
Happy reading guys, jangan lupa tinggalkan jejak anda setelah membaca, soanya likenya masih dikiiit banget...
***
Veni sedang menikmati makan siangnya bersama dengan ketiga temannya disebuah restoran yang berada tepat disebrang kantornya.
"Ven, loe kan ulang tahun hari ini, jadi loe teraktir kita ya!" seru Tasya salah satu temannya.
"apa kalau gue teraktir kalian, terus kalian bakalan kasih gue kado?" tanya Veni.
"ya, itu mah gampang. Bisa nyusul." timpal Olla temannya yang lain.
"ya udah, semua ini, biar gue yang bayar." ucap Veni akhirnya.
"yes, makan gratisan hari ini." ucap Gita kegirangan.
"ya udah, gue mau ke toile dulu, kalian makanlah yang kenyang!" ucap Veni, diapun beranjak dari duduknya dan melangkah pergi menuju toilet.
Ketiga teman Venipun melanjutkan memakan makanan yang mereka pesan itu.
***
Veni baru saja keluar dari toilet, dia berjalan untuk kembali kemejanya, tapi tiba-tiba saat keluar dari toilet perempuan lantainya berubah menjadi licin, Veni hampir saja terjatuh karena itu, tapi untungnya ada sepasang tangan yang sigap menangkapnya.
Deg!
Kedua pasang mata itu dipertemukan, Rafael tidak menyangka kalau dia akan kembali bertemu dengan perempuan menyebalkan itu ditempat ini.
Tapi, tatapan mata perempuan itu terlihat berbeda, terlihat lebih tenang tidak seperti sebelumnya yang memancarkan kebencian.
Veni yang tersadar, langsung melepaskan diri dari Rafael, dia sedikit menjauh darinya karena merasa risih.
"ngapain loe disini? Loe ngikutin gue ya dari tadi?" tanya Veni sedikit kasar.
"apa? Loe kegeeran banget sih, bukannya berterimakasih, kalau gue nggak ada mungkin kepala loe udah kebentur lantai. Geger otak deh loe." ucap Rafael.
"ya terus loe ngapain disini?" tanya Veni lagi.
"ya suka-suka gue dong, lagian ini tempat umum, jadi gue boleh datang kesini." jawab Rafael.
Veni terdiam, dia sangat sebal terhadap Rafael, tapi tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas dibenaknya.
"emm, apa loe berubah pikiran?" tanya Veni.
"berubah pikiran apa?" tanya Rafael.
"apa loe mau balikin sim sama ktp gue? Kalau bikin lagi ribet urusannya" ucap Veni. Rafael langsung tertawa mendengar perkataan Veni.
Veni menatap Rafael aneh.
"loe itu plin-plan banget jadi orang, nggak punya prinsip, nggak punya pendirian!" ucap Rafael, dia langsung pergi untuk menghindari Veni dan kembali menghampiri teman-temannya dimeja mereka.
"main pergi-pergi aja itu orang." gumam Veni, diapun berniat untuk menyusul Rafael.
Tapi Veni melihat Rafael yang sudah bergabung dengan teman-temannya, gengsi juga kalau dia harus mengejar-ngejar Rafael, Venipun memutuskan untuk kembali menghampiri teman-temannya.
"umur loe berapa sekarang Ven?" tanya Olla.
"24." jaeab Veni setelah meminum minumannya.
__ADS_1
"wah, udah cukup umur tuh buat kawin." ucap Tasya.
"mau kawin gimana cowonya aja nggak ada." timpal Gita.
"haahaha :D" mereka bertigapun tertawa bersamaan, Veni menatap mereka tajam merasa tidak suka diejek seperti itu.
"ehh, kalian tau nggak? Cowo-cowo yang duduk dimeja nomor 13 itu?" tanya Gita sambil menunjuk kearah Rafael dan kedua temannya.
Veni, Olla dan Tasyapun mengikuti arah telunjuk Gita.
'cowo rese itu?' tanya Veni dalam hati.
"emangnya kenapa?" tanya Olla.
"ternyata mereka adalah karyawan HighStar group." jawab Gita.
"apa? HighStar group perusahaan yang disebelah perusahaan kita itu?" Tanya Veni sedikit kaget dengan perkataan Gita.
Pantas saja dia bisa berada disini, ternyata kantor mereka bersebrangan dengan restoran ini.
"oh, pantesan aja gue sering banget liat mereka itu makan disini." ucap Tasya.
Veni menatap kearah meja Rafael dengan tatapan yang sulit diartikan.
"ehh, Ven! Ngelamun aja. Ayo bayar, kita udah selesai." ucap Olla yang membuyarkan Veni.
"ahh, iya. Gue bayar dulu." balas Veni, diapun berjalan kemeja kasir.
Rafael menoleh kearah Veni saat perempuan itu melewati mejanya.
"saya minta bill untuk meja nomor 3." ucap Veni pada penjaga kasir.
Seketika mata Veni membulat ketika melihat jumlah dari bill itu.
"apa? 800.000 ? ini pasti ada kesalahan." ucap Veni pada kasir itu.
"tidak nona, itu sudah tepat. Mereka juga membungkus berbagai makanan untuk dibawa pulang." ucap kasir itu.
Veni menoleh kearah teman-temannya, terlihat mereka yang menunjukkan banyak sekali gudibag berisikan makanan.
Veni menepuk keningnya asal.
'sial, mereka ngerjain gue!' ucap Veni dalam hati.
meja Rafael yang tepat berada didepan kasir membuat percakapan antara Veni dan penjaga kasir itu bisa dengan sangat jelas dia dengar.
"jadi bagaimana? Anda akan membayarnya dengan cash atau kartu kredit?" tanya penjaga kasir itu.
Veni merogoh sakunya dan mengeluarkan dompetnya, dia melihat hanya ada uang 300.000 , sedangkan kartu kreditnya dipinjam mama kemarin sore.
'astaga! Gimana ini?' tanya Veni dalam hati.
"emm, mba saya hanya bawa uang 300.000 , boleh sisanya saya bayar besok?" ucap Veni.
"tidak bisa, nona. Disini tidak melayani ngebon. Silahkan bayar kontan." balas kasir itu.
Rafael tertawa geli mendengar percakapan mereka.
"masa nggak bisa sih? Saya sering lho makan disini, lagian saya juga nggak akan kabur, saya bekerja di pt Lighthing ware yang berada disebrang sana." ucap Veni.
__ADS_1
"tetap tidak bisa nona." kekeh kasir itu.
Veni terlihat gelisah sendiri menghadapi situasi ini.
Tiba-tiba sebuah tangan menyodorkan lima lembar uang seratus ribuan diatas meja kasir, Veni sontak menoleh kearah orang itu.
"jadi lunas, kan?" tanya Rafael.
Kasir itupun menerima uang yang Rafael berikan.
"terimakasih." ucap kasir itu sambil tersenyum.
Veni tidak dapat berkata-kata, seolah mulutnya telah dibungkam oleh perbuatan Rafael.
"jangan biarkan ego dan gengsi loe itu mempermalukan diri loe sendiri." ucap Rafael.
Rafaelpun kembali melangkah menuju mejanya.
"tunggu." seru Veni saat melihat Rafael berlalu, sontak Rafael kembali menoleh kearahnya.
"makasih." ucap Veni.
***
Bisma telihat sedang diam diruang tengah, dia benar-benar tidak habis fikir dengan kejadian tadi siang.
Flash Back On
Bisma melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi dijalanan kota Bandung itu, suasana jalanan yang cukup lengang membuat Bisma dengan leluasa mengendarai motornya.
Tapi tiba-tiba, dari samping kiri sebuah motor ninja menyamai motor Bisma, dengan sengaja pengendara motor itu menendang motor Bisma hingga motor Bisma hilang keseimbangan dan terjatuh.
Untung saja jalanan sedang lengang hingga tidak ada kendaraan lain yang berada dibelakangnya, kalau tidak, mungkin Bisma sudah habis terlindas oleh kendaraan yang melintas.
Flash Back Off
Billa menghampiri Bisma sambil membawa beberapa cemilan untuk dia makan.
"kamu kenapa?" tanya Billa sambil duduk disebelah Bisma.
Bisma menoleh kearahnya sambil tersenyum, terlihat Billa yang sudah mengunyah snacknya.
"nggak kenapa-napa." jawab Bisma, dia sengaja tidak memberitahu istrinya itu kalau ada sesuatu yang janggal dengan kecelakaannya tadi.
Itu bukan kecelakaan, tapi suatu kesengajaan yang seperti sudah orang itu rencanakan, tapi siapa orang itu? Bisma berpikir jika dirinya tidak pernah memiliki musuh.
Billa menghentikan aktifitas makannya, dia menoleh kearah Bisma yang sedaritadi hanya diam saja.
"Bisma." ucap Billa lirih.
"ya?" sahut Bisma.
"tadi kenapa kamu bisa jatuh dari motor?" tanya Billa.
"aku nggak konsen nyetirnya, soalnya aku mikirin kamu terus." jawab Bisma sambil tersenyum kearah Billa.
"kamu itu ditanya serius jawabnya gitu." balas Billa.
"udahlah, lupain aja, lagian aku nggak kenapa-napa ini, kan?" ucap Bisma.
__ADS_1
"terus, soal permintaan Veni gimana?" tanya Billa.