Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Billa meminta maaf kepada Bisma


__ADS_3

Dicky memarkirkan Motor ninjanya ditempat yang seharusnya, Billa turun terlebih dahulu sebelum akhirnya disusul Dicky.


Mereka telah sampai disekolah dengan waktu yang singkat, ditengah perjalanan Dicky melajukan motornya dengan sangat cepat.


"Makasih ya Ky! Hari ini aku nggak naik angkot deh." Ucap Billa memulai pembicaraan.


"Nggak usah bilang makasih, kita kan solmet. Kalo ada aku kenapa harus naik angkot?" Balas Dicky.


Apa dia bilang? Solmet? Dia bikin aku geer aja. Billa tersenyum mendengarnya, perkataan Dicky benar-benar membuat Billa baper.


"Oh ya, ruang kepsek sebelah mana ya? Aku harus kesana dulu soalnya." Tanya Dicky sambil celingukan memperhatikan sekitar.


"Biar aku antar ya, kalau perlu aku ajak kamu keliling sekolah ini." Tawar Billa. Dickypun tersenyum mendengarnya.


"Ya udah, boleh banget tuh, sekarang aja yuk!" Balas Dicky dengan antusias.


"Ya nggak sekarang juga, kamu kan harus keruang kepsek." Ucap Billa.


"Yah, kapan dong?" Balas Dicky.


"Tenang, kan masih banyak waktu." Balas Billa.


Dari kejauhan, ternyata Bisma memperhatikan Dicky dan Billa yang sedang berbincang.


Bisma menatap mereka dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia merasa kecewa dengan keakraban mereka, seketika hatinya terasa patah, sepertinya sangat sedikit celah untuk Bisma masuk dalam kehidupan perempuan itu.


Tapi, tidak!


Bisma harus membuang jauh-jauh perasaan psimis itu, perjuangannya baru saja dimulai. Jalan yang panjang masih terbentang luas dihadapan sana.


Ini hanya sebuah kerikil kecil yang menghalangi langkahnya.


Bisma tak akan menyerah begitu saja, dia akan mempertahankan dan memperjuangkan perasaan yang telah terlanjur bersemayam dihatinya.


'Siapa ya cowo itu? Kayanya gue baru liat.' Tanya Bisma dalam hatinya.


Dia terus menerka-nerka tentang Billa dan laki-laki itu yang berbahagia bersama.

__ADS_1


Tapi dengan cepat Bisma menepis fikirannya yang belum tentu benar adanya.


Dia bukanlah seseorang yang psimis dan mudah menyerah, dia akan memperjuangkan apapun yang telah menjadi komitmennya.


Apalagi ini adalah tentang perasaan.


***


Setelah mengantar Dicky keruang kepsek, Billa memutuskan untuk sekedar duduk dikantin sambil menikmati segelas energen panas.


Untung waktu masih menunjukkan pukul 06:40, dia dapat bersantai sebentar disana.


Bisma berjalan memasuki kantin, dia hanya ingin membeli air minum.


Tapi dia tak menyangka jika ternyata Billa sedang berada disana juga.


Bisma berfikir jika ini adalah waktu yang tepat untuknya meminta maaf.


Diapun menghampiri Billa yang tengah duduk sendirian.


"Hai, Cantik." Sapa Bisma sambil menebar senyumnya.


'Dia lagi?' Tanya Billa dalam hati.


Apa sikap Billa kepada laki-laki itu kemarin sudah keterlaluan? Apa yang harus dia katakan sekarang? Apa dia harus meminta maaf?


Billa benar-benar merasa tidak enak hati telah memarahinya kemarin.


Bisma segera duduk dikursi depan.


"Aku minta maaf ya soal kejadian kemarin." Ucap Bisma dengan wajah yang serius.


Billa mengerutkan dahinya mendengar perkataan Bisma.


"Aku minta teraktir kemarin itu karena aku cuma pengen lebih deket aja sama kamu, aku mau kenal kamu lebih jauh." Ucap Bisma kemudian.


Billa terdiam, dia bingung harus bersikap seperti apa kepada Bisma.

__ADS_1


Apa dia harus memaafkan laki-laki itu?


Bagaimanapun juga perkataan Felly ada benarnya, kejadian kemarin bukan murni kesalahan Bisma.


"Aku juga nggak nyangka kalau kejadiannya bakal kaya gitu." Lanjutnya.


"Aku minta maaf sama kamu karena udah marah-marah nggak jelas kemarin." Ucap Billa.


"Lho, kok kamu minta maaf? Disini aku yang salah. Kamu mau kan maafin aku?" Tanya Bisma kemudian.


"Nggak Bisma, aku yang salah, kamu nggak tau apa-apa tapi aku malah marah-marah sama kamu." Balas Billa.


Bisma terdiam, perkataan Billa itu salah, Bisma sudah tau apa alasan Billa memarahinya kemarin.


Tapi Bisma berfikir untuk tidak memberitahu Billa jika kemarin Felly sudah menceritakan semua tentang Billa.


Bisma takut jika Billa malah kembali marah karena telah berani mengepoi kehidupnya pribadinya, apa lagi ini menyangkut sesuatu hal yang sensitif.


"Kalau gitu mulai sekarang kita berteman ya?" Ucap Bisma sambil mengacungkan kelingkingnya.


Billa menatap Bisma dengan tatapan ragu, apa yang sebenarnya laki-laki itu inginkan darinya?


Kenapa Bisma malah terkesan mengejar Billa. Tapi mungkin itu hanya perasaan Billa saja, tidak mungkin laki-laki itu menginginkan sesuatu yang lebih darinya.


Itu mungkin hanya sekedar kegeeran Billa saja.


Dengan sedikit ragu kelingking Billa meraih kelingking Bisma.


Bisma tersenyum, dia memberikan senyum terbaiknya untuk perempuan itu.


Dengan ini dia semakin yakin dan percaya diri untuk memperjuangkan cintanya.


Entah kenapa Billa mengiyakan perkataan Bisma, padahal selama ini dia selalu menutup diri kepada orang baru.


Sebelumnya dia tak pernah membuat komitmen pertemanan dengan siapapun kecuali Felly.


Entahlah, Billa memutuskan untuk menjalani semua apa adanya seperti air yang mengalir.

__ADS_1


***


__ADS_2