
Rafaelpun memutuskan pulang sebentar untuk sekedar beristirahat dengan tenang.
Wajahnya terlihat sangat kusut benar-benar tak karuan.
Dia berjalan gontai menuju rumahnya.
Tiba-tiba sebuah motor berhenti tepat didepannya.
Rafael mengerutkan dahinya melihat orang itu.
"Ky?" Ucap Rafael.
Ternyata itu adalah Dicky, Dicky segera membuka helmnya dan turun.
"Raf, gimana keadaan Billa sekarang?" Tanya Dicky kemudian.
"Ya gitulah, dia masih sakit kayanya." Balas Rafael.
"Kok kayanya?" Balas Dicky.
"Gue juga belum ketemu lagi sama Billa, gue baru pulang dari rumah sakit." Jawab Rafael.
"Hah? Siapa yang sakit? Billa masuk rumah sakit?" Tanya Dicky yang terlihat panik.
"Bukan, papanya gue yang sakit." Balas Rafael.
"Om Ardi kenapa Raf?" Tanya Dicky kemudian.
Rafael menatap Dicky, dia sedikit bingung untuk menceritakan kejadian ini mulai darimana.
"Ceritanya panjan Ky, kejadiannya juga mendadak banget." Balas Rafael.
"Ya udah kalau gitu kita liat Billa dulu, nanti biar dia yang cerita." Balas Rafael.
Merekapun masuk kedalam untuk menemui Billa.
***
Rafael membuka pintu kamar Billa, diapun segera masuk, Dicky mengikutinya dari belakang.
Terlihat perempuan itu sedang terbaring menghadap belakang.
Dicky segera menghampirinya.
"Sayang, kamu masih sakit?" Tanya Dicky pelan.
Seketika mata Billa terbuka mendengar perkataan itu, dia sangat hafal jika suara itu adalah milik kekasihnya.
Entah apa yang dia rasakan, dia benar-benar merasa sangat malu, dia tak ingin menunjukkan wajahnya dihadapan Dicky.
Tak terasa air matanya mulai menetes mengingatkan hal itu.
"Dicky jenguk kamu tuh De! Kamu seneng kan?" Ucap Rafael.
Billa menghapus pipinya yang basah asal.
"Suruh dia pergi Co!" Seru Billa.
Rafael dan Dicky dibuat bingung dengan perkataan Billa.
"Kenapa sayang? Ini aku, pacar kamu!" Balas Dicky.
"Kamu kenapa De? Dickykan maksudnya baik mau jenguk kamu." Ucap Rafael.
"Aku nggak mau ketemu dia Co, cepet suruh pergi sekarang juga!" Seru Billa yang mengulang perkataannya.
Dicky benar-benar tidak habis fikir dengan kekasihnya itu, kenapa akhir-akhir ini sikapnya sangat berubah.
"Aku salah apa sayang? Aku mau temenin kamu disini." Ucap Dicky.
"Co, suruh dia pergi." Ucap Billa yang sedikit histeris.
Rafael sedikit merasa tidak enak hati kepada Dicky.
__ADS_1
"Udahlah Ky, mending loe pulang aja dulu. Nanti kalau Billa udah baikan loe balik lagi kesini. Biar gue yang bicara sama dia." Ucap Rafael bijak.
"Tapi Raf, sebenernya dia kenapa sih?" Tanya Dicky semakin bingung.
"Iya nanti gue cari tau. Sekarang lebih baik loe pulang dulu ya! Mungkin Billa butuh istirahat." Seru Rafael.
Dicky terdiam, dia merasa ada yang janggal dengan ini semua.
Diapun berfikir untuk membiarkan Billa sendiri dan menemuinya kembali setelah perempuan itu sedikit tenang.
"Ya udah, gue balik dulu. Tapi inget kalau ada apa-apa kabarin gue." Ucap Dicky kemudian.
"Pasti." Balas Rafael.
"Kamu cepet sembuh ya sayang, aku kangen banget sama kamu." Ucap Dicky kemudian.
Perkataan Dicky sungguh menyayat hati Billa, dia sangat tak bisa membayangkan ketika Dicky mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.
Apa Dicky akan tetap memanggilnya sayang?
Air Billa semakin deras saja mengalir, dia sangat tak tahan ketika Dicky mengucapkan kata-kata itu.
Hatinya benar-benar sakit, kenapa disaat dia menemukan kebahagiaan bersama dengan orang yang dia cintai, Tuhan malah merenggutnya kembali.
Dickypun segera pergi, dia tak ingin melihat kekasihnya itu lebih bersedih lagi.
Rafael menghampiri Billa dan duduk ditepi kasur.
"De, kamu kenapa suruh Dicky pergi?" Tanya Rafael.
"Dia udah nggak ada Co?" Billa balik bertanya.
"Iya, Dicky udah pergi." Jawab Rafael.
Billapun segera beranjak dari tidurnya dan menyamai posisi Rafael.
"Papa gimana Co? Baik-baik aja, kan?" Tanya Billa kemudian.
"Ya gitulah De, belum ada perkembangan yang signifikan. Tapi seenggaknya papa lebih baikan." Balas Rafael.
"Iya nanti, setelah kamu baikan." Jawab Rafael.
Billa terdiam, perasaannya benar-benar tak menentu, semua masalah yang terjadi membuatnya seperti orang tak waras.
Rafael menatap kearah Billa dengan tatapan yang sulit diartikan.
Banyak sekali pertanyaan yang berputar-putar diotaknya, diapun menarik nafas sebelum akhirnya berkata.
"De, jawab pertanyaan Coco dengan jujur ya!" Seru Rafael kemudian.
"Siapa yang udah h***lin kamu sebenarnya?" Tanya Rafael.
Seketika mata Billa membulat mendengar pertanyaan Rafael, mulutnya terasa gemetar seolah tak sanggup menjawab.
"Apa Dicky yang udah lakuin itu kekamu? Apa itu alasan kamu usir Dicky tadi?" Tanya Rafael.
"Bukan, Co! Billa mohon dia jangan sampai tau tentang ini." Jawab Billa kemudian.
"Ya terus siapa? Kasih tau Coco, dia harus tanggung jawab." Desak Rafael.
Billa benar-benar tak sanggup untuk menjawabnya, dia takut jika nantinya dirinya akan dinikahkan dengan Bisma.
Billa sangat tak sudi, dia sangat membenci laki-laki itu.
"Ayo! Bilang sama Coco!" Seru Rafael.
Billa hanya menggeleng-gelengkan kepalanya asal.
Rafael merasa sangat kesal kepada adiknya itu, kenapa dia sangat keras kepala?
"Masalah nggak akan selesai kalau kamu diem kaya gini. Kita cari solusinya bareng-bareng. Jujur aja, siapa yang lakuin ini ke kamu?" Tanya Rafael yang berusaha tetap sabar menghadapi Billa.
Billa masih saja diam.
__ADS_1
"Kamu nggak kasian apa sama papa sampai sakit seperti itu gara-gara mikirin masalah ini?" Tanya Rafael.
"Jadi Coco juga nyalahin aku?" Billa balik bertanya.
"Bukan gitu, cuma kita harus cari solusi terbaik buat masalah ini. Mungkin dengan cara itu papa bakalan cepet sembuh." Balas Rafael.
Billa menatap Rafael dengan ragu, apa mungkin papa akan sembuh ketika semua masalah telah selesai.
Apa mungkin itu akan mengurangi sedikit rasa bersalahnya?
"Bisma yang udah lakuin itu, Co!" Ucap Billa kemudian.
Seketika mata Rafael membulat, dia sangat tak percaya dengan ucapan adiknya itu. Orang sebaik Bisma berani melakukan hal sekeji itu.
"Kamu yakin?" Tanya Rafael meyakinkan.
Billa mengangguk pelan.
Rafael mengepalkan tangannya, dia sangat tak menyangka jika dibalik wajah polos Bisma tersimpan kebusukan.
Rafael berfikir untuk menemui Bisma dan memberinya pelajaran. Dia segera meranjak dari duduknya.
"Coco mau kemana? Co!" Seru Billa sedikit berteriak, namun Rafael yang terlanjur marah tak menggubris perkataan adinya itu.
***
Dirumah sakit, terlihat Om Ardi yang sudah sadar.
Keadaanya sedikit jauh lebih baik, matanya terlihat terbuka, namun fikirannya melayang jauh entah kemana.
Dia sedang memikirkan tentang putrinya, bagaimana nasib dia setelah ini?
Dia merasa telah gagal sebagai orang tua, bagaimana mungkin peristiwa naas itu terjadi menimpa putri sematawayangnya.
Dia merasa karma itu benar-benar nyata. Ini adalah pembalasan atas apa yang pernah dia lakukan dimasa lalu.
Menyakiti hati perempuan, menyia-nyiakannya dan meninggalkannya. Dia sangat menyesal, namun waktu tak dapat diputar kembali. Jikapun bisa, dia ingin memperbaiki semua kesalahan dalam hidupnya.
Dia sangat takut jika nantinya dia harus pergi untuk selamanya namun dia belum bisa melihat putrinya bahagia.
Krek!
Tiba-tiba pintu ruang rawat inap terbuka.
Om Ardi sedikit menoleh kearahnya, terlihat istrinya itu yang datang.
"Papa makan dulu, ya!" Ucap Tante Vera, dia terlihat membawa nampan makanan dari rumah sakit itu.
"Rafael mana, mah?" Tanya Om Ardi.
"Rafael baru aja pulang, pa! Kasian dia beberapa hari ini kurang istirahat." Jawab Tante Vera.
"Suruh dia kesini sekarang, ma!" Seru papa.
Tante Vera mengerutkan keningnya mendengar permintaan suaminya itu.
"Emang ada apa, Pa?" Tanya Tante Vera.
"Ada hal yang sangat penting yang harus papa bicarakan, ma! Telfon dia buat datang kesini sekarang juga!" Seru Om Ardi.
"Soal apa?" Tanya Tante Vera.
"Ini tentang masa depan Billa, ma! Papa takut kalau umur papa udah nggak lama lagi, papa mau liat Billa menikah sebelum itu terjadi." Jawab Om Ardi.
Seketika mata Tante Vera membulat, dia sangat merasa kesal ketika mendengar perkataan Om Ardi.
"Papa itu bicara apa sih? Papa bakalan sembuh. Emang dasar ya anak itu, selalu saja membuat masalah. Dia juga yang udah bikin papa sakit seperti ini." Ucap Tante Vera sinis.
"Udahlah, ma! Mama bicara seperti itu hanya membuat papa semakin sakit!" Balas Om Ardi.
Tante Vera mendengus kesal mendapat teguran seperti itu.
"Ayo telfon Rafael sekarang!" Om Ardi kembali berseru.
__ADS_1
Tante Verapun mencoba untuk menghubungi Rafael.
***