Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Bertemu mama


__ADS_3

Veni menambah laju kecepatan motornya untuk memastikan dia tidak kehilangan jejak mamanya, dia berharap cemas karena mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi.


Mama Dinar yang menyadari Veni mengikutinya sengaja menyuruh supir untuk menambah kecepatan mobilnya.


"anak itu memang keras kepala, kalau ada maunya pasti dia nggak akan menyerah begitu saja." gumam mama Dinar.


"lebih cepat lagi, pa!" seru mama Dinar kemudian.


"baik nyonya." balas supir itu.


Setelah hampir satu jam mobil itu melaju, akhirnya supir memarkirkan mobinya disebuah pusat perbelanjaan yang sering disebut mall itu.


Venipun ikut memarkirkan motornya, dia membuka helm yang dia kenakan.


"kenapa mereka janjiannya di mall sih? Emang nggak ada tempat lain apa?" gerutu Veni tak karuan, terlihat mama Dinar keluar dari mobilnya, Venipun langsung menghampirinya.


"ma, ayo kita pulang!" rengek Veni seperti anak kecil.


"astaga Ven, kenapa kamu ikutin mama? Kan mama udah bilang mama nggak akan kenapa-napa." balas mama Dinar yang tidak habis pikir terhadap anak tirinya itu.


"ayolah, ma! Aku malu." Veni terus menarik tangan mamanya, mama Dinar melepaskan tangan Veni dengan perlahan.


"terserah kamu, kalau kamu mau ikut mama ayo, kalau kamu pulang ya silahkan." balas mama Dinar, dia langsung pergi sebelum Veni menghalangi langkahnya lagi.


"ma!" seru Veni, dengan terpaksa dia mengikuti mamanya, karena dia terlanjur sudah berada disana, apa lagi untuk menuju tempat ini tidaklah mudah menurutnya.


Veni terus mengikuti mamanya dari belakang, beberapa pengunjung menatap Veni dengan aneh, mereka membicarakan tentang Veni yang pergi ke mall dengan menggunakan piyama, sungguh memalukan.


Veni terlihat risih dengan tatapan mereka.


"mama!" seru Veni yang terus menguntit ketika mamanya menaiki eskalator.


"apa sih?" ucap mama Dinar yang tidak menghiraukan Veni, dia terlihat sibuk dengan ponselnya untuk menghubungi Bisma.


'saya sudah sampai, saya tunggu kamu di kafe Barbar yang berada dilantai 3.' Mama Dinar mengirim pesan chat itu kepada Bisma.


***


Bisma dan Billa berjalan memasuki mall terbesar dikota Bandung itu, tiba-tiba ponsel Bisma bebunyi, dia segera memeriksa chat yang masuk.


Ternyata itu dari mama Dinar, Bisma terenyum ketika melihat isi chatnya.


'iya, saya juga sudah sampai, saya sedang menuju kesana.' balas Bisma dalam chatnya.


"kamu mau beli apa?" tanya Billa.


"nggak ada, kamu mau apa?" Bisma malah balik bertanya.


"kok aku sih? Kan kamu yang ajak aku kesini." balas Billa.


"ya udah, kita liat-liat aja dulu!" seru Bisma, Billapun hanya mengikuti kemana Bisma pergi.

__ADS_1


Merekapun sedikit berputar-putar dilantai bawah, Billa membeli beberapa baju hamil untuk dikenakannya sehari-hari.


Bisma hanya mengiyakan semua yang Billa inginkan.


***


Mama Dinar dan Veni terlihat sedang menunggu disebuah meja yang tersedia dikafe itu, Veni merasa tidak nyaman dengan keberadaannya disana karena pakaian yang dia kenakan.


Beberapa pasang mata terlihat memperhatikannya sambil sesekali tertawa geli termasuk pelayan kafe itu.


Mama Dinar mendapat chat dari Bisma, setelah membacanya, diapun langsung membalasnya.


'ya, saya berada dimeja nomor 7.' balas mama Dinar lalu mengirimnya.


"emm, Ven mama kebelet nih. Kamu tunggu sebentar ya, mereka sebentar lagi sampai. Kamu jangan kemana-mana!" ucap mama Dinar sambil beranjak, diapun berlalu meninggalkan Veni.


Dengan pikiran jahatnya, Veni berpikir untuk membuat laki-laki itu kesal sebelum akhirnya keinginan Bisma tercapai.


***


Bisma yang membaca pesan dari mama Dinar langsung mengajak Billa ke kafe Barbar tanpa berputar-putar lagi.


"Bill, ada temen aku yang mau aku kenalin sama kamu, dia ada dilantai 3, sekalian kita makan bareng ya disana." ucap Bisma.


"oh, ya udah." balas Billa kemudian, merekapun menaiki eskalator untuk menuju lantai 3.


***


Tak perlu waktu lama, akhirnya Bisma menemukannya dan langsung menghampiri meja itu, Billa hanya mengekori Bisma dari belakang.


"loe?" ucap Bisma kaget saat melihat keberadaan Veni disana.


Veni tersenyum sinis melihat kedatangan Bisma.


Billa terlihat kaget melebihi Bisma, dia tidak menyangka jika Bisma akan memperkenalkannya kepada perempuan itu, perempuan yang bersama dengannya ketika direstoran waktu itu.


"jadi orang ini yang mau kenalin sama aku?" ucap Billa pelan.


"bukan Bill, ini nggak..." balas Bisma yang langsung dipotong Veni.


"ohh jadi ini kakak loe, ternyata beneran lagi hamil ya?" tanya Veni, dia beranjak dari duduknya menyamai posisi Bisma dan Billa.


'apa? Kakak?' tanya Billa dalam hati, setega itukah Bisma mengatakan pada perempuan itu kalau Billa adalah kakaknya?


Billa benar-benar tidak percaya dengan semua ini. Kenapa bisa-bisanya Billa percaya kepada semua omong kosong Bisma, harusnya dari awal dia bisa menduga jika Bisma akan bosan terhadapnya dan mencari perempuan lain.


Kenapa Billa tidak berpikir sejauh itu hingga hatinya kembali terluka.


"ngapain loe disini? Mana nyokap loe? Gue nggak ada waktu ngeladenin loe!" Bisma sedikit berbisik pada Veni, dia tak ingin Billa mendengarnya yang berbicara kasar.


Veni tersenyum sinis mendengarnya.

__ADS_1


Billa semakin merasa sakit hati ketika melihat mereka yang bicara berbisik-bisik.



"kalau kamu mau kenalin aku sama perempuan ini, lebih baik nggak usah Bisma." ucap Billa, matanya mulai memerah menahan tangisnya.


"nggak Bill, bukan dia, aku juga nggak tau kenapa bisa ada dia disini." balas Bisma.


"udahlah Bisma, aku mau pulang, kalau kamu masih mau disini silahkan." ucap Billa, dia mulai membalikkan badannya, dia tidak mau lebih sakit hati lagi ketika berada disana.


"Bill, tunggu!" seru Bisma, dia meraih tangan Billa, sontak Billa kembali berbalik kearahnya.


"apa lagi Bisma? Aku mau pulang." ucap Billa.


"tapi ini nggak seperti yang kamu pikirin, dia itu anak dari orang yang..." balas Bisma yang langsung dipotong Billa.


"aku bilang cukup Bisma, aku cape, aku mau pulang!" sentak Billa dengan nada tinggi, dia sangat muak ketika terus dibohongi oleh Bisma.


Bisma terdiam mendapat bentakkan dari Billa, Billa mencoba untuk melepaskan tangannya dari cengkraman Bisma, tapi Bisma semakin kuat saja memeganginya.


Veni tak menyangka jika mereka akan bertengkar, dia melihat mereka sambil melipat kedua tangannya didada dengan wajah angkuhnya.


"lepasin Bisma, aku mau pulang!" sentak Billa kasar, tanpa terasa air matanya mulai menetes, dia sudah tidak sanggup untuk menahannya.


Bisma reflek melepaskan tangan Billa, Billa segera berlalu meninggalkan Bisma dan Veni yang tertegun.


"hey, kalian sudah sampai?" tanya mama Dinar yang baru saja sampai.


Deg!


'suara itu?' Billa yang baru berjalan beberapa langkah langsung berhenti ketika mendengar suara itu.


Suara yang familiar ditelinganya, walaupun sudah sangat lama Billa tidak mendengarnya, tapi Billa tidak bisa melupakan suara itu.


"tante, maaf sudah menunggu lama." balas Bisma sambil tersenyum kearah mama Dinar.


"ya, tidak apa-apa, maaf barusan saya dari toilet." balas mama Dinar.


Billa sontak menoleh kearah mereka, terlihat sosok itu, sosok yang sangat dia rindukan, sosok yang selama ini menghilang dari kehidupannya, sosok yang tidak bisa dia lupakan dalam ingatannya.


Billa melangkah dengan perlahan kembali menghampiri mereka dengan semua pikiran yang berkecamuk diotaknya.


Bibirnya seolah berat untuk berucap, dia benar-benar tidak menyangka jika ibu kandungnya saat ini berada dihadapannya, wajahnya tidak banyak berubah, masih sama dengan 17 tahun yang lalu, hanya saja sedikit berkeriput, Billa masih bisa sangat mengenalinya walau sekian lama mereka tidak dipertemukan.


Bisma yang menyadari kembalinya Billa langsung menggandeng pinggang Billa.


"jadi ini istri kamu? Dia cantik sekali." ucap mama Dinar sambil tersenyum kearah Billa.


"apa? Istri?" tanya Veni yang terlihat sangat kaget dengan perkataan mamanya, tapi tidak ada orang yang memperdulikan kekagetannnya itu.


"mama." ucap Billa lirih, dia reflek memeluk mama Dinar, dia benar-benar sangat terbawa perasaan, dia tidak sanggup lagi untuk menahan air matanya entah itu air mata bahagia atau kesedihan, dia sama sekali tidak mengerti.

__ADS_1


__ADS_2