
jangan lupa like, ya guys, happy reading...
***
"loe apaan sih nggak sopan banget, balikin tas gue!" seru Veni yang mencoba untuk mengambil tasnya, Rafael segera menghindar dari Veni, bukannya dia mengembalikan tas Veni, dia malah menggeledah isi tas itu.
Akhirnya Rafael menemukan sebuah dompet, dia segera membawa sim A, sim C dan ktp Veni.
"nah, ketemu. Ini gue jadiin jaminan, selain loe nggak bisa bawa mobil atau motor, loe juga nggak bisa lari dari tanggung jawab buat ganti motor gue yang rusak parah." ujar Rafael.
"astaga! Loe lakuin ini, justru gue semakin nggak sudi buat tanggung jawab!" ucap Veni semakin kesal dibuat Rafael.
"ok, kita liat aja nanti. Apa setelah gue sita sim loe, loe masih bisa ngomong gitu?" tanya Rafael.
Diapun langsung berlalu meninggalkan Veni yang tertegun, dia berjalan masuk kedalam rumah Bisma.
"sial, gimana gue berangkat kerja kalau nggak ada sim C?" gerutu Veni saat Rafael berlalu.
***
Rafael menghampiri mama Dinar, Bisma, Billa dan Liona yang sedang asik menikmati jus.
"gimana Raf? Masalahnya udah beres?" tanya Bisma saat melihat kedatangan Rafael.
"boro-boro beres, itu cewe ngeselin banget. Dia nggak mau ganti motor gue." jawab Rafael, diapun duduk disebelah Bisma.
Mama Dinar yang mendengar itu merasa sangat bersalah, bagaimanapun juga Veni adalah putrinya, diapun mempunyai tanggung jawab atas Veni.
"emm, nak. Maafkan sikap Veni yang kasar kepada kamu, ya? Kalau dia tidak mau bertanggung jawab, biar tante yang ganti semua biaya perbaikan motor kamu." ucap tante Dinar.
"iya, Co. Coco nggak perlu minta motor baru, kita coba perbaiki dulu motor itu." timpal Billa.
Rafael hanya manggut-manggut saja, dalam hatinya dia sedikit berpikir, benar juga apa yang dikatakan Billa, kenapa dirinya bisa berpikir untuk meminta motor baru? Padahal dia tau jika harga motor baru itu tidaklah murah.
Ah, tapi sudahlah. Rafael pikir untuk memberi pelajaran kepada perempuan itu, dia merasa sangat kesal karena bukannya meminta maaf justru perempuan itu malah balik memarahi Rafael.
"ayo kita cek dulu motor loe!" seru Bisma pada Rafael.
"ayo!" balas Rafael, keduanyapun beranjak dari duduknya.
"aku kedepan dulu ya, Bill." Bisma mengusap pundak Billa sambil tersenyum kearahnya, Billa mengangguk dan sedikit membalas senyum Bisma.
Lagi-lagi Liona memperhatikan sikap Bisma yang manis terhadap Billa, anak remaja seperti Liona memang sangat mudah baper.
"kak, kak Bisma itu ganteng banget ya!" bisik Liona setelah Bisma dan Rafael berlalu.
Billa tertawa mendengar perkataan Liona.
__ADS_1
"kenapa? Kamu suka sama dia?" tanya Billa yang terkekeh.
Liona hanya nyengir kuda kearah Billa.
"apa yang kalian bisik-bisikan itu?" tanya mama Dinar.
"emm, nggak ada kok mah." jawab Liona sambil nyengir, Billa hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah Liona.
"yang Veni tabrak motornya itu tadi siapa, Bill?" tanya mama Dinar kemudian.
"itu kak Rafael mah, anak mama Vera sama papa." jawab Billa.
"oh, jadi itu anaknya mba Vera. Gimana kabar papa kamu dan mba Vera sekarang Biill? Apa mereka sehat?" tanya mama Dinar lagi.
"mereka sehat, ma. Tapi beberapa bulan yang lalu papa terkena serangan jantung." jawab Billa sambil menunduk.
"apa? Bagaimana bisa papa kamu terkena serangan jantung?" tanya mama Dinar sedikit kaget.
Astaga!
Kenapa Billa bisa bicara tentang papanya, lalu bagaimana dia harus menjawab pertanyaan mamanya itu? Billa menjadi bingung sendiri.
"iya, ma. Tapi mama nggak usah khawatir, sekarang keadaannya sudah lebih baik dan bisa beraktivitas normal lagi." jawab Billa kemudian.
***
"loe baru tau, dia memang ngeselin." balas Bisma menanggapi perkataan Rafael.
"emangnya dia siapa sih? Kenapa bisa ada disini?" tanya Rafael.
"dia itu anak tirinya mama Dinar, gue juga pernah beberapa kali adu mulut sama dia. Orang itu kerjaannya cuma marah-marah aja." balas Bisma.
Tanpa disadari Veni yang sedari tadi berdiri didepan pintu mendengar perkataan mereka, Rafael dan Bisma yang baru keluar dari dalam rumah sangat kaget ketika melihat keberadaan Veni.
"dasar cowo-cowo tukang gosip, mulut kalian itu kaya ema-ema tau nggak? Kalau ngomongin orang tuh kira-kira dong, gue ada disini juga masih aja kalian omongin." ucap Veni dengan sinisnya.
Bisma dan Rafael saling menatap, mereka sedikit malu diciduki Veni sedang membicarakannya.
"loe itu keterlaluan banget Ven, kalau loe nggak bisa tanggung jawab, seenggaknya loe minta maaf sama Rafael." ucap Bisma.
"udahlah Bis, gue tau tampang kaya gitu mana punya duit, tampang orang kere." ucap Rafael blak-blakkan.
Veni membulatkan matanya mendengar perkataan Rafael.
"apa loe bilang? Kere? Loe nggak liat mobil gue? Gue jual mobil itu bisa dapet 30 motor kaya motor punya loe itu." balas Veni dengan sombongnya.
__ADS_1
Rafael tersenyum sinis menanggapi perkataan Veni, dia berpikir kalau perempuan itu benar-benar sombong.
"udah, udah. Gini aja deh." ucap Bisma, dia menoleh kearah Veni.
"Ven, loe mau kan tanggung jawab atas perbuatan loe?" tanya Bisma, dia menatap Veni dengan tatapan seriusnya.
Deg!
Veni yang ditatap seperti itu menjadi tidak fokus, tatapan Bisma seolah membungkam mulutnya.
Dia tidak bisa berkata-kata, tatapan Bisma bagaikan mengunci lidahnya, entah perasaan apa yang dia rasakan terhadap Bisma, dia merasa ada yang aneh dengan sorot mata Bisma, matanya seperti memancarkan sinar ketenangan.
"Ven!" seru Bisma.
"ya?" balas Veni seperti sadar tidak sadar.
Rafael melihat Veni yang menatap Bisma dengan tatapan aneh, dia sedikit curiga, kenapa perempuan itu sampai tidak berkedip ketika menatap Bisma?
Rafael mengerutkan keningnya sambil terus memperhatikan Veni.
"nah, dia udah mau tanggung jawab Raf. Jadi kita tinggal bawa motor loe ke bengkel dan semua biayanya biar Veni yang tanggung." ucap Bisma kemudian.
"apa? Gue yang tanggung?" tanya Veni ketika tersadar dari lamunannya.
"iya, bukannya tadi loe udah setuju? Iya, kan Raf? Loe denger sendiri." Bisma balik bertanya pada Rafael.
"ya." balas Rafael terdengar lesu, entah kenapa dia menjadi tidak bersemangat untuk kembali beradu mulut dengan Veni.
***
"kak, cerita sama aku gimana waktu kak Bisma melamar kakak?" tanya Liona dengan antusiasnya.
Billa menjadi kikuk sendiri mendapat pertanyaan dari Liona.
"iya, mama juga belum tau banyak tentang hubungan kalian, pasti Bisma ini orangnya romantis banget ya!" sambung mama Dinar.
"iya mah, apalagi pas aku liat kak Bisma menatap kak Billa, tatapannya itu seperti memancarkan sebuah kehangatan yang tulus dari dalam hatinya." ucap Liona dengan gaya lebaynya.
"apa sih kamu itu berlebihan, biasa aja nggak sampai segitunya." balas Billa mengelak.
Mama Dinar terkekeh melihat Liona yang menggebu-gebu bercerita tentang Bisma.
"ihh, beneran. Aku berpikir kak Billa sama kak Bisma itu pasangan paling sweet sepanjang abad ini." ucap Liona.
Mama Dinar dan Billa tertawa mendengar perkataan Liona yang semakin ngaco itu.
Tanpa disadari, Veni mendengarkan semua pembicaraan mereka sedari tadi, dia berdiri tak jauh dari tempat mereka berbincang.
__ADS_1