Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Billa ingin mati saja


__ADS_3

Bisma melajukan motornya dengan kecepatan sedang, dia mencoba untuk mencari Billa ditengah gelapnya malam ini.


Siapa tau saja perempuan itu masih berada disekitaran sana.


Bisma benar-benar merasa khawatir, dia takut jika terjadi hal yang buruk kepada Billa.


Jika saja dirinya bisa selalu berada didekat Billa, dia akan memastikan bahwa perempuan itu tetap dalam keadaan baik-baik saja.


"Kamu pergi kemana, Bill?" Gumam Bisma pelan.


Dia sangat takut jika perempuan itu kembali menghilang seperti waktu dulu, sedangkan sangat sulit untuk menemukan perempuan itu kembali.


Fikirannya sangat tak menentu, dia benar-benar dibuat galau oleh perempuan itu.


Tanpa Bisma sadari, seseorang hendak menyebrang tepat dihadapannya.


Reflek Bisma menekan rem motornya dengan kencang, dia takut jika orang itu akan tertabrak.


Tapi sialnya dia malah menekah rem depan sehingga motor yang dia kendarai tergelincir.


Seketika Bisma jatuh tersungkur, kakinya tertindih motor.


Bapak-bapak yang hendak menyebrang itupun tak tinggal diam melihat Bisma terjatuh.


Diapun segera membantu Bisma dengan mengangkat motornya terlebih dahulu.


"Maafin saya ya, kang!" Seru orang itu kemudian.


Bisma segera beranjak dari jatuhnya, kakinya terasa sedikit sakit karena tertindih motor, tangannyapun terlihat lecet-lecet terkena aspal.


Tapi Bisma berfikir jika kesakitannya itu tidak seberapa dibanding sakit hatinya Billa karena telah dia lukai.


"Iya nggak apa-apa." Balas Bisma sambil tersenyum kearah orang itu.


"Makanya kalau lagi bawa motor jangan sambil melamun!" Seru orang itu kemudian.


"Iya, saya minta maaf pa. Saya yang salah." Balas Bisma.


"Ya udah kalau gitu hati-hati, saya permisi dulu." Ucapnya.


"Iya, makasih ya pa udah dibantu." Balas Bisma.


Sedetik kemudian orang itupun berlalu meninggalkan Bisma.


Bisma membersihkan celananya yang kotor terkena tanah.


Dia menghembuskan nafasnya asal, dia kembali memikirkan tentang Billa yang perginya entah kemana.


Bisma berfikir tempat mana yang mungkin perempuan itu datangi?


Entah kenapa tiba-tiba fikiran Bisma tertuju pada tempat kost Billa dulu.


Siapa tau saja perempuan itu kembali ngekost disana, tanpa berfikir panjang lagi Bismapun segera pergi menuju tempat kost itu.


***


Dirumah sakit, Om Ardi dan Rafael terlihat sedang berbincang-bincang.


Mereka sedang membahas tentang Billa yang harus segera dinikahkan, atau tidak perutnya akan semakin membesar dan orang-orang bisa mengetahui apa yang terjadi padanya.


"Besok pagi kamu ajak adikmu itu kesini! Papa mau bicara sama dia. Kita harus selesaikan masalah ini besok." Seru Om Ardi.


"Tapi gimana kalau Billa nggak mau dinikahkan sama Bisma, pa?" Tanya Rafael.


"Ya maka dari itu papa harus bicara sama Billa, mau tidak mau dia harus mau. Ini semua demi kebaikkannya juga, kan?" Balas Om Ardi.


"Apa papa yakin mau menikahkan Billa dengan cowo b*******k itu?" Tanya Rafael.


"Sudahlah, Raf! Yang papa lihat Bisma sangat mencintai adikmu, papa yakin jika dia bisa membahagiakan Billa nantinya." Jawab Om Ardi.


"Kalau itu keputusan papa, Rafael bisa apa? Papa selalu tau yang terbaik buat kita. Semoga aja semua berjalan dengan lancar, dan semua masalah ini cepat selesai." Balas Rafael.


***


Bisma memarkirkan motornya didepan kostan Billa dulu, dia melihat kearah sana sambil mengerutkan keningnya.

__ADS_1


'Kenapa ada motor?' Fikirnya.


Dia sedikit ragu jika Billa berada ditempat itu, tapi kenapa firasatnya mengatakan kalau perempuan itu berada disana?


Seorang laki-laki paruh baya keluar dari kostan itu, dia merasa ada seseorang yang sedang memperhatikan tempatnya.


Diapun memutuskan untuk menegur Bisma karena merasa tidak nyaman dengan keberadaan orang asing menurutnya.


"Maaf kang, ada perlu apa, ya?" Tanya orang itu ketika berada dihadapan Bisma.


Bisma merasa sedikit tidak enak hati mendapat pertanyaan seperti itu, kesannya dia seperti orang misterius yang sedang mengintai orang.


Bisma menggaruk kepalanya yang tak gatal, sedetik kemudian dia berfikir untuk bertanya saja padanya.


"Gini pa, saya lagi cari orang. Apa bapa pernah lihatnya datang kesini?" Tanya Bisma, kemudian dia mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celana.


Bisma memperlihatkan layar ponselnya, terlihat Billa yang sedang tersenyum, dia terlihat sangat cantik disana.



Bapa-bapak itupun segera memperhatikan layar ponsel Bisma, dia mengerutkan kening ketika melihatnya.


"Wah, sepertinya saya tau nih. Foto orang ini ada didalam." Jawab bapak-bapak itu.


"Maksud bapak gimana?" Tanya Bisma yang tak mengerti dengan perkataannya.


"Iya, waktu pertama saya menempati kostan ini, ada foto orang ini disini." Jawab bapak-bapak itu.


"Iya, pa! Memang sebelum bapak kost disini, dia yang nempatin tempat ini." Balas Bisma.


"Oh pantesan aja." Balas orang itu.


"Jadi gimana? Bapa pernah liat dia datang kesini?" Tanya Bisma kemudian.


"Kalau liat langsung sih saya belum pernah." Jawab orang itu.


Bisma terlihat lesu ketika mendengar jawabannya, dia berfikir kemana lagi dia harus mencari Billa?


"Tapi coba tanya sama pemilik kost ini, siapa tau dia tau sesuatu." Ucap orang itu kemudian.


"Oh ya? Dimana rumah pemilik kostan ini?" Tanya Bisma kemudian.


"Dari sini kamu lurus, terus ada belokan, kalau udah lewatin belokan kedua itu rumahnya yang cat kuning." Jawab orang itu menjelaskan.


Bisma hanya manggut-manggut saja.


"Kalau gitu saya boleh titip motor disini? Saya mau kesana sebentar." Ucap Bisma.


"Iya, silahkan." Balas orang itu.


"Makasih ya, Pak!" Seru Bisma.


Bismapun segera pergi menuju tempat yang dimaksud orang itu.


Dia berharap jika dia akan menemukan informasi tentang Billa disana.


Bisma berjalan dengan gayanya yang cool.


Tak perlu waktu lama untuk Bisma sampai dirumah bercat kuning seperti apa yang dikatakan orang tadi.


Diapun mulai mengetuk pintu yang tertutup rapat itu.


Tok... Tok... Tok...


"Assalamualaikum." Ucap Bisma.


Pintu itupun dibuka seseorang, telihat perempuan paruh baya keluar dari rumah itu.


"Waalaikumsalam, ada apa ya?" Tanya perempuan paruh baya itu yang tak lain adalah Bu Rere.


"Maaf Bu, sebelumnya saya ganggu malam-malam. Saya hanya mau bertanya apa ada perempuan yang baru-baru ini datang buat kost disini? Tapi dia juga pernah kost disini selama 3 tahun." Tanya Bisma kemudian.


Bu Rere mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Bisma, fikirannya tiba-tiba saja tertuju pada Billa.


"Maksud kamu si Billa?" Bu Rere balik bertanya.

__ADS_1


"Iya! Apa dia pernah datang kesini? Atau dia kost lagi ditempat ibu yang baru? Dimana Billa sekarang, Bu!" Bisma menyerbu Bu Rere dengan pertanyaan-pertanyaannya.


Dia tak bisa menahan diri ketika Bu Rere menyebut nama Billa.


"Memang barusan dia datang kesini, tapi saya nggak kasih dia kost lagi disini." Jawab Bu Rere.


"Terus dia kemana sekarang? Kenapa ibu nggak biarin dia kost lagi disini?" Tanya Bisma.


Bu Rere sedikit kesal kepada Bisma karena terus menyerbunya dengan pertanyaan-pertanyaan yang membuatnya kikuk.


Dia tidak mungkin menceritakan tentang hal buruk yang dilakukan Billa kepada orang lain, bisa-bisa tak ada lagi orang yang mau kost ditempatnya.


"Ya karena tempat saya sudah penuh semua." Jawab Bu Rere berbohong, padahal masih ada 2 kamar yang kosong ditempat kostnya.


Bisma benar-benar tak habis fikir, dia mengusap wajahnya asal.


"Terus Billa tadi perginya kearah mana?" Tanya Bisma kemudian.


"Kearah rel, coba kamu cari sana! Dia juga belum lama perginya." Jawab Bu Rere.


"Apa? Rel?" Tanya Bisma sedikit kaget.


"Iya." Balas Bu Rere.


Tiba-tiba firasat Bisma berubah menjadi tidak enak ketika mendengar kata rel, dia berfikir jika dirinya harus segera menyusul perempuan itu.


Tanpa berucap satu katapun lagi, Bisma segera pergi meninggalkan rumah Bu Rere.


Bu Rere menatap kepergian Bisma dengan tatapan aneh.


Bisma berharap jika perempuan itu masih berada disekitaran sana dan dapat bertemu dengannya.


Dia takkan membiarkan perempuan itu pergi lagi dalam kehidupannya, kali ini dia benar-benar harus tegas untuk memperjuangkan cintanya.


***


Billa berjalan sendirian menyusuri rel kereta yang sangat minim cahaya itu, dia merasa sangat nyaman berjalan disana.


Tatapannya terlihat kosong, dia terus berjalan sambil menenteng dua tas ditangannya.


Entah setan apa yang merasuki dirinya, bisikkan itu seperti menyuruh Billa terus berjalan menelusuri rel yang entah ujungnya berada dimana.


Otaknya seperti telah beku, seolah dia tidak bisa memikirkan semua masalah yang terjadi didalam hidupnya.


Billa benar-benar terlihat seperti orang yang tidak waras, untung saja disana sangat sepi sehingga tak ada yang mengetahui keberadaan perempuan itu, mungkin jika dia mati tertabrak kereta sekalipun tak akan ada yang bisa menemukan mayatnya.


Billa tersenyum kecut memikirkan hal itu, sekarang biarlah semua berjalan apa adanya, dia sudah pasrah dengan apa yang akan terjadi dengannya.


Terdengar suara kereta dari arah kejauhan, Billa seperti tidak memperdulikan kereta yang akan lewat sekalipun, dia terus berjalan dengan langkah yang sangat pelan.


Tubuhnya terasa panas dingin ketika mendengar suara kereta yang semakin lama semakin jelas terdengar.


Dia berjalan sambil menutup kedua matanya, dia sudah ikhlas jika hidupnya akan berakhir ditempat itu.


Mungkin kematian adalah jalan terbaik dalam hidupnya, karena dengan mati dia tidak akan pernah merasakan kesakitan lagi.


***


Bisma berputar-putar disekitar rel seperti yang dikatakan Bu Rere, dia sedikit kesulitan mencari seseorang ditengah gelapnya malam ini.


Dia menyalakan senter yang ada di smartphonenya untuk sedikit menerangi.


Bisma terlihat sangat panik ketika melihat seseorang yang berjalan malas-malasan diatas rel, apalagi sebuah kereta terlihat akan melintas dijalur tersebut.


Bisma baru menyadari jika perempuan itu adalah sosok yang dia cari-cari.


"Bill, awas!" Teriak Bisma.


Namun Billa tidak mendengarnya, karena suara kereta itu sudah semakin dekat dibelakangnya.


Kini langkah Billa terhenti, dia benar-benar sudah pasrah, mungkin dia akan menemukan sebuah kedamaian setelah kematian.


Bisma tak hanya tinggal diam melihat Billa yang masih saja berdiri diatas rel, dia segera berlari menghampirinya.


'Semoga aja nggak terlambat.' Fikirnya.

__ADS_1


__ADS_2