
Satu minggu berlalu, kehidupan Billa menjadi tak menentu, dia seperti orang linglung menjalani hari-harinya.
Ada sesuatu yang mengganjal dihatinya, masalah Dicky dan Felly terus menghantui fikirannya.
Dia belum menyelesaikan dengan tuntas masalahnya dengan Dicky. Dia harus bicara dengan Dicky secepatnya.
Billa memutuskan untuk menemui Dicky hari ini, dia tak perduli apa yang akan laki-laki perbuat terhadap dirinya.
Dia ingin meminta penjelasan sejelas-jelasnya.
Billa memberanikan diri untuk menemui Dicky dikelasnya.
Terlihat Dicky sedang duduk sendirian dibangkunya, dia terlihat murung.
Billa segera menghampirinya.
"Ky, aku perlu bicara sama kamu." Ucap Billa kemudian.
Dicky sedikit menoleh kearahnya, dia terlihat acuh tak acuh.
"Aku udah nggak sanggup berada dalam situasi seperti ini, aku nggak tahan dengan semua masalah yang terjadi diantara kita. Aku butuh kamu jelasin apa hubungan kita setelah kepergian Felly." Ucap Billa sedikit kasar.
"Aku nggak tau, aku bingung." Jawab Dicky.
"Kamu nggak bisa kaya gini Ky, aku mau hubungan kita kaya dulu lagi, aku udah maafin kesalah kamu. Aku mau terima kamu lagi." Ucap Billa.
"Aku masih nggak bisa lupain Felly, aku butuh sendiri buat menenangkan diri. Aku mohon sama kamu jangan temui aku untuk sementara. Sampai batas waktu yang nggak bisa aku tentukan." Lanjutnya.
Billa terdiam, dia tak menyangka Dicky akan menggantung dirinya seperti ini.
"Jadi sekarang kamu boleh pergi, jangan muncul lagi dihadapan aku. Aku mohon sama kamu." Ucap Dicky kemudian.
Billa benar-benar kecewa dengan keputusan yang diambil Dicky, dia tak menyangka jika akhir kisah cintanya begitu rumit.
Entahlah, dia akan memenuhi keinginan Dicky, dia akan menjauh dari kehidupan Dicky.
Mungkin dengan itu Dicky akan merasa senang dan tenang, dan hatinyalah yang berhasil tersakiti.
Billapun memutuskan untuk pergi tanpa mengharap hubungan mereka kembali utuh.
Pernyataan Dicky tadi cukup membuatnya paham jika Dicky sangat membenci dirinya.
***
Billa berjalan meninggalkan kelas Dicky, langkahnya telihat tak bersemangat, tatapannya terlihat kosong.
Hatinya terasa hampa, dia merasa tak mempunyai tujuan dan alasan untuk bertahan hidup.
Orang yang dia cintai satu persatu pergi meninggalkannya. Ibu kandungnya, Felly. Sekarang Dicky, dia sangat membenci dirinya.
Ya Tuhan, mengapa Engkau memberiku cobaan bertubi-tubi seperti ini.
Apa ini karma? Apa salahku? Aku nggak sanggup menghadapi semua ini sendiri. Aku lelah, aku menyerah.
Beberapa murid menatapnya dengan kebencian. Mereka sedang membicarakan Billa dengan segala keburukannya.
Mereka melihat Billa dengan sinis.
"Ehh, liat deh nggak punya malu banget sih dia udah celakain temennya sendiri masih aja berani nunjukin mukanya disini." Celetuk salah satu murid.
"Iya, katanya sahabatan. Tapi kok tega ya celakain sahabatnya kaya gitu!" Seru yang lain.
Billa menghentikan langkahnya. Dia menoleh kearah mereka dengan tatapan tak mengerti.
"Maksud kalian apa?" Tanya Billa dengan suaranya yang terdengar lemas.
"Masih nanya lagi, loe itu kan yang menyebabkan Felly meninggal?" Tuduh Lisa.
Billa tak dapat bergeming, dia begitu kaget dengan perkataan mereka. Bagaimana bisa mereka bicara seperti itu sedangkan mereka tak tau apa yang sebenarnya terjadi.
"Udahlah, sekali pembunuh tetep pembunuh. Ehh guys kita jangan deket-deket sama dia, nanti kita bisa dicelakain lagi!" Seru yang lain.
Billa tak bisa menyangkal perkataan mereka. Dia tak tau harus membela diri seperti apa.
Beberapa murid menghampiri, mengerumuni mereka dan ikut membully Billa.
Bisma yang mendengar keributan segera menghampiri, dia ingin tau apa yang terjadi disana.
"Iya nih, diakan yang kecentilah sama si Dicky, pacarnya Felly." Ucap Dina.
"Hey! Ada apa ini?" Tanya Bisma.
Bisma kaget ketika melihat Billa yang tengah dikerumuni beberapa murid-murid.
Dia segera menghampirinya dan menghalanginya dari kemarahan murid-murid itu.
"Semua orang juga tau kalau dia yang udah bunuh Felly. Gara-gara dia rebut Dicky, Felly jadi kecelakaan dan akhirnya meninggal." Ucap Putri asal.
"Kalian tau apa? Apa kalian ada disana waktu kejadian itu? Kalau kalian nggak tau kejadian yang sebenernya kaya apa, kalian nggak berhak menghakimi dia sesuka kalian." Bela Bisma.
"Alah, jangan belain dia deh Bis. Jangan deket-deket sama dia nanti loe dicelakain lagi." Ucap Reza.
"Loe ngomong apa sih Za? Gue nggak nyangka loe sama aja sama yang lain." Ucap Bisma.
Billa bersembunyi dibelakang Bisma, dia merasa sangat ketakutan mendengar tudingan teman-temannya itu.
Billa menutupi telinga dengan kedua tangannya, dia tak ingin mendengar hujatan mereka yang terasa menyayat hatinya.
"Udahlah Bis emang kenyataannya kaya gitu, ini bukan rahasia umum lagi, semua orang juga udah tau kalau dia itu PEMBUNUH!" Seru Rena yang menekan kata pembunuh.
"Dasar temen makan temen!" Seru Lisa.
"Kecentilan!" Seru Dina.
"Cewe nggak tau diri. Pacar temen sendiri aja diembat." Seru putri.
"Pembunuh loe!" Seru Qila.
"Nggak punya hati banget sih loe!" Seru yang lain.
"Diam-diam menghanyutkan! Keliatannya aja baik, ternyata hatinya BUSUK!" Seru Putri.
"Kasian Fellykan?" Ucap yang lain.
"Stop! Jangan ada yang berani bicara lagi. Semua yang kalian fikir tentang Billa itu salah!" Ucap Bisma dengan tegas.
"Tapi itu faktanya Bisma, dia itu PEMBUNUH." Ucap Lisa kasar.
Astaga! Segitu jahatnyakah aku sampai mereka bicara seperti itu?
Billa sangat tak menyangka teman-temannya akan berfikiran sejahat itu tentang dirinya.
Billa benar-benar muak mendengar cacian itu, dia sudah tidak tahan lagi dengan keadaan disana.
"Udah Cukup! Aku nggak sejahat yang kalian Fikir!" Ucap Billa disela tangisnya, dia berteriak tak karuan.
Sedetik kemudian Billa berlari meninggalkan mereka yang tak berhenti menghujaninya dengan cacian.
Dia fikir dia harus pergi agar dia tak lagi mendengar perkataan kasar dari mereka.
Billa menyeret paksa kakinya untuk menjauh, entah kemana dia akan pergi, yang jelas dia tak ingin berada disana lebih lama lagi.
__ADS_1
Bisma benar-benar tak habis fikir dengan teman-temannya itu, dia sangat merasakan kesedihan yang Billa rasakan.
"Kalian itu bener-bener keterlaluan ya!" Seru Bisma dengan nada tinggi.
Bismapun pergi untuk menyusul Billa.
Dia tak akan membiarkan perempuan itu menangis sendirian, dia sudah berjanji akan selalu ada untuknya dalam situasi sesulit apapun.
Murid-murid itu tersenyum sinis karena telah berhasil membuat Billa menangis.
Mereka sangat puas.
***
Billa tak tau harus bagaimana lagi menghadapi semua masalah yang dia hadapi.
Dia tak bisa membuat Felly kembali hidup, diapun tak bisa membungkam mulut orang-orang yang menyalahkan dirinya.
Kenyataan ini terlalu pahit untuk dia telan sendiri.
Semua cacian dan hinaan yang mereka lontarkan terus saja mengiang ditelinganya.
Dia berdiri diatas atap gedung sekolah itu.
Dia merasa sudah tak ada yang bisa dia pertahankan lagi dalam hidupnya.
Dia sangat putus asa.
Dia berjalan diujung atap itu perlahan.
Dia berharap jika Tuhan mencabut nyawanya sekarang juga agar dia tidak lagi mendapat perlakuan sadis dari orang-orang disekitarnya.
***
Bisma celingukan sendiri mencari Billa, dia sangat mencemaskan keadaan perempuan itu.
Bisma melihat sekerumunan orang yang terlihat panik, Bisma segera menghampirinya.
"Ham ada apa sih rame-rame?" Tanya Bisma pada Ilham.
"Itu si Billa, kayanya dia mau bunuh diri deh! Loe liat aja sendiri!" Jawab Ilham sambil menunjuk ke atas gedung.
"Apa?" Tanya Bisma sedikit tak percaya.
Bisma langsung mengikuti arah telunjuk Ilham.
"Astagfirulloh!" Ucap Bisma spontan.
Dia melihat Billa yang ada diatas sana sambil berdiri diujung.
Tanpa berfikir panjang Bisma langsung berlari, dia takut jika terjadi suatu yang buruk terhadap Billa.
'Semoga aja nggak terlambat.' Batin Bisma.
Dia terus berlari. dia sangat berharap cemas, anak tangga seperti tak ada habisnya dia pijaki.
Dari kejauhan Bisma melihat Billa yang berada diujung sana.
Billa hilang keseimbangan, dia sudah pasrah dengan apapun yang akan terjadi kepada dirinya.
Dia menutup kedua matanya. Dia harap kematian rasanya takan sesakit rasa dihatinya selama ini.
Hap!
Bisma memeluk Billa dari belakang. Seketika mereka jatuh tersungkur kebelakang.
Sedetik saja dia terlambat, entah apa yang akan terjadi pada Billa. Bisma terlihat sangat panik.
Bisma semakin erat memeluk Billa, kakinya terasa gemetar.
Billa merasakan seseorang yang memeluknya, dia membuka matanya cepat.
Ternyata dia belum mati! Kenapa Tuhan tak juga mencabut nyawanya?
"Apa yang kamu lakukan? Kamu udah nggak waras?" Ucap Bisma sedikit membentak.
Billa menangis, menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Bisma. Dia begitu kacau.
"Kamu jangan bodoh! Semua masalah pasti ada jalan keluarnya!" Seru Bisma .
"Buat apa kamu selamatin aku? Biarin aku mati, aku mau pergi susul Felly!" Ucap Billa sambil meronta-ronta tak karuan.
Bisma semakin mempererat pelukannya.
"Kamu jangan bicara kaya itu. Semua yang terjadi bukan salah kamu, semua ini adalah takdir." Ucap Bisma.
"Buat apa aku hidup? Semua orang pergi ninggalin aku. Semua orang nyalahin aku." Teriak Billa tak karuan. Dia menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Bisma.
"Aku cinta sama kamu. Kamu sangat berarti buat aku. Aku sedih liat kamu kaya ini. Aku mohon kamu jangan berfikir buat akhiri hidup kamu!" Ucap Bisma tepat ditelinga Billa.
"Aku sayang sama kamu." Lanjutnya.
Bisma sangat tak kuasa, tak terasa air matanya mulai menetes mengenai Billa.
Bisma benar-benar terbawa perasaan terhadap perempuan itu.
Billa terdiam, dia merasa pundaknya basah. Dia menoleh kearah Bisma yang sedari tadi memeluknya.
"Kamu nangis?" Tanya Billa. Bisma melepaskan pelukannya, dia segera menyusut matanya asal.
"Kamu harus denger kata-kata aku." Bisma mulai menyentuh pipi Billa, membuatnya agar menatap kearahnya.
"Aku sayang sama kamu. Kamu jangan berfikir kalau kamu sendirian, aku akan berusaha buat selalu ada disamping kamu." Ucap Bisma.
Billa menatap Bisma, terlihat mata yang memerah itu memancarkan ketulusan.
Billa tak dapat menyangkal hal itu.
"Kamu adalah orang yang baik, kamu mau mengorbankan perasaan kamu untuk Felly. Mereka yang buta nggak bisa liat ketulusan hati kamu." Ucap Bisma kemudian.
"Tapi aku nggak sebaik yang kamu fikir. Aku jahat. Apa yang mereka bilang bener, aku pembunuh!" Ucap Billa.
"Kamu jangan bicara kaya gitu. Kamu adalah perempuan yang kuat, buktinya kamu bisa bertahan sampai sejauh ini. Dan aku yakin kamu pasti bisa lewatin cobaan ini. Kamu jangan nangis lagi ya." Ucap Bisma, tangannya mulai mengusap sisa air mata yang membasahi pipi Billa.
Billa terdiam, dia tak tau harus bagaimana. Ketika mulutnya tak mampu berkata air matanya yang angkat bicara.
"Sekarang gini deh. Apa yang pengen banget kamu lakuin, yang belum kesampaian selama ini?" Tanya Bisma.
Billa mengernyitkan dahinya, dia sedikit berfikir.
"Ketemu sama mama." Jawab Billa kemudian.
"Nah, itu tujuan hidup kamu sekarang. Ketemu sama mama kamu, kamu harus jadiin itu motifasi buat bertahan hidup." Ucap Bisma.
Apa yang dikatakan Bisma benar, Billa menghapus matanya asal dia menatap Bisma sambil tersenyum.
"Makasih ya." Ucap Billa kemudian.
Bisma dengan senang hati membalas senyuman Billa.
Bisma sedikit lega ketika melihat senyum Billa, andai saja perempuan itu mau sedikit membuka hatinya untuk Bisma, mungkin dia takkan merasakan sakit hati yang seperti ini.
__ADS_1
Bisma akan senantiasa menjaga hatinya agar tetap bahagia.
***
Hari berganti, minggu mulai berlalu bulan demi bulan pergi meninggalkan.
Bisma dan Dicky sudah menyelesaikan pendidikan SMAnya, Bisma menjadi lulusan terbaik ditahun ini.
Pihak sekolah sangat bangga dengan perestasi yang diraih oleh Bisma.
Dia diterima disalah satu perguruan tinggi dikota ini dengan dibiayai beasiswa. Dia menjalani hari-nya jauh dari orang yang dia kasihi, Billa.
Karena sedikit sekali waktu senggang yang dia miliki untuk menemui perempuan itu, dia harus kuliah juga bekerja.
Sedangkan Dicky, dia memilih untuk melanjutkan studynya dikota Yogyakarta.
Dia bertekad untuk melupakan semua kenangan pahit yang terjadi dikota ini, dia ingin memulai hidup baru disana.
Semua berjalan apa adanya, seperti air yang mengalir. Hidup terus berlangsung tanpa adanya seorang teman.
Billa menjalani hari-harinya penuh dengan kepiluan, tak ada seorangpun yang menghibur hati laranya. Hidupnya terasa hampa, semua yang dia lakukan terasa tak berarti.
Hanya perkataan Bisma yang dijadikannya alasan untuk bertahan sampai saat ini.
***
Billa berjalan menuju jalan utama dengan tergesa-gesa, dia takut jika dihari pertama ujian nasional ini dia akan datang terlambat.
Tiba-tiba sebuah motor menghampiri dirinya.
"Ojeg neng? Hari ini gratis, lagi promo!" Ucap seseorang dari balik helm sana.
Billa mengerutkan keningnya, dia merasa aneh dengan orang itu. Apa jangan-jangan dia begal? Fikir Billa
"Ayo neng! Jangan kelamaan mikir, nanti habis promonya nyesel lagi." Ucap orang itu kemudian.
Billa segera menepis fikiran negatifnya itu.
"Ya udah boleh deh." Ucap Billa akhirnya.
Orang itu tersenyum dibalik helmnya. Dia memberikan satu helm lagi kepada Billa.
Billapun segera memakai helm itu dan segera naik.
Bisma merasa sangat senang dapat bertemu lagi dengan pujaan hatinya setelah sekian lama dia sibuk dengan pendidikan dan pekerjaannya.
Hanya cara seperti ini yang bisa dia lakukan untuk dekat dengan Billa.
Rasa rindu membuat cintanya semakin menggebu.
Bisma sesekali melirik kaca spionnya, tergambar dengan jelas wajah manis milik perempuan itu.
Bisma tersenyum. Dia bersyukur karena masih diberi kesempatan untuk melihat pemandangan yang meneduhkan hatinya itu.
Billa sedikit aneh dengan tukang ojeg yang satu ini, pakaiannya terlihat sangat rapih, tidak seperti tukang ojeg pada umumnya.
Baunyapun tercium sangat wangi, Billa bisa merasakan bau parfumnya yang menembus hingga kerongga hidungnya.
Tiiiitttttt...
Mendadak Bisma menekan rem motornya. Dengan reflek Billa memeluk Bisma dari belakang.
"Hati-hati dong mang!" Seru Billa dengan kesalnya.
"Maaf neng, tadi ada kucing lewat!" Balas Bisma.
Dia tersenyum melihat tangan Billa yang melingkar diperutnya.
'Rasa ini ternyata nggak pernah berubah, masih sama seperti waktu pertama ketemu, bahkan rasanya jauh lebih indah dari yang gue rasain dulu.' Ucap Bisma dalam hati.
"Ya udah, ayo jalan! Nanti telat lagi." Ucap Billa yang membuyarkan lamunan Bisma.
Seketika dia tersadar, tanpa berucap iapun kembali menancap gas motornya.
***
Billa turun dari motor Bisma dan mengembalikan helm yang dia pakai tadi.
"Makasih ya mang." Ucap Billa.
"Iya sama-sama neng. Oh ya neng, neng kenal saya nggak?" Tanya Bisma kemudian.
Billa mengerutkan keningnya mendengar ucapan tukang ojeg itu.
"Ya tukang ojeg kan?" Jawab Billa.
Bisma tersenyum mendengar itu, dia membuka helm yang sedari tadi melekat dikepalanya.
"Bisma? Kamu?" Tanya Billa. Dia sedikit tak percaya jika orang yang dia sebut tukang ojeg itu adalah Bisma.
"Iya, ini aku. Gimana kabar kamu? Udah lama ya kita nggak ketemu." Jawab dan tanya Bisma.
Billa menelan ludahnya kasar, dia tak menyangka jika Bisma yang sekarang sudah banyak berubah.
Dia terlihat sangat dewasa dan tampan.
"Aku baik." Jawab Billa.
"Ya syukur deh kalau begitu, aku kangen banget sama sekolah, hampir 2 tahun aku nggak kesini." Ucap Bisma sambil memperhatikan gedung sekolah.
"Iya, makasih ya tumpangannya." Ucap Billa. Bisma tersenyum mendengarnya.
"Iya sama-sama. Aku seneng deh liat kamu yang sekarang." Ucap Bisma.
"Seneng kenapa?" Tanya Billa.
"Kamu bisa bangkit dari keterpurukan kamu dan melupakan masalalu. Aku salut banget sama kamu!" Ucap Bisma.
"Udahlah nggak usah bahas itu. Oh ya, kamu sibuk apa sekarang?" Tanya Billa mengalihkan pembicaraan.
"Kuliah pastinya, kerja dikafe Rangga juga masih. Sekarang Aku lagi magang disalah satu perusahaan didaerah Bandung Utara, Selesai wisuda aku mau cari kerja yang bener. Do'ain aja ya!" Jawab Bisma sambil tersenyum.
"Oh bagus deh kalau gitu." Balas Billa.
"Kalau kamu mau lanjut kuliah kemana?" Tanya Bisma kemudian.
"Aku mau cari kerja aja, cape mikir terus." Jawab Billa.
"Lho, kok gitu sih? Pendidikan kan penting?" Tanya Bisma.
"Iya, tapi aku nggak mau ngebebanin orang tua lagi, aku mau hidup mandiri." Jawab Billa.
"Itu juga bagus. Aku selalu do'ain yang terbaik buat kamu." Ucap Bisma. Dia terus menebar senyumnya.
"Aku duluan ya! Sebentar lagi masuk." Pamit Billa.
"Ok, semangat ya!" Seru Bisma.
Billa tersenyum mendengar perkataan Bisma.
Bisma merasa senang mendapat respon positif dari Billa, dia sangat menyesal karena selama 2 tahun kebelakang dia menghabiskan waktunya tanpa perempuan itu.
__ADS_1
Bisma berfikir jika mulai hari ini dia akan lebih sering menemui perempuan itu, semoga saja ada harapan untuk dirinya memiliki perempuan itu.
***