Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Veni semakin sebal kepada Billa


__ADS_3

Veni membanting tubuhnya asal keatas kasurnya, dia sangat lelah setelah memberi pelajaran kepada adik menyebalkannya itu, dan pada akhirnya Liona menang karena selalu meminta perlindungan dari papanya.


Tiba-tiba perkataan Liona tadi terlintas kembali dipikirannya, perkataannya itu seolah tepat sasaran dan menancap tepat dihati Veni hingga dia merasa galau ketika mengingat perkataannya.


'apa mungkin bener gue jombo karena gue galak? Terakhir gue pacaran, si Dino mutusin gue karena gue marah-marahin dia didepan temen-temennya.' ucap Veni dalam hatinya, dia menatap langit-langit kamarnya itu sambil terus berpikir.


Ahh, tapi mungkin dia bukan jodoh Veni, jikapun dia sudah dipertemukan dengan jodohnya, pasti orang itu akan menerima Veni dengan semua kekurangan dan kelebihan, dengan semua apa adanya yang ada didalam dirinya dan sikap keras kepala yang melekat dalam dirinya.


Hmm, ngomong-ngomong tentang jodoh, Veni berpikir apa dia pantas memiliki perasaan suka terhadap Bisma? Laki-laki itu terlihat selalu manis ketika memperlakukan istrinya dan juga selalu membelanya, jika Veni yang menjadi istrinya, ahh tidak mungkin! Jika saja ada laki-laki yang seperti Bisma memperlakukan Veni dengan baik, tidak mustahil kalau Veni akan berubah menjadi orang yang lebih baik.


Tok... Tok... Tok...


Veni menoleh kearah pintu kamarnya yang terbuka ketika mendengar ketukan itu, terlihat Billa yang berdiri disana.


"ngapain loe?" tanya Veni ketus.


"ayo kita makan siang! Makanannya udah siap." ucap Billa.


'hmm, emang udah laper sih gue' gumam Veni dalam hati.


"nanti gue nyusul, pergi loe dari sini!" ucap Veni mengusir Billa.


"ya udah, aku tunggu dibawah!" balas Billa yang langsung berlalu meninggalkan kamar Veni.


Sambil berjan Billa menghembuskan nafasnya, kenapa Veni selalu saja bersikap seperti itu kepadanya, tapi tidak! Veni memang bersikap seperti itu kepada setiap orang, bukan hanya dirinya.


"sabar, Bill!" gumam Billa sambil menuruni anak tangga.


***


Makan siangpun telah selesai, tapi mereka seakan enggan untuk meninggalkan meja makan karena perut mereka yang terasa kenyang.

__ADS_1


"mama nggak nyangka lho, kamu pinter banget masakannya, bahkan masakan ala Thailan ini kamu bisa membuatnya, mama aja baru tau dari kamu sekarang." ucap mama Dinar memuji Billa.


Veni menatap kearah Billa dengan tatapan sinis setelah mamanya memuji-muji kehebatan Billa dalam bidang memasak.


"aku juga searching kok mah, itupun aku baru belajar." jawab Billa.


"kak, ajarin aku masak ya! Biar nanti aku jadi istri idaman kaya kak Billa." ucap Liona sambil tersenyum lebar.


Sontak semua terkekeh ketika mendengar ucapan Liona, kecuali Veni, dia hanya memasang muka masamnya.


"yang harusnya belajar masak itu kamu, Ven. Kamu jangan mau kalah sama adik kamu." ucap om Suryo yang membuat Veni semakin merasa kesal.


"buat apa masak? Toh sekarang udah banyak restoran siap saji, pesen lewat go food aja gampang, buat apa ribet-ribet masak?" ucap Veni dengan ketusnya.


"kalau menurut aku sih mending masak Ven, selain lebih irit juga biar ada kegiatan." balas Billa.


"ya itu menurut loe karena loe pengangguran, kalau gue kan orang sibuk, nggak ada waktu buat masak-masak nggak jelas." balas Veni tak mau kalah dalam perbincangan ini.


'astaga! Ini cewe pengennya menang sendiri, nggak mau dengerin nasehat orang.' ucap Bisma dalam hati, dia tidak banyak bicara, dia takut terbawa emosi ketika berdebat, diapun hanya ingin menghargai mama Dinar dan om Suryo yang sudah berbaik hati kepadanya dan Billa.


"iya, pa." balas Bisma.


Om suryopun beranjak menuju ruang kerjanya, setelah itu disusul Veni.


"mau kemana, Ven?" tanya mama Dinar.


"ngantuk, mau tidur." jawab Veni tanpa menoleh.


"ya sudah, kalau kalian mau istirahat, pakai kamar tamu aja, ya!" ucap mama Dinar sambil membereskan piring-piring kotor.


"dikamar aku aja, kak." ucap Liona.

__ADS_1


"terus kak Bisma gimana?" tanya Bisma.


"hahaha :D udahlah kak, setiap hari juga kakak sama kak Billa kan? Sekarang biarin aku pinjem kak Billanya dulu." ucap Liona.


"hahaha, ya udah, tapi nanti kembalikan lagi, ya!" balas Bisma.


"memangnya aku apa Bisma?" tanya Billa.


Bisma dan Liona hanya cekikikan melihat Billa yang sedikit cemberut, sedangkan mama Dinar sudah pergi ke dapur untuk mencuci piring.


***


Rasa kantuk mulai menyerang setelah perut terasa kenyang, akhirnya setelah berbincang-bincang ringan akhirnya Billa dan Liona tumbang juga, mereka tertidur dikamar Liona karena anak itu yang memaksa Billa untuk tetap bersamanya.


Sedangkan Bisma, dia terlihat sedang duduk sendirian saja diruang tengah rumah itu sambil memainkan ponselnya.


Tiba-tiba mama Dinar menghampirinya setelah menyelesaikan pekerjaan dapurnya.


"Bisma, bagaimana kalau nanti sore kamu ajak Billa jalan-jalan disekitar sini." ucap mama Dinar.


Bisma langsung memalingkan pandangannya dari ponsel ketika mama Dinar berbicara kepadanya.


"wah, ide bagus itu ma." jawab Bisma.


"dibelakang sana ada perkebunan teh milik papanya Veni, udaranya segar sekali, bisa membuat relaksasi juga. Itu bagus untuk ibu hamil seperti Billa." balas mama Dinar.


"wah, itu terdengar menyenangkan mah. Billa pasti seneng banget diajak kesana." jawab Bisma.


"tapi hati-hati juga, jalanannya sedikit tidak beraturan, takutnya nanti Billa jatuh." ucap mama Dinar.


"siap ma, sekalian ajak Liona sama Veni, boleh?" tanya Bisma.

__ADS_1


"kenapa nggak?" jawab mama Dinar.


***


__ADS_2