
"Kamu makan tuh! Aku udah masak." Bisma menatap Billa dengan tatapan aneh.
'kenapa perempuan itu tidak mau mengakui perasaannya?' Fikir Bisma.
Dia menghembuskan nafas asal sebelum akhirnya menjawab.
"Iya, nanti pasti aku makan. Sekarang aku mau puas-puasin liat kamu. Kamu tambah cantik aku tinggalin." Ucap Bisma sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Apaan sih kamu Bisma?" Balas Billa, dia terlihat tersipu, seketika pipinya bersemu merah mendapat pujian seperti itu.
Bisma kembali tertawa melihat ekspresi Billa yang susah diungkapkan, Bisma merasa sangat gemas kepada istrinya itu.
Apalagi setelah sekian lama dia tidak bertatap wajah secara langsung seperti ini.
***
Bisma terlihat sudah membersihkan diri, dia menghampiri Billa yang tengah membereskan barang-barang yang kemarin dibawa Bisma kembali kedalam lemari.
Dia mulai mendekati Billa dan memeluknya dari belakang. Billa merasa kaget mendapat pelukan dari Bisma.
"Bisma apa-apaan sih." Ucap Billa spontan. Namun dia tak menolaknya, jauh dilubuk hatinya dia merasa sangat senang mendapat perlakuan seperti itu.
Bisma memberikan sebuah coklat kepada Billa.
"Coklat manis buat istri manisku." Ucap Bisma.
Billa tersenyum dalam pelukkan Bisma, dengan senang hati dia segera mengambil coklat itu.
Billa memang sangat menyukai coklat, Bisma mengetahui hal itu.
"Aku kangen banget sama kamu sayang. Aku mau peluk kamu kaya gini terus." Ucap Bisma tepat ditelinga Billa.
Billa sangat merasakan ketulusan Bisma, dia memejamkan matanya untuk menikmati setiap hembusan nafas Bisma yang menembus jauh kedalam telinganya.
Bisma benar-benar memperlakukannya dengan istimewa.
"Setiap detik yang aku habiskan disana nggak luput dari bayang-bayang kamu, dan itu membuat aku semakin yakin kalau aku nggak bisa hidup tanpa kamu. Kadang aku berfikir, aku menyerah dengan tantangan ini. Aku harus segera pulang dan menemui kamu, tapi aku nggak berdaya melakukan semua itu." Ucap Bisma dengan perlahan.
"Kadang aku juga berfikir kenapa harus ada jarak yang memisahkan kita. Dan aku faham sekarang kalau nggak ada jarak, mungkin nggak akan ada rasa rindu yang tertanam dihati kita. Dan itu semakin menguatkan perasaan cinta aku ke kamu." Lanjutnya.
Billa benar-benar terkesan dengan semua kata cinta Bisma, dia kembali tersenyum.
"Aku cinta sama kamu itu sejak pertama kita bertemu. Dan begitupun dengan sekarang, setiap aku lihat kamu, aku merasa jatuh cinta lagi dan lagi, dan aku selalu jatuh cinta setiap hari sama kamu." Ucap Bisma lagi.
Billa semakin tidak dapat berkata-kata, penuturan Bisma tedengar begitu merdu ditelinganya.
"Kamu harus janji, kamu jangan pernah berfikir buat tinggalin aku ya! Apa lagi suruh aku buat pergi dari hidup kamu. Aku pasti nggak akan sanggup Bill." Ucap Bisma.
"Kamu di Semarang kerja atau belajar gombal sih?" Tanya Billa dengan diiringi senyumnya yang mengembang.
Bisma tertawa mendengar pertanyaan istrinya itu.
"Aku beneran kerja sayang. Cuma perpisahan kita kemarin itu menyadarkan aku kalau aku nggak bisa hidup tanpa kamu." Jawab Bisma.
"Tuh kan, mulai lagi." Balas Billa.
"Iya nggak apa-apa kan sama istri sendiri ini." Ucap Bisma kemudian.
Billa tak menjawabnya.
Bisma melepaskan pelukannya, sedetik kemudian dia berbalik menghadap Billa.
Dia mulai menyentuh rambut Billa yang terurai dengan lembut dan penuh perasaan.
Deg!
Billa merasa grogi ketika Bisma melakukan hal itu, apalagi ketika sudah tidak ada jarak antara wajahnya dengan wajah Bisma.
Jantung Billa seketika berdetak tak beraturan, diapun bisa merasakan hembusan nafas Bisma.
"Aku sayang sama kamu Bill." Ucap Bisma lirih.
Billa mulai memejamkan matanya, dia seperti terhanyut dalam indahnya buaian cinta Bisma.
***
Keesokan harinya.
Bisma mendapat libur dari kantor selama dua hari karena kebijakan setelah berhasil membereskan tugasnya di Semarang kemarin.
Bisma terlihat sedang menikmati secangkir kopi diteras depan.
Sedangkan Billa, dia belum juga terbangun dari tidur panjangnya.
Bisma membiarkannya dan tidak berniat untuk membangunkannya.
Mungkin perempuan itu sangat kelelahan.
Bisma tersenyum-senyum sendiri ketika mengingat kejadian semalam, perempuan itu sama sekali tidak memberikan perlawanan ketika Bisma menyentuhnya.
Dengan itu, Bisma semakin yakin jika Billa benar-benar telah jatuh cinta terhadapnya.
Bisma berfikir untuk sedikit memancingnya agar Billa mau mengakui perasaannya.
Bisma merogoh saku celananya untuk membawa ponsel, tapi secarik kertas ikut terbawa dari dalam sana, kertas itu terjatuh kelantai, Bisma segera memungutnya.
Astaga!
Bisma sudah melupakan hal itu selama ini.
Ya! Kertas itu bertuliskan alamat pemilik mobil yang Billa lihat waktu itu di Bioskop.
"Kenapa gue bisa sampai lupa gini sih?" Gumam Bisma pelan.
Diapun berfikir untuk segera mengunjungi alamat itu untuk memastikan apa benar jika Ibu kandung Billa tinggal disana?
__ADS_1
Bismapun beranjak masuk kedalam untuk memakai jaketnya dan membawa kunci motor.
***
Billa baru saja terbangun, dia terduduk ditepi ranjang, matanya terasa masih berat.
Dia kembali mengingat-ingat kejadian semalam.
Astaga! Ini semua tidak benar.
Seketika matanya membulat, Billa merasa sangat malu terhadap dirinya sendiri.
Kenapa dia membiarkan Bisma melakukan hal itu terhadap dirinya?
Dan anehnya Billa merasa sangat bahagia mendapat perlakuan seperti itu dari Bisma.
Ada apa dengan perasaannya?
Kenapa dia seperti orang yang tidak memiliki pendirian.
Bisma adalah laki-laki yang sangat dia benci, tidak seharusnya dia memiliki perasaan seperti itu.
Dia harus segera menghapus semua perasaan yang dia rasakan terhadap Bisma, sebelum perasaannya itu semakin meluber kemana-mana.
***
Bisma membuka pintu kamarnya, terlihat istrinya itu yang sedang melamun.
Bismapun segera menghampirinya.
"Bill, kamu udah bangun?" Tegur Bisma.
Sontak Billa menoleh kearahnya.
Billa merasa sangat kaget, dia sangat malu ketika melihat Bisma setelah apa yang mereka lakukan semalam.
"Ya." Balas Billa sambil tertunduk.
"Aku mau pergi sebentar, kamu tunggu dirumah ya!" Ucap Bisma.
Billa mengerutkan keningnya.
"Kemana?" Tanya Billa sedikit bingung.
Bisma berfikir untuk tidak memberitahu Billa tentang Ibu kandungnya, setidaknya sampai Bisma benar-benar menemukan keberadaannya.
Bisma tidak ingin nantinya Billa kecewa jika ternyata Ibu kandungnya tidak ada disana.
Bisma menyambar jaketnya yang menggantung.
"Ada sedikit urusan. Aku pergi dulu, ya! Assalamualaikum." Ucap Bisma yang kemudian berlalu meninggalkan kamar.
Billa merasa sangat heran dengan sikap Bisma, itu seperti bukan Bisma yang biasanya.
"Waalaikumsalam." Balas Billa dengan nada lesu.
Kenapa Bisma bersikap seperti itu? Setelah apa yang dilakukannya semalam, sekarang dia begitu saja pergi meninggalkan Billa tanpa memikirkan perasaannya.
Billa merasa sangat sedih memikirkan hal itu.
Apa mungkin Bisma sudah mulai bosan berhadapan dengan Billa yang selalu saja bersikap kasar terhadapnya?
Atau mungkin cinta Bisma sudah mati karena Billa tidak semenarik dulu lagi? Apalagi sekarang badannya terlihat sangat gendut dan berbentuk tidak karuan.
Pasti semua laki-laki yang melihatnya merasa ilfil.
Ah, tapi sudahlah! Billa tidak boleh memiliki perasaan seperti itu.
Biarkan saja laki-laki itu melakukan apa yang dia inginkan, Billa tidak perduli lagi dengan apapun yang berhubungan dengannya.
***
Bisma memarkirkan motornya dipekarangan sebuah rumah yang terbilang cukup mewah setelah diberikan izin masuk oleh satpam yang bertugas.
Cukup sulit menemukan alamat rumah itu, Bisma sampai berputar-putar mengelilingi komplek dan sempat bertanya kepada beberapa orang.
Dia berfikir apa dia tidak salah rumah?
Daripada Bisma hanya menerka-nerka, diapun langsung turun dan mulai melangkah mendekati pintu utama rumah itu.
Ting... Nong...
Bisma menekan tombol bel yang ada disana, dia melakukannya hingga beberapa kali saking tidak sabarnya.
Tiba-tiba pintu itupun terbuka.
Terlihat seorang perempuan muda keluar dari dalam sana.
"Ada apa, ya?" Tanya perempuan itu.
"Sorry gue ganggu. Apa bener ini alamat rumah ini?" Tanya Bisma sambil memperlihatkan secarik kertas tadi.
Nama perempuan itu adalah Veni, anak pemilik rumah itu. Dia terlihat seperti seumuran dengan Billa sehingga Bisma berbicara menggunakan loe gue.
Veni mengambil alih kertas itu dan melihat tulisan yang ada disana.
"Iya, bener." Balas Veni kemudian.
"Apa bener ini rumahnya Ibu Dinar?" Tanya Bisma.
Veni mengerutkan keningnya, dia sedikit curiga dengan orang asing yang ada dihadapannya.
"Ya, emang loe siapa? Buat apa loe cari mama gue?" Tanya Veni.
Bisma menghembuskan nafas leganya, sebentar lagi apa yang dicita-citakan Billa akan terwujud, bertemu dengan ibu kandungnya.
__ADS_1
"Gue ada perlu sama Ibu Dinar, jadi loe anaknya?" Jawab dan tanya Bisma.
"Ya." Balas Veni.
"Gue boleh ketemu sama dia?" Tanya Bisma lagi.
Veni berfikir ada yang tidak beres dengan laki-laki itu, kenapa dia tidak menyampaikan niatnya untuk bertemu Ibunya dengan spesifik?
"Mamanya nggak ada, dia lagi pergi keluar." Jawab Veni.
"Kira-kira kapan pulangnya ya?" Tanya Bisma.
"Gue juga nggak tau." Balas Veni asal.
Bisma menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Ya udah, apa gue boleh tunggu Ibu Dinar disini?" Tanya Bisma.
Veni mengangkat sebelah alisnya.
"Ya terserah." Balas Veni.
Bismapun duduk disalah satu anak tangga teras rumah itu untuk menunggu kepulangan Ibu Dinar.
Veni menatapnya dengan tatapan aneh, tapi Veni segera menepis fikirannya itu dan melangkah masuk kedalam rumah.
***
Billa terlihat sedang memasak didapur, dia merasa tidak bersemangat karena terus memikirkan tentang Bisma yang berbeda.
Tatapannya terlihat kosong, tapi tangannya tidak berhenti mengiris bawang.
Tiba-tiba saja mata pisau itu mengenai jarinya karena dia sama sekali tidak fokus pada apa yang dia lakukan.
"Aww." Ucapnya reflek saat pisau itu melukai tangannya.
Setitik darah segar mulai keluar dari jarinya yang teriris pisau.
Dia langsung berjalan menuju wetafel dan membasuh lukanya.
***
Bisma terlihat gelisah menunggu seseorang yang tidak kunjung datang, dia berfikir berapa lama lagi dia harus menunggu disana?
Hari sudah mulai sore, tanpa terasa Bisma sudah menunggunya berjam-jam disana.
Tapi dengan sabar Bisma tetap menunggu, demi Billa dia harus bertahan.
Dia bisa membayangkan betapa bahagianya Billa ketika bertemu dengan Ibu kandungnya nanti.
Bisma ingin menjadi orang yang bisa mempertemukan mereka, semoga dengan itu Bisma bisa menebus semua kesalahan fatal yang pernah dia lakukan kepada istrinya itu.
Dari balik jendela sana, Veni terus memperhatikan Bisma yang tak kunjung pergi.
Dia berfikir apa laki-laki itu tidak jenuh berdiam diri selama berjam-jam disana?
Veni benar-benar tidak habis fikir, sebenarnya apa yang dia inginkan dari Ibunya?
Sebenarnya Veni tau jika Ibunya tidak akan pulang hari ini, diapun sedikit merasa kasihan kepada Bisma.
Penantiannya itu akan sia-sia, Bisma tidak akan bertemu dengan Ibunya hari ini.
Venipun memutuskan untuk menghampirinya dan menegurnya.
"Hey, sebaiknya loe pulang aja! Ibu gue nggak akan pulang hari ini." Ucap Veni.
Bisma sedikit menoleh kearah Veni yang berdiri tepat disampingnya.
Bisma menghembuskan nafasnya asal mendengar perkataan Veni.
"Kenapa loe nggak bilang dari tadi?" Tanya Bisma.
"Soalnya Ibu gue baru kabarin barusan." Jawab Veni berbohong, padahal sebelum berangkat pagi-pagi sekali tadi Ibunya sudah bicara kalau dia tidak akan pulang selama beberapa hari.
"Kalau gitu, gue boleh minta kontak ibu loe? Gue mau bicara sama dia, ini masalah penting." Ucap Bisma.
Veni semakin penasaran dengan Bisma, masalah penting apa sehingga laki-laki itu rela menunggu selama ini.
"Ok!" Balas Veni.
Venipun memberikan sebuah nomor kontak kepada Bisma.
"Ok, makasih. Gue pergi dulu. Kemungkinan besok pagi gue bakalan balik lagi kesini." Ucap Bisma setelah mendapat nomor kontak Ibu Dinar, kemudian dia segera berlalu menggunakan motornya.
Veni tersenyum kecut setelah kepergian Bisma, dia melipat kedua tangannya didada, padahal yang dia berikan tadi adalah nomor kontak dirinya, bukan Ibunya.
Veni tidak akan membiarkan laki-laki asing itu bertemu dengan Ibunya dengan mudah.
Veni takut jika dia adalah laki-laki jahat dan akan melukai Ibunya.
Diapun melangkahkan kakinya masuk kedalam rumah setelah motor Bisma tidak terlihat lagi.
***
Hari sudah mulai sore, tapi Bisma belum juga kembali.
Billa merasa gelisah, kenapa disaat dirinya mulai menyadari betapa besar cinta Bisma untuknya, Bisma malah berubah seperti ini?
Apa mungkin ini cara Bisma membalas sakit hatinya atas apa yang telah Billa lakukan terhadapnya?
Kenapa ya Tuhan? Selalu saja seperti ini, disaat aku sudah mulai dekat dengan kebahagiaan itu, Engkau malah menjauhkan kembali rasa bahagia itu dariku.
Apa aku memang tidak pantas untuk berbahagia? Kebahagiaan hanya diberikan untuk mereka yang beruntung dalam hidupnya, sedangkan aku tidak.
***
__ADS_1