
Veni berjalan sendirian ditengah kegelapan malam itu, dia juga tidak tau harus pergi kemana dalam keadaan seperti ini. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana bisa menghindari dan menyembunyikan wajahnya dari orang-orang.
Langkahnya terhenti disebuah taman yang tidak terlalu jauh dari rumah Bisma, dia terduduk di rerumputan yang tumbuh disana.
Dia membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya, dia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua air mata yang terus mendesak ingin keluar.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyodorkan sapu tangan di hadapannya, orang itu juga menepuk pundak Veni agar dia mengetahui keberadaannya.
Veni mengangkat wajahnya ketika merasakan kehadiran seseorang disampingnya, dia menoleh kearah orang yang berada disampingnya.
Veni terkejut melihat Rafael yang sedang tersenyum ke arahnya sambil menyodorkan sapu tangan.
"ambillah! Gue tau loe pasti butuh ini sekarang." seru Rafael lirih.
Veni masih terdiam, dia masih kaget kenapa Rafael bisa ada di hadapannya. Padahal tadi dia melihat Rafael pamitan untuk pulang.
Dengan ragu, Veni mengambil sapu tangan dari tangan Rafael dan mulai menyusut pipinya. Dia berusaha keras untuk meredam tangisannya, dia merasa malu Rafael melihatnya dalam keadaan seperti ini, dirinya pasti terlihat sangat menyedihkan.
"loe kenapa bisa ada disini?" tanya Veni kemudian.
"tadinya gue mau ambil jam tangan yang tertinggal dikamar mandinya Bisma, tapi gue liat loe sama Bisma lagi bersitegang. Terus gue liat loe jalan sendirian, gue nggak tega liat cewe malam-malam seperti ini nangis sendirian." jawab Rafael.
-Flash back on-
Rafael memutar arah untuk kembali kerumah Bisma, dia baru menyadari kalau jam tangannya tidak melingkar di tangannya. Rafael baru ingat kalau tadi dia sempat membukanya dikamar mandi Bisma, diapun berniat untuk mengambilnya, karena besok dia harus memakainya ke kantor.
Motor Rafael berhenti didepan gerbang rumah Bisma, tadinya dia akan memasukan motor itu ke halaman rumah, tapi niatnya dia diurungkan ketika melihat Veni dan Bisma yang berbicara dengan nada yang sama-sama tinggi.
Rafael tidak bisa menutup telinga karena suara mereka yang keras, Rafael mau tak mau harus mendengar semua apa yang mereka perdebatkan.
Rafael tertunduk lesu ketika Veni mengatakan kalau dia menyukai Bisma, entah kenapa hatinya terasa sakit ketika melihat Veni menangis sambil menyatakan cintanya kepada Bisma.
Rafael melihat Veni yang berlari meninggalkan rumah Bisma, Rafaelpun mengikuti Veni secara diam-diam.
-Flash back off-
"ha ha, gue memang bodoh. Nggak seharusnya gue punya perasaan sama dia." ucap Veni sambil tertawa, tertawa yang dipaksakan.
"kenapa loe bisa suka sama dia?" tanya Rafael.
"entahlah, gue pikir kalau dia adalah laki-laki idaman semua perempuan. Dia selalu memperlakukan istrinya dengan sangat baik. Bodohnya gue, gue juga berharap bisa diperlakukan seperti itu sama dia." jawab Veni, entah sejak kapan dia jadi sangat nyaman mencurahkan semua isi hatinya kepada Rafael.
"Tapi, kalau ada orang yang memperlakukan loe dengan baik, seperti Bisma memperlakukan Billa, apa loe mau terima orang itu?" tanya Rafael.
"gue selalu berdo'a, meskipun bukan dia, gue harap akan ada seseorang yang seperti dia. Tapi sayangnya sampai saat ini Tuhan belum juga mendengarkan do'a gue." jawab Veni.
__ADS_1
"...gue ini menjijikan sekali ya." ucap Veni sambil tersenyum getir.
"loe salah Ven, Tuhan udah mengabulkan permintaan loe. Gue sayang sama loe, loe nggak pernah menyadari hal itu." ucap Rafael.
Veni kaget mendengar perkataan Rafael, dia pasti sedang salah dengar.
"haha, udah lah Raf, gue tau gue terlihat menyedihkan sekarang. Tapi loe nggak perlu mengasihani gue." ucap Veni.
Rafael meraih wajah Veni dengan kedua tangannya, sehingga mau tidak mau Veni jadi harus menatap kearah Rafael.
Terlihat wajah perempuan itu yang sembab, Rafael menatapnya dengan serius, Veni jadi salah tingkah oleh kelakuan Rafael. Tidak bisa dipungkiri, Rafael terlihat tampan ketika dilihat dari jarak sedekat ini. Dan itu berhasil membuat jantung Veni berdebar-debar.
"gue serius Ven, gue sayang sama loe, gue bahkan cinta sama loe. Gue baru sadar akan hal itu." ucap Rafael.
"loe serius Rafael?" tanya Veni meyakinkan.
"gue serius Ven, gue nggak pernah main-main soal perasaan." jawab Rafael.
***
Satu tahun telah berlalu, Ian tumbuh menjadi anak yang aktif dan lincah. Sekarang dia sedang belajar berjalan, Billa semakin gemas ketika Ian sedang memanggil dirinya dengan sebutan.
"mama..." Ian berucap dengan cadelnya.
Billa dan Bisma sangat membanggakan putra pertamanya itu.
Billa tersenyum saat Ian memanggil-memanggilnya seolah minta digendong.
"ma.. ma.. ma.." ucap Ian sedikit tidak jelas sambil terus menarik gaun Billa.
Billapun menghentikan aktifitas dandanannya dan langsung menggendong Ian yang semakin menggemaskan.
"anak mama sayang, kamu sudah siap, tapi mamanya yang belum siap." ucap Billa sambil mencium pipi Ian.
Tapi Ian malah buang muka ke sembarang arah.
Bisma baru saja masuk kedalam kamar, dia melihat Billa yang masih belum siap. Sedangkan dirinya sudah terlihat tampan dengan balutan jas yang melekat di tubuhnya.
"Bill, kamu belum siap?" tanya.Bisma.
"iya Bisma, Iannya nggak mau diem." jawab Billa.
"ya udah, sini Ian sama papa dulu. Mamanya mau siap-siap dulu!" seru Bisma, diapun langsung mengambil alih Ian dari gendongan Billa.
"aku tunggu dibawah ya, muach." ucap Bisma, dia mencium pipi Billa sekilas, lalu dia pergi dari kamar sambil menggendong Ian.
__ADS_1
Wajah Billa jadi memerah setelah Bisma menciumnya, dia merasa malu sendiri. Selalu saja seperti itu, dari dulu Bisma tidak pernah berubah. Dia selalu memperlakukan Billa dengan istimewa.
Billa dengan cepat menepis pikiran anehnya tentang Bisma, dia segera menyelesaikan riasannya agar tidak membuat Bisma menunggu terlalu lama.
***
Billa berjalan disamping Bisma yang sedang menggendong Ian, dengan senyum yang mengembang, mereka memasuki aula gedung pernikahan itu.
Billa sangat bahagia, akhirnya dua orang yang sangat dekat dengannya bisa bersanding juga di atas pelaminan. Dari kejauhan saja Billa dan Bisma bisa melihat kebahagiaan diwajah kedua pengantin yang sedang menerima ucapan selamat dari para tamu.
"seneng banget ya liat mereka sekarang." ucap Billa.
"iya, akhirnya mama Vera mau merestui mereka juga." ucap Bisma.
"aku nggak yakin dia akan merestui mereka kalau dia nggak sakit." sahut Billa.
"mungkin ini memang udah jalannya buat mereka bahagia." ucap Bisma.
"kamu benar Bisma, mama Vera seperti mendapat hidayah setelah sembuh dari sakitnya." ucap Billa.
"ya udah, kita kesana sekarang!" seru Bisma.
Merekapun kembali berjalan menuju pelaminan, terlihat mama Dinar dan om Suryo di sebelah kiri kursi pelaminan, sedangkan disisi kanannya ada om Ardi dan mama Vera yang terlihat masih pucat.
"kalian baru sampai?" ucap mama Dinar, dia cipika cipiki dengan Billa, lalu mencium tangan om Suryo, sedangkan Bisma mencium tangan mama Dinar dan om Suryo.
"iya mah, Ian lagi susah-susahnya diurus. Harus sambil main kejar-kejaran baru dia bisa pakai baju." ucap Billa.
Om Suryo dan mama Dinar langsung menyerbu cucunya itu dengan cubitan gemas dipipi gembul Ian.
"kamu semakin besar semakin meggemaskan saja." ucap om Suryo.
"kalian makanlah dulu! Perjalanan jauh pasti membuat perut lapar." seru mama Dinar.
"iya mah. Terimakasih." sahut Bisma.
Merekapun beralih ke pelaminan bagian tengah, tepatnya tempat raja dan ratu sehari berada. Senyum Billa semakin mengembang manakala si pengantin perempuan menyambutnya dengan hangat.
"hai Bill, akhirnya kalian datang juga." ucap Veni, dia langsung berhamburan memeluk Billa dan mereka cipika cipiki.
--------
__ADS_1
Berhubung peminat novel ini cuma sedikit, maka author akan segera menamatkan ceritanya, tunggu satu episode terakhirnya ya readers...