
Bisma meminjam motor Rangga untuk mengantarkan Billa pulang.
Rangga dan Rafael sangat mendukung Bisma.
Malam ini terasa begitu panjang karena Bisma bisa menghabiskan waktunya dengan perempuan yang dia cintai, ya walaupun Billa terlihat sangat kesal.
Billa semakin kesal karena Bisma membawa motornya dengan sangat lambat.
Bisma sengaja melajukan motornya dengan kecepatan pelan, agar dia dapat lebih lama bersama dengan perempuan itu.
"Lama banget sih kamu bawa motornya, bisa-bisa kita nyampenya subuh." Ucap Billa sedikit berteriak agar Bisma dapat mendengarnya.
Bisma tersenyum dibalik helmnya mendengar ucapan Billa.
"Ya udah, kalau gitu kamu pegangan yang kuat. Aku ngebut nih!" Seru Bisma.
"Nggak mau." Balas Billa.
Dengan sengaja Bisma menambah kecepatan motornya dengan sangat tinggi.
Billa yang kaget reflek melingkarkan tangannya diperut Bisma. Dia memeluk Bisma dengan sangat erat. Dia merasa takut akan terjatuh dari atas motor.
Bisma tersenyum merasakan tangan Billa yang menyentuh perutnya. Bisma melihat tangan Billa yang melingkar diperutnya, seketika jantungnya berdetak lebih cepat.
Pelukan Billa terasa begitu hangat ditubuhnya.
Dia begitu menikmati saat-saat bahagia seperti ini.
'Andai saja kamu jadi milik aku seutuhnya. Mungkin setiap hari aku akan merasakan kebahagiaan seperti ini.' Ucap Bisma dalam hati.
"Pelan dikit dong." Ucap Billa dengan kaki yang terasa bergetar.
"Tadi katanya suruh cepet." Jawab Bisma.
"Ya tapi nggak secepet ini juga. Aku takut." Balas Billa.
"Ya udah, aku minta maaf." Ucap Bisma, dia sedikit mengurangi kecepatan motornya.
Senyuman tak berhenti merekah dibalik helmnya, perasaan cintanya terasa membahagiakan walau hanya sekejap.
Bisma berfikir jika dia harus memiliki perempuan itu agar setiap saat dia bisa merasakan perasaan seperti ini.
***
Bisma menepikan motornya didepan gerbang rumah Billa, Billa segera turun dari motor yang mereka kendarai.
"Bill, makasih ya udah temenin aku malam ini, aku seneng banget." Ucap Bisma sambil tersenyum.
"Kenapa harus terimakasih? Aku rasa aku nggak lakuin apa-apa." Balas Billa.
"Menurut aku dengan adanya kamu dideket aku itu sangat berarti." Jawab Bisma.
Billa sedikit sebal ketika mendengar perkataan Bisma itu.
Beberapa lama mereka terdiam, seuasana berubah menjadi hening.
"Kamu nggak mau ucapin apa gitu sama aku?" Tanya Bisma.
"Ucapin apa?" Billa balik bertanya.
"Udahlah lupain! Sekarang kamu masuk gih! Istirahat." Seru Bisma kemudian.
"Ya udah, kamu pergi dulu." Balas Billa.
__ADS_1
"Aku mau liat kamu sampai masuk kedalam, udah itu aku langsung pergi." Ucap Bisma.
Billa tak habis fikir dengan laki-laki itu, harusnya dia yang berterimakasih kepada Bisma.
Tapi kenapa malah Bisma yang berterimakasih kepadanya?
Billa menggeleng pelan memikirkan hal itu. Dia tak ingin ambil pusing.
Dia menatap Bisma yang sedaritadi memperhatikannya.
"Ya udah." Ucap Billa.
Diapun segera berlalu.
Tapi tiba-tiba Bisma meraih tangan Billa, reflek Billa kembali menoleh kearahnya.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu, ini penting." Ucap Bisma dengan serius.
Billa melihat Bisma, matanya terlihat memancarkan sinar kehangatan. Tapi Billa segera menepis fikiran itu, dia segera membuang muka untuk menghindari pandangan Bisma.
Dia menjadi sedikit grogi karena Bisma menatapnya seperti itu.
"Soal apa?" Tanya Billa kemudian.
'Soal perasaan, jujur aku nggak bisa bohongin perasaan aku lebih lama lagi. Semakin lama aku pendam perasaan ini semakin aku tertekan." Ucap Bisma serius.
Billa terdiam, dia sama sekali tak mengerti dengan perkataan Bisma.
"Aku cinta sama kamu, tulus dari dalam hati aku. Aku nggak bisa liat kamu sedih terus, aku mau kamu bahagia sama aku." Ucap Bisma kemudian.
"?" Billa tak menjawab.
Bisma mulai meraih tangan kiri Billa hingga kedua tangannya digenggam Bisma.
Billa sedikit tercengang, dia segera menarik tangannya dari genggaman Bisma.
Entah apa yang dia rasakan ketika Bisma kembali menyatakan perasaannya.
Marah, kesal? Padahal Billa sudah dengan tegas menolak Bisma tadi, tapi kenapa laki-laki itu mengungkit-ngungkit lagi tentang perasaannya.
"Maaf Bisma, tapi aku nggak bisa terima kamu. Aku mohon jangan berharap sama aku." Ucap Billa kemudian.
Bisma merasa lesu mendengar penuturan Billa. Dia fikir jika perempuan itu akan berubah fikiran, tapi ternyata tidak.
Bisma berusaha untuk tetap bertutur lembut.
"Ya, nggak apa-apa aku ngerti kok. Aku cuma pengen kamu tau aja, kalau kamu itu nggak sendirian, ada aku dibelakang kamu yang selalu nunggu. Kalau kamu lelah atau butuh tempat cerita, datanglah. Aku siap kapanpun jadi pelarian kamu." Ucap Bisma kemudian.
Jleb!
Perkataan Bisma seolah menusuk kedalam hati Billa, sebegitu besarkah pengorbanan laki-laki itu hingga dia rela menjadi tempat pelarian?
Apa Billa salah telah memperlakukan Bisma seperti ini?
Billa menoleh kearah Bisma, laki-laki itu tengah tersenyum kearahnya.
Billa semakin merasa bersalah, mungkin Billa benar-benar telah mengecewakan perasaan Bisma.
Tapi kenapa dalam keadaan kecewa seperti inipun Bisma masih bisa tersenyum kepadanya?
Dia merasa bingung sendiri dengan perasaannya terhadap Bisma.
Terkadang dia merasa kesal ketika Bisma bersikap menyebalkan, tapi kadang dia juga merasa kasihan ketika melihat Bisma yang berbicara dengan kedewasaannya.
__ADS_1
Entahlah, Billa benar-benar pusing dibuatnya.
"Aku masuk duluan ya!" Pamit Billa.
"Ya udah, langsung tidur ya!" Ucap Bisma kemudian.
Billa sedikit tersenyum mendengarnya, sedetik kemudian dia berlalu meninggalkan Bisma sendirian ditengah gelapnya malam.
Bisma melihat kepergian Billa, dia berfikir bagaimana cara merebut hati perempuan itu?
Penolakan Billa tadi tidak akan dijadikannya alasan untuk menjauh dari perempuan itu, justru Bisma menjadikannya motifasi untuk instrofeksi diri agar menjadi lebih baik lagi dan menjadi seperti apa yang Billa harapkan.
***
Billa membuka pintu rumah itu perlahan, terlihat Rafael yang hendak menaiki anak tangga.
Billa yang melihat itu segera menghampirinya.
"Coco!" Seru Billa. Sontak Rafael menghentikan langkahnya dan menoleh.
"Ya, ehh kamu udah pulang dek?" Tanya Rafael terlihat tanpa dosa.
"Coco tuh ya, nggak merasa bersalah apa udah ninggalin aku?" Billa balik bertanya.
"Hehehe." Rafael hanya cengengesan.
"Coco nyebelin banget sih." Ucap Billa yang melipat kedua tangannya didada.
"Iya, Coco minta maaf deh!" Ucap Rafael kemudian.
Billa terlihat sangat kesal.
"Kamu pulang sendirian?" Tanya Rafael sedikit memancing Billa.
"Aku diantar Bisma tadi." Jawab Billa.
"Ya bagus deh. Dia orangnya baik kok, Coco percaya kamu sama dia." Ucap Rafael kemudian.
"Maksud Coco apa?" Tanya Billa sedikit tak mengerti.
"Gini dek, menurut Coco si Bisma itu suka deh sama kamu. Kamu jangan ketus-ketus sama dia, kasihan kan?" Jawab Rafael kemudian.
Billa terdiam mendengar perkataan Rafael. Kakaknya itu memang benar.
Bisma memang telah menyatakan perasaannya, tapi dia bersikap seperti itu agar Bisma tidak terlalu berharap kepadanya.
"Coco ngomong apa sih? Aku biasa aja perasaan." Balas Billa.
"Ya udah, kalau gitu cobalah buat buka hati. Bisma berharap banget sama kamu." Ucap Rafael.
"Tapi aku udah punya pacar Co." Jawab Billa.
Rafael tertawa mendengar perkataan Billa.
"Kenapa Coco ketawa? Ada yang lucu?" Tanya Billa.
"Iyalah, baru kali ini Coco tau kalau adek Coco itu laku juga." Jawab Rafael yang terbahak.
"Ihh, Coco ngeselin!" Balas Billa, dia sangat tak suka diledek seperti itu.
Dia segera menaiki anak tangga itu dan meninggalkan Rafael yang masih cengengesan.
***
__ADS_1