Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Permintaan Papa


__ADS_3

Rafael berjalan keluar dari rumahnya, dia harus menemukan adiknya itu sebelum papanya tau apa yang terjadi.


Tapi tiba-tiba ponselnya berdering, dia melihat layar ponselnya. Ternyata dari Bisma.


Dia segera menjawab panggilan itu.


"Ya, hallo Bis!" Ucap Rafael setelah panggilan itu terhubung.


Bisma bingung harus memulai dari mana dia bicara.


Rafael mengerutkan keningnya karena tak ada tanggapan dari sebrang sana.


"Hallo?" Ucap Rafael sedikit geram.


"Ya." Balas Bisma.


"Ngapain loe telfon gue pagi-pagi gini?" Tanya Rafael kemudian.


"Adik loe, Raf!" Balas Bisma.


"Adik gue apa? Loe kalau ngomong yang jelas dong! Kalau nggak penting gue mau cabut nih cari Billa." Tanya Rafael.


"Ya itu, Billa ada sama gue. Semalam dia pingsan, jadi gue bawa dia ke klinik." Jawab Bisma.


"Apa? Billa sama loe? Syukur deh, jadi gue nggak perlu cari dia lagi. Tapi keadaannya baikkan?" Tanya Rafael.


"Ya agak mendingan, loe bisa kesini? Tolong jagain Billa, gue harus ke kantor soalnya." Jawab Bisma.


"Ya udah, loe share lok ke gue. Gue langsung cabut kesana sekarang." Balas Rafael.


"Ok." Balas Bisma, diapun menutup panggilan itu.


Bisma segera mengshare lokasi klinik itu pada Rafael.


Bisma menoleh kearah Billa yang tak kunjung sadar, sebegitu lelahnya kah perempuan itu hingga dia belum juga terbangun?


Meskipun kata dokter keadaannya baik-baik saja, tetap saja Bisma masih merasa cemas.


Dia berharap Tuhan memberinya keajaiban, menganugrahkan perasaan cinta yang sama dihati perempuan itu.


Tapi itu mustahil terjadi, Billa sangat membenci Bisma dan tidak mungkin dengan sekejap mata perasaan itu berubah menjadi cinta.


Tapi Bisma akan tetap menunggu hingga waktu yang indah itu tiba, waktu dimana perempuan itu menyambut cintanya.


Itu pasti akan terasa membahagiakan.


Bisma tersenyum memikirkan hal itu.


Dia tak berhenti menatap Billa dan memegang tangannya.


Tiba-tiba Rafael datang dan membuyarkan lamunan Bisma.


"Bis, gimana Billa?" Tanya Rafael setibanya disana.


Bisma menoleh kearahnya.


Rafael memang orangnya tidak pendendam terlalu lama, dia hanya terbawa emosi sesaat dan selalu memaafkan kesalahan orang lain.


Dia seperti melupakan kejadian waktu itu dimana dia menghabisi Bisma.


Fikirannya sangat dewasa, dia juga bijaksana.


"Dia belum sadar juga, tapi loe nggak usah khawatir kata dokter dia baik-baik aja." Jawab Bisma.


Rafael menghembuskan nafas lega.


"Untung loe cepet kesini Raf, gue boleh titip dia? Gue harus kerja soalnya." Ucap Bisma.


Rafael merasa kasihan melihat Bisma dengan wajah sembabnya karena tidak tidur semalaman.


Bisma terlihat sangat mengkhawatirkan adiknya itu, segitu besarnyakah cinta Bisma untuk Billa? Fikir Rafael.


"Loe fikir gue bakalan nelantarin adik gue?" Tanya Rafael.


"Ya nggak, tapi dia orangnya nekat banget Raf. Semalam aja dia hampir tertabrak kereta." Ucap Bisma.


Rafael membulatkan matanya mendengar perkataan Bisma.


"Apa? Loe serius?" Tanya Rafael sedikit kaget.


"Ya. Jadi gue mohon sama loe, tolong jaga dia, jangan sampai dia pergi sendirian lagi. Gue akan semakin merasa bersalah kalau terjadi sesuatu sama dia." Jawab Bisma.


Rafael menepuk pundak Bisma, terlihat kekhawatiran diwajah Bisma.


"Loe nggak usah khawatir, gue bakal jaga dia, diakan adik gue." Balas Rafael.


"Ya udah Raf kalau gitu, gue pasti tenang ninggalin dia kerja. Seenggaknya sampai dia setuju buat nikah sama gue." Balas Bisma.


***


Siangnya.


Billa terlihat sudah bangun dari tidur pulasnya.

__ADS_1


Dia meregangkan seluruh badannya yang terasa sakit.


Billa berfikir dimana dia berada saat ini?


Yang dia ingat semalam dia berada direl kereta.


Tiba-tiba Rafael datang, dia baru saja membeli makanan dari luar, dia merasa sangat lapar karena tadi pagi belum sempat sarapan.


"Kamu udah bangun de?" Tanya Rafael kemudian.


"Coco?" Ucap Billa sedikit kaget.


"Kamu makan dulu nih, Coco udah beliin." Balas Rafael.


Billa masih merasa bingung, kenapa bisa ada Rafael disana, yang dia ingat terakhir dia bersama dengan laki-laki b*******k itu.


"Ini dimana Co? Kenapa kita bisa ada disini?" Tanya Billa.


"Kamu bukannya pingsan semalam? Bisma bawa kamu ke klinik ini, dan Coco disuruh Bisma buat jagain kamu." Jawab Rafael.


Billa merasa sangat kesal kepada laki-laki itu, semalam dia berani memeluk dirinya, padahal Billa sangat tidak sudi walau hanya sekedar disentuh olehnya.


Rafael terlihat sudah melahap makanannya, dia membiarkan Billa yang berjibaku dengan fikiran-fikirannya.


"Kamu nggak laper?" Tanya Rafael.


Billa merasa tubuhnya sangat lengket, dia sangat tidak nyaman dengan itu.


"Aku mau mandi dulu Co." Balas Billa.


"Oh, ya udah." Balas Rafael.


Diapun menumpang mandi diklinik itu, meninggalkan Rafael yang masih sibuk melahap makanannya.


***


Setelah membersihkan diri, Billa merasa sangat lapar, bagaimana tidak? Dari kemarin dia belum mengisi perutnya.


Diapun segera memakan makanan yang Rafael bawa tadi.


Dia terlihat sangat lahap.


Rafael terlihat sedang memainkan ponselnya sambil duduk disofa yang ada diruangan itu.


Tiba-tiba seorang Dokter masuk kedalam sana, sontak Rafael dan Billa yang sedang sibuk masing-masing menoleh kearahnya.


"Selamat siang! Ayo kita lihat perkembangan kondisi pasien." Ucap Dokter itu ramah.


"Iya, Dok!" Balas Rafael.


Billa merasa sedikit kesal, Dokter itu mengganggunya yang sedang makan, diapun menaruh makanan yang sedang dia makan.



Diapun melakukan apa yang Dokter itu perintahkan.


Dokter itu terlihat memeriksa perut, rongga mulut, mata Billa dan melakukan tensi darah pada perempuan itu.


"Tolong dijaga ya kandungannya, jangan terlalu banyak fikiran. Kandungannya sangat lemah, ditambah lagi darah kamu rendah. Harus banyak mengkonsumsi sayuran dan buah-buahan." Ucap Dokter itu panjang lebar.


Billa hanya manggut-manggut saja.


"Siang ini juga boleh pulang, bedress ya dirumah! Saya kasih resepnya dan harus dihabiskan." Ucap Dokter perempuan itu, dia menulis resep disecarik kertas.


"Makasih, Dok!" Ucap Rafael sambil tersenyum kearah Dokter itu.


"Kalau gitu, saya permisi!" Pamit Dokter itu setelah memberikan resep pada Rafael.


"Co! Aku harus kemana? Mama udah usir aku dari rumah." Ucap Billa.


"Udahlah, jangan fikirin mama. Kamu mau ikut Coco nemuin papa dirumah sakit?" Tanya Rafael.


"Iya Co, aku mau liat keadaan papa." Balas Billa.


"Ya udah, kita siap-siap dulu ya!" Seru Rafael.


Merekapun segera membereskan barang-barang Billa kembali kedalam tasnya.


***


Bisma terlihat sedang beristirahat bersama dengan Ferdi dan Devan dikantin karyawan sambil menikmati makan siang mereka.


Bisma sedikit tidak selera karena dari tadi dia hanya memikirkan tentang perempuan itu, bekerjapun rasanya tidak bersemangat.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, dia segera meraihnya.


Ternyata panggilan dari Rafael, diapun menekan tombol hijau pada layar ponselnya.


"Ya, ada apa, Raf? Gimana keadaan Billa sekarang?" Tanya Bisma setelah panggilan itu tersambung.


"Billa udah diizinin pulang, gue bawa dia kerumah sakit buat ketemu sama papa." Jawab Rafael.


"Oh gitu, makasih ya udah kabarin gue. Pulang kerja gue langsung kesana, sekalian nengok bokap loe." Balas Bisma.

__ADS_1


"Ya udah, gue tutup sekarang." Ucap Rafael.


"Ya." Balas Bisma.


Rafaelpun mengakhiri panggilan itu.


Dia menengok kearah papanya dan Billa yang sedang berbincang didalam ruang rawat inap sana.


Rafael membiarkan papanya dan Billa berbicara empat mata, dari hati ke hati, dia harap ada solusi terbaik untuk menghadapi masalah ini.


Sementara itu, didalam ruang rawat inap.


Billa terlihat sangat sedih melihat kondisi papanya saat ini, dia menitihkan air mata meratapi semua yang terjadi didalam hidupnya.


"Kamu nggak perlu tangisin keadaan papa, yang perlu kamu fikirkan adalah bagaimana nasib kamu selanjutnya." Ucap Papa.


Billa terdiam mendengar perkataan papanya itu.


"Kamu sayang sama papa, nak?" Tanya papa kemudian.


Billa hanya mengangguk pelan.


"Kalau gitu, kamu maukan mengabulkan permintaan papa?" Tanya papa lagi.


"Papa mau apa?" Billa balik bertanya.


"Menikahlah dengan ayah dari anak yang sedang kamu kandung itu." Jawab papa.


Billa sangat tercengang dengan permintaan papanya itu, bagaimana mungkin papa mau menyerahkan anaknya kepada orang yang jelas-jelas telah menyakiti hatinya.


Billa langsung menolaknya mentah-mentah.


"Billa nggak mau, pa! Dia orang jahat, papa mau liat Billa terus-terusan dijahatin?" Balas Billa.


Papa terlihat kecewa dengan penuturan Billa, tapi dia mencoba untuk meyakinkan putrinya itu.


"Berarti kamu nggak sayang sama papa, kamu senengkan liat papa sakit seperti ini mikirin kamu?" Tanya Papa.


"Bukan gitu, pa! Billa sayang banget sama Papa, tapi Billa nggak mau nikah sama dia." Balas Billa.


"Yang papa liat Bisma sangat mencintai kamu, nak! Papa yakin kalau Bisma bisa buat kamu bahagia nantinya." Ucap papa.


"Nggak Pa." Balas Billa cepat.


"Anggap saja ini adalah permintaan terakhir papa, mungkin besok atau lusa papa bakalan nggak ada lagi. Pasti papa akan pergi dengan tenang setelah melihat kamu menikah." Ucap papa.


Jleb!


Perkataan Papa benar-benar menusuk kedalam hati Billa, dia merasa sedih ketika mendengar ucapan papanya.


"Papa kok ngomongnya gitu sih?" Ucap Billa sedikit kesal.


"Papa mohon, menikahlah. Baru setelah itu papa akan merasa tenang dan lega. Atau mungkin setelah pernikahan kamu papa akan segera sembuh." Ucap Papa.


Billa terdiam, dia sangat bingung dengan apa yang akan dia putuskan, disatu sisi dia tidak ingin mengecewakan papanya yang sedang sakit, disisi lain dia tidak sudi jika harus menjadi istri dari laki-laki yang sangat dibencinya.


"Hanya satu pencapaian yang belum terwujud dalam hidup papa." Ucap papa.


Billa menoleh kearah papanya, terlihat wajah tua itu yang lesu.


Dia sangat merasa kasihan kepada papanya itu, diusianya yang sudah senja dia harus merasakan kesakitan seperti ini.


"Apa itu?" Tanya Billa.


"Melihat kamu menikah dengan Bisma." Jawab papa.


Billa kembali terdiam, dia berfikir untuk mempertimbangkan semua yang menjadi keinginan papanya.


Entahlah, apa dia akan memenuhi keinginan papanya itu.


Atau dia akan tetap dengan pendiriannya, Billa sangat pusing memikirkan hal itu.


"Putuskan sekarang, nak! Papa mau kamu menikah secepatnya." Desak papa.


"Papa kok paksa aku sih?" Tanya Billa.


"Papa hanya menginginkan yang terbaik untuk kamu. Dan keputusan papa ini adalah keputusan yang tepat untuk semua orang." Balas Papa.


"Ok, ok." Balas Billa kemudian.


"Nah, begitu dong." Balas papa sambil tersenyum lebar saat mendengar penuturan Billa.


Billa berfikir apa keputusan yang dia pilih ini adalah yang terbaik? Apa nantinya laki-laki itu akan kembali menyakiti hatinya dan membuat Billa lebih hancur dari ini?


Apa ada yang bisa menjamin jika hidup Billa akan bahagia jika menikah dengan Bisma?


Apa tidak ada pilihan lain selain menikah dengan laki-laki itu, melihat wajahnya saja Billa sudah merasa kesal.


Apa dia akan sanggup jika setiap membuka mata yang dia lihat adalah sosok yang sangat dibencinya.


Entahlah, Billa memutuskan untuk menjalani semua apa adanya. Biarkan takdir membawa dirinya kemanapun dia mau.


Semua yang dia lakukan semata-mata demi kesembuhan sang papa, dia tak ingin membuat papanya lebih sakit dari ini, dia ingin melihat papanya sembuh dan menjalani hari-harinya seperti sebelumnya.

__ADS_1


***


Jangan lupa tinggalkan jejak anda setelah membaca !!!


__ADS_2