Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Terkilir


__ADS_3

Veni dan Rafael berjalan bergandengan menuju keatas pelaminan untuk memberi selamat kepada pengantin.


Veni terpaksa mengembangkan senyumnya karena Rafael sedaritadi memaksanya, dia yang sebenarnya malas tersenyum, senyum yang dia tunjukkan jadi terlihat aneh.


"selamat ya Rick, semoga langgeng." ucap Rafael sambil menepuk pundak mempelai laki-laki.


"amiin, thanks ya loe udah dateng, apalagi datangnya nggak sendirian." ucap Erick sedikit menggoda.


"cewe loe cakep juga. Cepet kawinin sebelum dia berubah pikiran." kali ini Erick berbisik kepada Rafael.


Veni terbelakak kaget ketika mendengar bisikan Erick, dia bisa mendengar dengan jelas karena Veni berada tepat disamping Rafael.


Sedangkan Rafael hanya menanggapinya sebagai candaan.


"pasti, tenang aja. Dia udah gue dpin, nggak akan sampai berubah pikiran." canda Rafael.


"wah, nggak nyangka gue keduluan sama jomblo permanen kaya loe. Hahaha. " Erick dan Rafaelpun sama-sama tertawa.


Ini semua tidak benar, Veni semakin kesal dengan kelakuan Rafael. Bisa-bisa semua orang menanggapinya dengan serius.


Rafael yang sedang asik tertawa, diseret paksa oleh Veni turun dari atas pelaminan, Veni sudah sangat murka.


"ehh, loe kenapa sih? Lepasin gue!" ucap Rafael.


Veni menghempaskan tangan Rafael dengan kasar.


"apa maksud loe bicara kaya gitu tadi? Loe nggak mikir apa, temen loe itu bakal berpikir yang aneh-aneh sama gue." ucap Veni menggebu-gebu.


"gue kan cuma bercanda Ven, loe nanggapinnya serius banget." ucap Rafael.


"bercanda loe itu nggak pada tempatnya." ucap Veni.


"iya, sory sory. Gue menyesal." ucap Rafael sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"sekarang anterin gue pulang! Gue udah nggak mood." seru Veni.


"tapi kita baru aja sampai dan belum sempet makan." ucap Rafael.


"bodo amat, memangnya gue pikirin! Yang ada dipikiran loe itu cuma makanan doang." ucap Veni.


"memang. Kita makan dulu ya sebentar! Habis itu gue langsung anterin loe pulang." bujuk Rafael.


"makan aja sendiri, gue mau pulang!"


Veni melangkah pergi meninggalkan Rafael dengan mata yang memerah, laki-laki itu sudah melecehkannya secara tidak langsung. Veni sangat kecewa Rafael bisa merendahkannya tadi walaupun tujuannya hanya bercanda.


'memangnya gue si Billa apa?' gumam Veni didalam hati.


"Ven, tunggu!" seru Rafael, dia mengejar Veni yang sudah sampai di ambang pintu aula gedung pernikahan itu.


Veni tidak mengindahkan seruan Rafael, dia terus berjalan meninggalkan aula itu. Pandangannya sedikit membuyar karena matanya yang sudah berkaca-kaca.


Sial, Veni salah berpijak ketika menuruni anak tangga, sehingga higheels tingginya patah dan menyebabkan kakinya terkilir.


"aww." Veni mengerang kesakitan sambil memegangi kakinya yang terkilir.


Rafael panik ketika melihat Veni terduduk dilantai sambil memegangi kakinya. Dengan cepat Rafael menghampiri Veni.

__ADS_1


"Ven, loe kenapa?" tanya Rafael panik.


"kaki gue terkilir kayanya, sakit banget." jawab Veni sambil merem melek menahan rasa sakit dikakinya.


"astaga! ya udah, kita ketukang urut sekarang!" seru Rafael.


"ayo!"


"gue ini terkilir, nggak bisa jalan!" seru Veni dengan kesal.


"ahh, iya. Gue lupa." ucap Rafael. Tanpa aba-aba, Rafael langsung membopong tubuh berisi Veni menuju parkiran.


Veni sangat kaget dengan apa yang Rafael lakukan kepadanya, dia sangat malu ketika orang-orang memandanginya.


"turunin gue Raf!" Veni meronta-ronta minta diturunkan.


"diamlah Ven, loe semakin berat kalau loe nggak bisa diam." seru Rafael.


***


Tok... Tok... Tok...


Pintu rumah Billa diketuk seseorang, Billa yang sedang memperhatikan bayinya yang sedang tertidurpun beranjak berdiri untuk membukakan pintu.


Krek!


Suara pintu yang dibuka oleh Billa.


"kalian? Ada apa tumben datang barengan?" tanya Billa bingung.


"loe gimana sih Raf, katanya mau kerumah tukang urut, kok kita malah nyasar kesini sih?" cerocos Veni yang merasa dikerjai oleh Rafael.


"tunggu dulu, ini ada apa sih?" tanya Billa yang tidak mengerti duduk persoalannya.


"ini si Veni kakinya terkilir, gue mau minta tolong si Bisma urut kakinya." jawab Rafael.


"ohh, gitu. Ya udah masuk dulu, Bismanya lagi di belakang jemur pakaian. Aku panggilin dia sebentar."


Venipun dengan susah payah dibopong Rafael masuk kedalam rumah Bisma, sedangkan Billa memanggilkan Bisma dibelakang.


"sory ya Ven, gara-gara gue kaki loe jadi sakit." ucap Rafael menyesal.


"makanya jadi cowo jangan egois, gimana loe mau punya cewe kalau begitu?" ucap Veni yang masih kesal.


"iya, iya. Gue tau gue salah." ucap Rafael pasrah.


Tak berselang lama Bisma datang menghampiri Veni dan Rafael.


"kenapa loe?" tanya Bisma saat berada dihadapan mereka.


"kakinya terkilir, coba loe urut deh!" jawab Rafael.


Veni merasa gugup ketika melihat Bisma, apa lagi saat Bisma menyentuh kakinya untuk dicek. Jantungnya jadi berdebar-debar. Veni tidak tau kenapa dia masih merasakan debaran itu ketika melihat Bisma, padahal dia sudah berusaha melupakannya saat tau Bisma sudah jadi suami orang.


"iya nih, beneran terkilir. Bentar ya!" seru Bisma.


Dia berjalan menuju laci dimeja dan membawa minyak gosok dari dalam sana.

__ADS_1


"untung aja gue inget kalau si Bisma itu tukang urut." ucap Rafael, Veni tidak menggubrisnya, dia mencoba untuk menormalkan kembali detak jantungnya.


"loe rebahan dulu!" seru bisma.


Venipun menurut, dia membaringkan tubuhnya di kursi ruang tamu Bisma.


Bisma mulai mengoles minyak gosok itu pada bagian kaki Veni yang terkilir, pertama-tama Bisma meraba kaki Veni dengan perlahan. Setelah tau dimana letak pusat urat yang bergeser, Bisma menekan cukup kencang bagian itu.


"whaaaaaaaaa, sakiiiiit!" Teriakan Veni sangat memekakan telinga apalagi dengan suara cemprengnya, semakin tidak enak didengar.


Saat itu pupa Billa datang sambil membawa 3 gelas sirup jeruk dan beberapa cemilan.


Billa sangat kaget mendengar teriakan Veni.


"Ven, jangan kenceng-kenceng! Bayiku lagi tidur, nanti dia kebangun." ucap Billa.


"iya nih, loe nggak tau apa nidurin bayi itu nggak gampang." timpal Bisma.


"loe yang kekencengan ngurut kaki guenya. Atau sengaja mau bikin kaki gue makin sakit?" tuding Veni.


"dimana-mana yang namanya diurut itu nggak ada yang enak." ucap Bisma.


"loe tahan dikit dulu Ven, setelah ini kaki loe pasti sembuh." ucap Rafael.


Rafael ingin melihat bayi Billa yang sedang tidur, sewaktu diklinik kemarin Rafael belum sempat melihat keponakkannya itu karena insiden mamanya. Dengan senang hati Billa mengizinkannya.


"terus coco kapan mau punya baby? Biar Ian ada temennya nanti." tanya Billa yang membuat Rafael nyengir.


"nikah aja belum Bill, gimana mau punya baby?" jawab Rafael.


"sebelum nikah, harus ada dulu calonnya Co. Apa udah ada?" tanya Billa.


"nggak ada. Hhe." lagi-lagi Rafael nyengir kuda.


"oh ya, kenapa Coco sama Veni bisa datang kesini bareng?" tanya Billa.


Rafaelpun bercerita tentang dirinya dan Veni yang menghadiri pesta pernikahan temannya dan penyebab kaki Veni sampai terkilir.


"apa Coco suka sama Veni?" tanya Billa.


"ha? Ya nggak mungkinlah." Rafael mengelak dari pertanyaan Billa sambil tertawa yang dipaksakan.


Padahal dia merasa gugup ketika Billa bertanya seperti itu.


Sementara itu, Bisma masih sibuk mengurut kaki Veni, Bisma melakukannya dengan perlahan, takutnya Veni kembali berteriak seperti tadi.


Veni terus memperhatikan Bisma, seperti ada magnet tersendiri yang menariknya.


'kenapa disaat gue mau move on, loe malah semakin mempesona?' batin Veni.


"coba gerakan perlahan-lahan!" seru Bisma, Veni yang sibuk dengan lamunannya tidak mendengar perkataan Bisma.


"hey! Loe liatin apa sih?" tanya Bisma saat sadar dirinya sedang diperhatikan Veni.


"hah?" Veni tersentak kaget karena perkataan Bisma mendadak membuyarkan lamunannya.


---------

__ADS_1


**Jangan lupa tinggalkan jejak setelah membaca ya....


Mampir juga ke novel keduaku yang berjudul HATI YANG TERBENGKALAI. Ditunggu likenya ya readers** !!


__ADS_2