
Hari ini Tante Vera memutuskan untuk pulang, karena Rafael sudah terlihat lebih fresh dan kembali kerumah sakit.
Mereka bergiliran satu sama lain untuk menemani Om Ardi.
Tante Vera merasa kaget ketika tiba dirumah, kondisinya sangatlah berantakkan.
Bantal kursi berserakkan dilantai, taplak meja tidak berada diposisinya, meja-meja yang ditempeli banyak debu.
Kemarahannya seketika memuncak, dia begitu lelah karena beberapa hari dia kurang tidur, dengan melihat keadaan rumah seperti itu membuatnya ingin meluapkan semua kemarahannya, kepalanya terasa ingin pecah.
Siapa yang bertanggung jawab atas ini semua?
Tanpa berfikir lagi Tante Vera langsung menuju kamar Billa, dia yang akan menjadi sasaran kemarahannya kali ini.
Tante Vera berjalan dengan tergesa-gesa, dia sudah tak sabar untuk memarahi Billa, mulutnya terasa sangat gatal.
Brak!
Tante Vera membuka pintu kamar Billa dengan kasar.
Billa sangat dibuat kaget olehnya, dia sedikit tercengang saking kagetnya.
"Heh! Ngapain aja kamu disini? Nggak liat apa rumah berantakkan? Enak banget ya kerjaannya cuma tiduran aja." Ucap Tante Vera yang menggebu-gebu.
Billa tak menjawab, dia merasa apa yang dikatakan ibu tirinya itu memang benar.
Jika saja tubuhnya tidak terasa sakit, Billa pasti sudah mengerjakan semua pekerjaan rumah.
Tapi apa daya, berdiripun rasanya dia tak sanggup. Kepalanya masih sering terasa pusing.
"Saya nggak mau tau, cepat beresin rumah sekarang juga! Kamu tau nggak saya cape ada dirumah sakit berhari-hari, kamu malah enak-enakan berleha-leha disini." Ucap Tante Vera.
"Ma, aku sakit. Aku butuh istirahat." Balas Billa.
"Alah, jangan dijadikan alasan. Kamu kaya gini itu gara-gara ulah kamu sendiri, ikut-ikutan ibu kamu jadi perempuan yang nggak bener." Ucap Tante Vera.
Billa benar-benar pusing menghadapi orang-orang yang selalu saja memaki-maki dirinya.
Dia memutuskan untuk tidak menggubris perkataan ibu tirinya itu, bisa-bisa dia semakin sakit dibuatnya.
"Dasar anak nggak tau di untung. Udah bagus suami saya mau nampung kamu disini, sekarang kamu malah mau membunuh suami saya!" Seru Tante Vera.
Deg!
Walaupun Billa berusaha untuk tidak menggubrisnya, tapi perkataan itu terngiang dengan jelas ditelinganya.
Dia sangat sakit hati mendapat tudingan seperti itu. Mana mungkin dia ingin membunuh papanya yang selama ini selalu membelanya.
Dia sangat menyayangi papanya.
"Saya nggak mau ya dirumah ini nambah lagi anak h***m, saya nggak tau apa yang bakalan terjadi dirumah ini nantinya. Satu aja udah banyak ngerepotin, apa lagi dua?" Ucap Tante Vera.
__ADS_1
Billa terus terdiam, dia tak berani buka mulut. Dia tak tau harus menjawab perkataan ibu tirinya itu bagaimana.
"Mendingan sekarang beresin baju-baju kamu, terus pergi dari rumah ini. Saya nggak sudi kalau sampai anak h***m itu lahir disini." Ucap Tante Vera kemudian.
Billa sedikit menoleh kearah ibu tirinya itu.
"Mama usir aku?" Tanya Billa.
"Iya, sebelum anak itu lahir dan bawa malapetaka dirumah ini." Jawab Tante Vera asal.
Billa segera meraih tangan Tante Vera, berharap perempuan paruh baya itu merasa iba kepadanya.
"Aku mohon mah, biarin aku tinggal disini. Aku nggak tau aku harus pergi kemana?" Ucap Billa dengan suaranya yang sudah hampir habis.
Tante Vera segera menepis tangan Billa, dia merasa sangat jiji ketika bersentuhan dengan Billa.
"Terserah kamu, saya nggak mau tau. Mau dikolong jembatan jadi gembel sekalipun saya nggak perduli." Seru Tante Vera.
Billa hanya menangis, dia tak tau apa yang harus diperbuatnya saat itu.
Tante Vera semakin geram melihat Billa yang terus saja menangis, dia langsung mencari tas besar.
Dia memasukkan baju-baju Billa yang ada didalam lemari ke tas besar itu.
Billa sangat tak menyangka jika ibunya benar-benar ingin mengusirnya dalam kondisinya yang masih sakit.
Tapi Billa tak heran, ibunya itu sedari dulu menginginkan Billa untuk tidak berada dirumah itu.
Billa tak tinggal diam, dia segera beranjak walau kakinya masih terasa lemas, dia menghampiri ibu tirinya yang sedang berkemas.
"Ma, tolong jangan usir aku. Aku janji nggak akan repotin mama lagi. Aku minta maaf, ma! Jangan usir aku ya!" Ucap Billa, dia memegangi tangan Tante Vera agar perempuan paruh baya itu menghentikan aktifitasnya.
Tapi dengan kasar Tante Vera menepis tangan Billa.
Dia menutup resleting tas itu.
Sedetik kemudian dia membantingnya dengan kasar kelantai.
"Ayo pergi! Saya nggak sudi nampung anak h***m kamu itu." Ucap Tante Vera.
Billa terus saja menangis.
"Tapi ma, aku mohon biarin aku tinggal disini!" Ucap Billa disela tangisnya.
Tante Vera sangat geram karena anak itu sangat keras kepala, dia segera menarik Billa dan menenteng tas besar itu keluar dari kamar.
"Nggak ada. Ayo!" Seru Tante Vera sambil menyeret Billa paksa untuk keluar.
Billa sedikit merengek kesakitan karena Tante Vera menariknya dengan sangat kasar.
"Ma, aku mohon! Jangan!" Ucap Billa.
__ADS_1
Dia merasa sangat senang karena cita-citanya mengusir Billa selama ini sudah tercapai.
Billa berharap jika seseorang akan membantunya terlepas dari ibu tirinya itu, tapi itu tidak mungkin terjadi.
Tante Vera menyeret Billa hingga keluar rumah, dia menepis tangan Billa dengan kasar kemudian disusul dengan tas besar berisikan pakaian miliknya.
Dia melipat kedua tangannya didada, dengan tatapan arogannya dia melihat Billa yang terus saja menangis.
Billa merasakan kesakitan karena tas besar itu mengenai bahunya.
"Jangan pernah menginjakkan kaki lagi dirumah ini. Camkan itu!" Seru Tante Vera dengan sinisinya.
Sedetik kemudian dia berbalik badan dan masuk kedalam, tak lupa diapun mengunci pintu agar perempuan itu tidak kembali masuk.
Billa benar-benar sakit hati diperlakukan seperti sampah, dihina-hina, diinjak-injak, sungguh tak ada perasaan yang lebih menyakitkan dari ini.
Penderitaannya seolah telah sempurna. Kenapa Tuhan selalu saja menempatkannya dalam keadaan yang sulit.
Bukankah roda kehidupan itu berputar? Tapi kenapa Billa tidak pernah merasakan berada diatas?
***
Bisma baru saja pulang dari masjid untuk menunaikan ibadah shalat magrib, dia duduk dikursi teras kontrakannya.
Entah apa yang sedang dia fikirkan, perasaannya masih saja belum tenang walaupun sudah melaksanakan sholat.
Dia kembali mengingat kejadian waktu Dicky meminta Billa untuk melakukan hal itu bersamanya.
Bisma benar-benar sangat gelisah, dia takut jika diam-diam Dicky kembali menemui Billa dan berbuat yang macam-macam.
Dia sama sekali tak bisa menenagkan fikirannya yang terus saja mengkhawatirkan Billa.
Bayangan perempuan itu yang sedang menangis terus saja muncul dibenaknya.
Bisma tak bisa tinggal diam, dia harus segera menemui perempuan itu untuk memastikan keadaanya baik-baik saja.
Diapun segera melepas sarung yang dikenakannya dan menyambar jaket yang menggantung.
Diapun bergegas pergi menggunakan motornya.
***
Billa berjalan sendirian ditrotoar jalan sambil menenteng tas besar berisikan pakaiannya.
Dia tak tau harus kemana membawa raganya pergi, walau kakinya terasa sangat lemas, dia terus berjalan menyusuri jalanan ditengah gelapnya malam ini.
Sungguh, tak ada sesuatu yang buruk dari ini.
Dia terlihat seperti orang gila, dengan pakaian yang lusuh, wajah yang tak menentu karena sedari tadi terus menangis, rambut yang berantakkan.
Sebenarnya kepalanya terasa sangat pusing, tapi dia mencoba untuk tetap bertahan agar tidak sampai tumbang.
__ADS_1