
Malam mulai menjelang, dinginnya angin malam menusuk hingga kedalam tulang Bisma yang mengendarai motornya sendirian, gelapnya malam ini terasa indah ketika melihat senyum Billa yang mengembang seperti bulan sabit dilangit sana.
Bisma tersenyum melihat Billa yang bahagia ketika bersama ibunya, sesekali Bisma menoleh karah mereka, dimana mobil mama Dinar yang melaju tepat disampingnya, Bisma sengaja menyuruh Billa untuk ikut mobil mama Dinar karena udara malam yang sangat dingin, dia tidak mungkin membiarkan Billa ikut naik motor bersamanya.
Tak berselang lama, merekapun tiba dirumah Bisma, mobil itu mengikuti motor Bisma yang terlebih dahulu memasuki pekarangan rumah.
Bisma turun dari motornya, diikuti oleh mama Dinar dan Billa yang juga turun dari mobil mama Dinar, merekapun berpikir untuk cepat-cepat masuk kedalam karena cuacanya yang memang sangat dingin.
"silahkan duduk ma." ucap Bisma.
"ya, terimakasih." merekapun duduk dikursi ruang tamu.
"jadi ini rumah kalian?" tanya mama Dinar kemudian.
"iya mah, maaf ya berantakkan, aku kadang males buat beres-beres." ucap Billa sedikit manja.
Bisma yang melihat Billa bermanja pada ibunya, sedikit iri, kenapa perempuan itu tidak mau bermanja padanya, padahal dia akan merasa sangat senang jika Billa melakukan hal itu padanya.
"ya mama mengerti, mama juga pernah mengalaminya." balas mama Dinar.
"aku buatin teh hangat ya ma." ucap Billa kemudian.
"biar aku aja Bill, kamu temenin mama aja disini." ucap Bisma.
"oh, ya udah." balas Billa.
Bismapun pergi kedapur untuk membuatkan teh, mama Dinar melihat kepergian Bisma dengan tatapan yang sulit diartikan, Billa yang melihat mamanya itu sedikit bingung, sedetik kemudian mereka saling menatap satu sama lain.
"kenapa ma?" tanya Billa kemudian.
"Bill, Bisma itu baik banget ya. Pantesan aja kamu sampai jatuh cinta sama dia. Ayo cerita sama mama gimana kamu bisa ketemu sama dia?" ucap mama Dinar dengan antusias.
Billa sangat bingung ketika mendapat pertanyaan seperti itu, apa yang harus dia ceritakan? Semua yang terjadi antara Bisma dan dirinya sangat memalukan untuk diceritakan.
"hey! Malah ngelamun kamu, ayo cerita!" desak mama Dinar.
"ya gitulah ma, aku juga bingung." balas Billa sekenanya.
"lho kok bingung, kamu pasti hidup dengan bahagia kan disini?" tanya mama Dinar.
Billa hanya tersenyum menanggapi perkataan mamanya.
Tak berselang lama Bismapun datang membawa 3 gelas teh hangat untuk mereka nikmati ditengah udara dingin malam ini, tak lupa beberapa cemilan ringan yang selalu dimakan Billa dibawanya juga.
"makasih sudah repot-repot." ucap mama Dinar.
"nggak repot kok mah." balas Bisma.
"ma, Liona itu siapa? Tadi mama sebut-sebut nama itu?" tanya Billa.
"Liona anak mama, dia anak yang sangat ceria, dia masih duduk dikelas VIII." balas mama Dinar.
"dia yang waktu itu manggilin mama, kan?" tanya Bisma.
"iya, dia Liona. Dia selalu bertengkar dengan Veni, apa saja, semua hal mereka ributkan. Kadang mama pusing sendiri melihat mereka seperti tikus dan kucing." balas mama Dinar yang diiringi tawa ringan.
"kapan-kapan mama ajak Liona kesini ya! Atau aku yang main kerumah mama." ucap Billa dengan antusias.
"rumah mama di Lembang Bill, nggak bagus perempuan yang sedang hamil besar seperti kamu melakukan perjalanan kesana. Mama janji akan ajak Liona kesini nanti." balas mama Dinar.
"oh, gitu ya? Ya udah, tapi beneran mama ajak Liona main kesini?" ucap Billa.
"iya, dia juga pasti seneng banget kalau tau sebentar lagi dia bakalan punya keponakkan." balas mama Dinar.
Bisma yang melihat kedekatan antara Billa dan mama Dinar merasa sangat senang, akhirnya Billa benar-benar bahagia, dia berjanji untuk tetap menjaga senyuman Billa agar tidak kembali luntur.
Tidak ada hal yang lebih bahagia ketika melihat senyuman Billa, semoga ini adalah awal yang baik untuknya, semoga saja Billa mau memaafkan kesalahannya dan semoga saja perasaannya akhir-akhir ini benar adanya, jika Billa mulai mencintai Bisma, itu akan menjadi sebuah kesempurnaan dalam kebahagiaannya.
***
Tak terasa malam semakin larut, mama Dinar berpamitan untuk pulang.
__ADS_1
"ma, kenapa nggak nginep aja disini?" tanya Billa sedikit merengek.
"maafin mama nak, tapi mama harus pulang. Papanya Liona pasti nunggu mama, mama janji besok mama akan ajak Liona kesini." balas mama Dinar.
"beneran ma? Ya udah kalau gitu." balas Billa cepat.
"ya sudah, mama pulang ya. Bisma tolong jaga Billa." ucap mama Dinar.
"pasti mah, Bisma pasti jaga Billa." balas Bisma sambil tersenyum kearah mertuanya itu.
"assalamualaikum." ucap mama Dinar.
"waalaikumsalam." balas Bisma dan Billa bersamaan.
Mama Dinarpun masuk kedalam mobilnya, mobil itupun melaju keluar dari pekarangan rumah Bisma, Billa melambaikan tangannya sebelum mobil itu benar-benar hilang dari pandangannya.
"Bill, kamu seneng?" tanya Bisma lirih. Billa sontak menoleh kearahnya, dia mengangguk sambil tersenyum.
"makasih ya Bisma." ucap Billa kemudian.
"aku seneng Bill, akhirnya keinginan kamu selama ini untuk bertemu dengan ibu kandung kamu terwujud juga." balas Bisma.
"kenapa jadi kamu yang seneng? Kan itu keinginan aku." tanya Billa.
"ya karena keinginan kamu adalah sesuatu yang harus aku penuhi, ketika aku bisa memenuhi keinginan kamu, itu adalah suatu kebahagiaan tersendiri buat aku." balas Bisma.
Billa merasa sangat tersentuh dengan perkataan Bisma, dia sangat menyesal telah menyia-nyiakan laki-laki yang benar-benar tulus mencintainya, dia baru menyadari betapa dalamnya cinta Bisma untuk dirinya.
Reflek Billa memeluk Bisma, dia terbawa perasaan ketika Bisma berbicara seperti itu.
Bisma dengan senang hati menyambut pelukkan Billa.
"maafin aku Bisma." ucap Billa, tanpa terasa air matanya mulai menetes ketika mengingat semua kebodohan yang dia perbuat kepada Bisma, pasti laki-laki itu sangat sakit hati ketika Billa selalu saja memarahi dan mencuekinya.
"hey, kenapa harus minta maaf? Kamu nggak salah. Kamu jangan nangis gini, aku mau liat kamu senyum kaya tadi." ucap Bisma.
Billa terus saja menangis sesegukan dalam pelukkan Bisma, Bisma mengusap punggung Billa agar perempuan itu sedikit tenang.
Bisma semakin mempererat pelukkannya, dinginnya malam ini tidak Billa rasakan karena pelukkan yang Bisma berikan terasa hangat ditubuhnya.
***
Keesokan paginya, mama Dinar terlihat sedang menghidangkan makanan diatas meja, dia baru saja selesai memasak.
Veni, Liona dan papa langsung mengerumuni meja makan yang sudah penuh dengan makanan, merekapun duduk dikursi untuk sarapan.
"kamu mau kemana Ven? Pagi-pagi gini sudah rapih?" tanya mama Dinar.
"aku mau pergi sama temen-temen." jawab Veni sedikit ketus, mama Dinar yang mendengar nada bicara Veni hanya menggelengkan kepalanya.
"ma, ajaklah anak itu kemari, papa juga ingin bertemu dengannya." ucap om Suryo.
Ya, mama Dinar sudah menceritakan tentang pertemuannya dengan Billa kemarin, dia selalu terbuka kepada suaminya itu. Tidak pernah ada sesuatu yang dia tutup-tutupi darinya, apapun yang mama Dinar rasakan, apapun yang dia alami semua selalu diceritakannya kepada om Suryo, itulah yang membuat om Suryo selalu percaya terhadap mama Dinar.
"ya mungkin lain kali, hari ini mama mau ajak Liona berkunjung kerumah mereka, itu permintaan Billa." balas mama Dinar.
"oh ya? Itu bagus, biar Liona kenal juga sama kakaknya. Kalau saja papa tidak ada janji bermain golf dengan Heru, papa mau ikut kesana juga." balas om Suryo.
"Billa siapa ma?" tanya Liona yang memang belum tau tentang Billa.
"Dia kakak kamu, kamu mau kan ikut mama menemuinya? Sebentar lagi dia akan melahirkan, kamu akan punya keponakkan." jawab mama Dinar.
"keponakkan bayi ma? Aku mau, aku mau, dia pasti lucu." balas Liona terlihat antusias.
"ya sudah, habis sarapan kamu langsung siap-siap ya!" seru mama Dinar. Liona mengangguk cepat.
Veni yang mendengar perkataan mama Dinar kalau dia akan mengajak Liona kerumah Bisma, langsung merasa gelisah sendiri, dia tidak akan membiarkan mereka berbahagia diatas penderitaannya, dengan pikiran jahatnya Veni berniat untuk merecoki acara mereka.
"ma, aku juga mau ikut." ucap Veni tiba-tiba.
"kamu mau ikut, Ven? Tadi kamu bilang mau pergi sama teman-teman kamu?" tanya mama Dinar.
__ADS_1
"ya itu tadi, tapi sekarang udah batal. Aku berubah pikiran, aku mau ikut mama." balas Veni dengan sinisnya.
Om Suryo dan mama Dinar saling menatap, semalam mereka memang membicarakan Veni yang bersikap aneh setelah pulang dari mall kemarin.
"ya sudah, terserah kamu sajalah, Ven." jawab mama Dinar akhirnya.
***
Pagi ini, Billa terlihat bersemangat membereskan semua isi rumah, dia sangat tidak sabar menunggu kedatangan mamanya dan adiknya, dia seperti menemukan keluarga baru, dia sangat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang.
Bisma yang melihat Billa sedang mengepel lantai sambil menungging merasa sangat khawatir, dia takut jika terjadi sesuatu yang buruk kepadanya, Bismapun langsung menghampirinya.
"Bill, kamu ngapain ngepel kaya gitu? Kan bisa sambil berdiri, nanti perut kamu sakit." seru Bisma kemudian, Billa yang melihat itu sontak menghentikan aktifitasnya, dia menoleh kearah Bisma.
"ya nggak akanlah Bisma, malahan ini bagus buat orang hamil." balas Billa.
"ya udah, sini biar aku yang lanjutin. Kamu mandi sekarang, bukannya mama mau datang sebentar lagi?" ucap Bisma.
Billa memberikan kain lap itu pada Bisma, dan langsung pergi kekamar mandi. Bisma memang sudah lebih banyak belajar mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga, dia selalu tidak tega melihat Billa yang kerepotan mengerjakan semuanya.
Bisma selalu mengambil alih pekerjaan Billa seperti mencuci baju, mencuci piring, membereskan rumah, menyapu halaman, bahkan dia sudah bisa memasak sup dan semur.
Bismapun dengan cekatan langsung mengepel bagian lantai yang belum sempat Billa bersihkan.
***
Veni, Liona dan mama Dinar sudah siap untuk pergi, mereka terlihat seperti 3 bersaudara, mama Dinar yang awet muda lebih cocok menjadi kakak Veni daripada ibunya.
"hari ini biar aku yang nyetir, jadi bapak supir bisa berlibur." ucap Veni.
Bapak supir itu tersenyum kegirangan.
"kamu yakin, Ven?" tanya mama Dinar.
"mama meragukan aku?" Veni balik bertanya.
"alah, jangan banyak tingkah deh loe. Yang ada kita bukannya sampai dirumah kak Billa, bisa-bisa malah kita nyasar kerumah sakit." ucap Liona asal.
"loe aja sendiri yang kerumah sakit, kalau perlu gue yang antar loe kesana sekarang juga!" balas Veni yang terlihat kesal.
"sudah-sudah! Kapan kita akan pergi kalau kalian bertengkar seperti ini?" lerai mama Dinar.
"abisnya bocah ini ngeselin banget." balas Veni.
"jangan panggil gue bocah, gue udah gede sekarang." ucap Liona yang terlihat sangat kesal.
"emang loe bocah, sekali bocah tetep aja bocah." Veni semakin gencar saja mengejek adiknya itu.
"loe itu bener-bener ngeselin ya!" ucap Liona sambil menimpuk Veni menggunakan tasnya, tapi Veni langsung menghindar sehingga tas itu tidak mengenai dirinya.
"astaga! Kalau kalian masih mau bertengkar, silahkan! Mama bisa pergi sendiri." ucap mama Dinar yang sudah kehilangan kesabarannya tapi tetap berusaha untuk bersikap baik. Diapun langsung masuk kedalam mobil untuk menghindari pertengkaran mereka.
"ehh, tunggu ma! Aku ikut." seru Liona yang segera menyusul mamanya masuk kedalam mobil.
"huh!" desah Veni, diapun masuk mobil bagian kemudi.
***
Tok... Tok... Tok...
Billa dan Bisma yang sedang sarapanpun saling menatap.
"kok mama datangnya sepagi ini sih?" tanya Billa.
"aku juga nggak tau, Bill. Coba kita liat kedepan!" balas Bisma, merekapun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu.
Billa membukakan pintu rumahnya.
"hai." ucap orang itu kemudian.
"Coco?"
__ADS_1
"Loe?" ucap Billa dan Bisma bersamaan.