
"ma, mama mau kemana? Kok buru-buru?" tanya Om Ardi kemudian.
Sontak Tante Vera menghentikan langkahnya dan menoleh.
"mama mau ke Bank, Pa. Sudah dulu, ya mama buru-buru nih." balas tante Vera dan langsung kembali melanjutkan langkahnya.
Papa hanya geleng-geleng kepala melihatnya.
Reflek Bisma dan Billa saling melempar pandangan, mereka seperti memiliki satu pikiran ketika mendengar perkataan Tante Vera.
Billa dan Bisma pikir Tante Vera akan langsung membawa uang yang Bisma berikan untuknya, tapi keduanya sengaja tidak memberi tahu om Ardi.
Billa merasa kesal dengan obrolan papanya dan Bisma yang terus saja meledek dirinya.
Diapun beranjak masuk kedalam rumah karena matahari sudah mulai terik.
Mumpung ibu tirinya itu sedang pergi, dia bisa dengan leluasa beristirahat diruang tengah tanpa ada yang mengganggunya.
Tapi ketika dia berjalan melewati dapur, dia melihat banyak piring kotor yang berserakan dimeja makan dan westafel.
Tangan Billa terasa sangat gatal ketika melihatnya, dia selalu tidak bisa melihat rumah berantakkan, diapun segera memunguti piring kotor itu dan segera mencucinya.
Bisma yang melihat kepergian Billa merasa ingin menyusulnya, dia seperti ingin mengikuti kemanapun perempuan itu pergi.
Rasanya dia sangat mengagumi Billa sehingga dia tak mau sebentarpun jauh dari Billa.
Bismapun berpamitan kepada om Ardi dan melangkah masuk untuk menyusul Billa.
***
Bisma melihat Billa yang sedang mencuci piring didapur sana.
Seketika sersenyuman mengembang dibibir Bisma, dia tak menyangka jika perempuan itu telah benar-benar menjadi miliknya sepenuhnya.
Tapi diapun sedikit khawatir dengan kondisi Billa yang terlihat masih lemas, apa lagi dokter bilang kalau kandungannya sangat lemah, Bisma sangat mencemaskan hal itu.
Diapun segera menghampirinya.
"Bill, Kamu jangan cape-cape kerjain ini semua. Kata dokter kamu kan harus bedres!" ucap Bisma.
"terus kamu mau kerjain ini semua?" tanya Billa kemudian.
Bisma menggaruk kepalanya yang tidak gatal mendapat pertanyaan dari Billa.
Diapun sedikit bingung karena selama ini dia belum pernah melakukan pekerjaan rumah seperti mencuci piring.
"ya udah, biar aku yang kerjain. Kamu duduk disana." balas Bisma kemudian.
Billa menatapnya dengan ragu, apa dia bisa melakukan itu? pikir Billa.
Tapi Billa membiarkan Bisma mengerjakan itu semua, dia ingin melihat apakan Bisma mampu melakukannya?
Diapun duduk dikursi meja makan.
Bisma mencoba untuk melakukannya meskipun dia tidak tau caranya.
"itu masih ada busanya!" seru Billa saat Bisma memasukkan piring yang masih berbusa kedalam rak piring.
"hehehe." Bisma cekikikan mendapat teguran dari Billa.
Diapun kembali mencuci ulang piring itu.
"bukan gitu, kamu harus bilas pake tangan bukan cuma pake air aja!" seru Billa lagi, dia sangat geram melihat perkerjaan Bisma yang tidak beres.
Bisma hanya menunjukkan deretan giginya.
Billapun langsung beranjak dan menghampiri Bisma.
"udahlah, sana biar aku yang beresin." Billapun mengambil alih perkerjaan Bisma.
"apa ini? Masih licin gini, kamu kurang ngasih sabunnya." ucap Billa dengan kesalnya.
Bisma kembali tersenyum melihat ekspresi kesal Billa, menurutnya wajah Billa semakin menarik ketika berekspresi seperti itu.
__ADS_1
"maaf Bill, aku kan belum bisa. Ajarin aku ya!" pinta Bisma.
Billa tak memperdulikan Bisma, dia kembali sibuk membereskan sisa cucian itu.
***
Malam harinya, terlihat semua anggota keluarga sedang menikmati makan malam yang tadi sore dimasak oleh Billa.
Untung saja tadi siang Bisma memberinya uang jadi Billa bisa berbelanja semua kebutuhan memasak.
Tante Vera membiarkan Billa tanpa berucap sepatah katapun tentang dirinya.
Dia sedang merasa senang karena mendapatkan banyak uang tadi siang, diapun langsung memenuhi hasratnya untuk berbelanja.
Dia membeli banyak sekali pakaian, tas dan sepatu di mall.
Tante Vera senyum-senyum sendiri mengingat masih banyak uang yang tersisa.
Dia berpikir untuk menghabiskannya dengan cara apa besok.
"pa, besok jangan sampai kesiangan. Kita harus berangkat pagi-pagi." ucap Rafael ditengah keheningan.
"iya, papa nggak akan kesiangan. Nanti mama bangunin papa, ya!" balas Om Ardi sambil melirik tante Vera.
Tante Vera yang tengah asik membayangkan uangnya sedikit menoleh kearahnya.
"iya, pa!" balasnya kemudian.
"emang mau kemana, Raf?" tanya Bisma.
"besokkan jadwal cek upnya papa." balas Rafael.
"oh, mau Bisma temenin, pa? Besok Bisma masih cuti." tawar Bisma yang langsung ditolak om Ardi.
"nggak usah, biar Rafael yang antar papa. Kamu temenin Billa aja dirumah, kasihan dia juga masih kurang sehat." balas Om Ardi.
"alah, dia bukan anak kecil lagi Pa. Ngapain harus dijaga-jaga segala." ucap tante Vera dengan sinis.
"alah, cucu h***m aja bangga." balas tante Vera.
Billa yang mendengar itu langsung tertunduk lesu, dia pikir ibu tirinya itu akan berhenti menghinanya setelah Bisma memberikannya uang. Tapi ternyata tidak.
Bisma yang melihat perubahan raut wajah Billa menjadi merasa kasihan, karena dirinyalah yang menyebabkan Billa semakin gencar dihina oleh Tante Vera.
"ehem!" Bisma sengaja berdehem memberi isyarat pada ibu mertuanya untuk tidak melanjutkan perkataannya yang akan membuat Billa sakit hati.
Namun Tante Vera bersikap biasa saja seolah dia tidak mempunyai dosa.
"hus! Mama nggak boleh bicara sembarangan. Anak itu anugerah dari Allah." ucap Om Ardi.
"tapi mama bicara faktanya, pa!" balas tante Vera.
Billa tidak bisa membela diri, karena apa yang dikatakan ibu tirinya itu memang benar.
Dia tidak berani untuk mengangkat wajahnya.
Billa langsung beranjak dari duduknya, dia tidak ingin berlama-lama berhadapan dengan tante Vera yang menghina dirinya.
"kamu udah selesai makannya, Bill?" tanya Bisma ketika Billa hendak melangkah.
"ya." balas Billa.
"ya udah, kita istirahat sekarang, ya!" balas Bisma.
Bisma seperti tau apa yang Billa pikirkan.
"pa, ma, Raf. Kita duluan, ya!" ucap Bisma, diapun segera menyusul Billa yang sudah terlebih dahulu berlalu.
"mama nggak boleh bicara kaya gitu terus dong sama Billa, kasihan kan dia?" ucap Rafael menegur mamanya.
"iya, apa tidak ada sedikit perasaan sayang mama buat Billa? Dari kecil kan mama yang merawat dia." sambung papa.
Tante Vera tak menjawab, dia hanya sibuk mendumel sendiri tak karuan mendapat teguran dari anak dan suaminya.
__ADS_1
***
Billa membuka pintu kamarnya, dia langsung duduk ditepi kasur.
Entah apa yang sedang dia pikirkan, pikirannya benar-benar gabut.
Dia berpikir kenapa ibu tirinya masih saja menghina dirinya, bukankah kemarin Bisma sudah memberinya uang?
Sifat Billa memang seperti itu, dia selalu memikirkan semua yang terjadi dihidupnya, dia selalu terbawa perasaan.
Meskipun dia bertekad untuk tidak memperdulikan apa yang terjadi disekitarnya, tetap saja hatinya selalu rapuh ketika hatinya disakiti.
Bisma yang baru sampai dikamar melihat Billa yang sedang melamun, diapun segera menghampiri istrinya itu dan duduk disampingnya.
"kamu kenapa? Cerita sama aku." ucap Bisma kemudian.
Billa sedikit menoleh kearahnya.
"harusnya kamu nggak usah kasih mama uang kemarin, liat kelakuannya, dia masih aja sama." balas Billa.
Bisma tersenyum mendengar perkataan Billa, dia merasa sedikit senang karena Billa mau bicara kepadanya.
"ya udahlah, nggak apa-apa. Kamu nggak usah dengerin apa yang mama bilang." balas Bisma.
"mama itu nggak akan pernah berubah sampai kapanpun, dia benci banget sama aku." ucap Billa, tanpa sadar dia mencurahkan isi hatinya terhadap Bisma.
Bisma kembali tersenyum, dia mulai menarik kepala Billa dan membawanya kedalam pelukannya.
Entah kenapa Billa tidak menolaknya, dia hanya diam diperlakukan seperti itu.
"iya, kamu yang sabar. Sebentar lagi kamu nggak akan melihat wajah mama Vera setiap hari." Ucap Bisma.
Billa mengerutkan keningnya tanda tak mengerti.
"maksud kamu apa?" tanya Billa.
"kita akan pindah dari sini, kita nggak mungkin, kan terus-terusan tinggal disini? Aku tau Mama Vera nggak akan membiarkan kita hidup tenang kalau terus-terusan tinggal disini." balas Bisma.
Billa sedikit kaget dengan perkataan Bisma, dia segera melepaskan diri dari Bisma.
Kemudian dia menatap Bisma dengan tatapan ragu.
"kamu mau, kan ikut aku?" tanya Bisma.
Billa tak menjawab, dia menjadi bingung sendiri dengan apa yang Bisma katakan.
"kita akan memulai hidup baru disana, yang ada hanya kita berdua. Nggak akan ada lagi orang yang bisa sakitin kamu, termasuk aku." ucap Bisma, dia berkata sambil meraih kedua tangan Billa.
"kemana?" tanya Billa kemudian.
"kerumah orang tua aku." balas Bisma.
"berarti kita bakalan tinggal sama orang tua kamu?" tanya Billa.
"nggak, Bill. Orang tua aku udah nggak ada. Kita tinggal berdua aja disana." balas Bisma.
"nggak ada kemana?" tanya Billa lagi.
"mereka udah meninggal karena kecelakaan waktu aku masih SMP." balas Bisma.
Billa terdiam, dia merasa bersalah karena telah bertanya seperti itu kepada Bisma.
"kamu tenang aja, rumahnya lagi direnovasi dan sebentar lagi juga bakalan selesai." balas Bisma.
Billa sedikit berpikir, apa memang ini yang terbaik untuknya?
Diapun sudah sangat lelah menghadapi sikap ibu tirinya yang selalu saja membuat hidupnya tidak nyaman.
Tapi, apa ada yang bisa menjamin kalau hidupnya akan damai jika dia ikut pindah bersama Bisma?
Billa benar-benar pusing memikirkannya.
***
__ADS_1