
Semakin lama kereta semakin mendekat kearah Billa, Bisma menarik Billa dengan sigapnya, sehingga mereka jatuh tersungkur kebelakang.
Jantung Bisma berdegup dengan sangat cepat, kakinya terasa gemetar.
Jika dia telat sedikit saja, mungkin perempuan itu sudah mati terlindas kereta.
Kedua tas yang Billa bawa tadi terlihat tertinggal direl sana dan mungkin saja sudah terlindas, tapi dia tidak memperdulikan tas itu, dia hanya mengkhawatirkan keadaan Billa.
Bisma berusaha mengatur nafasnya yang tak beraturan, dia mencoba untuk menenangkan dirinya.
Billa merasa pantatnya sedikit sakit karena mengenai bebatuan kecil yang berada dipinggiran rel, terlihat keringat yang mengucur deras dipelipisnya.
Dia merasa ada sebuah tangan yang melingkar diperutnya.
'Apa aku sudah mati?' Fikirnya.
"Kamu nggak apa-apa, kan Bill?" Tanya Bisma dengan suara yang masih bergetar.
Perlahan Billa membuka mata mendengar ucapan itu.
Ternyata dia belum mati, dia sangat hafal dengan suara itu, itu adalah suara milik laki-laki yang sangat dia benci.
Bisma memeluknya dengan erat dari belakang.
Seketika tangis Billa pecah, dia menumpahkan semua air mata yang sedari tadi dia tahan agar tidak keluar.
Perasaannya benar-benar hancur, dia tidak menginginkan lagi berada dimuka bumi ini, dia ingin pergi, dia sudah muak dengan semua drama yang selalu dia jalani.
Bisma yang mendengar tangisan Billa seperti memahami apa yang sedang perempuan itu rasakaan.
Pastilah tidak mudah menjalani semua masalah yang sedang dia hadapi.
Perlahan Bisma mulai menyusut pipi Billa yang sudah basah itu dengan lembut, dia sangat tak kuasa ketika mendengar isakan dari mulut perempuan itu.
"Maafin aku, Bill. Aku beneran nyesel udah lakuin itu sama kamu, tapi percayalah Bill, aku lakuin itu karena aku cinta sama kamu." Ucap Bisma.
"Aku sedih Bill liat kamu kaya gini." Lanjutnya.
Billa semakin kencang saja menangis mendengar perkataan Bisma.
"Kenapa kamu selamatin aku? Biar aku mati disini, biar kamu puas, itukan yang kamu mau? Liat aku hancur?" Sentak Billa dengan nada tinggi.
"Nggak Bill, bukan itu yang aku mau. Aku mau kamu bahagia sama aku." Balas Bisma.
"Lepasin aku! Aku nggak sudi dipegang sama kamu." Ucap Billa.
Dia meronta-ronta tak karuan dalam pelukkan Bisma, Bisma menempelkan dagunya dipundak Billa.
Dia mencoba menenangkan perempuan itu dan semakin mempererat pelukannya.
"Jangan pernah berfikir buat mengakhiri hidup, Bill. Aku pasti semakin merasa bersalah kalau terjadi sesuatu yang buruk sama kamu." Ucap Bisma.
"Izinin aku buat mempertanggung jawabkan semua yang udah aku lakuin sama kamu." Lanjutnya.
__ADS_1
"Aku nggak mau, lepasin aku!" Seru Billa.
"Kasih aku kesempatan Bill, aku mohon!" Pinta Bisma.
"Papa kamu udah kasih aku restu, tinggal kamunya setuju buat aku nikahin." Lanjutnya.
Billa sama sekali tidak menggubris berkataan Bisma, dia sibuk memukuli tangan laki-laki itu yang melingkar diperutnya dan sesekali mencubitnya dengan keras.
Bisma seperti tidak memperdulikan Billa yang memukulinya, dia membiarkan perempuan itu melakukannya.
Siapa tau saja itu bisa membuat Billa sedikit tenang, walaupun sedikit terasa sakit, tapi dia masih bisa menahannya.
"Lepasin!" Ucap Billa yang terdengar memelan, dia benar-benar kehabisan tenaga untuk melepaskan diri dari dekapan laki-laki itu.
Kepalanya terasa sangat berat, ditambah lagi dia belum makan sedari tadi pagi, diapun tumbang dalam pelukkan Bisma.
Sedetik kemudian Bisma tidak merasakan perempuan itu memukulinya lagi, dia sudah tidak merasakan perlawanan dari Billa.
Bisma merasa ada yang aneh, dia segera membalikkan tubuh lemas Billa, dia melihat mata perempuan itu yang terpejam.
"Bill, kamu kenapa? Hey, bangun!" Seru Bisma sambil menepuk-nepuk pipi Billa pelan.
Tak ada respon dari Billa, dia benar-benar lelah menghadapi ini semua hingga tak sadarkan diri.
Bisma terlihat sangat panik, dia berfikir kemana dia harus membawa perempuan itu pergi,
Diapun memutuskan untuk membawa Billa ke klinik terdekat karena dia merasa suhu tubuh perempuan itu sedikit tinggi.
***
Keadaan papa memang sudah jauh lebih baik, tapi dokter belum memberi izin untuknya pulang.
Dengan alasan papa memerlukan pemantauan yang ketat.
Rafael sudah tidak terlalu mengkhawatirkan keadaan papa sehingga dia meninggalkannya sendirian dirumah sakit.
Rafael membuka rumahnya perlahan, dia tidak melihat satupun penghuni rumah itu.
'Pada kemana?' Fikir Rafael.
"Assalamualaikum, ma!" Seru Rafael.
Dia berjalan masuk kedalam rumahnya itu.
Tiba-tiba Tante Vera datang dari arah dapur dan langsung menghampiri anaknya itu.
"Waalaikumsalam, sayang. Kamu pulang? Gimana papa?" Tanya Tante Vera yang menyambut Rafael dengan hangat.
"Papa baik kok mah makanya Rafa tinggal. Oh, ya ma, papa mau membujuk Billa biar mau dinikahkan secepatnya. Nanti siang Rafa balik ke rumah sakit sekalian ajak Billa juga." Ucap Rafael kemudian.
Tante Vera mendengus kesal ketika mendengar nama perempuan itu.
"Ngapain kamu ajak-ajak anak itu? Dia udah nggak ada disini!" Balas Tante Vera dengan nada sinis.
Rafael mengerutkan keningnya mendengar perkataan Tante Vera.
__ADS_1
"Maksud mama gimana?" Tanya Rafael bingung.
"Ya, mama udah usir dia dari rumah ini." Jawab Tante Vera.
Rafael benar-benar tercengang dengan jawaban dari ibunya itu.
"Mama kenapa usir Billa? Mama nggak liat keadaannya lagi terguncang sekarang? Mama bener-bener nggak punya hati." Ucap Rafael dengan nada yang sedikit tinggi, dia sangat kesal kepada ibunya itu hingga dia tidak dapat menahan marahnya.
Bagaimanapun juga dia sangat menyayangi Billa, dia adik satu-satunya yang Rafael miliki.
"Mama mikir nggak kalau papa sampai tau mama usir Billa dari rumah? Penyakit papa bisa kambuh lagi." Lanjut Rafael.
Tante Vera terdiam sambil memasang muka masamnya.
"Mama itu cuma mikirin ego mama tanpa berfikir apa yang akan terjadi kedepannya." Ucap Rafael bijak.
'Benar juga apa yang dikatakan Rafael, kalau terjadi sesuatu yang buruk sama papa, saya bisa jadi janda.' Fikir Tante Vera dalam diamnya.
Dia menggeleng cepat memikirkan hal itu.
"Sekarang gimana? Papa mau ketemu sama Billa secepatnya, Rafael harus ngomong apa sama papa?" Tanya Rafael.
"Ya udah, sana kamu cari anak h***m itu." Jawab Tante Vera. Kemudian dia pergi meninggalkan Rafael yang tak habis fikir dengan kelakuan ibunya itu.
Dia mengacak-acak rambutnya asal.
Kemana dia harus mencari adinya itu?
***
Semalaman Bisma tidak bisa tidur, dia terus menemani Billa yang masih juga belum sadarkan diri.
Dia duduk dikursi dekat kasur yang berada diklinik itu, dia tak berhenti menggenggam tangan Billa dari semalam.
Bisma benar-benar tak kuasa saat menatap wajah sembab perempuan itu, dia sangat menyesali perbuatannya.
Dia berfikir berapa banyak air mata yang sudah perempuan itu keluarkan untuk meratapi nasibnya?
Bisma menyentuh dengan lembut rambut Billa yang berantakkan.
"Maafin aku." Ucapnya lirih.
Bisma melihat jam dinding yang berada diruangan itu.
Waktu sudah menunjukkan pukul 06.25, pagi ini dia harus pergi bekerja.
Tapi bagaimana dengan Billa? Dia tidak mungkin meninggalkan perempuan itu sendirian dalam keadaannya yang seperti ini.
Dia berfikir untuk menghubungi Rafael dan memintanya untuk menemani Billa. Jika tidak, siapa lagi yang bisa dipintainya tolong.
Apa lagi perempuan itu sangat nekat, bisa-bisa dia kembali berbuat hal yang membahayakan dirinya.
Bismapun segera membuat panggilan pada Rafael.
***
__ADS_1