Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Kabar buruk


__ADS_3

***


Keesokan harinya.


Pagi ini Veni terpaksa pergi bekerja dengan menaiki bis, seumur hidupnya dia baru merasakan naik kendaraan umum.


Berdesak-desakkan didalam bis, membuat Veni kapok untuk kembali menaiki bis lagi besok, sungguh pengalaman yang sangat menyebalkan.


'sial banget sih gue, kalau nggak kepaksa-kepaksa banget, gue nggak sudi naek kendaraan kaya gini.' gumam Veni dalam hatinya.


Dengan tiba-tiba bis itu mendadak berhenti, yang membuat semua penumpang kaget, apalagi sebagian penumpang yang tidak kebagian kursi sampai terjatuh karenanya.


Veni yang kehilangan keseimbanganpun ikut terjatuh diantara orang-orang yang memenuhi bis itu.


Beberapa penumpang mulai menaiki bis itu yang membuat suasana semakin sesak.


"ugal-ugalan banget sih nyetirnya!" seru Veni sambil beranjak dari jatuhnya, rambutnya terlihat berantakkan akibat insiden itu.


Rafael yang baru menaiki bis itu memperhatikan perempuan yang menggerutu itu dari belakang, ketika Veni kembali membalikkan badannya, dia sangat kaget ketika melihat Rafael yang berada tepat dihadapannya.


Rafael terlihat lebih kaget dari Veni ketika mengetahui jika perempuan itu adalah Veni.


"loe!" ucap keduanya spontan.


"ngapain loe disini?" tanya Veni dengan kasarnya, dia langsung memukul Rafael dengan tasnya, Rafael sedikit menghindari pukulan Veni.


"ehh, loe apaan sih? Loe udah gila, ya?" ucap Rafael sambil menghindar.


"gara-gara loe gue jadi harus naik kendaraan ini, dan loe liat? Penampilan gue jagi berantakkan, masa gue kerja dengan keadaan seperti ini?" ucap Veni dengan menggebu.


"loe pikir? Gue juga harus naik bis ini karena motor gue masuk bengkel, dan loe tau? Loe yang udah buat motor gue masuk bengkel." balas Rafael dengan empuknya.


"gue nggak mau tau, balikkin sim gue!" seru Veni.


"ketinggalan dirumah." balas Rafael.


"bohong loe, balikin nggak!" Veni semakin nekat, dia menggeledah saku jaket Rafael kemudian saku celananya.


"hey! Loe apa-apaan sih? Loe bener-bener udah nggak waras." ucap Rafael yang sedikit tertawa karena merasa geli dengan apa yang Veni lakukan.


Veni semakin gencar menggeledah saku Rafael.


Semua penumpang melihat Rafael dan Veni dengan tatapan aneh.


'apa yang sedang mereka lakukan?' tanya mereka dalam hati.


"pa, bu, tolong saya! Perempuan ini mau p**k**a saya." ucap Rafael karena Veni tidak mau menghentikan perbuatannya.


Seketika Veni menghentikan aktivitasnya, dia membulatkan matanya mendengar penuturan Rafael.

__ADS_1


"astaga! Jadi perempuan kok nyosor sih neng." ucap salah satu penumpang.


Veni menganga mendengarnya, sedangkan Rafael hanya cekikikan melihat Veni yang salah tingkah.


"iya, nggak liat ini tempat apa?" sambung penumpang yang lain.


"iya bu, dia itu ngejar-ngejar dan goda saya terus." ucap Rafael dengan percaya dirinya.


"mana ada, ini semua nggak bener. Yang ada dia yang kegeeran, saya nggak semelalukan itu ya!" Veni membela dirinya sendiri.


"alah, udahlah, udah ketauan juga masih aja ngeles." ujar Rafael.


"loe itu ya? Bener-bener udah mempermalukan gue didepan orang-orang." ucap Veni menyolot.


"apa? Mempermalukan loe? Bukannya loe nggak punya malu, ya?" tanya Rafael sambil tertawa ringan.


Veni semakin kesal dengan perkataan Rafael, dia kalah telak, dia sudah kehabisan kata-kata untuk membalas Rafael, dia menatap Rafael dengan tatapan tajamnya, seperti ingin memangsa Rafael.


Amarahnya sudah terlanjur memuncak, sedetik kemudian dia menyerang Rafael, dia mencekik leher Rafael, walaupun tubuh Rafael yang sangat tinggi menurutnya, dia sedikit berjinggit melakukan hal itu.


Rafael sangat kaget dengan kelakuan si Veni itu, dia merasa kehabisan nafas karena Veni mencekiknya dengan cukup kencang.


"loe udah gila!" seru Rafael sembari berusaha melepaskan tangan Veni dari lehernya.


Semua penumpang yang ada disana langsung berusaha untuk memisahkan mereka, salah satu dari mereka memegangi pundak Veni.


"lepas!" seru Veni saat beberapa penumpang itu menghalangi dirinya, dia terlihat seperti orang kesurupan.


"hey! Kalian berdua!" seru seorang kernet yang baru saja menghampiri mereka, tapi Veni tak kunjung mau melepaskan cekikkannya.


Merasa tidak dianggap, kernet itupun langsung mengambil tindakkan, dengan sekuat tenaganya, dia melepaskan paksa tangan Veni dari leher Rafael.


Akhirnya Veni kalah karena tangannya tidak sekuat kernet itu, Rafael membenarkan kaketnya yang berantakkan.


Veni masih menatapnya dengan tatapan tajam.


'sialan tu cewe!' ucap Rafael dalam hati.


"karena kalian sudah membuat kekacauan didalam bis saya, jadi harap kalian turun dari bis ini sekarang juga!" ucap kernet itu dengan tegas.


"apa? Tapi ini masih lumayan jauh ketempat tujuan saya." protes Veni


"ya siapa suruh kalian bertengkar didalam bis? Ini memang peraturan, jadi silahkan kalian keluar." ucap kernet itu.


"pir, stop!" serunya kemudian, bis itupun berhenti.


Tanpa membantah lagi, akhirnya Rafael dan Venipun terpaksa turun dari bis yang mereka tumpangi, kemudian bis itupun kembali melaju.


"dasar! Bis loe itu nggak bagus, udah supirnya ugal-ugalan, nggak sopan juga ngusir penumpang sembarangan." umpat Veni, dia menatap kesal kepergian bis itu.

__ADS_1


"yang bener aja, masa baru pertama kali naik bis langsung diusir. Bis ini bikin kesan buruk." lanjut Veni yang terus mengutuk bis itu.


"heh! Loe nggak ngaca sama diri loe sendiri sebelum mencela orang?" tanya Rafael.


Veni menoleh kearah Rafael.


"maksud loe apa?" tanya Veni sinis, Rafael tersenyum sinis menanggapinya.


"loe pikir loe nggak ugal-ugalan bawa mobil sampai-sampai loe tabrak motor gue, terus loe pikir loe sopan loe menganiaya gue ditempat umum kaya tadi? Loe gomong udah kaya orang bener aja, loe itu ngomong kaya nggak ada beban." ucap Rafael.


Veni tidak menjawab perkataan Rafael, dia sedikit berpikir jika apa yang dikatakan Rafael ada benarnya juga, dia menjadi malu sendiri.


"dan dengan kejadian ini, gue semakin yakin buat nggak balikin ktp sama sim loe selamanya. Bahkan gue bisa laporin loe ke polisi atas tuduhan berlapis. Pertama loe tabrak motor gue, kedua atas tuduhan penganiayaan, dan itu bukan tanpa alasan, banyak saksi mata yang melihat kejadian itu tadi." ucap Rafael panjang lebar.


Veni sedikit takut jika Rafael akan benar-benar melakukan apa yang dia katakan, apalagi Rafael bicara dengan sangat serius.


"emm, gini aja deh. Gue setuju buat tanggung semua biaya bengkel motor loe, dan sekarang loe balikin sim sama ktp gue, masalah ini selesai, kan?" tanya Veni sedikit bernegosiasi.


Rafael tersenyum sinis


"sorry, gue masih mampu buat membiayai ongkos bengkel motor gue." balas Rafael, diapun langsung melangkah pergi meninggalkan Veni.


"hey! Loe itu sombong banget tau! Lagian gue bisa urus lagi surat-surat penting gue itu." teriak Veni karena Rafael sudah menjauh.


Rafael kembali menoleh kearah Veni.


"suka-suka loe!" teriak Rafael tanpa menghentikan langkahnya.


"ya meskipun semuanya bakalan ribet karena gue harus bolak-balik ngurus itu semua pake kendaraan umum terus gue juga harus bolos kerja." gumam Veni berbicara kepada dirinya sendiri.


"Aaaaaa ngeseliiin." teriaknya tak karuan, beberapa orang yang melintas menatapnya dengan aneh.


Tapi Veni yang dasarnya memang tidak punya malu mengabaikan mereka yang berbisik-bisik tentang dirinya.


***


Siang ini Billa memasak banyak sekali makanan kesukaan Bisma, rasanya dia sangat bersemangat melakukan aktifitas apapun, pasalnya dia merasa hidupnya sangat lengkap, dia beruntung karena telah dipertemukan dengan keluarga yang selama ini jauh darinya.


Bip.. Bip...


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Billa yang sedang mengiris bawangpun langsung meraih ponselnya lalu meletakkannya diantara pundak dan telinganya, sedangkan tangannya tidak berhenti mengiris bawang.


"halo." ucap Billa.


"ya, hallo. Apa benar ini dengan keluarga dari tuan Bisma?" tanya seseorang itu dari sebrang sana, terdengar seperti suara seorang perempuan.


Deg!


Tiba-tiba saja perasaan Billa berubah menjadi tidak enak ketika mendapat pertanyaan seperti itu.

__ADS_1


"ya, saya istrinya." jawab Billa.


"Oh ya, saya hanya ingin mengabarkan kalau tuan Bisma baru saja mengalami kecelakaan, kondisinya kritis saat ini. Mohon kehadirannya untuk mengurus administrasi pasien." Ucap perempuan itu kemudian.


__ADS_2