
Billa terlihat menangis sendirian, dia sangat malu dengan tetangga atas apa yang Bisma dan ibu tirinya itu perbuat, dia tak berani menampakkan dirinya.
Kenapa selalu aja seperti ini?
Kenapa disaat aku ingin melangkah maju dan memulai hidup baru selalu dihantui bayang-bayang masa lalu?
Ya Allah, kuatkan hatiku. Jangan sampai keimananku goyah. Aku hanya ingin bahagia. Apa itu salah?
***
Sedari tadi Bisma memangdangi foto Billa yang tengah tersenyum dilayar smartphonenya.
Tiba-tiba saja dia mengingat ketika dirinya bersama dengan perempuan itu.
Ketika perempuan itu menatapnya, tersenyum kearahnya, memegang tangannya dan memeluk dirinya.
Semua perasaan itu masih hangat dia rasakan, hatinya masih bergetar meskipun perempuan itu sudah menolaknya berkali-kali.
Perempuan itu begitu indah dipandang, membuat Bisma tak sanggup untuk berpaling ataupun berkedip ketika melihatnya.
Perempuan itu terlihat sangat sempurna dimatanya.
Morgan menghampiri Bisma yang tengah melamun. Dia sedikit mengintip layar smartphone Bisma.
"Cantik ya!" Ucap Morgan kemudian.
Bisma menoleh kearahnya.
"Banget." Balas Bisma.
"Tapi sayang dia udah balikan sama si Dicky dan mereka sebentar lagi bakalan nikah." Sambung Bisma.
"Lah? Kenapa bisa gitu?" Tanya Morgan.
Bismapun menceritakan semua kepada Morgan.
Morgan menjadi pendengar yang sangat baik. Seakan dia mengerti apa yang Bisma rasakan.
Bisma selalu senang bercerita kepadanya, dia selalu memberi saran yang terbaik untuknya.
"Gue bingung banget. Jalan gue bener-bener udah buntu." Ucap Bisma sambil mengacak-ngacak rambutnya asal.
"Kalau loe bener-bener cinta sama dia, ada satu cara buat ngedapetinnya. Gue jamin itu." Ucap Morgan dengan serius.
Bisma menoleh kearahnya, dia terlihat sangat antusias.
"Loe serius? Apaan tuh?" Tanya Bisma penasaran.
"Loe T*****n dia." Ucap Morgan.
Seketika mata Bisma membulat, dia tak menyangka jika saran Morgan segila itu.
"Loe gila! Asli loe udah nggak waras. Nyesel gue curhat sama loe." Ucap Bisma.
__ADS_1
"Ya menurut gue cuma dengan cara itu loe bisa milikin dia, seutuhnya." Jawab Morgan.
Bisma terdiam, diapun tak pernah berfikir sejauh itu.
Morgan beranjak dari duduknya.
"Semua keputusan ada ditangan loe, gue cuma saranin aja. Semoga loe ambil keputusan yang tepat, dan semoga loe nggak nyesel dikemudian hari." Ucap Morgan dan pergi meninggalkan Bisma yang terus terdiam.
Bisma terus berfikir, kata-kata Morgan terus mengiang ditelinganya.
***
Seperti biasa, sebelum Dicky berangkat kerja dia mengantar Billa terlebih dahulu.
"Ky, kayanya aku mau pindah kontrakan aja deh." Ucap Billa memulai pembicaraan.
"Emang kenapa sayang?" Tanya Dicky.
"Ibu tiri ganggu aku terus, aku cape. Lebih baik aku pindah dan aku nggak akan kasih tau orang rumah." Jawab Billa.
Billa sengaja tak memberi tahu Dicky tentang Bisma, dia takut Dicky akan salah paham.
"Ya udah, nanti hari sabtu aku temenin kamu cari kontrakan baru." Ucap Dicky sambil tersenyum.
"Makasih ya Ky, kamu udah mau ngerti aku." Ucap Billa.
"Iya sayang." Jawab Dicky.
"Oh ya udah, nanti kamu hati-hati pulangnya. Jangan lupa makan siang. Dan semangat ya kerjanya!" Seru Dicky.
Billa hanya tersenyum. Dia merasa sangat beruntung memiliki kekasih seperti Dicky, dia sangat perhatian, dia benar-benar sudah berubah.
***
Malam semakin larut, waktu menunjukan pukul 23.05. Billa baru saja pulang lembur.
Pekerjaan hari ini benar-benar membuatnya lelah. Jika saja besok bukan jadwal ekspor pasti dia dan karyawan lain tidak akan kerja sampai semalam ini.
Dia berjalan sendiri ditengah sunyinya malam ini.
Dari kejauhan, dia melihat seorang laki-laki yang berjalan sempoyongan. Dia sedikit merasa takut.
Semakin dekat semakin jelas terlihat wajah orang itu.
Billa sangat kaget ketika mengetahui jika orang itu adalah Bisma.
"Astaga Bisma, kamu kenapa? Ngapain kamu disini?" Ucap Billa yang sedikit kaget.
"Aku mau kamu jadi istri aku. Bukan dia." Ucap Bisma seperti sadar tak sadar. Bicaranya sangat ngelantur.
Billa bergidig ngeri melihat kelakuan Bisma, dia merasa jiji dengan laki-laki itu.
"Kamu mabok ya, bau banget." Ucap Billa sambil mengendus.
__ADS_1
"Ini semua gara-gara kamu." Ucap Bisma kemudian.
Billa tak ingin berdebat dengan Bisma lebih lama, dia segera meninggalkan Bisma. Bisma tak tinggal diam, dia mengikuti langkah Billa.
Billa semakin mempercepat langkahnya ketika menyadari ternyata Bisma mengikutinya.
Dia sangat merasa ketakutan melihat Bisma yang seperti ini, apa lagi tak ada orang satupun disana.
Billa membuka kunci pintu kontrakannya dengan tangan gemetar, Bisma menghalangi Billa agar dia tak masuk kedalam.
"Kamu apaan sih Bisma? Pulang sana!" Seru Billa kasar.
"Aku mau sama kamu aja disini." Ucap Bisma.
Billa semakin kesal dibuat Bisma, dia mendorong Bisma asal.
"Minggir!" Seru Billa.
Namun Bisma semakin nekat, dia membekam mulut Billa dengan sapu tangannya, Billa mencoba melepaskan diri dari Bisma, tapi tenaganya tak sekuat Bisma, dia tak mampu melawan Bisma.
Billa meronta-ronta tak karuan, sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri karena obat bius yang Bisma berikan.
***
Entah apa yang terjadi semalam, ketika Billa terbangun dari tidurnya dia melihat pakaiannya yang berserakan. Banyak sekali bercak darah yang mengotori badcovernya. Dan dia sudah tidak memakai...
Astaga!
Ketika bergerak, Billa merasakan kesakitan dibagian tertentu.
Keringat dingin mulai membasahi dahinya.
Dia mengingat Bisma ketika melihat jaket yang Bisma kenakan semalam ada disampingnya.
Apa yang terjadi?
Apa dia?
Billa merasa takut, dia menelan ludahnya kasar. Seketika air matanya mulai menetes.
Apa yang sudah diperbuat laki-laki itu semalam?
Hatinya mulai tak tenang, fikirannya begitu gelisah. Dia merasa separuh dari dirinya telah hilang.
"Apa salah aku? Kenapa hidup aku jadi seperti ini? Kenapa? Kenapa?" Ucap Billa histeris, dia membanting apa saja yang ada disekitarnya.
Dia merasa jiji dengan dirinya sendiri. Dia menyesal karena tak dapat menghindari Bisma semalam.
Dia menangis sendiri tanpa ada seorangpun yang tau kesakitannya.
Dia sangat membenci dirinya sendiri, dia berfikir jika hidupnya adalah sebuah kutukan.
***
__ADS_1