
Bisma sedikit ragu untuk mengetuk pintu rumah Billa, kakinya terasa gemetar.
Namun dia harus melakukan ini, demi perempuan yang sangat dia cintai.
Rafael menuruni anak tangga rumahnya dengan sedikit berlari.
Tok... Tok... Tok...
Terdengar suara ketukan pintu dari luar. Rafael yang hendak keluarpun tak berfikir panjang lagi, dia segera membukanya.
"Loe!" Seru Rafael ketika melihat Bismalah yang berdiri didepan pintu.
Amarah Rafael seperti memuncak ketika melihat laki-laki itu.
Dia benar-benar tak dapat menahan emosinya, Rafael sangat marah kepada Bisma atas apa yang telah diperbuat olehnya.
Tanpa berfikir panjang Rafael langsung melayangkan kepalan tangannya pada wajah Bisma. Rafael melakukannya hingga berkali-kali.
Buk! Buk!
Bisma jatuh tersungkur, dia begitu kaget dengan perlakuan Rafael. Namun dia tak berani melawan, dia fikir dia memang pantas mendapatkan perlakuan seperti ini.
Bisma berfikir jika Billa sudah menceritakan apa yang terjadi kepada keluarganya.
"Masih berani loe nunjukin muka bejad loe disini?" Ucap Rafael dengan nada tinggi.
Bisma tak menjawabnya, dia menyusut ujung bibirnya yang berdarah karena pukulan Rafael, wajahnya terlihat membiru dan memar.
"B*****n loe! Loe berani sentuh adik gue!" Sentak Rafael disela kemarahannya.
"Gue bener-bener nggak nyangka ternyata fikiran loe sedangkal itu." Sambung Rafael.
"Maafin gue Raf, gue hilaf." Ucap Bisma yang tertunduk.
"Loe fikir dengan loe minta maaf bisa nyelesain masalah?" Tanya Rafael sambil berteriak tak karuan.
"Gue akan tanggung jawab. Gue mau menikahi dia." Ucap Bisma dengan tegas.
"Loe tau dampak dari perbuatan loe itu? Bokap gue kena serangan jantung." Ucap Rafael menggebu-gebu.
Bisma tercengang mendengar perkataan Rafael, dia benar-benar tak menyangka jika perbuatannya akan berdampak seburuk itu.
Bisma sangat merasa bersalah, dia sangat menyesali semua perbuatan kejinya itu.
"Jadi Om Ardi sakit? Gue bener-bener minta maaf, Raf! Gue nggak tau kalau kejadiannya bakal kaya gini." Ucap Bisma.
"Gue fikir loe beneran cinta sama dia, selama ini gue salah udah dukung loe buat sama dia." Ucap Rafael.
"Maafin gue Raf, gue terpaksa lakuin itu. Gue takut kalau nantinya Billa bakalan nikah sama Dicky. Gue nggak bisa terima, gue cinta sama Billa." Balas Bisma.
"Loe bilang cinta? Kalau loe cinta nggak mungkin loe sakitin dia. Mikir pake otak!" Ucap Rafael semakin menggebu.
__ADS_1
Bisma terdiam, dia tak tau harus seperti apa membela dirinya.
Dia pasrah atas apa yang Rafael ucapkan, perkataannya memang benar.
Drttt drttt...
Tiba-tiba ponsel Rafael berbunyi, dia sedikit menahan emosinya dan segera menerima panggilan masuk itu.
Diapun menarik nafas panjang.
"Ya, hallo mah?" Ucap Rafael
"Kamu kerumah sakit sekarang ya, Raf!" Balas Tante Vera disebrang sana.
"Kenapa ma? Papa baik-baik aja, kan?" Tanya Rafael yang terdengar panik.
"Iya, papa mau bicara sama kamu katanya! Kamu kesini sekarang ya!" Jawab Tante Vera.
"Bicara apa?" Rafael balik bertanya.
"Kamu kesini aja dulu, males mama jelasinnya juga. Ya udah, mama tunggu." Ucap Tante Vera terdengar kesal.
Diapun langsung memutus panggilan itu.
Rafael benar-benar dibuat bingung dengan ibunya itu.
Selalu saja seperti itu, dia tak bisa membiarkan Rafael beristirahat dengan tenang.
Bisma yang melihat Rafael kebingungan itu merasa sedikit heran.
"Ada apa, Raf?" Tanya Bisma kemudian.
Rafael sedikit menoleh kearahnya.
"Mending loe pergi dari sini." Usir Rafael.
"Gue mau ketemu sama Billa." Balas Bisma.
"Dia nggak akan mau ketemu sama loe!" Balas Rafael.
"Gue mohon, Raf! Gue mau jelasin semuanya." Ucap Bisma.
"Terserah loe!" Balas Rafael.
Rafaelpun segera pergi, dia akan menemui papanya lagi dirumah sakit meninggalkan Bisma yang masih berdiri mematung.
Bismapun memutuskan untuk segera menemui Billa.
***
Bisma membuka pintu kamar Billa perlahan, tangannya sangat gemetar ketika memegang handle pintu itu.
__ADS_1
Apa dia akan sanggup menghadapi kemarahan perempuan itu?
Namun Bisma harus siap mendapat perlakuan seperti apapun, itu adalah konsekuensinya.
Terlihat perempuan yang dia cintai itu tengah melamun, wajahnya terlihat sangat pucat.
Billa yang menyadari kehadiran seseorang reflek menoleh kearahnya.
Matanya seketika membulat melihat Bisma, dia terlihat sangat ketakutan.
Kakinya terasa gemetar, dia seolah membayangkan betapa kasarnya Bisma memperlakukannya malam itu.
"Mau apa kamu kesini?" Teriak Billa dengan suara seraknya.
Bisma benar-benar tak kuasa saat melihat keadaan Billa yang seperti itu.
Perempuan itu pasti menderita sendirian selama ini.
"Aku minta maaf Bill. Aku akan tanggung jawab, aku mau nikahi kamu." Ucap Bisma.
"Aku nggak mau. Pergi kamu dari sini. Aku nggak sudi, aku benci sama kamu." Teriak Billa tak karuan, dia sangat histeris melihat keberadaan Bisma.
Bisma mencoba untuk menengankan Billa, dia memegang tangan Billa.
"Dengerin aku dulu." Ucap Bisma.
"Lepas, jangan pegang aku. Pergi kamu dari sini sekarang!" Teriak Billa sambil menepis tangan Bisma kasar.
Tangisnya seketika pecah karena Bisma tak kunjung pergi, dia benar-benar muak melihat wajah Bisma.
Bisma reflek memeluk Billa, dia sangat tak kuasa melihat perempuan yang dicintainya itu menangis. Billa meronta-ronta tak karuan dalam pelukan Bisma.
"Lepas!" Seru Billa. Namun Bisma semakin mempererat pelukannya.
"Aku minta maaf. Aku lakuin itu karena aku cinta sama kamu. Aku udah nggak tau harus gimana lagi. Kamu nggak pernah kasih aku kesempatan. Aku nggak mau sampai kamu nikah sama Dicky." Ucap Bisma.
"Kamu nggak cinta sama aku, yang ada kamu cuma nafsu, kamu egois!" Seru Billa.
Bisma semakin merasa bersalah.
"Aku minta maaf, Bill!" Balas Bisma.
"Lepasin aku. Aku jiji. Kamu udah bikin hidup aku berantakan, kenapa nggak sekalian aja kamu bunuh aku, biar kamu puas." Bentak Billa sambil terus menangis, dia sudah seperti orang gila, rambutnya sangat berantakan.
Tanpa sadar Bisma menitihkan air matanya mendengar perkataan Billa. Dia tak kuasa menahan beban dihatinya. Dia sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan.
Billa sangat tergungcang saat ini, dia memukuli Bisma dengan sekuat tenaganya karena Bisma tak juga melepaskan dirinya, dia sangat marah terhadap laki-laki itu.
Bisma membiarkan Billa melakukan itu, walaupun dia merasa sedikit kesakitan.
__ADS_1
Tapi sakitnya dia tak seberapa dibandingkan sakit hatinya perempuan itu, biar bebannya sedikit berkurang dengan memukuli Bisma seperti itu.