Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Kepergian Bisma


__ADS_3

Bisma terus berfikir, bukan tentang pekerjaannya, dia sama sekali tak konsentrasi untuk mengerjakan tugasnya.


Dia hanya memikirkan tentang bagaimana caranya untuk menemukan ibu kandung Billa.


Fikirannya benar-benar kacau, dia harus secepatnya mencari tau informasi tentang sang mertua.


Dia tak ingin membuat Billa kecewa terlalu lama, dia harus membuat istrinya itu bahagia.


Dengan cara ini mungkin dia dapat menebus kesalahan yang pernah dia lakukan.


Seorang karyawan menghampiri meja Bisma, dia melihat Bisma yang sama sekali tak enak untuk dipandang.


"Kenapa loe? Gabut banget keliatannya?" Ucap Ferdi kemudian.


"Pusing gue." Balas Bisma.


"Apa lagi sih? Diakan udah loe milikin, sekarang mau loe apa lagi?" Tanya Ferdi.


Tiba-tiba Bisma teringat akan sesuatu ketika Ferdi bertanya.


"Oh ya? Loe bisa lacak plat mobil orang kan?" Tanya Bisma kemudian.


"Bisa sih, emang kenapa?" Ferdi balik bertanya.


"Loe mau bantu gue?" Bisma balik bertanya.


"Iya, kalo gue bisa pasti gue bantu." Ucap Ferdi kemudian.


"bisa sekarang?" tanya Bisma.


"emm, kayanya nggak sekarang. Butuh beberapa alat dan alatnya gue nggak bawa." jawab Ferdi.


Bisma hanya manggut-manggut saja.


"besok loe bawa ya! Gue butuh banget soalnya." balas Bisma.


"ok lah, itu bisa diatur." balas Ferdi.


***


Bisma memasuki pekarangan rumahnya itu, dia sedikit tak sabar untuk bertemu dengan sang istri.


Dia merasa sangat merindukan Billa.


Bisma tak sabar untuk memberi tahu tentang dirinya yang akan segera melacak keberadaan ibunya itu.


Tapi, tidak! Bisma berfikir untuk tidak memberi tahu Billa tentang hal ini sekarang.


Dia mengurungkan niatnya, dia akan memberi tahu istrinya itu jika usahanya sudah membuahkan hasil.


Bisma menghampiri Billa yang terlihat sedang mencuci piring didapur.


"Assalamualaikum sayang." Ucap Bisma sambil menebar senyum.


Walaupun wajahna terlihat lelah setelah seharian bekerja, dia tetap berusaha untuk bersikap manis.


Lelahnyapun seolah hilang ketika melihat bidadari cantik penghuni rumah itu.


Billa sedikit menoleh kearahnya.


"Waalaikumsalam." Jawab Billa.


"Kamu rajin banget deh sayang." Ucap Bisma.


Billa tak menjawab, dia merasa perkataan Bisma sama sekali tak penting.


"Oh ya sayang, aku lapar nih. Kamu masak nggak?" Tanya Bisma kemudian.


"Makan aja sana!" Seru Billa.


"Aku mau kamu suapin aku." Ucap Bisma sedikit manja.


Seketika mata Billa membulat mendengar ucapan Bisma, dia merasa sangat sebal terhadap laki-laki dihadapannya itu.


"Pake sendok tembok mau?" Balas Billa dengan geramnya.


Bisma tertawa mendengarnya.


Billa semakin kesal dibuatnya.


"Maaf sayang, aku bercanda. Tapi kalau kamu mau suapin aku, aku bakalan seneng banget." Ucap Bisma.


"Pergi nggak?" Ucap Billa kemudian.


Bisma kembali tertawa melihat Billa yang kesal.


"Tapi aku kan lapar sayang!" Ucap Bisma kemudian.


"Ya udah makan aja, susah banget!" Balas Billa.


Bisma hanya cekikikkan melihat Billa yang semakin kesal, diapun memutuskan untuk tidak menggoda lagi istrinya itu.


***


Bisma dan Ferdi terlihat sibuk dengan komputer dihadapannya.


Mereka sedang melacak plat mobil milik orang yang Billa sebut sebagai ibunya.


Untung saja waktu itu Bisma sempat melihat nomor plat mobil itu. Apa lagi nomor plat mobilnya sangat mudah untuk dia hafal.


Ferdi terlihat cekatan memainkan jemarinya diatas keyboard.


Bisma menyimaknya dengan seksama, dia terlihat serius memperhatikan apa yang sedang Ferdi kerjakan.


Setelah berberapa lama Ferdi sibuk dengan kegiatannya, diapun menghentikan jarinya yang sedari tadi menari-nari tak karuan diatas keyboard.

__ADS_1


"Apa bener mobilnya mitshubitshi ekspander warna silver?" Tanya Ferdi kemudian.


"Iya bener gue masih inget, nama ibunya itu Dinar." Ucap Bisma antusias.


"Mobil ini atas nama Bapak Suryo Wibowo bukan Dinar." Balas Ferdi.


Bisma terdiam, dia mengenyitkan dahinya.


"Apa mungkin itu suaminya?" Tanya Bisma.


"Bisa jadi, coba aja loe cek langsung ke alamat ini!" Ucap Ferdi kemudian.


"Ini alamat lengkapnya. Coba loe catat!" Seru Ferdi.


Bismapun segera melakukan yang Ferdi perintahkan.


Tiba-tiba seorang karyawan menghampiri Bisma dan Ferdi yang sedang sibuk.


"Hey, loe berdua ditunggu diruang meeting sama Pak Direktur, ajak juga si Doni sama Devan." Ucap karyawan itu.


Bisma dan Ferdi saling melempar pandangan, mereka fikir hari ini tidak ada jadwal meeting apapun.


Kenapa dengan mendadak mereka disuruh keruang meeting dan hanya berempat saja, tidak seperti biasanya.


"Meeting soal apa?" Tanya Bisma.


"Gue juga nggak tau, kalian samperin dulu dah." Balas karyawan itu.


"Ayo dah." Seru Ferdi yang langsung beranjak setelah mendengar perkataan terakhir orang itu.


Bismapun segera mengikuti langkah Ferdi yang mencari Devan dan Doni sebelum akhirnya pergi keruang meeting.


***


Billa masih memikirkan tentang ibunya yang beberapa hari lalu dia lihat dibioskop.


Dia berfikir apa selama ini ibunya itu merindukan dirinya seperti Billa merindukannya? Tapi Billa fikir tidak, jika ibunya merindukannya mungkin ibunya itu akan datang menemui Billa dirumah papanya.


Terbukti karena selama ini ibunya itu tidak pernah sembunyi-sembunyi atau bahkan menampakkan diri untuk menemuinya.


Atau mungkin ibunya itu sudah lupa kalau dia pernah melahirkan seorang anak perempuan?


Bisma baru saja pulang, dia memasuki rumah dengan langkah gontai, wajahnya terlihat kusut setelah mendapat hasil keputusan meeting tadi.


Seketika senyuman mengembang dibibirnya ketika melihat Billa yang sedang menonton tv.


"Assalamualaikum sayang." Ucap Bisma sambil tersenyum.


Billa sedikit menoleh kearahnya.


"Waalaikumsalam." Balas Billa.


"Sayang, aku mau bicara sesuatu sama kamu." Ucap Bisma, diapun duduk disebelah Billa.


"Soal apa?" Tanya Billa.


"Besok siang aku harus berangkat ke Semarang." Ucap Bisma memulai pembicaraan.


Billa mengerutkan keningnya mendengar perkataan Bisma, dia tidak mengerti.


"Semarang? Buat apa?" Tanya Billa kemudian.


"Aku ditugasin buat cek lapangan diperusahaan cabang yang ada di Semarang." Jawab Bisma.


Billa terdiam, dia mencoba mencerna dengan baik perkataan Bisma.


"Ini nggak akan lama, kok. Aku disana cuma dua minggu." Ucap Bisma.


"Apa? Dua minggu?" Balas Billa sedikit kaget.


"Iya, sebenarnya aku juga nggak mau. Tapi gimana lagi, namanya juga tugas." Balas Bisma.


Billa terdiam, apakah ini kabar baik atau kabar buruk untuknya?


Billa berfikir apa dia akan sanggup ditinggal sendirian dirumah itu? Tapi Billa kembali berfikir, hidupnya pasti akan tentram tanpa adanya Bisma yang selalu saja mengganggunya.


"Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu, Bill. Tapi aku janji aku akan vc kamu sesering mungkin." Ucap Bisma, dia menatap Billa dengan tatapan yang sulit diartikan.


Billa sedikit menoleh kearah Bisma, terlihat Bisma yang menatapnya dengan tatapan aneh menurutnya.


"Kalau kamu mau besok aku antar kamu dulu kerumah papa, biar kamu tinggal disana selama aku di Semarang." Ucap Bisma.


"Hah? Aku nggak mau pergi kesana." Balas Billa kaget.


"Kenapa? Kamu males ketemu sama mama Vera?" Tanya Bisma.


"Ya." Balas Billa.


"Ya udah kalau gitu kamu dirumah aja, tunggu aku pulang. Kamu nggak apa-apa kan aku tinggal?" Tanya Bisma


Billa tak menjawab perkataan Bisma, entahlah dia merasa senang atau kesal ketika Bisma harus meninggalkannya, perasaan itu bercampur aduk menjadi satu didalam hatinya.


***


Malam harinya, Billa terlihat sudah terlelap dengan posisi membelakangi Bisma.


Sedangkan Bisma, dia sama sekali tidak bisa memejamkan matanya.


Dia terus berfikir bagaimana dengan istrinya itu ketika ditinggalnya nanti.


Dia sangat cemas dengan kondisi Billa yang sedang mengandung itu, dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.


Tapi mau bagaimana lagi, ini adalah tugas yang harus dia laksanakan, dia tidak bisa menolaknya.


Pasti disana Bisma akan sangat merindukan istrinya itu, rindu akan wajahnya yang menggemaskan, rindu untuk menggodanya.

__ADS_1


Bisma mulai memeluk Billa dari arah belakang, dia sangat tidak ingin meninggalkan perempuan itu, dia ingin terus berada disampingnya.


Bisma terus saja memikirkan tentang Billa hingga tanpa sadar matanya mulai terpejam.


***


Keesokan harinya, Bisma terlihat menaruh beberapa tas berisikan pakaiannya keatas motor.


Hari ini dia akan bertolak ke Semarang bersama ketiga rekan kerjanya.


Sebelum itu mereka terlebih dahulu harus datang ke kantor karena mereka akan pergi ke bandara dengan menggunakan mobil kantor.


Billa hanya menatapnya dari teras dengan tatapan kosong.


Selesai menaruh tasnya, Bisma menghampiri Billa yang sedang berdiri mematung.


"Sayang, aku pergi dulu ya! Kamu baik-baik dirumah, tunggu aku pulang. Ini nggak akan lama kok, aku pasti bakalan kangen banget sama kamu." Ucap Bisma.


Billa hanya terdiam.


Sedetik kemudian Bisma beralih, dia berjongkok lalu mulai menyentuh perut Billa yang sedikit membuncit.


Deg!


Billa merasakan sesuatu yang aneh ketika Bisma menyentuh perutnya.


Dia menatap Bisma yang berjongkok dengan tatapan yang sulit diartikan.


"Nak, papa pergi dulu, ya! Kamu jangan nakal didalam sana. Jangan repotin mama. Papa janji setelah ini papa nggak akan pernah tinggalin kalian lagi." Lanjutnya.


Tanpa disadari mata Billa mulai memerah ketika mendengar perkataan Bisma, entah perasaan apa yang merasuki hatinya.


Hatinya sedikit tersentuh, dia terharu dengan apa yang dilakukan Bisma.


Detik berikutnya, Bisma kembali berdiri menyamai posisi Billa.


Dia mulai mengecup kening Billa perlahan.


Billa sama sekali tidak menolaknya, dia hanya diam saja ketika Bisma memperlakukannya seperti itu.


"Sayang, aku pergi ya! Aku pasti bakalan kangen banget sama kamu." ucap Bisma, Billa tak menjawab.


"Assalamualaikum." Ucap Bisma, diapun membalikkan badan dan segera berlalu.


"Waalaikumsalam." Balas Billa ketika melihat kepergian Bisma.


"Hati-hati!" Seru Billa, tanpa sadar dia mengucapkan kata-kata itu.


Bisma yang mendengar itu kembali membalikkan badannya, dia tersenyum lebar kearah Billa.


"Demi kamu aku pasti hati-hati." Balasnya kemudian.


Bismapun memilih untuk segera pergi sebelum perasaannya mendesak untuk tetap tinggal disana.


Sebelum menancap gas, Bisma melambaikan tangannya kearah Billa sambil terus tersenyum.


Billa yang melihat itu sedikit berfikir, kenapa laki-laki itu terus saja tersenyum? Apa dia bahagia meninggalkan Billa sendiri dirumah ini?


Entahlah, Billa tidak sedang ingin memikirkan apa-apa, dia ingin beristirahat dengan tenang tanpa ada yang mengganggunya.


Diapun segera masuk kedalam rumah setelah motor Bisma tidak terlihat lagi.


***


Hari pertama kepergian Bisma.


Rumah itu terasa damai Billa tinggali sendiri.


Tidak ada Bisma yang selalu mengganggunya, yang sering jahil dan usil kepadanya, hidup Billa sekarang terasa tentram.


Billa benar-benar menikmati kesendiriannya itu, andai saja hidupnya selamanya seperti ini, mungkin dia akan selalu merasa bahagia tinggal disana.


***


Hari berikutnya.


Billa menyalakan televisi.


Sedetik kemudian dia mindahkan chanelnya, detik berikutnya dia kembali memindah-mindahkan chanel itu hingga berkali-kali.


Menurutnya tidak ada satupun program yang menarik untuk dia tonton.


Billa menghembuskan nafas asal, dia terlihat sangat bosan.


Akhirnya Billa mematikan kembali televisi itu.


Billa beranjak dan melangkah menuju dapur, perutnya terasa sedikit lapar.


Diapun duduk dimeja makan dan mulai memakan makanan yang tadi siang dimasaknya.


Billa sedikit menoleh kearah kursi yang berada disebelahnya.


Tiba-tiba dia mengingat Bisma, biasanya dia selalu makan malam bersama dengannya, selalu saja ada tingkah Bisma yang membuat Billa kesal.


Tanpa sadar Billa tersenyum ketika mengingat tingkah konyol Bisma.


Entah apa yang dia rasakan, dia merasa rindu digoda oleh suaminya itu.


Billa membayangkan Bisma berada dihadapannya saat ini, dia tersenyum manis kearah Bisma.



Billa menggeleng cepat setelah memikirkan hal itu.


"astaga! Aku mikir apa sih?" Gumam Billa pelan, dia segera menepis fikiran anehnya tentang Bisma.

__ADS_1


***


__ADS_2