut saja.
"Oh ya? Kamu mau berangkat sekolah juga, sekolah dimana?"/ Tanya Dicky kemudian.
"Di GDN." Jawab Billa apa adanya.
"Kalo gitu kita satu sekolah dong. Hari ini aku mulai sekolah disana." Ucap Dicky kemudian.
"Oh ya, bagus deh kalo gitu aku jadi ada temen deh." Balas Billa.
Dicky kembali tersenyum.
"Aku seneng deh Ky liat kamu sekarang." Balas Billa dengan antusias.
"Seneng gimana maksudnya?" Tanya Dicky sedikit bingung.
"Ya seneng aja, nggak tau deh kenapa." Jawab Billa sedikit tertawa.
Dicky ikut tertawa mendengar Billa tertawa.
"Aku juga seneng liat kamu, sekarang kamu cantik." Puji Dicky.
Seketika pipi Billa tersipu bersemu merah mendengar pernyataan Dicky.
"Emang dulu nggak cantik?" Tanya Billa.
"Dulu waktu kecil kamu itu imut, sekarang cantik." Jawab Dicky. Billa kembali tertawa mendengarnya.
"Emang imut sama cantik beda ya?" Tanya Billa.
"Ya bedalah." Jawab Dicky membalas senyum Billa.
"Ya udah kalo gitu kita bareng aja." Seru Dicky kemudian.
Billa terdiam sambil senyum-senyum memperhatikan Dicky.
"Ayo tunggu apa lagi? Nanti kesiangan lho." Seru Dicky.
Seketika Billa tersadar, diapun segera mengikuti Dicky.
"Emang aku boleh ikut sama kamu?" Tanya Billa bodoh.
"Emang siapa yang larang?" Dicky balik bertanya.
"Nggak tau deh." Balas Billa sambil cekikikan.
Dickypun segera menancap gas motornya dengan kecepatan sedang.
__ADS_1
***