
Akhirnya hari yang ditunggu-tunggu tiba juga. Nanti malam acara aqidah Ian akan dilaksanakan. Ini adalah hari yang paling sibuk untuk mama Dinar, dia dibantu oleh dua orang pembantu yang sengaja dibawanya dari Lembang untuk berkutat didapur.
Billa bersyukur karena dirinya telah dipertemukan kembali dengan mamanya yang ternyata sangat menyayanginya.
"aku nggak menyangka deh bisa dapat keponakan dalam waktu dekat." ucap Liona, dia memperhatikan Billa yang sedang memandikan Ian dengan lihainya.
Billa tersenyum.
"iya, kakak juga nggak menyangka lho ternyata kakak punya adik cantik dan manis seperti kamu." ucap Villa.
Lions tersenyum kegirangan mendapat pujian dari Billa.
"iih kak Billa bisa aja deh." ucap Lions malu-malu.
Billa sudah selesai memakaikan baju kepada Ian, dia menggendongnya lalu mengelus-ngelus pipi Ian menggunakan pipinya.
"gemes banget sih." seru Billa dengan gregetnya.
"kak, ayo kita selvi bareng!" seru Liona sambil menunjukkan ponselnya.
"ayo!" ucap Billa.
Merekapun berpose dengan menunjukkan deretan giginya, sedangkan Ian hanya terlihat memainkan lidahnya mencari susu.
"eeh, selvi kok nggak ajak-ajak sih?" ucap Bisma yang baru datang.
Billa dan Liona menoleh kearah Bisma.
"ya udah, kalian aja yang selvi, aku mau bantu mama di dapur. Sekalian jagain Iannya ya!" ucap Billa.
"kamu nggak boleh cape-cape Bill!" seru Bisma.
"nggak kok Bisma, kasihan mama beberapa hari ini kita repot kan terus. Nggak enak juga masa tuan rumahnya cuma diem aja?" ucap Billa.
Akhirnya Billa pergi ke dapur untuk membantu mama Dinar dan yang lain memasak. Sedangkan Liona dan Bisma membawa Ian keluar untuk berjemur di bawah sinar matahari pagi yang sedang hangat-hangatnya.
***
Sore harinya, semua persiapan untuk acara nanti malam sudah hampir rampung, tinggal membersihkan dapur yang berantakan seperti kapal pecah, itu adalah tugas pembantunya mama Dinar.
Sedangkan Bisma sedang menyingkirkan kursi yang ada diruang tamu agar ruangan itu bisa digunakan untuk berkumpulnya para tamu.
"assalamualaikum." ucap Om Suryo yang tiba-tiba datang dari balik pintu. Bisma yang mendengar suara seseorang tidak jadi mengangkat kursi itu, dia berbalik arah melihat siapa orang yang datang.
"waalaikumsalam, eeh papa sudah datang. Ayo masuk pa!" ucap Bisma dan menyalami papa mertuanya itu.
"iya, maaf ya datangnya kesorean. Agak sedikit macet tadi dijalan." ucap om Suryo.
"kasihan sekali. Papa pasti kecapekan, istirahat dulu aja kalau begitu." ucap Bisma.
"tidak usah Bisma, oh ya yang lain pada kemana?" tanya om Suryo sambil celingukan.
"ada diruang tengah pa, papa langsung aja kesana!" seru Bisma.
Om Suryo melangkah menuju ruang tengah rumah itu, dan benar saja, istri dan anaknya sedang berada disana.
"Papa..." ucap Liona sambil ngacir kearah papanya yang baru saja muncul dibalik pintu.
"hey anak papa, kamu betah banget ya disini!" ucap om Suryo yang menyambut hangat pelukan sang putri.
"pa, mana baju yang mama suruh bawa?" tanya mama Dinar sambil menghampiri sang suami.
"baju? Astaga ma, papa lupa." ucap om Suryo sambil menepuk keningnya.
__ADS_1
"bagaimana dong pa, baju itu mau mama pakai malam ini. Kemarin mama salah bawa malah bawa yang pendek." ucap mama Dinar sedikit kecewa.
"oh ya pa, Veni nggak ikut?" tanya Billa.
"nggak, dia bilang lagi mager. Papa juga nggak tau apa itu mager." jawab om Suryo.
"ya udah, mama mau suruh Veni datang kesini dan membawakan baju mama itu." ucap mama Dinar.
Mama Dinarpun menelfon Veni, sebelum isya, Veni harus sudah datang kesana sambil membawakan baju gamisnya.
Veni menggerutu kesal di kamarnya, mamanya itu sangat memaksa. Apalagi mama Dinar mengancam Veni kalau dia tidak mau, mama Dinar akan menjodohkannya dengan anak teman mama Dinar.
Venipun akhirnya bersiap-siap untuk pergi kerumah Bisma, walaupun sebenarnya dia malas kalau harus melihat kemesraan Bisma dan Billa.
***
Malam pun tiba, para tamu mulai berdatangan setelah menunaikan shalat isya berjamaah di masjid.
Bisma dan om Suryo menyambut mereka dengan hangat.
"silahkan pa."
"terimakasih sudah menyempatkan waktu untuk datang."
Bismar juga mengundang beberapa teman kantornya, Fery, Doni. Morgan juga terlihat datang.
"thanks ya gan udah datang. Kangen banget gue sama loe." ucap Bisma sambil berpelukan ala laki-laki.
"ha ha, iya gue juga Bis. Sombong banget loe sekarang nggak pernah maen lagi kekostan." sahut Morgan.
"bukannya sombong, gue sibuk ngurus baby." jawab Bismar.
"ngurus baby apa mamanya baby?" goda Morgan.
"dua-duanya." sahut Bisma.
Untung saja Veni datang tepat waktu, sehingga mama Dinar bisa memakai baju kesayangannya di acara itu. Dia hanya diam disamping mama Dinar tanpa melakukan apapun, sedangkan Liona membantu mamanya yang sedang menata makanan diatas piring.
"bantuan kek, bukan cuma diem aja!" seru Liona sewot.
"mager." ucap Beni sekenanya. Dia memang lebih banyak diam akhir-akhir ini, entahlah dia kenapa, hanya dirinya dan Tuhan yang tau penyebabnya.
Rafael datang sedikit terlambat, dia buru-buru mencari tempat yang kosong dan duduk disana.
Bisma yang melihat itu langsung melambaikan tangannya kearah Rafael, mengisyaratkan untuk duduk disampingnya yang masih kosong, Rafaelpun berjalan memutar dibelakang para tamu.
Dia ikut melantunkan bacaan yang ustad bacakan.
Kini waktunya untuk mencukur rambut Ian, Ian digendong Bisma dan beberapa bapak-bapak mulai memotong rambut Ian sedikit demi sedikit sambil diiringi shalawat yang dilantunkan semua tamu yang datang.
Billa tersenyum, dia merasa terharu saat mendengar shalawat yang menggema disetiap sudut rumahnya. Hatinya terasa damai. Mama Dinar mengelus pundak Billa sambil ikut tersenyum.
Malam semakin larut, bapak-bapak yang hadir mencicipi hidangan yang disuguhkan sambil mengobrol ringan. Setelah mendapat bingkisan berkat, merekapun satu persatu pamit untuk pulang.
"terimakasih banyak atas do'anya bapak." ucap Bisma sambil menyalami satu-satu tamu yang akan pulang.
Fery dan Doni juga pamitan.
"thanks ya udah pada mau jauh-jauh datang. Gue jadi terharu" ucap Bisma.
"nggak usah lebai, kita datang kan karena ada bingkisannya." ucap Fery sambil terkekeh.
"sialan loe, bukannya karena Allah malah karena makanan." ucap Bisma.
__ADS_1
"ha ha, dia nggak punya makanan kali di rumahnya." sahut Doni.
"Bis, gue numpang ke kamar kecil benar." ucap Rafael yang tadinya akan pulang malah kebelet.
"pakai aja." sahut Bismar.
Rafael cepat-cepat pergi ke kamar kecil. Setelahnya dia langsung pamit pulang karena hari sudah malam.
Setelah semua tamu pulang, Mama Dinar, Om Suryo, Liona, Billa, Bisma dan Veni duduk berkumpul diruang tengah yang jadi tempat paling nyaman menurut Billa, bahkan Billa sering tidur disana bersama Ian saat siang hari dengan alas kasur yang tebal. Billa sedikit malas untuk bolak-balik naik turun ke lantai atas, karena langkahnya yang masih terbatas setelah mendapat jahitan.
Mama Dinar dan om Suryo sedang mengobrol ringan, membicarakan tentang adiknya om Suryo yang sedang sakit, mereka merencanakan untuk menengok secepatnya.
Sementara Bisma terus saja mengganggu Billa yang sedang menyusui Ian, dia mengelus-ngelus pipi Ian, sesekali mencuri kesempatan untuk mengelus-elus susu yang sedang dilumat Ian.
Billa terus mempelototi Bisma supaya tidak melakukan itu.
"kamu nggak tau malu banget sih, nggak liat apa banyak orang disini." omelan Billa sambil berbisik.
Bisma terkekeh geli, bukannya berhenti setelah ditegur Billa, dia malah semakin menjadi-jadi.
"Biarin aja, mereka nggak memperhatikan kita." ucap Bisma.
"iya tapi tetep aja aku malu." ucap Billa sambil terus menepis-ngepis tangan Bisma.
Liona dan Veni tidak sengaja menoleh kearah mereka yang sedang berbisik-bisik. Liona tersenyum-senyum sendiri melihat keharmonisan Billa dan Bisma, dia sangat senang ketika melihat pasangan yang sedang bermesraan seperti itu. Dia berkhayal kalau suatu saat ada laki-laki yang memperlakukannya dengan romantis.
Sedangkan Veni menatapnya dengan sinis, dia sangat muak melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya itu.
"liat tuh kak, mereka sweet banget. Loe kapan mau nikah? Mau gue langkahin loe, ha ha." ucap Liona yang sengaja dibuat keras.
Wajah Veni seketika memerah mendapat ledakan dari adiknya itu, darahya langsung mendidih. Dia sangat tidak terima di hina seperti itu.
"loe..." baru saja satu kata yang keluar dari mulut Veni, Om Suryo langsung memotongnya.
"iya Ven, Billa aja sudah memberi kita cucu, kamu kapan? Apa sudah ada calonnya?" tanya Om Suryo.
Veni semakin murka, dia selalu saja dibanding-bandingkan dengan Billa si anak har*m itu, padahal menurut Veni dia jauh lebih baik dari pada Billa.
Veni mengacuhkan perkataan papanya, dia lebih tertarik untuk menyemprotkan adiknya terlebih dahulu.
"apa loe ham*l sebelum nikah, hah? Berani-beraninya loe mau langkahin gue, umur loe baru berapa? Apa loe juga mau ngikutin kelakuan nggak benernya si Billa?" teriak Veni yang membuat semua orang tercengang, termasuk Billa.
"Ven, kamu bicara apa?" tanya mama Dinar.
"Ven, pelankan nada bicaramu! Jangan bicara yang tidak-tidak." seru Om Suryo.
"loe kok jadi nuduh gue begitu sih kak, gue tau loe iri kan, loe udah tua tapi masih aja jomlo." ucap Liona dengan nada yang tidak kalah tinggi.
"lebih baik gue jadi perawan tua, dari pada gue harus berbuat zina dan mengasilkan anak har*m seperti dia." ucap Veni sambil menunjuk kearah Billa.
Billa terperangah kaget, kenapa semua hal yang buruk harus disangkut pautkan dengan dirinya.
"Ven, loe nggak tau apa yang sebenarnya terjadi. Gue harap loe bisa jaga bicara loe sama istri gue." ucap Bisma yang mencoba meredam amarahnya kepada Veni, dia tidak enak karena disana ada om Suryo, jika tidak mungkin Bisma sudah menyumpal mulut Veni dengan kain pel.
"kamu jangan bicara seperti itu Ven, nggak baik, perkataan itu adalah do'a. Dan semua tuduhan kamu sama aku itu nggak bener, aku nggak seperti itu." ucap Billa.
"diam loe,nggak usah nasehati gue, urus diri loe sama anak har*m loe itu!" bentak Veni.
PLAK!
Satu tamparan mendarat dengan mulus di pipi kiri Veni, Veni memegangi pipinya yang terasa perih. Setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya ketika menyadari kalau papanya berani berbuat seperti itu kepadanya.
__ADS_1
***Jangan lupa tinggalkan jejaknya setelah membaca....
Saya tau disini banyak pembaca gelapnya***!!!