
"tuh kan ketawa, ngeselin." Billa memanyunkan bibirnya.
"iya maaf maaf, ehh gimana sama si Bisma? Kamu udah mulai suka sama dia?" tanya Rafael yang terus memancing kekesalan Billa.
"apa sih Coco, jangan bahas itu." Billa beranjak dari duduknya dan berjalan kearah dapur.
"ya Coco cuma mau tau aja, Coco penasaran sama kisah percintaan kamu sama Bisma." ucap Rafael yang bisa didengar oleh Billa.
Billa mengeluarkan bubur kacang dari kulkas dan memanaskannya kembali menggunakan microwave.
Dia sedikit berpikir apa mungkin yang dia rasakan terhadap Bisma belakangan ini adalah perasaan cinta? Dia sendiripun masih bingung.
***
"jadi begini tante, sebenarnya waktu dibioskop istri saya melihat tante dari kejauhan, semenjak waktu itu dia terus bilang pengen banget ketemu sama tante." ucap Bisma.
"apa? jadi kamu sudah punya istri?" tanya mama Dinar.
"iya, sekarang dia itu sedang hamil. Saya takut kalau saya nggak mengabulkan permintaannya, nanti akan terjadi sesuatu yang nggak diinginkan sama anak saya nantinya." balas Bisma.
Mama Dinar terlihat serius menyimak perkataan Bisma.
"itupun kalau tante ada waktu luang, istri saya pasti bakalan seneng banget. Tapi saya yakin kalau tante bersedia, tante kan juga seorang perempuan yang pernah mengandung, pasti tantepun mengerti apa yang istri saya rasakan." ucap Bisma yang berusaha meyakinkan mama Dinar.
Mama dinar menatap Bisma dengan tatapan yang sulit diartikan.
"kamu benar, rasanya sangat sakit ketika keinginan kita tidak bisa dipenuhi apalagi ketika kita sedang mengandung." balas mama Dinar, tiba-tiba saja perkataan Bisma mengingatkannya tentang masalalu.
Dimana dia menghabiskan waktu dalam penderitaan, dalam kesendirian dimasa kehamilan pertamanya, tidak ada yang lebih menyedihkan daripada itu, ayah dari anak dikandungnya tidak mau bertanggung jawab.
Selama bertahun-tahun dia melewati harinya ditemani oleh air mata, tidak diakui oleh keluarga, diusir dan dihina-hina, dicampakkan dan diinjak-injak, dia berjuang sendirian melahirkan dan membesarkan anaknya tanpa ada satu orangpun yang tau tentang penderitaannya.
Tanpa terasa mata mama Dinar mulai berkaca-kaca mengingat hal itu, Bisma yang melihatnya sedikit bingung.
"maaf tante, jadi apa tante bersedia menemui istri saya? Saya sangat berharap kepada tante." ucap Bisma.
Mama Dinar menyusut matanya yang sedikit basah asal.
"ya, ya kenapa nggak? Saya sangat bersedia bertemu dengan istri kamu. Kamu pasti sangat mencintai istri kamu itu sampai-sampai kamu datang kesini untuk sekedar memenuhi keinginannya." balas mama Dinar.
Bisma tersenyum mendengar penuturannya, dia sangat senang akhirnya tujuannya akan membuahkan hasil, Billa akan bertemu dengan ibu kandungnya.
"iya tante, saya sangat mencintainya, nggak ada yang lebih penting dari kebahagiaannya." balas Bisma.
"ya sudah, kalau begitu, kapan dia mau bertemu dengan saya?" tanya mama Dinar terlihat antusias.
"secepatnya tante." balas Bisma.
***
Rafael dan Billa sedang menikmati bubur kacang yang dipanaskan Billa tadi sambil berbincang-bincang ringan, Rafael terlihat lahap memakan bubur kacang itu.
"pasakan kamu dari dulu memang selalu juara de." puji Rafael.
"biasa aja Co, nggak usah lebai gitu." balas Billa.
"oh ya Co, papa sehatkan? Aku kangen banget sama papa." ucap Billa kemudian.
"ya, papa sehat kok, kamu nggak usah khawatir. Semua itu berkat kamu, kamu memang bijak mengambil keputusan, kamu mau menikah demi kesembuhan papa, dan itu terbukti berhasil." balas Rafael.
Billa terdiam, Rafael memang benar, jika keputusannya untuk menikah dengan Bisma dulu adalah semata-mata untuk kesembuhan papanya, dia sangat benci terhadap Bisma atas apa yang dia perbuat dan menyebabkan papanya sakit.
Tapi kenapa sekarang rasanya berbeda? Rasanya Billa sangat mencemaskan Bisma saat laki-laki itu tidak ada didekatnya.
"Bisma pasti memperlakukan kamu dengan sangat baik ya? Sampai-sampai kamu lupa pulang dan tengokin papa, papa juga kangen banget sama kamu." ucap Rafael kemudian.
"bukan gitu Co, aku cuma males kalau harus ketemu sama mama. Coco tau sendirikan mama gimana sama aku." balas Billa.
"iya, Coco tau. Coco minta maaf ya atas nama mama, Coco juga nggak habis pikir sama mama kenapa dia nggak pernah bisa berubah." balas Rafael.
__ADS_1
"ya karena mama bukan powerangers jadi nggak bisa berubah." ucap Billa yang langsung disambut tawa oleh Rafael.
Merekapun tertawa bersama.
***
Dari balik dinding, terlihat Veni dan Liona sedang menguping pembicaraan Bisma dan mamanya, jaraknya yang lumayan jauh membuat perkataan mereka terdengar samar-samar.
Ditambah lagi Liona yang berada didepan Veni sedikit menghalangi penglihatan Veni, rambut Liona yang terurai sedikit mengenai wajah Veni, itu membuat Veni semakin kesal.
Liona terlihat lebih penasaran dari pada Veni.
"loe ngapain sih ikut-ikutan gue segala?" tanya Veni sambil menyingkirkan rambut Liona dari wajahnya.
"lah, loe sendiri ngapain ngintip-ngintipin cowo itu?" Liona balik bertanya.
"anak kecil nggak usah kepo, ini urusan gue. Udah sana loe pergi, ganggu gue aja loe!" seru Veni.
"gue nggak mau, gue pengen tau siapa sih cowo itu? Kok loe bisa kenal sama dia? Terus dia ada urusan apa sama mama, diakan temen loe tapi kenapa perlunya sama mama?" tanya Liona yang mengungkapkan semua isi diotaknya.
"loe itu bawel banget sih, gue gedeg tau denger loe ngoceh kaya gitu." balas Veni semakin geram.
"ya gue bawel kan gara-gara ikut-ikutan loe. Jadi salahin aja diri loe sendiri." balas Liona.
"loe itu bener-bener ya, awas awas! Ngehalangin gue aja loe." ucap Veni sambil menggeser tubuh mungil Liona agar sedikit menyingkir.
"apaan sih loe!" seru Liona.
Terlihat Bisma yang beranjak dari duduknya, dia berpamitan dan langsung melangkah kearah pintu diikuti oleh mama Dinar dibelakangnya.
"tuh kan, gara-gara loe dia jadi pulang. Mana gue nggak sempet dengerin pembicaraan mereka." gerutu Veni semakin kesal.
Liona menatap kakanya itu dengan dahi yang mengerut.
Tak berselang lama mamanya itu kembali dari luar, Veni langsung menghampirinya, Lionapun mengikutinya dari belakang.
"kamu udah tau tentang dia Ven?" mama Dinar balik bertanya.
"iya ma, ngapain mama buang-buang waktu cuma buat hal nggak penting. Mama nggak kenal kan sama dia, kalau ternyata dia mau nipu mama gimana?" tanya Veni.
"udah lah, Ven. Mama pikir nggak ada salahnya memenuhi keinginan seorang perempuan yang sedang hamil. Mama memang tidak mengenal mereka, tapi naluri mama seorang ibu yang pernah mengandung mengatakan kalau mama harus melakukan ini." balas mama Dinar sambil tersenyum kearah Veni.
"tapi, ma..." ucap Veni yang langsung dipotong mama Dinar.
"sudahlah Ven, ayo kita makan malam!" seru mama Dinar mengalihkan pembicaraan, dia langsung pergi meninggalkan Veni dan Liona menuju dapur.
"ish, bener-bener nyebelin." gerutu Veni.
"loe itu yang nyebelin, pake larang-larang mama segala. Ya terserah mamalah dia mau ngapain kek kan bukan urusan loe." ucap Liona yang membuat Veni semakin kesal.
"tau, aahh!" Veni yang terlanjur kesal meninggalkan Liona tanpa berdebat lagi dengan adiknya itu, Liona hanya geleng-geleng kepala melihat kakaknya yang kerjaannya hanya marah-marah saja.
***
"assalamualaikum." ucap Bisma sambil membuka pintu rumahnya yang tidak dikunci.
Dia melihat motor Rafael yang terparkir dihalaman rumahnya, dia pikir jika Rafael akan menginap seperti biasanya kalau besoknya adalah hari libur.
Rafael dan Billa yang sedang duduk bersantaipun sontak menoleh kearah sumber suara yang tak terlihat wujudnya.
"kayanya Bisma udah pulang de." ucap Rafael.
"iya." balas Billa singkat.
"tunggu apa lagi, ayo liat kedepan!" balas Rafael yang beranjak dari duduknya.
"ngapain sih, Co udah biarin aja." balas Billa.
__ADS_1
"kamu tuh suami pulang bukannya disambut." balas Rafael.
Bukannya Billa tidak ingin menyambut kepulangan Bisma, dia hanya kesal karena Bisma pulang selarut ini tanpa menghubunginya sama sekali.
Billa merasa sedih ketika Bisma seolah melupakannya seperti ini.
"hai Raf, loe ada disini?" tanya Bisma yang melihat keberadaan Rafael.
"iya, tadinya gue mau maen ps, tapi keliatannya loe cape ya habis lembur." balas Rafael.
"ahh, nggak kok. Kalau denger ps gue langsung semangat lagi." balas Bisma sambil menunjukkan deretan giginya.
Billa menatap Bisma dengan tatapan tajam, dia sama sekali tidak memperdulikan Billa, dia malah sibuk dengan Rafael.
Billa merasa sangat kecewa, kenapa Bisma berubah akhir-akhir ini? Apa rasa cintanya untuk Billa mulai pudar?
Sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya kearah televisi.
"ya udahlah, loe tunggu dulu sebentar, gue mau ganti baju." seru Bisma.
"gue udah nunggu lama dari tadi kali." balas Rafael.
"haha, iya sorry sorry, loe sih kesininya nggak ngabarin gue dulu." balas Bisma.
Bisma menoleh kearah Billa yang sedang fokus menonton, Bisma berpikir jika Billa masih marah terhadapnya karena kejadian waktu direstoran.
Bismapun memutuskan untuk memberitahu tentang mama Dinar besok saja.
***
Billa merasa sangat sedih ketika Bisma sama sekali tidak bicara terhadapnya, baru kali ini dia melihat sosok Bisma yang seperti orang asing.
Tanpa terasa cairan bening mulai menetes mengalir dikedua pipinya, dia mencoba untuk melupakan tentang Bisma, tapi dia tidak bisa melakukannya, dia berusaha untuk terlelap dalam tidurnya, tapi bayangan Bisma selalu muncul saat dia memejamkan mata.
Billa sangat muak dengan keadaan ini, kenapa perasaan seperti ini harus dia rasakan, bukankah hatinya sudah mati?
Sedangkan Bisma dan Rafael terlihat sedang asyik bermain ps dibawah, mereka memang sangat gemar melakukan kegiatan itu, hampir setiap akhir pekan Rafael berkunjung hanya untuk sekedar bertanding.
Bisma dengan senang hati melayani Rafael karena dia juga menyukainya.
Bisma sama sekali tidak menyadari kesedihan yang Billa rasakan, dia pikir jika Billa masih marah terhadapnya.
Padahal bukan itu yang Billa rasakan terhadap Bisma, Billa hanya ingin Bisma membujuknya agar tidak marah lagi, tapi sepertinya laki-laki itu sangat tidak peka.
***
Keesokkan harinya.
Hari sabtu yang cerah, matahari seolah tersenyum hangat kesetiap penduduk bumi, Rafael baru saja pulang setelah semalaman bergadang dengan Bisma, mereka hanya menyisakan waktu 3 jam saja untuk tidur.
Billa terlihat sedang menyiram tanaman dihalaman rumah, dia masih malas untuk melihat wajah Bisma.
Dia terus menyibukkan diri dengan mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Billa semakin sebal ketika Bisma melihat kembali tidur sehabis solat subuh.
Setelah selesai mengerjakan semua pekerjaan rumah, Billa melihat Bisma yang masih saja tidur, padahal matahari sudah hampir berada diatas kepala.
Billa memutuskan untuk diam diruang tengah, menonton tv sambil memakan snack yang memang selalu disediakannya.
***
Tepat pukul satu siang, Bisma terbangun dari tidurnya, dia merasa sangat ngantuk karena semalaman dia menghabiskan waktu untuk bermain ps.
Diapun beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Tak berselang lama, dia keluar dari kamar mandi dan langsung menunaikan shalat dzuhur.
Setelah itu, dia merasa perutnya sangat lapar, diapun memutuskan untuk turun dan mencari makan.
__ADS_1
***