Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Diam-diam Veni menyukai Bisma


__ADS_3

"Bill!" seru Bisma, namun Billa tak menghiraukannya.


Bisma menghalau jalan Billa sehingga langkah perempuan itu terhenti.


"mau apa lagi kamu?" tanya Billa disela isakannya.


"kamu salah paham Bill, aku..." ucap Bisma menggantung, dia sendiripun bingung bagaimana dia akan menjelaskan semua kesalah pahaman ini.


"awas!" seru Billa, dia mendorong tubuh Bisma asal.


Tapi Bisma tak tinggal diam, dia meraih tangan Billa sampai perempuan itu berbalik badan menghadap kearahnya.


"maafin aku udah bohongin kamu, tapi aku terpaksa lakuin ini." ucap Bisma.


"apa? Kamu mau ngaku kalau ternyata selama ini kamu punya perempuan lain?" tanya Billa dengan tuduhannya.


"nggak, bukan seperti itu. Aku nggak mungkin hianatin kamu, Bill." balas Bisma.


"semua udah jelas Bisma, aku udah liat semuanya. Kamu nggak perlu mengelak lagi. Kalau kamu udah bosen sama aku, jangan gini caranya, lebih baik kamu ceraikan aku sekarang juga!" ucap Billa menggebu-gebu, dia terlihat sangat marah.


Billa menangis sesegukan, rasanya sangat aneh, bahkan rasanya dihianati lebih sakit dari pada direnggut kesuciannya.


'astaga! Gue bener-bener bodoh! Kenapa gue bisa bikin air mata itu jatuh lagi? Gue nggak sanggup liat dia nangis, apalagi itu semua adalah gue penyebabnya.' ucap Bisma dalam hati, dia menatap Billa yang menangis dengan mata yang berkaca-kaca.


"kamu jangan suruh aku lakuin itu Bill, kamu cuma salah paham. Aku bisa jelasin semuanya." ucap Bisma.


Billa mencoba mengatur nafasnya yang tak beraturan, dia berusaha untuk tidak menangis, dia harus bisa menerima jika nantinya Bisma akan meninggalkannya untuk perempuan lain.


Billa berusaha bersikap sewajarnya setelah bisa mengendalikan emosinya.


"udahlah Bisma, kamu pantas buat bahagia. Mungkin perempuan itu bisa kasih kamu kebahagiaan, nggak kaya aku yang selalu sakitin kamu. Lebih baik kamu kembali sama perempuan itu dan tinggalin aku sendiri disini." ucap Billa dengan pasrah namun tak menghilangkan kesan kesedihannya.


"kamu nggak bisa bicara kaya gitu Bill, aku cuma cinta sama kamu. Aku sama perempuan itu nggak ada apa-apa. Kamu harus percaya sama aku." balas Bisma.


'nggak ada apa-apa gimana? Aku liat sendiri kamu pegang tangan dia tadi.' ucap Billa dalam hati.


"kamu harus percaya sama aku." ucap Bisma.


"udahlah Bisma, aku cape." balas Billa, diapun kembali melangkahkan kakinya untuk mengindari Bisma agar laki-laki itu tidak melihat air matanya yang kembali menetes.


Billa benar-benar tidak bisa menahan air matanya yang terus-menerus minta keluar.


Hap!


Dengan sigap Bisma menarik Billa kedalam pelukannya, dia memeluk Billa dari belakang.


"maafin aku Bill, aku bikin kamu nangis lagi, aku nggak bisa nepatin janji aku buat bikin kamu bahagian. Tapi percayalah Bill, nggak ada perempuan lain dihidup aku, cuma kamu, dari dulu sampai kapanpun." ucap Bisma lirih.


"aku nggak nangis Bisma, aku kuat. Aku bisa terima kalau kamu mau tinggalin aku buat perempuan itu." balas Billa.

__ADS_1


Sedetik kemudian Bisma melepaskan pelukannya dan berbalik menatap Billa.


"kamu liat aku!" seru Bisma, dia menarik dagu Billa agar perempuan itu melihat wajah Bisma.


Billa dengan ragu mulai mulai mengalihkan pandangannya tepat pada kedua mata Bisma.


Terlihat mata itu memancarkan kehangatan dan ketulusan, Billa tidak bisa menyangkal akan hal itu.


"Aku cinta sama kamu, katakan kalau kamu juga cinta sama aku." ucap Bisma lirih.


Astaga!


Billa langsung buang muka ketika mendengar perkataan Bisma, dia sama sekali tidak bisa mengakui perasaannya.


"ayo!" seru Bisma, Billa terlihat gelagapan.


"nggak Bisma, aku nggak cinta sama kamu." balas Billa akhirnya.


"kamu bohong, aku bisa rasain itu, Bill." ucap Bisma.


"nggak Bisma, kamu sok tau!" balas Billa, dia semakin salah tingkah ketika Bisma terus mendesaknya.


"semua udah jelas, Bill. Buktinya kamu nggak marah waktu aku peluk, kamu nggak keberatan waktu aku sentuh. Itu artinya kamu udah bisa terima aku." ucap Bisma.


Benar apa yang dikatakan Bisma, Billapun merasakan hal seperti itu, tapi apa pantas dia memiliki perasaan seperti ini? Dia sangat malu terhadap dirinya sendiri untuk sekedar mengakui perasaannya.


Billa semakin menghindar dari Bisma, dia tidak ingin Bisma mendesaknya untuk mengakui perasaannya.


"kamu nggak bisa menghindar dari kenyataan ini Bill, ok kalau kamu nggak mau mengakui itu. Tapi aku yakin kamu udah mulai bisa terima aku." ucap Bisma.


Billa tak menjawabnya, dia sangat bingung apa yang harus dia katakan?


"aku adalah orang yang paling bahagia Bill, kalau aku bisa dicintai sama perempuan berhati tulus seperti kamu." ucap Bisma.


"udah cukup Bisma, kamu jangan berkhayal lagi. Semua itu nggak akan pernah terjadi. Aku nggak bisa kasih kamu kebahagiaan seperti apa yang kamu bilang selama ini." ucap Billa.


"nggak Bill, dengan adanya kamu dihidup aku itu udah cukup bikin aku bahagia. Awalnya aku nggak perduli kamu cinta sama aku atau nggak, tapi sekarang aku yakin kalau kamu mulai cinta sama aku." balas Bisma.


Billa menatap Bisma dengan tatapan ragunya, dia sebenarnya sangat percaya terhadap Bisma, karena selama beberapa bulan mereka menikah, Bisma sama sekali tidak pernah berbohong kepadanya, Bismapun selalu bersikap lembut terhadapnya, ya meskipun terkadang dia selalu bersikap menyebalkan.


Tapi Billapun mulai bisa merasakan kesungguhan cinta Bisma untuknya, ketika Billa menatap Bisma, dia bisa melihat ketulusan dimata laki-laki itu.


Apa Billa harus percaya dengan semua perkataan Bisma? Atau dia harus mundur dan mengikhlaskan Bisma dengan perempuan lain, sedangkan sebuah rasa cinta mulai tumbuh dan berkembang dihatinya.


***


Billa terus menghindar dari Bisma, dia masih merasa sebal terhadap Bisma, berani sekali laki-laki itu berbohong kepadanya.


Setiap Bisma berusaha untuk menjelaskan, Billa langsung pergi dari hadapan Bisma.

__ADS_1


Bismapun berpikir jika ini bukan waktu yang tepat untuk Billa tau kebenarannya, Bisma harus bergerak cepat, dia harus menyelesaikan masalah ini secepatnya, jika perlu besok sepulangnya bekerja Bisma akan kembali kerumah itu.


Dia tidak ingin Billa salah paham terlalu lama, dia ingin melihat Billa tersenyum, dia ingin melihat Billa yang bahagia ketika bertemu dengan ibu kandungnya.


***


Keesokan harinya, sepulangnya Bisma bekerja, dia langsung menancap gas menuju rumah ibu Dinar, dia berharap jika kali ini usahanya akan membuahkan hasil.


Rumah ibu Dinar yang ada di Lembang cukup memakan waktu yang lama untuk menempuhnya, Bisma tiba disana sekitar pukul 18.12 selepas adzan magrib.


Akhirnya Bisma memarkirkan motornya dipekarangan rumah itu setelah satpam mengizinkannya masuk.


Diapun mulai membunyikan bel yang ada.


Tak berselang lama, pintu itupun terbuka, seorang anak perempuan remaja terlihat tersenyum kearah Bisma setelah membukakan pintu.


"ada apa ya?" tanya anak itu dengan ramahnya.


Bisma sedikit berpikir, siapa anak itu? Tapi diapun merasa lega ternyata bukan Veni yang membukakan pintunya.


"saya mau bertemu dengan ibu Dinar, apa dia ada dirumah?" Bisma malah balik bertanya.


"oh, mama. Ada. Ayo masuk kedalam." balas anak remaja itu.


"emangnya boleh?" tanya Bisma.


"ya bolehlah. Ayo!" balas anak itu sambil melangkah masuk kedalam.


Bismapun mengikuti anak itu, dia pikir jika ini adalah awal yang baik.


"kakak tunggu disini dulu, biar aku panggilin mama sebentar." ucapnya kemudian.


"iya, makasih ya!" balas Bisma.


Bisma duduk diruang tamu setelah anak itu pergi.


Anak remaja itu bernama Liona, dia adalah adik Veni, anak hasil pernikahan ibu Dinar (mama Billa) bersama om suryo (papa Veni).


Sedangkan mama kandung Veni sudah meninggal ketika Veni baru bersuia 5 tahun.


Bisma terlihat memperhatikan setiap sudut ruang tamu, matanya berhenti tepat disebuah foto keluarga yang berukuran besar.


Terlihat perempuan pembohong itu bersama dengan anak tadi dan mungkin saja perempuan paruh baya itu adalah ibu kandung Billa dan seorang laki-laki paruh baya yang terlihat berwibawa, mereka berempat telihat bahagia disana.


Bisma merasa kasihan terhadap Billa, jadi selama ini ibunya hidup dengan keluarga barunya dan menjalani kehidupan yang bahagia.


Sedangkan Billa, dia menderita sendirian selama bertahun-tahun karena ditinggalkan ibu kandungnya dan tinggal bersama ibu tirinya yang jahat.


Sungguh sangat disayangkan, perempuan berhati tulus seperti Billa disia-siakan seperti itu.

__ADS_1


***


__ADS_2