Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Veni kecewa Bisma sudah menikah


__ADS_3

Happy reading guys...


***


"jadi ini istri kamu? Dia cantik sekali." ucap mama Dinar sambil tersenyum kearah Billa.


"apa? Istri?" tanya Veni yang terlihat sangat kaget dengan perkataan mamanya, tapi tidak ada orang yang memperdulikan kekagetannnya itu.


"mama." ucap Billa lirih, dia reflek memeluk mama Dinar, dia benar-benar sangat terbawa perasaan, dia tidak sanggup lagi untuk menahan air matanya entah itu air mata bahagia atau kesedihan, dia sama sekali tidak mengerti.


Mama Dinar sangat kaget ketika mendapat pelukkan dari Billa, ternyata yang Bisma katakan memang benar, jika istrinya itu ingin sekali bertemu dengannya.


"ma, aku kangen banget sama mama." ucap Billa tepat ditelinga mama Dinar.


Tapi kenapa perempuan itu memanggilnya mama? Mama Dinar sangat bingung dengan sikap Billa, perlahan Billa mulai melepaskan pelukkannya, mama Dinar mencoba untuk mencari tau tentang apa yang sebenarnya terjadi.


"kamu kenapa? Kok nangis?" tanya mama Dinar.


"ma, mama nggak inget aku?" tanya Billa yang membuat mama Dinar semakin bingung.


"Aku anak perempuan yang waktu itu mama tinggalin dirumah papa." ucap Billa disela tangisnya.


Astaga!


Mama Dinar benar-benar tidak menyangka dengan semua ini? Kenapa mereka dipertemukan dengan cara seperti ini? Apa yang harus dia jelaskan atas semua yang telah dia perbuat?


"kamu Billa?" tanya mama Dinar, dia merasa ini seperti mimpi, semua terjadi dengan sangat cepat sehingga dia tidak bisa mencernanya dengan baik.


"ya, aku Billa. Mama harus janji, setelah ini mama jangan tinggalin aku lagi ya." balas Billa.


Jleb!


Perkataan Billa sungguh menusuk kedalam hati mama Dinar, kenapa Billa sama sekali tidak marah terhadapnya? Kenapa dia malah bersikap seperti ini dan membuat mama Dinar merasa semakin bersalah.


"Maafikan mama, nak, karena selama ini mama sudah meninggalkan kamu. Mama benar-benar menyesal." ucap mama Dinar, dia ikut menangis ketika melihat Billa menangis.


"Mama kemana aja? Aku kangen banget sama mama." ucap Billa disela tangisnya.


"kamu tidak marah kepada mama, nak? Setelah mama meninggalkan kamu?" mama Dinar balik bertanya.


"mana mungkin aku marah, aku sayang sama mama, aku kangen." ucap Billa, tangisnya semakin menjadi-jadi.


Mama Dinar yang mendengarnya merasa sangat terharu, dia sangat malu terhadap dirinya sendiri.


'dia benar-benar memiliki hati yang tulus, setelah diterlantarkan selama bertahun-tahun, dia masih bisa bersikap baik terhadap ibunya.' ucap Bisma dalam hati sambil tersenyum kearah Billa, dia merasa semakin mengagumi istrinya itu.


Sungguh, pertemuan ini sangat sesuai dengan apa yang diharapkan Bisma, dia sangat bahagia melihat Billa bertemu dengan ibu kandungnya, momen yang sangat mengharukan menurut Bisma.


"tunggu-tunggu, ini maksudnya apa sih?" tanya Veni yang sama sekali tidak mengerti dengan apa yang terjadi, dia terlihat seperti orang bodoh berada disana.


Tidak ada orang yang mau menjawab pertanyaannya.


Bisma hanya sibuk mengusap pundak Billa, sedangkan mama Dinar sesekali menghapus air matanya dan Billa secara bergantian.


"ma, mama harus jelasin sama aku maksud dari ini semua!" teriak Veni semakin penasaran.


"Billa adalah anak kandung mama Ven, dia tinggal sama papanya selama ini." jawab mama Dinar akhirnya.


"nggak, nggak mungkin. Mama nggak pernah cerita kalau mama punya anak selain aku dan Liona." ucap Veni.

__ADS_1


"tapi itu kenyataannya, loe harus bisa terima ini semua." ucap Bisma.


Veni yang mendengar perkataan Bisma langsung tersadar jika semua ini terjadi gara-gara Bisma, dia mendekat kearah Bisma dan mendorong Bisma cukup kasar.


"gue tau apa tujuan kalian yang sebenarnya, kalian mau nipu mama gue, kan? Kalian mau apa? Uang? Gue bakalan kasih buat kalian, tapi jangan pernah kalian ganggu keluarga gue!" ucap Veni dengan nada tinggi, dia tidak terima jika nantinya kasih sayang mamanya itu akan terbagi kepada orang lain.


"loe kalau nuduh yang bener aja dong, gue masih mampu buat kerja, gue nggak mungkin cari uang dengan cara sepicik itu." balas Bisma.


"alah, gue udah tau tujuan loe, loe itu pembohong, loe bilang sama gue kalau yang pengen ketemu sama nyokap gue itu kakak loe, tapi ternyata?" tanya Veni menggebu-gebu.


"terus kalau gue pembohong loe apa? Apa loe juga bukan pembohong? Loe selalu aja halang-halangin gue buat ketemu sama tante Dinar." ucap Bisma.


Billa dan mama Dinar yang mendengar pertengkaran Bisma dan Veni langsung menoleh kearah keduanya, Billa dan mamanya sangat bingung dengan apa yang sebenarnya mereka ributkan.


"Bisma, kamu nggak malu betengkar sama perempuan ditempat umum?" tegur Billa yang membuat Bisma malu sendiri.


"maafin aku Bill." balas Bisma sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"harusnya loe minta maaf sama gue bukan sama dia." ucap Veni menyambar perkataan Billa.


"sudah Ven, benar apa yang Billa katakan, nggak seharusnya kalian bertengkar seperti itu. Kamu juga harus bisa menerima Billa sebagai adik kamu, sama seperti Liona." lerai mama Dinar.


"aku nggak mau, lebih baik aku nggak punya adik." balas Veni, dia yang terlanjur kesal langsung pergi meninggalkan tempat itu tanpa mau mengerti dengan keadaan.


Mama Dinar menghembuskan nafas asal melihat kelakuan anak tirinya itu.


"dia siapa, ma?" tanya Billa.


"dia anak dari suami mama, kamu jangan ambil hati ya perkataannya. Dia memang keras kepala anaknya, tapi sebenarnya dia adalah anak yang baik." jawab mama Dinar, Billa hanya manggut-manggut saja.


"kita tunggu apa lagi? Ayo pesan makan, apa kalian belum lapar?" tanya Bisma mengalihkan pembicaraan.


Sontak Billa dan mama Dinar menoleh kearahnya sambil tersenyum.


"jangan bilang seperti itu tante, itu sudah kewajiban saya." balas Bisma sambil tersenyum.


"Bisma, maafin aku ya udah salah paham sama kamu." ucap Billa.


"kamu nggak perlu minta maaf Bill, aku cuma mau kamu bahagia, liat kamu senyum itu bikin aku tenang." balas Bisma.


Mama Dinar yang melihat Bisma menatap Billa dengan tatapan seperti itu menyimpulkan bahwa laki-laki itu sangat mencintai putrinya. Diapun tersenyum melihat Bisma yang bersikap manis terhadap Billa.


Ketiganyapun langsung memesan makanan, tak berselang lama pesananpun datang, mereka menikmati makanan sambil berbincang-bincang.


"oh ya? Sudah berapa usia kandungan kamu, nak?" tanya mama Dinar.


"sudah menginjak 7 bulan ma." balas Billa.


"kamu beruntung nak memiliki suami seperti Bisma ini, dia sangat mencintai kamu, dia mau melakukan apa saja untuk membuat kamu bahagia." ujar mama Dinar.


Bisma hanya tersenyum mendengar perkataannya, Billa sedikit menoleh kearah Bisma.


'apa yang mama bilang memang benar, kenapa aku baru menyadarinya ketulusannya sekarang? Kalau aja dari dulu aku mau buka hati aku buat dia, mungkin aku nggak akan merasakan sakit.' ucap Billa dalam hati.


"mama nggak nyangka kalau dalam waktu dekat ini mama akan mendapatkan seorang cucu, mama sangat senang." ucap mama Dinar.


"iya, tante. Apa setelah ini tante mau berkunjung kerumah kita? Rumah kita nggak terlalu jauh kok dari sini." ucap Bisma.


"tentu, mama ingin tau dimana putri mama selama ini tinggal." balas Bisma.

__ADS_1


"ma, mama harus janji, mama nggak akan pernah tinggalin aku lagi. Aku butuh mama, udah cukup selama ini kita berpisah." ucap Billa.


"iya nak, mama janji, mama akan sering kunjungin kamu. Apalagi setelah bayi yang ada diperut kamu lahir, mama nggak sabar ingin cepat-cepat menggendongnya." balas mama Dinar.


Mama Dinarpun bercerita tentang kehidupannya dari awal dia berjuang sendiri membesarkan Billa sampai setelah meninggalkan Billa dirumah papanya.


Dia menceritakan bagaimana jatuh bangunnya kehidupan yang dia jalani, sampai dia bertemu dengan om Suryo papa Veni yang mengangkat derajat dirinya.


Billa dan Bisma sangat tak menyangka jika kehidupan mama Dinar sesulit itu, dan mereka mulai paham apa alasan mama Dinar meninggalkan Billa bersama papanya.


***


Veni melajukan motornya dengan kecepatan yang sangat tinggi, dia tidak perduli dengan kendaraan lain yang membunyikan klakson ketika dia mendahului kendaraan itu.


Dia seperti meluapkan emosinya dijalanan sana.


Dia masih tidak habis pikir kalau Bisma sudah memiliki istri dan istrinya itu adalah adik tirinya sendiri.


Veni tidak terima dengan semua ini, dia merasa sangat kesal ketika mamanya lebih membela perempuan itu ketimbang dirinya.


Veni sudah menganggap mama Dinar itu seperti ibu kandungnya sendiri, kasih sayang yang mama Dinar berikan untuknya melebihi ibu kandungnya.


Dia tidak ingin kehilangan mama Dinar, yang harus mama Dinar utamakan adalah dirinya, papanya, dan Liona, tidak boleh ada orang lain yang mengusik keluarga bahagianya.


Veni terus berjibaku dengan pikirannya tentang semua masalah ini, tanpa terasa air matanya mulai menetes, Veni sangat takut kehilangan mama Dinar, hanya dia yang bisa mengerti Veni dan selalu memanjakannya, bahkan papanya sendiri tidak pernah memberikan perhatian seperti yang mama Dinar berikan untuknya.


Tanpa terasa Veni telah sampai didepan rumahnya, dia segera turun dan membuka helemnya, dia berjalan asal-asalan memasuki rumahnya.


Dari ambang pintu, dia melihat papanya yang sedang memainkan laptopnya diruang tamu, Venipun segera menghampirinya.


"pa, ternyata selama ini mama bohongin kita." ucap Veni sesampainya dihadapan om Suryo.


Om Suryo yang sedang sibuk dengan laptopnyapun sontak menoleh kearahnya.


"maksud kamu apa Ven?" tanya om Suryo kemudian.


"ternyata mama itu punya anak selain aku sama Liona." balas Veni.


Seketika om Suryo menghentikan aktifitasnya, dia menatap Veni dengan tatapan yang sulit diartikan.


Dia menarik nafasnya panjang sebelum akhirnya kembali berkata.


"jadi kamu sudah mengetahui tentang putri dari mama kamu itu?" tanya om Suryo kemudian.


"apa? Jadi papa sudah tau soal anaknya mama itu? Kenapa selama ini papa sama mama nggak pernah kasih tau aku sama Liona?" tanya Veni sedikit berteriak.


"ya itu adalah komitmen kami berdua, kami tidak ingin mengungkit tentang masalalu, dan kalau sekarang semua ini terungkap, berarti itu adalah takdir, dan kalau sekarang mereka kembali dipertemukan berarti ini memang sudah saatnya mereka bersatu lagi. Biarkan saja mereka, mereka pantas mendapatkan kebahagiaan." ucap om Suryo panjang lebar.


Veni sangat tercengang dengan perkataan papanya, kenapa dengan mudah dia bisa berkata seperti itu?


"apa? Kok papa bisa ngomong kaya gitu sih? Papa nggak takut kalau nantinya mama bakalan ninggalin kita dan lebih memilih anaknya itu?" tanya Veni semakin menggebu.


"sudahlah Ven, papa sangat percaya sama mama kamu. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan." balas om Suryo, dia beranjak dari duduknya sambil menenteng laptop yang tadi dimasukkannya kedalam tasnya, diapun pergi meninggalkan Veni yang masih tidak habis pikir.


"pa! Ini semua nggak bener, pasti ada yang salah." teriak Veni, tapi papanya itu sudah menjauh walaupun suara Veni masih terdengar, om Suryo hanya mengabaikannya.


"kenapa sih orang-orang pada aneh semua, gue rasa cuma gue yang waras disini, semuanya gila!" umpat Veni yang terus menggerutu sendiri.


***

__ADS_1


Jangan lupa tinggalkan jejakn anda setelah membaca !!!


Like anda sangat berarti buat author...


__ADS_2