Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Veni membohongi Bisma


__ADS_3

Bisma baru saja pulang, jam sudah menunjukkan pukul 17.06.


Astaga!


Hari ini Bisma hanya membuang-buang waktu tanpa mendapat hasil apapun.


Dia mengusap wajahnya asal sambil memasuki rumah.


Billa yang sedang diam diruang tengah menyadari kepulangan Bisma, diapun sedikit menoleh kearahnya.


Bisma yang menyadari Billa memperhatikannya dengan tatapan yang sulit diartikan itu segera menghampirinya dan duduk disebelahnya.


Wajahnya terihat sangat kusut, disamping itu Bisma berusaha untuk tersenyum kepada istrinya itu.


Billa hanya memasang wajah datarnya, dia merasa sangat sebal kepada Bisma.


"Sayang, aku lapar." Ucap Bisma.


Billa hanya buang muka tanpa menjawab perkataannya.


"Sayang, kamu masak nggak? Temenin aku makan, ya!" Pinta Bisma.


Billa masih tidak menjawab, dia menopang tangannya dipipi sambil memanjukan sedikit bibirnya.


"Sayang, kamu kenapa? Kok diem aja?" Tanya Bisma yang menyadari sikap Billa berbeda.


Billa masih tak mau angkat bicara.


"Hey, cerita sama aku!" Seru Bisma.


Sontak Billa menatap kearah Bisma dengan tatapan tajamnya.


"Kamu dari mana aja?" Tanya Billa akhirnya.


Bisma tersenyum mendapati pertanyaan dari istrinya itu.


"Aku dari rumah temen, kita ada acara makan-makan tadi." Jawab Bisma berbohong.


"Kenapa sampai sesore ini?" Tanya Billa lagi.


"Iya, maafin aku sayang. Aku lupa waktu kalau udah kumpul sama temen-temen SMA." Balas Bisma.


"Katanya udah makan-makan tapi kenapa pulang masih lapar?" Tanya Billa.


Bisma terlihat gelagapan mendapat pertanyaan dari Billa.


Alasan yang dia berikan ternyata membuatnya seperti orang bodoh.


Bisma segera mencari alasan untuk menutupi kebohongannya.


"Ya kan acara makan-makannya tadi siang, sekarang udah mau magrib, aku lapar lagi Bill." Balas Bisma ngeles.


"Ya udah, sana makan! Katanya lapar." Billa berkata sambil buang muka, dia masih sedikit kesal karena Bisma tidak memberitahunya dari awal.


"Iya, kamu udah makan belum? Bareng yuk!" Seru Bisma.


"Aku udah makan tadi." Jawab Billa.


"Ya udah." Balas Bisma.


Diapun beranjak dan langsung menuju dapur.


***


Malam harinya, Bisma berniat untuk menghubungi nomor kontak yang tadi sore diberikan oleh perempuan itu.

__ADS_1


Diapun langsung membuat panggilan.


Tak berselang lama panggilan itupun terhubung.


"Hallo?" Terdengar suara seorang perempuan dari balik telfon sana.


Bisma tersenyum kegirangan mendengarnya, dia berfikir jika itu adalah orang yang sedang dia cari.


"Hallo, apa benar ini dengan ibu Dinar?" Tanya Bisma memulai pembicaraan.


Sejenak tak ada jawaban dari sebrang sana, Bisma mengerutkan keningnya.


Sedetik kemudian,


"Ya, ada apa? Ini dengan siapa?" Tanya orang disana.


"Nama saya Bisma, saya ada perlu dengan Ibu, ini sangat penting buat saya. Tadi saya datang kerumah Ibu, tapi Ibunya sedang tidak ada dirumah." Ucap Bisma panjang lebar.


Sementara itu, jauh disebrang sana.


Veni tersenyum senang mendengar nama laki-laki yang tadi pagi mengunjungi rumahnya.


'Namanya ternyata Bisma' Fikir Veni dalam hatinya.


Dia merasa senang karena Bisma sudah masuk kedalam perangkapnya, laki-laki itu menganggap jika Veni adalah Ibunya.


"Maaf, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Tanya Veni yang mencoba meniru suara berat layaknya orang tua.


"Ya, waktu itu saya lihat Ibu di Bioskop. Apa kita bisa bertemu? Ada sesuatu yang ingin saya sampaikan." Jawab Bisma antusias.


Veni semakin penasaran, sebenarnya apa yang membuat laki-laki itu sampai mengejar-ngejar ibunya?


Apa mungkin Bisma menyukai ibunya? Tapi mana mungkin, usianya saja sangat jauh berbeda.


Venipun segera menepis fikiran anehnya itu.


"Ehh, jangan-jangan! Kita ketemu diluar aja!" Balas Veni cepat.


"Oh, ya sudah. Saya setuju, kira-kira dimana kita akan bertemu?" Tanya Bisma.


"Nanti saya chat tempatnya." Balas Veni.


"Ya, terimakasih ya Bu, ibu sudah mau membantu saya." Balas Bisma.


"Ya." Balasnya.


Bisma sama sekali tidak curiga dengan orang disebrang sana, dia pikir jika orang itu benar-benar tante Dinar.


Diapun merasa lega karena mulai ada titik terang dari pencariannya itu.


Bisma menghembuskan nafas leganya setelah panggilan itu berakhir.


***


Billa terlihat sedang duduk disofa kamarnya sembari mengelus-elus perutnya yang semakin hari semakin membesar.


Entah apa yang sedang dia pikirkan, dia terus melakukan aktifitasnya sambil menatap kosong kedepan.


"sayang!" seru Bisma yang tiba-tiba saja datang dari arah belakang, dia sengaja mendekatkan kepalanya dipundak Billa.


Billa sedikit kaget dibuatnya, dia reflek menoleh kearah Bisma sehingga wajahnya dan wajah Bisma hampir tidak memiliki jarak.


Billa langsung buang muka karena merasa sangat malu terhadap Bisma.


"apa?" tanya Billa.

__ADS_1


Bisma tersenyum mendengarnya, sedetik kemudian dia mulai duduk disamping Billa.


"sayang, besok aku harus berangkat kerja." ucap Bisma memulai pembicaraan.


Billa sedikit menoleh kearahnya.


"katanya libur dua hari tapi kenapa besok udah mulai kerja lagi?" tanya Billa penasaran.


"iya, soalnya ada dokumen yang harus dibereskan besok. Buat ekspor lusa." balas Bisma berbohong.


Padahal dia akan menemui orang yang tadi ditelfonnya.


"oh, ya udah." balas Billa tanpa ada rasa curiga sedikitpun.


"Paling aku kerjanya juga setengah hari, udah beres aku langsung pulang kok." Lanjut Bisma.


"ya." balas Billa.


Bisma tersenyum, untung saja istrinya itu percaya dengan perkataannya.


***


Keesokan harinya, Bisma terpaksa berbohong kepada Billa untuk pergi bekerja hari ini.


Padahal dia akan menemui orang yang dia pikir adalah mama Dinar.


Orang itu mau bertemu dengan Bisma jika mereka bertemu direstoran yang sudah ditentukan olehnya.


Bismapun sama sekali tidak keberatan, dia hanya mengikuti kemauan orang itu tanpa menolaknya.


Jam baru menunjukkan pukul 08.00, masih ada waktu dua jam untuk bertemu dengan orang itu.


Bismapun memutuskan untuk mengunjungi kontrakannya bersama Morgan dulu, untung saja dia masih menyimpan kunci cadangannya.


Dia pikir jika Morgan sedang bekerja sekarang.


Tanpa berpikir lagi, Bismapun menancap gas motornya menuju kontrakan Morgan.


***


Siang ini, Billa merasa sangat malas untuk memasak, ini seperti bukan Billa yang biasanya, mungkin karena bawaan bayinya.


Billa ingin mencoba makanan siap saji direstoran yang baru dibuka dikawasan Dago.


Ya meskipun tempatnya agak sedikit jauh, Billa tidak memperdulikan hal itu, diapun terlihat sudah siap untuk pergi dengan menggunakan taksi online yang tadi dipesannya.


***


Tepat pukul 10 pagi, Bisma sampai di restoran yang dimaksud orang itu, dia sedikit celingukkan untuk mencarinya.


'apa dia belum sampai?' tanya Bisma dalam hati.


Bismapun mencoba mengirim pesan pada orang itu untuk menanyakan keberadaannya.


'saya sudah sampai di restoran yang ibu maksud, ibu sudah sampai mana?' tulis Bisma pada orang itu.


Ting...


Tak berselang lama terdengar notif balasan.


'saya sudah ada didalam. Masuklah! Saya dimeja nomor 11' balas orang itu, tanpa berpikir panjang Bismapun langsung masuk kedalam dengan langkah yang mantap.


Terlihat seorang perempuan yang sedang duduk sambil menghadap membelakangi Bisma dimeja nomor 11.


Bisma mengerutkan keningnya melihat ibu Dinar dari arah belakang.

__ADS_1


'apa ibunya semuda itu?' pikir Bisma.


__ADS_2