Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Ijab qobul


__ADS_3

Billa memilih istirahat dimushola yang berada dirumah sakit itu, sebenarnya dia merasa tidak pantas menginjakkan kaki ditempat itu karena dia sudah tidak suci lagi.


Dia merasa sangat malu terhadap dirinya sendiri dan juga orang lain.


Tapi dia tidak punya pilihan lain, dia bingung harus pergi kemana setelah ini.


Dia belum berani kembali menginjakkan kakinya dirumah itu, dia sangat sakit hati ketika membayangkan ibu tirinya yang begitu tega mendepak dirinya dari sana.


Sementara itu, papanya dan Rafael terlihat sedang berunding diruang rawat inap.


Mereka berharap keputusan ini adalah yang terbaik untuk Billa dan bayinya.


Rafael sengaja tidak memberitahu papanya jika Billa diusir dari rumah, bisa-bisa kesehatannya kembali memburuk.


***


Sore itu,


Bisma baru saja pulang bekerja, dia memutuskan untuk langsung pergi kerumah sakit untuk memastikan keadaan Billa baik-baik saja, sekalian dia juga menengok Om Ardi calon mertuanya.


Dia berjalan menuju ruang rawat inap Om Ardi sambil menenteng buah-buahan ditangannya.


"Assalamualaikum." Ucap Bisma sembari membuka pintu ruang rawat itu.


Sontak Rafael dan Om Ardi menoleh kearahnya.


"Waalaikumsalam." Balas keduanya bersamaan.


Bismapun berjalan menghampiri mereka.


"Gimana keadaannya, Om?" Tanya Bisma.


"Sudah baikan alhamdulilah." Jawab Om Ardi.


"Syukur kalau begitu Om. Ini dimakan, ya!" Balas Bisma sambil menaruh buah-buahan itu diatas meja.


"Terima kasih sudah repot-repot." Balas Om Ardi.


"Nggak repot kok Om, oh ya Raf? Billa kemana?" Tanya Bisma kemudian.


"Dia ada dimusola, lagi istirahat." Balas Rafael.


"Oh, ya? Kalau gitu gue boleh bicara sebentar sama dia?" Tanya Bisma.


"Sebentar Bisma, saya mau bicara sama kamu." Ucap Om Ardi.


Bisma menoleh kearahnya.


"Iya om, ada apa?" Tanya Bisma sedikit kebingungan.


"Besok saya sudah diperbolehkan pulang." Ucap Om Ardi.


"Oh ya? Itu bagus Om." Balas Bisma.


"Ya, dan saya mau besok juga kamu harus mempertanggung jawabkan semuanya." Balas Om Ardi.


"Maksud Om saya harus menikahi Billa besok?" Tanya Bisma kaget.


"Ya, loe harus nikahin Billa besok malam. Sepulangnya papa dari sini." Jawab Rafael.


Bisma terdiam, dia terlihat grogi.


"Jadi kamu siap, kan?" Tanya Om Ardi kemudian.


"Iya, Om. Saya siap, tapi gimana sama Billa? Dia benci banget sama saya, saya nggak yakin dia mau menikah dengan saya." Jawab Bisma sambil tertunduk.


"Kamu jangan khawatir tentang itu, Billa sudah setuju." Balas Om Ardi.


"Apa? Om serius?" Tanya Bisma sedikit tak percaya.


"Iya, Billa mau menikah dengan kamu." Balas Om Ardi.


"Kalau gitu, saya mau bicara sama Billa Om. Boleh, kan?" Tanya Bisma kemudian.


"Ya." Balas Om Ardi.


***


Bisma berjalan tergesa-gesa menuju mushola belakang rumah sakit itu.


Dia tak sabar ingin bertemu dengan perempuan itu, dia ingin memastikan jika apa yang dikatakan Om Ardi itu benar.

__ADS_1


Senyuman terlihat mengembang dibibirnya, ini adalah kabar terbaik yang pernah dia terima.


Sebentar lagi impiannya untuk memiliki perempuan itu akan terwujud.


Dari kejauhann, terlihat Billa yang tengah duduk sambil memeluk kakinya diteras mushola itu, Bisma segera menghampirinya.



Billa yang sedang melamunpun sedikit kaget dengan kedatangan seseorang didekatnya.


Dia sedikit menoleh kearah orang itu, Billa sangat kaget ketika mengetahui jika orang itu adalah Bisma.


Sedetik kemudian dia kembali buang muka.


"Bill, gimana keadaan kamu? Kamu udah baikan?" Tanya Bisma, diapun duduk menyamai posisi Billa.


Billa tak menjawab perkataan Bisma, dia sangat sebal ketika melihat kedatangannya.


"Maafin aku ya nggak temenin kamu sampai kamu bangun. Aku harus kekantor soalnya." Lanjutnya.


Billa masih tak mau buka mulut.


"Oh, ya Biil? Kamu serius mau terima aku jadi suami kamu?" Tanya Bisma kemudian.


Billa sangat malas menjawabnya, jika dia menjawab iya pasti laki-laki itu akan menjadi besar kepala.


"Aku seneng banget Bill, dan aku janji aku nggak akan sakitin kamu lagi. Kita buka lembaran baru ya!" Ucap Bisma.


Seketika mata Billa berkaca-kaca, sebenarnya hati kecilnya sangat tidak menginginkan hal itu terjadi.


Dia terpaksa mengiyakan keinginan papanya, dia sangat tertekan dengan pernikahan ini.


Karena sudah tidak ada perasaan yang berkecamuk dihatinya, yang dia rasakan hanyalah hampa.


Hatinya sudah mati, hanya raganya yang bertahan. Jadi apapun yang akan terjadi dia sudah tidak perduli.


"Makasih ya Bill, kamu udah mau kasih aku kesempatan. Aku nggak akan mengecewakan kamu lagi." Ucap Bisma sambil menebar senyumnya.


Billa hanya menatap kosong kedepan tanpa menoleh kearah Bisma, dia bersikap seolah Bisma tidak ada didekatnya.


Bisma yang melihat Billa dengan raut wajah yang seperti itu sedikit merasa kasihan.


Tapi Bisma tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini, dia akan membuktikan ketulusan cintanya dan membuat Billa jatuh cinta kepadanya setelah pernikahannya nanti.


***


Haripun berganti.


Siang ini Om Ardi sudah diizinkan pulang, sedaritadi pagi Rafael dan Bisma sibuk kesana kemari mengurusi persiapan pernikahan Billa.


Setelah itu Rafael kembali sibuk mengurusi kepulangan papanya dari rumah sakit.


Rafael sangat bersyukur dengan kesembuhan papanya, dia harap setelah ini papanya tidak merasakan sakit lagi.


Semoga ini adalah awal yang baik untuk kedepannya. Harapan Rafael.


Setelah menyelesaikan administrasi dan membereskan semua barang-barang, Rafael, Billa dan Om Ardipun bergegas meninggalkan rumah sakit.


Didepan sudah ada Bisma yang terlebih dahulu memesan taksi online.


Benar-benar hari yang melelahkan. Fikir Rafael.


Merekapun segera meluncur menuju rumah.


***


Sebuah taksi berhenti tepat dipekarangan rumah sederhana itu, Rafael, Billa dan Om Ardi keluar dari dalam sana.


Sedangkan Bisma sudah terlebih dahulu pulang mengendarai motornya, dia harus mempersiapkan segala hal untuk pernikahannya malam nanti.


Terlihat Tante Vera yang sudah menunggu kepulangan mereka diteras rumah.


Diapun segera menghampiri suaminya.


"Ayo, Pa! Mama bantu." Ucap Tante Vera sambil merangkul Om Ardi.


"Iya, ma! Makasih!" Balas Om Ardi.


Tante Vera sangatlah mencintai suaminya itu, sehingga ketika Om Ardi menghianati dirinya dia seolah tidak ingin melepaskan Om Ardi begitu saja.


Dia tetap bertahan walaupun suaminya itu telah menyakiti hatinya.

__ADS_1


Sedetik kemudian Tante Vera menoleh kearah Billa, dia menatap Billa dengan tatapan tajam.


Billa sedikit takut ketika ibu tirinya menatapnya seperti itu.


Apa dia akan diusir lagi?


Rafael yang melihat itu mengerti jika ibunya sangat kesal kepada Billa, diapun sedikit mendekat kepada ibunya itu.


"Ma, jangan bicara yang macam-macam sama Billa. Bisa-bisa penyakit papa kambuh lagi." Bisik Rafael.


Dia tidak menggubris perkataan Rafael.


Sedetik kemudian Tante Vera memalingkan pandangannya kearah yang lain, dia tidak bisa meluapkan emosinya sekarang.


Dia harus menahan setidaknya sampai suaminya tidak ada dirumah, barulah dia bisa kembali menghujati anak itu dengan kata-kata pedasnya. Fikir tante Vera.


"Ayo, Pa!" Seru Tante Vera, merekapun mempercepat langkahnya masuk kedalam rumah.


Billa menghembuskan nafas lega karena Tante Vera tidak memarahi dirinya.


"Kalau mama bicara, jangan didengerin ya!" Ucap Rafael setengah berbisik pada Billa.


Billa hanya tersenyum mendengarnya, walau senyum yang dipaksakan.


***


Billa menatap bayangan dirinya dicermin, betapa menjijikannya dia saat membayangkan bersanding dengan Bisma.


Gaun pengantin, riasan wajah. Dia tidak menginginkan semua itu, dia sama sekali tidak bahagia dengan pernikahan ini.


Pastilah laki-laki itu merasa puas dan senang tanpa memikirkan perasaan Billa sedikitpun.


Dasar laki-laki egois. Fikir Billa.


Acara pernikahan itu terlihat sangat hikmat, tidak ada resepsi, tidak ada tamu undangan.


Acara sakral itu hanya dihadiri oleh keluarga inti dan diadakan dirumah saja seperti kemauan papa.


Bisma terlihat sudah siap duduk dihadapan penghulu, Morgan menyenggol bahu Bisma sedikit menggoda.


Bisma hanya sedikit menoleh kearahnya tanpa ekspresi.


Terlihat Billa yang baru tiba disana dengan gaun pengantin yang melekat dengan indah ditubuhnya itu.


Bisma membulatkan mulutnya, dia menganga saat melihat Billa yang terlihat sangat cantik dengan riasan sederhana.


Billapun duduk disamping Bisma.


Bisma tidak berkedip saat melihatnya, jantungnya terasa semakin cepat berdetak.


Dia tak menyangka jika mimpinya untuk bersanding dengan perempuan itu benar-benar terwujud.


Tapi dia melihat tidak ada kebahagiaan diwajah cantik perempuan itu.


Bukannya Bisma tidak memikirkan perasaan Billa, justru dia sangat ingin menjaga hati perempuan agar tetap bahagia.


Hanya saja inilah caranya untuk membuat Billa bahagia, dia yakin setelah hujan reda akan ada pelangi indah yang datang menerpa.


Tante Vera melihat Billa dengan tatapan sinis, yang dia harapkan masalah ini tidak berakhir dengan pernikahan.


Seharusnya anak itu menderita untuk selamanya.


Tapi apa boleh buat, dengan fikiran jahatnya dia berniat untuk merecoki rumah tangga mereka nantinya.


Bisma menjabat tangan Rafael, karena dialah yang akan menikahkan mereka.


Setelah diberi pengarahan oleh penghulu, Bismapun bersiap mengucapkan ijab qobul.


"Saya terima nikahnya Vabilla Ahsyaniza binti Ardi Pratama dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 20 gram dibayar tunai." Ucap Bisma dengan lantang.


"Bagaimana saksi? Sah?" Tanya penghulu.


"Sah." Ucap saksi.


"Alhamdulilah." Ucap semua orang yang ada disana.


Penghulupun membacakan do'a pasca ijab qobul.


Setelah itu, Bisma dan Billa bergantian menandatangani buku nikah itu.


***

__ADS_1


__ADS_2