
"kamu nggak salah rumah kan?" tanya Billa.
Bisma terawa ringan mendengarnya.
"ya nggaklah, ini rumah kita." balas Bisma sambil tersenyum kearah Billa.
Billa hanya manggut-manggut saja, dia masih sibuk memperhatikan sekitar.
"ya udah, kamu istirahat dulu. Biar nanti aku yang beresin baju-baju kamu." ucap Bisma.
"kamarnya dimana?" tanya Billa.
"Diatas, ayo!" Bismapun kembali menenteng tas besar yang tadi sempat ditaruhnya dilantai.
Billa dan Bismapun berjalan menaiki anak tangga menuju lantai dua rumah itu.
***
Sore harinya, Billa merasa perutnya sudah minta diisi, diapun pergi kedapur untuk memasak sayuran yang tadi dibelinya.
Billa memang senang memasak, hampir semua jenis makanan dia dapat membuatnya.
Billa mengiris wortel itu dengan hati-hati, dia takut pisaunya akan melukai tangannya.
Bisma yang melihat itu langsung menghampirinya, dia berjalan dengan mengendap-endap lalu memeluk Billa dari belakang.
"kamu masak apa sayang?" tanya Bisma seketika.
Billa sangat kaget ketika Bisma memeluknya dengan tiba-tiba, hampir saja pisau itu mengenai tangannya.
Bisma mencium wangi rambut Billa yang khas, dia semakin mengagumi sosok istri sempurnanya itu.
"Bisma kamu ngagetin tau, apa ini? lepasin!" seru Billa, dia sedikit meronta karena merasa risih dengan perlakuan Bisma.
"aku nggak mau lepasin, aku mau peluk kamu kaya gini terus." jawab Bisma, dia semakin erat saja memeluk Billa.
"lepasin atau nggak!" seru Billa sambil melayangkan pisau kearah Bisma.
Bismapun reflek melepaskan pelukannya.
"ihh, serem banget sih ngancemnya." ucap Bisma.
"aku nggak ngancem ya, aku serius. Kalau kamu berani pegang aku, pisau ini bakalan melayang." ancam Billa.
"iya sayang, maaf maaf." balas Bisma.
Billa membulatkan matanya mendengar Bisma memanggilnya dengan kata sayang, berani sekali dia.
"jangan panggil aku sayang!" seru Billa yang semakin kesal.
"ya nggak bisa dong, mulai sekarang aku bakalan panggil kamu sayang terus." balas Bisma sambil terus melempar senyum.
Astaga!
__ADS_1
Billa benar-kesal menghadapi sikap menyebalkan Bisma, dia tidak yakin akan bertahan lama tinggal dirumah itu jika Bisma terus-terusan bersikap seperti itu.
Billapun memutuskan untuk tidak menggubris Bisma yang terus berceloteh tak jelas, dia kembali sibuk dengan bahan masakannya.
Bisma yang merasa dicueki malah semakin gencar menggoda Billa tanpa memperdulikan perempuan itu yang tidak menganggapnya ada atau tidak.
***
Billa dan Bisma sedang menikmati makan malam yang dimasak Billa tadi.
"masakan kamu enak banget sayang, aku tadinya nggak suka sayur, mulai sekarang aku jadi suka." ucap Bisma sambil tersenyum kearah Billa.
Billa sangat malas berhadapan dengan Bisma karena sedaritadi Bisma terus saja menggodanya.
Bisma yang telah selesai makan beralih memperhatikan Billa yang masih sibuk dengan makanannya.
Sesekali Bisma tersenyum saat melihatnya. Billa yang menyadari itu merasa risih, dia sangat terganggu dengan kelakuan Bisma.
"ngapain kamu liatin aku kaya gitu? Kurang kerjaan!" seru Billa sedikit kesal. Bisma semakin melebarkan senyumnya mendapat teguran dari istrinya itu.
"nggak kenapa-napa, suka aja liatin kamu." balas Bisma kemudian.
"kamu cantik Bill, Nikita Willy aja kalah cantiknya. Dia bakalan minder kalau ketemu kamu." ucap Bisma sambil mengedipkan sebelah matanya.
seketika wajah Billa bersemu merah mendengarnya.
'Itu ledekan atau pujian?' pikir Billa.
***
Malam ini hujan turun dengan sangat derasnya, sambaran petir terdengar begitu mengerikkan disetiap telinga yang mendengarnya.
Billa duduk dipojok kasur sambil menutup telinganya, berharap suara petir itu tidak menembus kedalam indra pendengarannya, perasaannya sangat gelisah, situasi seperti ini sangat dibenci olehnya.
Bisma yang melihat Billa sedikit mengerutkan keningnya, dia baru ingat jika istrinya itu sangat takut terhadap petir, diapun langsung menghampiri Billa.
"hey! kamu kenapa?" tanya Bisma.
"aku takut!" balas Billa dengan suara yang gemetar.
"kenapa harus takut? kan ada aku disini." tanya Bisma.
"ya tapi tetep aja aku takut." balas Billa.
"ya udah, sini!" seru Bisma sambil mengulurkan tangannya berniat untuk memeluk Billa, tapi dengan sigap Billa menepisnya.
"katanya takut." ucap Bisma, Billa hanya menatapnya dengan tatapan tajam.
Daaar! Trek!
Tiba-tiba saja listrik padam beriringan dengan suara petir yang menyambar, seketika ruangan berubah menjadi gelap, ketakutan Billa semakin menjadi-jadi.
Reflek Billa memeluk Bisma yang ada dihadapannya, Bisma sedikit kaget karena Billa tiba-tiba memeluknya, tapi dia merasa sangat senang, pelukkan Billa terasa hangat ditubuhnya.
__ADS_1
Keadaan seperti ini sangat menguntungkan untuknya.
"kok listiknya padam sih?" tanya Billa dengan suara yang semakin gemetar.
"mungkin gara-gara hujan sama petirnya." balas Bisma.
Bisma menyalakan senter yang ada di smartphonenya untuk sedikit menerangi, agar ketakutan istrinya itu sedikit berkurang.
Daaar!
Kilatan petir semakin gencar saja meggelegar, Billa semakin mempererat pelukannya.
Dengan perlahan, Bisma mulai mengusap rambut Billa yang terurai dengan penuh perasaan.
Dia sangat tak menyangka jika cintanya saat ini terasa sangat bahagia, dia merasa cintanya bertambah besar kepada perempuan itu.
"kamu tau nggak kenapa setiap hujan turun selalu ada petir yang datang bersamanya?" tanya Bisma dengan lembut, Billa menggeleng dalam pelukan Bisma.
"karena petir dan hujan itu ibarat alunan musik, mereka melengkapi satu sama lain membentuk satu lagu yang indah." ucap Bisma kemudian.
"kamu nggak usah takut, karena dengan hujan turun, mereka akan menimpa tumbuhan dan ketika pagi datang kita bisa melihat bunga yang bermekaran dengan indah seolah dia.tersenyum menyapa kita." lanjutnya.
Billa tak bergeming, dia seperti hanyut dalam suasana romantis yang tercipta.
Beberapa saat suasana berubah menjadi hening, tidak ada kata yang terlontar dari keduanya, Bisma sangat menikmati pelukan itu, dia berharap jika waktu dapat berhenti saat itu juga untuk bisa merasakan kebahagiaan yang lebih lama lagi.
Billa terlihat sangat ngantuk, dia merem melek didalam pelukkan Bisma
Suara petir mulai sedikit berkurang, hujanpun terdengar tak sederas sebelumnya.
"katanya tadi nggak mau peluk, tapi sekarang kok meluknya kenceng banget?" tanya Bisma sedikit menyindir.
Sontak Billa membulatkan matanya yang tadi terasa berat, dia langsung melepaskan diri dari Bisma, dia terlihat gelagapan.
"emm, maaf." balas Billa sedikit salah tingkah.
Bisma tertawa melihat Billa yang berekspresi seperti itu.
"nggak usah minta maaf, aku kan suami kamu, kamu bebas mau apa aja dari aku, semua yang aku punya itu milik kamu. Kamu mau peluk aku dari pagi sampai malam sampai pagi lagi juga nggak apa-apa, malahan aku seneng." ucap Bisma panjang lebar.
Billa yang salah tingkah semakin tak karuan dibuatnya, wajahnya terlihat memerah
"apa sih kamu nggak jelas banget?" ucap Billa yang berusaha buang muka, dia tak ingin Bisma melihatnya yang tersipu, bisa-bisa laki-laki itu semakin besar kepala.
"ya udah, sekarang kita tidur ya! Besok aku udah mulai kerja lagi." balas Bisma.
Billa tak menjawab, dia sibuk membuat ekspresi kesal.
"atau mau peluk lagi?" tanya Bisma yang terus menggoda Billa.
"udah Bisma, kamu jangan ledekin aku terus!" ucap Billa sambil memanyunkan Bibirnya.
Bisma tertawa geli melihat ekspresi Billa, wajah perempuan itu benar-benar benar menarik bagaimanapun ekspresinya.
__ADS_1