
Billa sudah tidak tahan lagi dengan rasa mulas itu sampai-sampai dia menangis saking tidak kuat lagi menahannya.
Dilihatnya, Bisma sudah kembali tidur, Billa tidak tega untuk membangunkannya, diapun beranjak dari pembaringannya, berniat untuk sekedar jalan-jalan, karena dia baru ingat kalau orang akan melahirkan harus banyak bergerak.
Billa terus saja mondar-mandir dari ruang tamu ke ruang tengah, dia terus mengulang-ulang sampai entah berapa kali balikan dia melakukannya. Tapi itu tidak mengurangi rasa mulas yang kini sudah merambah jadi kesakitan diarea pinggang. Billa mengelus-elus pinggangnya yang terasa panas juga sakit, diapun berjalan menuju dapur untuk membuat teh manis, siapa tau saja rasa sakitnya akan sedikit berkurang.
Diapun meminum secangkir teh hangat sambil duduk dikursi meja makan. dia meminumnya dengan mau tak mau.
Tepat saat adzan subuh berkumandang, Bismapun terjaga dari tidur pulasnya, dilihatnya Billa sudah tidak ada disampingnya.
"Bill?" seru Bisma yang mengira Billa ada dikamar mandi. Tapi tidak ada sahutan dari dalam sana, Bismapun lalu beranjak dan mencari Billa dilantai bawah.
Betapa kagetnya Bisma saat melihat Billa yang sedang menangis sambil memegangi pinggangnya.
"Bill, kamu kenapa?" tanya Bisma panik.
"sakit Bisma." ucap Bisma sambil merintih, air matanya sudah mengalir deras karena tidak sanggup lagi menahan perasaan aneh didalam tubuhnya.
"astaga Bill, apanya yang sakit?" tanya Bisma.
"perut aku sakit banget." jawab Billa.
"dari kapan sakitnya?" tanya Bisma lagi.
"dari kemarin sore." jawab Billa.
"kenapa nggak kasih tau aku dari kemarin? kamu ini mau lahiran Bill." ucap Bisma.
"tapikan prediksinya 2 minggu lagi aku lahiran." balas Billa.
"predoksi bisa aja salah Bill, kita kebidan sekarang ya!" seru Bisma.
Bila mengangguk cepat.
"sebentar aku bawa jaket sama perlengkapan bayinya. kamu tunggu dulu disini ya! sabar." Bisma cepat-cepat pergi kekamar untuk membawa perlengkapan bayi yang sebelumnya sudah Billa siapkan saat kandungannya menginjak usia 8 bulan.
"Bisma, cepet!" seru Billa saat Bisma berlalu pergi.
Tak berselang lama Bisma menghampiri Billa sambil menenteng tas sedang berisi peralatan bayinya.
"pakai jaketnya!" Bismapun membantu Billa memakai jaket tebal itu.
Bismapun memapah Billa yang sudah mulai berhenti menangis.
"kamu kuat jalan nggak? atau mau digendong?" tanya Bisma.
"aku bisa jalan sendiri Bisma." jawab Billa.
***
Billa baru saja selesai diperiksa oleh bidan, dan ternyata Billa memang sedang kontraksi tapi masih pembukaan 3, bidan menyarankan agar Billa banyak berjalan-jalan untuk mempercepat naiknya pembukaan.
__ADS_1
Bisma terus mengikuti Billa berjalan kesana kemari, dia begitu cemas saat Billa sesekali merintin saat sakitnya tidak tertahankan.
"maaf ya Bill, aku selalu bikin kamu sakit." ucap Bisma yang matanya sudah berkaca-kaca melihat kondisi Billa.
"bukan salah kamu Bisma, ini sudah kodratnya seorang perempuan." jawab Billa.
Pagi sudah menjelang siang, tapi pembukaannya baru naik satu jadi pembukaan 4.
"memangnya harus sampai pembukaan berapa?" tanya Bisma yang geram kepada bidan.
"sampai pembukaan 10, sabarlah, saya kira lahirannya akan setelah magrib nanti." jawab sang bidan.
"apa? magrib? apa istri saya harus menahan kesakitan selama itu?" tanya Bisma yang kesal dengan perkataan bidan.
Bidan itu nyelonong pergi karena tau kekesalan Bisma yang sebenarnya panik karena menunggu istrinya akan melahirkan.
Bisma kembali menghampiri Billa yang baringan dikasur.
"udahlah Bill, nggak usah jalan-jalan lagi, lebih baik kamu istirahat." ucap Bisma.
"aku lapar Bisma." ucap Billa.
"ya udah, aku suapin ya." Bismapun menyuapi Billa makan kupat tahu yang tadi dibelinya didepan rumah dinas bidan ini.
"oh iya, kita harus kabarin mama sama papa Bill." ucap Bisma yang lupa saking paniknya.
Billa menelan kupat tahu setelah mengunyahnya dengan lembut.
"ya udah kalau gitu." Bismapun akhirnya mengalah, karena dia selalu menghargai apa yang jadi keputusan Billa.
Selesai Billa makan, perutnya kembali mulas, pinggangnya semakin sakit saja, Billa menahan sambil meringis sebenarnya dia sudah tidak sangat kuat lagi, ingin cepat-cepat bayinya lahir mungkin rasa sakitnya akan hilang.
Bisma menatap Billa yang menahan kesakitan sambil memegangi terus pinggangnya.
"sini!" Bisma mengambil alih mengelus-elus pinggang Billa, itu membuat Billa sedikit nyaman. Billa hanya diam menikmati sentuhan tangan Bisma.
"nak cepat keluar ya! kasihan mama kamu kesakitan. papa sayang kamu dan mama" ucap Bisma bergumam sendiri tepat didepan perut Billa.
Billa terharu mendengar perkataan Bisma, dia langsung memeluk Bisma dan menangis disana.
"sabar ya Bill." ucap Bisma sambil mengelus kepala Billa.
Sorenya, tepat setelah adzan ashar. Billa ditinggal sendiri karena Bisma ikut shalat berjamaah dimasjid sebelah.
Bisma berdo'a agar persalinan Billa lancar dan bayinya akan segera lahir, Bisma benar-benar tidak tega melihat Billa yang kesakitan terlalu lama.
Setelah selesai Bisma buru-buru kembali keruangan Billa karena takut meninggalkannya sendirian saat seperti ini.
"Bill." Bisma melihat Billa sudah tidak ada diruangannya, seorang perawat menghampiri Bisma.
"ibu Billa sudah berada diruang bersalin pa, mari ikut saya."seru si perawat itu.
__ADS_1
"jadi istri saya akan melahirkan sekarang bu?" tanya Bisma.
"iya, karena ketubannya sudah pecah." jawab perawat itu, Bismapun mengekor dibelakang perawat menuju ruang bersalin.
Didalam ruang bersalin, Bisma melihat Billa yang sudah ditangani tiga orang Bidan, dia langsung menghampiri Billa.
"Bisma, sakit." ucap Billa saat Bisma ada dihadapannya.
"sabar ya Bill, sebentar lagi!" seru Bisma.
"ayo bu, dorong!" seru si bidan satu.
"ayo Bill, kamu pasti bisa!" ucap Bisma sambil mengelus-elus kepala Billa, Bisma juga meniup ubun-ubunnya karena yang dia tau itu akan menjadi kekuatan untuk istrinya saat akan melahirkan.
Billa mengejan sekuat tenaga layaknya orang yang akan buang air, tapi tidak semudah yang dia bayangkan, bayi didalam perutnya masih belum terdorong keluar.
"mengejan bu!" seru si bidan dua.
Billapun melakukannya lagi, tapi madih belum juga membuahkan hasil.
"kamu bisa Bill, sedikit lagi." seru Bisma.
"susah Bisma." ucap Billa yang malah menangis karena kesulitan melakukannya.
"jangan nangis bu, itu malah akan mempersulit kelahirannya." seru si Bidan satu.
"jangan nangis!" Bisma menyeka air mata yang sudah membanjiri pipi Billa dengan lembut.
Billapun berusaha tidak menangis dan kembali mengejan sesuai intruksi dari bidan hampir 20 menit tapi belum ada tanda-tanda bayinya akan keluar.
Akhirnya sibidan tiga mengambil tindakan, dia mendorong perut Billa dengan cukup keras, Billa malah kembali menangis.
"terus mengejan!" seru si Bidan dua, Billa kembali mengejan bersamaan dengan perutnya yang didorong si bidan dua.
"iya bagus, kepalanya sudah terlihat." ucap si bidan satu.
"ayo Bill!" seru Bisma.
"lebih kuat lagi." seru bidan dua, sementara si bidan tiga masih mendorong perut Billa.
Dengan seluruh tenaga yang masih Billa punya, dia mengejan dengan sangat kuat, suara tangisan bayi menggema disetiap sudut ruang bersalin itu.
"alhamdulillah." ucap ketiga bidan itu.
"alhamdulillah Bill, bayi kita sudah lahir." ucap Bisma, tanpa terasa air mata Bisma menetes saking terharunya.
"Bisma jangan nangis." ucap Billa yang menyadari Bisma menangis.
"nggak Bill, aku cuma terharu."
Si Bidan dua langsung membersihkan bayi yang baru lahir itu. sedangkan bidan tiga membereskan peralatan yang mereka gunakan untuk persalinan Billa, sedangkan si bidan satu menjahit bagian yang sobek.
__ADS_1
"selamat bu, pak, bayinya laki-laki lahir normal dan sehat. mari adzani dulu bayinya!" seru si bidan dua pada Bisma.