
Haripun berganti, pagi ini Dicky mengantar Billa ke tempat kerjanya. Sepanjang perjalanan Dicky terlihat murung dan tak banyak bicara.
Billa merasa aneh dengan sikap Dicky. Sesampainya ditempat kerja, Billapun memutuskan untuk bertanya.
"Ky, kamu kenapa sih diem aja dari tadi?" Tanya Billa, dia melihat wajah Dicky, terlihat sedikit kusut.
"Papaku bangkrut sayang, semua sahamnya habis kena tipu orang." Jawab Dicky lesu.
"Apa? Kamu serius?" Tanya Billa sedikit kaget.
"Iya, semua infestasi yang papaku punya dibawa kabur rekan bisnisnya." Balas Dicky sambil tertunduk.
"Kamu yang sabar ya Ky, ini semua cobaan buat kamu sama keluarga. Aku yakin kamu pasti bisa gantiin papa kamu jadi tulang punggung. Menurut aku kamu adalah infestasi terbaik dalam hidup papa kamu dan tentunya kamu nggak akan dibawa kabur sama siapapun." Ucap Billa bijak.
Dicky tertawa mendengar ucapan Billa.
"Ihh kenapa kamu ketawa? Aku salah ngomong ya?" Tanya Billa sedikit bingung.
"Apa yang kamu bilang itu bener banget. Tapi aku pengennya ada yang bawa lari." Ucap Dicky.
"Ya emang siapa yang mau bawa lari kamu? Dijual juga nggak akan laku." Tanya Billa sedikit meledek.
Dicky kembali tertawa.
"Aku maunya kamu yang bawa aku lari dari semua kenyataan ini." Ucap Dicky kemudian.
"Apaan sih kamu nggak lucu tau!'" Jawab Billa sedikit tersipu malu.
"Beneran!" Balas Dicky disela tawanya. Billa hanya tersenyum mendengarnya.
Sedetik kemudian Dicky berhenti tertawa.
"Ya udah, aku berangkat kerja dulu ya! Kamu juga kerjanya yang semangat. Nanti pulangnya aku jemput lagi disini!" Ucap Dicky sambil tersenyum kearah Billa, Billapun dengan senang hati membalasnya.
"Iya, kamu juga hati-hati kerjanya." Balas Billa.
"Assalamualaikum." Ucap Dicky sebelum menancap gas motornya.
"Waalaikumsalam." Balas Billa.
***
Sore ini hujan turun dengan sangat derasnya. Sebagian karyawan memilih untuk menunggu hujan reda, sebagian lagi memaksa untuk menerobosnya dengan menggunakan jas atau payung.
Billa menunggu hujannya berhenti didepan kantin bersama beberapa karyawan lain. Dia tidak memiliki jas untuk dipakai. Dia takut akan jatuh sakit jika memaksa menerobosnya.
Untung saja hujan kali ini tidak disertai dengan petir, Billa akan merasa ketakutan jika hal itu terjadi.
Bisma yang melihat Billa dari kejauhan segera menghampirinya. Meskipun bajunya sedikit basah, namun itu tak akan menjadi masalah menurutnya.
__ADS_1
Billa sedikit menolek kearah Bisma yang baru saja menghampirinya.
Kenapa laki-laki itu tak juga jera untuk menemuinya, padahal Billa sudah memperlakukannya dengan tidak baik kemarin.
"Hai." Ucap Bisma sambil tersenyum kearah Billa.
"Kamu nggak bawa payung?" Tanya Bisma kemudian.
"Nggak!" Jawab Billa singkat.
Bisma hanya manggut-manggut saja.
"Gimana kamu betah kerja disini?" Tanya Bisma lagi.
"Lumayan." Jawab Billa.
Bisma kembali manggut-manggut.
Billa sedikit risih dengan keberadaa Bisma, dia merasa minder dan malu kepadanya. Apa lagi Bisma terus memandanginya, dia semakin salah tingkah.
"Hujannya lebat banget ya? Kayanya nggak akan berenti cepet-cepet deh." Ucap Bisma kemudian.
"Untung nggak ada petir ya Bill, kalau ada kamu pasti peluk aku kaya waktu itu." Ucap Bisma sambil menunjukkan deretan giginya.
Seketika mata Billa membulat mendengar ucapannya.
Ternyata laki-laki itu masih mengingat kejadian itu.
Kalau ya, dimana dia harus menyembunyikan wajahnya?
"Apaan sih kamu Bisma?" Ucap Billa yang sedikit kesal.
Bisma tertawa melihat Billa yang kesal.
Wajah Billa semakin memerah ketika ditertawakan oleh Bisma seperti itu.
Ternyata sikap menyebalkan Bisma masih saja dia pelihara. Fikir Billa.
Bisma terus mencari bahan obrolan dengan perempuan itu walaupun terkesan tak jelas, beberapa teman Billa menganggapnya orang aneh.
Namun Bisma tak memperdulikan hal itu, dia terus berceloteh sendiri, dia tak memperdulikan Billa yang mencueki dirinya.
"Ehh, kamu ganteng banget sih kerjanya dikantor lagi nggak kaya kita-kita tiap hari kepanasan mulu kena uap iron." Celetuk Bu Sri.
Billa menyenggol Bu Sri dengan sikunya. Bu sri segera mengusap tangannya.
"Makasih. Ibu juga cantik kok, keliatan awet muda." Puji Bisma sambil memperlihatkan senyumnya.
"Cie cie dipuji brondong." Ucap yang lain.
__ADS_1
"Iya, tapi maaf saya udah nikah, punya anak 3 lagi. Mending sama dia aja, masih gadis." Ucap Bu Sri sambil melirik Billa.
Seketika Billa membulatkan matanya kearah Bu Sri.
"Apaan sih Bu. Udah jangan diladenin!" Bisik Billa pada Bu Sri.
"Nggak apa-apa kayanya dia suka sama kamu." Balas Bu Sri.
"Ngaco banget sih ibu." Elak Billa.
"Maunya sih gitu Bu. Tapi nggak tau deh dianya." Ucap Bisma menggoda Billa.
Wajah Billa semakin memerah mendengar ucapan Bisma. Bisma dan ibu-ibu lainpun terus bergurau dan sesekali tertawa.
Billa merasa sangat malu karena dirinya terus menerus mendapat ledekan dari mereka.
Hujan kali inipun terasa hangat, sehangat senyum Billa yang terlihat malu-malu ketika digoda terus-terusan oleh Bisma.
***
Dicky benar-benar jatuh miskin, papanya sampai menjual rumah dan tinggal dikontrakan kecil.
Ya Allah, apa ini karma atas semua kesalahan yang aku lakukan dulu?
Jika ia maka aku mohon ampun, aku bertaubat ya Allah. Pinta Dicky dalam do'anya.
Namun dia tetap berusaha dan bekerja keras untuk memenuhi semua kebutuhan kedua orang tua dan ketiga adiknya.
Dia benar-benar menjadi tulang punggung keluarga. Apa lagi sekarang papanya terlihat sering sakit-sakitan dan tak dapat bekerja.
Billa terus menyemangati Dicky, dia berusaha untuk selalu ada untuk kekasihnya disaat seperti ini.
Billa tak memandang Dicky dari segi materi, dia benar-benar tulus mencintai Dicky apa adanya dengan segala kekurangannya.
***
Bisma berencana untuk memberi kejutan pada Billa, dia berharap dengan cara ini hati perempuan itu akan luluh kepadanya.
Saat jam istirahat tiba.
Entah apa yang merasuki semua karyawan disana, semua terlihat senang sambil menari-nari dengan diiringi lagu One Direction yang berjudul What Make You Beautiful.
Billa yang melihat itu merasa aneh dan bingung.
'Ada apa ini? Nggak seperti biasanya?' Tanya Billa dalam hati.
Ibu Sri dan yang lain mengajak Billa untuk ikut menari ditengah, dengan terpaksa Billa mengikuti mereka.
Billa tertawa melihat suasana pabrik semeriah ini.
__ADS_1
Walaupun tarian mereka terkesan tak jelas, tapi semua karyawan terlihat bahagia dan menikmati lagu sambil terus menari tak karuan sesuka hati mereka.
Billa terlihat sangat kebingungan dengan tingkah aneh mereka, dia hanya melihatnya sambil sesekali tertawa tanpa mengikuti kelakuan konyol mereka.