
PLAK!
Satu tamparan mendarat dengan mulus di pipi kiri Veni, Veni memegangi pipinya yang terasa perih. Setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya ketika menyadari kalau papanya berani berbuat seperti itu kepadanya.
Bisma, Billa, mama Dinar dan Liona sangat kaget ketika tangan Om Suryo melayang dan mendarat tepat di pipi Veni.
"siapa yang mengajarkan kamu bicara seperti itu? Papa tidak pernah mendidik anak-anak papa menjadi seorang yang tidak bisa menjaga mulutnya." bentak om Suryo dengan nada tinggi.
Veni terus memegangi pipinya yang memerah, hatinya semakin sakit, setelah papanya tega menamparnya, sekarang dia tega membentak-bentak Veni seperti itu.
"pa, apa yang papa lakukan?" ucap mama Dinar, dia mendekati Veni dan merangkul pundaknya. Tapi dengan cepat Veni menepis tangan mama Dinar.
Mama Dinar sedikit kaget mendapat penolakan dari Veni.
"papa tega lakukan ini sama Veni?" ucap Veni lirih.
"ya, karena mulutmu itu sudah berani berbicara kotor. Kamu menghina Billa, sama saja kamu menghina mama kamu Ven!" ucap om Suryo penuh penekanan.
"ya, semenjak dia datang di kehidupan kita, kasih sayang mama sama papa jadi beralih sama dia. Semua orang lebih perduli sama dia. Kalian tidak pernah tau bagaimana perasaan aku yang selalu dibanding-bandingkan sama dia, aku muak liat wajah dia. Kalian selalu membangga-banggakannya, sedangkan aku, kalian selalu memojokkan aku dan mengejekku.Aku benci kalian." Veni berkata dengan menggebu-gebu, hatinya terlalu sakit, diapun langsung pergi setelah mengatakan semua isi hatinya. Dia merasa sudah tidak ada gunanya dia berada disana, semua orang tidak menginginkan keberadaannya.
Veni berlari sambil menyusut pipinya yang basah asal.
Billa menatap kepergian Veni dengan sendu, Billa seperti bisa merasakan apa yang Veni rasakan.
"Bisma, kejar dia!" ucap Billa.
"buat apa?" tanya Bisma.
"hibur dia, nanti aku nyusul." jawab Billa.
Bisma mengangguk lalu beranjak untuk mengejar Veni.
Om Suryo memijat keningnya, dia menyesal sudah melayangkan tangannya kepada Veni, anak pertama yang sebenarnya sangat dia sayangi.
"pa, tidak seharusnya papa menampar Veni, apa yang dia katakan benar. Kita kurang memperhatikannya belakangan ini." ucap mama Dinar.
"papa minta maaf ma, papa terbawa emosi tadi. Dia mengatakan kata-kata yang tidak pantas." jawab om Suryo.
"papa harus minta maaf sama Veni setelah ini." ucap mama Dinar.
"Li, titip Ian sebentar ya! Kakak mau susul kak Veni kedepan." ucap Billa.
"iya kak." sahut Liona.
Liona menjadi tidak enak hati, niatnya tadi hanya ingin menggoda Veni, tapi dia tidak menyangka kalau kakaknya itu akan memasukkan perkataannya kedalam hati hingga akhirnya dia marah besar.
***
"Ven, tunggu!" seru Bisma, tapi Veni tidak menggubrisnya. Dia tetap berlari kecil untuk keluar dari pekarangan rumah Bisma sambil terus menangis.
Langkah Bisma yang lebih cepat berhasil menghadang pergerakan Veni dan menghentikan langkahnya, Bisma mencengkram lengan Veni cukup kuat agar dia tidak kabur.
"mau apa lagi loe? Belum puas loe memojokkan gue?" teriak Veni yang masih menangis.
"kenapa sih Ven, akhir-akhir ini loe jadi baperan? Kenapa loe jadi suka hina-hina istri gue? Loe nggak tau sebenarnya apa yang terjadi antara gue sama istri gue dulu. Jadi loe nggak berhak menghina dia sesuka hati loe. Tuduhan-tuduhan loe itu nggak bener." ucap Bisma penuh penekanan.
__ADS_1
"gue nggak akan berhenti hina dia, gue benci sama dia, dia udah merebut semua orang yang ada disekitar gue." ucap Veni.
"benci loe itu nggak beralasan Ven, keluarga loe sayang sama loe, loe yang buta nggak bisa lihat kasih sayang mereka." ucap Bisma, dia meletakkan kedua tangannya di bahu Veni, dengan begitu Veni bisa dengan jelas melihat wajah Bisma dari jarak yang sangat dekat.
"gue mohon sama loe, jangan hina Billa lagi, udah cukup dia menderita selama ini. Gue nggak mau ada orang yang menyakiti dia lagi sekarang. Termasuk loe." ucap Bisma dengan tatapan seriusnya.
Veni langsung buang muka, dia tidak ingin melihat lagi wajah Bisma yang bisa saja membuat hatinya goyah.
"gue tetep benci dia, gue akan buat dia merasakan penderitaan yang gue rasakan. Gue nggak terima kalau dia bahagia sedangkan gue menderita." ucap Veni dengan nada tinggi. Wajahnya sudah tidak berbentuk akibat air matanya.
"loe kenapa sih Ven, keras kepala banget kalau dibilangin. Kenapa loe sebenci itu sama Billa? Kenapa? Kenapa?" ucap Bismar dengan nada tinggi, dia frustasi karena tidak bisa membuat Veni mengerti.
"karena gue suka sama loe, gue nggak terima liat kalian menari diatas air mata gue. PUAS LOE!" ucap Veni dengan nada yang semakin meninggi. Air matanya kembali meleleh setelah mengatakan kalimat itu.
Sekarang dia benar-benar sudah tidak punya muka, dia berharap agar bumi menelannya saat itu juga. Veni berlari meninggalkan Bisma yang tertegun dengan perkataannya.
Bisma masih berusaha mencerna perkataan Veni, sekarang dia mengerti, apa arti tatapan Veni kepadanya selama ini.
'Jadi dia suka sama gue.' ucap Bisma dalam hati.
Bisma mengacak-acak rambutnya asal, dia tidak menyangka masalahnya akan jadi serumit ini. Diapun melangkah masuk kembali kedalam rumahnya.
Bisma kaget ketika melihat Billa yang sedang berdiri mematung diteras sambil menatap aneh ke arahnya.
"Bill, sejak kapan kamu disini?" tanya Bisma.
"dari tadi." jawab Billa cuek.
"Kamu denger apa yang tadi Veni bilang?" tanya Bisma.
"Kamu cemburu?" tanya Bisma.
"nggak, biasa aja." jawab Billa ketus.
"tapi nada bicara kamu itu nggak enak didengar." ucap Bisma.
"habisnya kamu itu salah bicara tadi. Harusnya kamu tenangin Veni, bukannya malah semakin memojokkan dia, perasaannya itu lagi sensitif." semprot Billa dengan kesalnya.
"Jadi, aku salah bicara ya tadi?" tanya Bisma masih bingung.
"pikir aja sendiri!" Billa langsung pergi kedalam meninggalkan Bisma sendiri.
"ehh, Bill, tunggu! Tapi kamu cemburu kan?" teriak Bisma agar didengar Billa, tapi sayang Billa hanya tutup telinga.
Bisma mengikuti Billa, dia langsung menarik tangan Billa sehingga Billa berbalik arah menatap ke arahnya.
"kamu marah?" tanya Bisma serius. Tapi Billa malah buang muka, dia jadi merasa sebal kepada Bisma.
'dia pikir dia keren apa? Dia semakin besar kepala setelah Veni menyatakan cintanya.' batin Billa.
"aku nggak marah." jawab Villa dengan kesalnya.
"kamu jangan gini dong Bill, aku jadi merasa bersalah." ucap Bisma.
"udah lah Bisma, nggak usah dibahas lagi. Aku cape mau istirahat." ucap Billa dan langsung nyelonong pergi, Bisma tau kalau Billa sedang kesal kepadanya pasti dia akan bersikap dingin seperti itu.
__ADS_1
Bisma tidak tinggal diam, dia memeluk tubuh Billa dari belakang, membuat Billa tertegun dan menghentikan langkahnya.
"maafkan aku Bill." ucap Bisma lirih tepat ditelinga Billa.
Billa bisa dengan jelas mendengar suara nafas Bisma dari hidungnya, ini yang selalu membuat pendiriannya goyah, Bisma selalu tau kalau hatinya akan luluh ketika mendapat pelukan seperti ini.
Billa memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam.
"Aku tau aku salah, aku mohon jangan kaya gini. Aku nggak tahan kalau kamu menghindari aku terus." ucap Bisma kemudian.
"memangnya aku kenapa? Aku biasa aja perasaan, kamunya aja yang terlalu baper." sahut Billa.
"Jadi beneran kamu nggak marah? Kamu nggak cemburu?" tanya Bisma.
"Aku nggak cemburu, aku percaya kok kalau kamu sayang banget sama aku. Aku yakin kamu nggak akan sampai berpaling ke perempuan lain." ucap Billa yang nada bicaranya mulai kembali bersahabat.
Bisma tersenyum mendengar penuturan Billa, dia merasa lega karena marahnya Billa tidak berkelanjutan.
"makasih ya Bill, kamu mau percaya sama aku. Aku sayang kamu." ucap Bisma, dia mencium pipi Billa dengan posisi yang masih memeluknya dari belakang.
Saat itulah Liona muncul dari balik pintu ruang tengah, dia melihat dengan jelas adegan mesra antara sepasang suami istri itu.
"o ow." ucap Liona sambil menutupi matanya dengan kedua tangannya, dia jadi malu sendiri sudah memergoki mereka.
Dengan cepat Bisma dan Billa melepaskan pelukan mereka setelah menyadari keberadaan Liona. Mereka kaget dengan kedatangan Liona yang tiba-tiba. Mereka jadi gugup sendiri karena diciduki oleh anak remaja itu.
Bisma menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Sedangkan Billa berusaha untuk bersikap biasa saja dan tidak menunjukkan kegugupannya.
"ehh, ada apa Li?" tanya Billa kemudian.
Liona menurunkan tangannya setelah mendengar perkataan Billa, jantungnya hampir saja copot melihat kejadian tadi. Bahkan dia belum pernah memergoki mama dan papanya sedang berpelukan.
Sungguh! Liona semakin naper dibuat mereka.
"emm, itu kak. Ian nangis, kayanya mau minum susu." jawab Liona gugup, dia masih berusaha mengatur detak jantungnya.
"oh, iya. Ayo kita lihat kesana!" seru Billa dan langsung melangkah pergi bersama Liona.
Sedangkan Bisma terlihat mengutuki dirinya sendiri.
"sial! Kenapa dia datang disaat yang nggak tepat?"
***
Veni berjalan sendirian ditengah kegelapan malam itu, dia juga tidak tau harus pergi kemana dalam keadaan seperti ini. Yang ada di pikirannya adalah bagaimana bisa menghindari dan menyembunyikan wajahnya dari orang-orang.
Langkahnya terhenti disebuah taman yang tidak terlalu jauh dari rumah Bisma, dia terduduk di rerumputan yang tumbuh disana.
Dia membenamkan wajahnya diantara kedua lututnya, dia menangis sejadi-jadinya, menumpahkan semua air mata yang terus mendesak ingin keluar.
Tiba-tiba ada sebuah tangan yang menyodorkan sapu tangan di hadapannya, orang itu juga menepuk pundak Veni agar dia mengetahui keberadaannya.
***
Jangan Lupa tinggalkan jejaknya ya readers, kritik dan saran juga diperlukan supaya meningkatkan likers
__ADS_1
sama viewers nya...