Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Malam minggu


__ADS_3

"Silahkan mau pesen apa mba?" Tanya pelayan itu pada Billa yang tengah sibuk tak karuan dengan buku menu.


Tapi tunggu...


Sepertinya Billa mengenali suara itu.


Billa sedikit menoleh kearahnya.


"Bisma?" Ucap Billa reflek.


"Bil? kamu disini sama siapa?" Tanya Bisma yang baru menyadari jika perempuan itu adalah Billa.


"Kamu ngapain disini?" Billa balik bertanya.


"Aku kerja disini." Ucap Bisma sambil tersenyum.


Bisma tak menyangka akan kedatangan tamu spesial dimalam minggu ini.


"Oh ya, kamu mau pesen apa? Biar aku catat." Tanya Bisma lagi.


"Nggak tau, pusing aku." Jawab Billa sekenanya.


"Gimana kalo ayam geprek kekinian aja? Itu menu andalan dikafe ini." Tanya Bisma lagi.


"Ya terserah deh." Balas Billa.


Sebenarnya dia sangat malas berada ditempat itu lama-lama, dia ingin cepat pulang, tapi Rafael belum juga kembali.


Tak berselang lama Bisma datang dengan membawa pesanan Billa.


Dia menaruh beberapa piring dan gelas dimeja itu.


"Aku temenin ya?" Ucap Bisma, dia duduk disebelah Billa.


"Kamu mau kerja atau apa?" Tanya Billa yang tak menyukai keberadaan Bisma.


"Ya nemenin tamu juga itu tugas aku." Ucap Bisma kemudian.


Billa mulai melahap makanan yang dia pesan.


Ternyata lumayan enak juga. Fikir Billa.


Dia tak menggubris Bisma yang berceloteh sendiri.


Kemudian Bisma terdiam, dia memperhatikan Billa yang tengah menikmati makan malamnya, dia merasa kesempatan itu kembali terbuka.


Sesekali Bisma tersenyum melihatnya, wajah gadis itu sangat menarik untuk dipandangi.


Bisma tak ingin memalingkan pandangannya dari Billa.


Billa sedikit menoleh kearah Bisma, dia sangat merasa risih dengan Bisma yang terus memperhatikannya dengan tatapan seperti itu.


"Apa sih kamu liatin aku kaya gitu terus." Ucap Billa yang mulai geram.


"Nggak apa-apa, emang ada larangan ya kalo aku nggak boleh liatin kamu?" Tanya Bisma menggoda Billa.


"Ya nggak ada sih, tapi kurang kerjaan banget kamu." Balas Billa.


"Jadi gimana tawaran aku yang kemarin?" Tanya Bisma mengalihkan pembicaraan.


"Tawaran apa?" Billa balik bertanya.


"Tawaran buat jadi selingkuhan kamu." Jawab Bisma dengan raut wajah yang serius.


"Jawabannya nggak Bisma." Jawab Billa cuek tanpa menatap kearah Bisma, dia sibuk mengocek minumannya asal.


"Ya nggak apa-apa mungkin sekarang belum waktunya. Tapi aku yakin suatu saat nanti kamu bisa terima aku." Ucap Bisma, terlihat kekecewaan dimatanya, namun dia tetap berusaha untuk tersenyum dan bertutur baik.


Billa tak menghiraukannya.


Tanpa mengucapkan sepatah kata lagi, Bisma beranjak dari duduknya dan pergi.


Billa yang melihat itu sama sekali tak merasa bersalah. Dia kembali menikmati makan malamnya.


***


"Ok happy satnight guys, selamat menikmati dinner romantis disini. Gue punya satu lagu untuk kalian. Semoga kalian terhibur." Ucap Bisma dari atas panggung.


Billa yang sedang meminum minumannya seketika tersendak mendengar suara itu.


Dia membulatkan matanya ketika melihat Bisma yang sedang duduk diatas panggung kecil itu sambil menopang sebuah gitar.


Jreng...


Bisma mulai memetir senar gitar itu.

__ADS_1


Aku tak mengerti apa yang ku rasa


Rindu yang tak pernah begitu hebatnya


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau


Meski kau takan pernah tau


Semua mata tertuju pada Bisma tak terkecuali Billa. Dia dibuat menganga dengan lagu yang dibawakan Bisma.


Dia sangat tak menyangka Bisma membawakan lagu itu, dia sedikit merasa tersindir.


Aku persembahkan hidupku untukmu


Telah kurelakan hatiku padamu


Namun kau masih bisu diam seribu bahasa


Dan hati kecilku bicara


Bisma bernyanyi penuh dengan penghayatan, dia terus menatap kearah Billa yang juga tengah memperhatikannya.


Bisma berharap gadis itu dapat mendengarkan jeritan hatinya.


Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku


Semoga waktu akan mengilhami sisi hatimu yang beku


Semoga akan datang keajaiban hingga akhirnya kaupun mau


Aku mencintaimu lebih dari yang kau tau


Meski kau takan pernah tau


Billa sama sekali tak berkedip melihat Bisma menyanyikan lagu itu.


Dia merasa jika lagu itu Bisma nyanyikan untuknya, atau itu hanya kegeeran Billa saja? Entahlah.


Baru kusadari cintaku bertepuk sebelah tangan


Kau buat remuk seluruh hatiku


Prok... Prok... Prok...


Suara tepuk tangan itu terdengar begitu meriah sesaat setelah Bisma selesai menyanyikan lagu itu.


"Ok, thanks semua." Ucap Bisma.


Diapun kemudian turun dari atas panggung.


Billa masih tak menyangka jika yang baru saja menyanyikan lagu itu adalah Bisma, dia sedikit terkesan.


Dia merasa ada yang aneh dengan perasaannya, dia merasa merinding sendiri ketika Bisma menyanyikan lagu itu.


Bisma menghapiri Rafael dan Rangga yang berada dipojok kafe itu.


"Suara loe keren banget Bis, sumpah." Puji Rafael pada Bisma.


"Thanks Raf." Balas Bisma sambil tersenyum.


"Iya lah si Bisma itu jimat gue disini, kalo nggak ada dia mungkin tempat ini nggak akan rame kaya sekarang. Dia yang banyak promosiin kafe ini." Ucap Rangga sambil menepuk pundak Bisma.


"Ahh loe bisa aja Bos. Jadi terbangkan tuh hidung gue." Ucap Bisma bergurau.


Merekapun tertawa bersama.


"Oh ya Bis, gue ngerti maksud loe kenapa loe bawain lagu itu tadi." Ucap Rafael kemudian.


"Kenapa emangnya?" Tanya Rangga yang tak mengerti apapun.


"Jadi dia ini suka sama cewe cuma dia nggak dapet respon." Ucap Rafael yang membuat wajah Bisma memerah.


"Bener gitu Bis?" Tanya Rangga.


Bisma tak menjawab, dia terlihat sangat malu diledeki Rafael seperti itu.


"Udahlah, loe samperin dia, ajak dia pulang bareng. Gue mau pulang duluan. Titip dia ya!" Ucap Rafael.


"Thanks ya Raf, loe udah mau support gue." Ucap Bisma sembari tersenyum.


***


Billa begitu kesal berada ditempat ini, dia melihat semua orang datang berpasan-pasangan.

__ADS_1


Sepertinya hanya dirinya yang datang seorang diri tanpa pasangan.


Tiba-tiba Billa mengingat Dicky dan mencoba untuk menyuruhnya untuk datang.


Billa segera mengirim pesan padanya, dia berharap Dicky akan menemuinya dan mengusir rasa sepinya.


'Ky, aku lagi di RightKafe nih. Kamu mau kan datang kesini temenin aku? Aku sendirian disini.'


Tak berapa lama kemudian Dicky membalasnya.


'Maaf sayang, aku lagi sama Felly. Dia nggak bolehin aku pulang.'


Begitu balasan Dicky.


Hati Billa seketika merasa sedih, dia merasa jika akhir-akhir ini Dicky lebih memilih bersama Felly ketimbang dirinya.


Dia sangat cemburu dengan kedekatan mereka, Dicky bersikap tidak adil terhadapnya.


Billa merasa dinomor sekiankan oleh Dicky.


Bisma kembali menghampiri Billa yang terlihat sedang melamun.


"Kamu kenapa?" Tanya Bisma, dia langsung duduk disamping Billa.


Billa tak menjawab, dia yang tengah kesal dibuat semakin kesal dengan kedatangan Bisma.


"Jangan cemerut gitu dong, kan ada aku disini." Ucap Bisma sambil tersenyum.


Billa sama sekali tak menggubris perkataan Bisma, semua perkataan Bisma menurutnya itu tidak penting.


Dia celingukan mencari Rafael yang tak kunjung kembali.


"Gimana lagu tadi?" Tanya Bisma, raut wajahnya berubah menjadi serius.


"Gimana apanya?" Billa balik bertanya.


"Bagus atau nggak? Kamu suka?" Tanya Bisma lagi.


"Biasa aja." Jawab Billa datar.


Padahal jauh dilubuk hatinya dia merasa terkesan dengan lagu yang Bisma bawakan, namun dia sedikit gengsi untuk mengakui.


Bisma tersenyum melihat ekspresi Billa, dia sangat menyukai wajah perempuan itu.


"Oh ya udah, kalau gitu aku akan belajar terus. Sampai kamu suka." Ucapnya kemudian.


Billa terus memperhatikan sekitar, Rafael benar-benar tak kembali.


"Kamu cari Rafael ya? Dia udah pulang duluan tadi." Ucap Bisma kemudian.


"Apa? Coco udah pulang? Terus aku gimana?" Ucap Billa yang terlihat sedikit panik.


Dia melirik jam melingkar ditangannya. Ternyata seduah pukul 22:15.


"Jangan khawatir, biar aku yang antar kamu pulang ya?" Ucap Bisma menawarkan diri.


"Nggak usah, aku bisa pulang sendiri." Tolah Billa cepat.


"Nggak apa-apa aku bakal seneng banget kalau bisa antar kamu pulang. Lagian ini udah malam banget, nggak baik anak gadis jalan sendirian." Ucap Bisma meyakinkan.


Billa sedikit berfikir, dia begitu bingung dengan keadaan saat ini.


Dia tak habis fikir dengan kakaknya itu, tadi dia yang memaksanya untuk ikut, tapi sekarang kakaknya itu malah meninggalkannya.


"Gimana kalo nanti ditengah jalan ada preman yang ganggu atau begal yang nodong kamu? Ngeri kan?" Tanya Bisma sedikit menakut-nakuti.


Billa menggigit bibir bawahnya, perkataan Bisma membuatnya sedikti bergidig ngeri.


'Benar juga apa kata dia.' Ucap Billa dalam hati.


"Jadi gimana?" Tanya Bisma lagi.


"Tapi kalau ternyata kamu itu begalnya gimana?" Tanya Billa dengan raut wajah serius.


Bisma tertawa tebahak-bahak mendengan ucapan Billa.


"Ihh, kok malah ketawa sih?" Tanya Billa kesal.


"Ya nggak mungkinlah, kalau aku begal mungkin kamu udah habis dari kemarin-kemarin." Ucap Bisma.


Benar juga apa yang dikatakan Bisma.


Dengan banyak pertimbangan akhirnya Billa menerima tawaran Bisma.


***

__ADS_1


__ADS_2