Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Mama Vera yang matre


__ADS_3

Billa merasa sangat gerah sedari tadi mengenakan gaun pengantin itu, diapun ingin segera mandi dan mengganti pakaian.


Sedangkan Bisma, dia masih berada dibawah, dia sedang berbincang-bincang dengan Morgan yang belum juga pulang.


"Akhirnya ya Bis, setelah sekian lama." Ucap Morgan sambil cekikikan.


"Iya nih, ini semua gara-gara ide gila loe." Balas Bisma.


"Tapi tok cer, kan?" Tanya Morgan.


Keduanyapun tertawa bersama.


Setelah Morgan berpamitan, Om Ardi menghampiri Bisma dan menegurnya.


"Saya lega akhirnya masalah ini selesai juga." Ucap Om Ardi.


"Iya, Om. Terimakasih karena sudah memberi saya kesempatan." Balas Bisma.


"Jangan kecewakan saya karena telah menikahkan kamu dengan putri saya." Balas Om Ardi.


"Iya Om, saya akan berusaha untuk membuat Billa bahagia. Terimakasih Om sudah percaya sama saya." Balas Bisma.


"Satu lagi, jangan panggil saya Om. Panggil papa sama seperti Billa dan Rafael." Ucap Om Ardi kemudian.


"Oh, iya Pa!" Balas Bisma sambil tersenyum.


"Ya sudah, saya mau istirahat. Kamu juga istirahat, ya!" Pamit Om Ardi.


Bisma hanya manggut-manggut saja.


Ternyata mertuanya itu sangatlah baik, dia berfikir sangat jauh berbeda dengan istrinya yang sangat galak.


Apalagi jika berhubungan dengan Billa, pasti dia sangatlah sensitif.


***


Bisma memasuki kamar Billa, namun dia tak melihat sosok istrinya disana.


Mungkin dikamar mandi. Fikirnya.


"Bill, kamu didalam?" Tanya Bisma sambil mengetuk pintu kamar mandi.


Namun tak ada jawaban dari dalam sana. Bisma kembali mengetuk pintunya dengan cukup keras kali ini. Namun masih tak ada jawaban.


Bisma merasa cemas, apa yang sedang dilakukan istrinya itu didalam sana?


Dia takut jika Billa akan melakukan hal yang tidak-tidak, apa lagi Billa orangnya sangat nekat.


"Bill?" Ucap Bisma.


Tok... Tok... Tok...


Bisma semakin kuat saja menggedor pintu itu.


"BERISIK!" Teriak Billa dari dalam.


Bisma menghembuskan nafas lega, ternyata Billa baik-baik saja.


Tak berselang lama Billapun keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Bisma yang tengah berdiri menunggunya.


"Kamu nggak kenapa-napa kan?" Tanya Bisma cepat.


Billa sedikit menoleh kearahnya, dia tak menjawab pertanyaan Bisma, menurutnya pertanyaan Bisma sangat tidak penting.


Billa duduk dikursi depan cermin, dan menyisir rambutnya yang masih basah.


Bisma yang melihat itu segera menghampirinya.


"Bill, tadi surat nikahnya kamu yang bawa?" Tanya Bisma.


"Nggak." Balas Billa.


"Terus kemana, ya?" Tanya Bisma lagi.


Padahal buku itu sudah disimpan sendiri olehnya, Bisma hanya ingin mencari bahan obrolan dengan Billa.


Billa tak menjawab, dia sama sekali tidak perduli dengan pernikahannya dan juga buku itu.


Bisma mengeluarkan buku itu dari dalam jas hitam yang masih dia kenakan.


Diapun memberikannya kepada Billa.


"Kamu simpen ini baik-baik, ya!'" Seru Bisma kemudian.


Billa hanya sedikit menoleh kearah buku itu lalu kembali buang muka tanpa menjawab perkataan Bisma.


Bisma menyadari sikap Billa seperti ini karena dia masih belum bisa menerima Bisma sebagai suaminya.


Bisma sangat memaklumi hal itu, karena dengan Billa tidak mengusir Bisma dari sana cukup membuat Bisma senang.


Bisma tersenyum memikirkan hal itu.

__ADS_1


"Aku mandi dulu, ya!" Pamit Bisma, diapun beranjak dari duduknya.


Diapun segera menuju kamar mandi.


Billa merasa sangat lapar, cacing diperutnya sudah berteriak minta diberi makan.


Diapun berniat untuk turun kebawah dan mencari makanan.


Sesampainya didapur, Billa tidak menemukan adanya makanan yang bisa dia makan.


Hanya ada beberapa mie instan dan telur dilemari penyimpanan.


Billapun terpaksa memasaknya, karena dia benar-benar sudah lapar. Sebenarnya dia tidak menyukai mie instan, tapi apa boleh buat dalam keadaan seperti ini.


***


Bisma baru saja selesai membersihkan diri, dia keluar dari kamar mandi.


Dia mengelap rambutnya yang masih basah dengan handuk kecil.


Tapi dia tidak menemukan keberadaan istrinya disana, kemana lagi dia? Fikir Bisma.


Bisma menghembuskan nafasnya asal, kenapa perempuan itu belum juga istirahat, padahal jam sudah menunjukkan pukul 23:05.


Bismapun berniat mencari keberadaan istrinya itu dibawah.


***


Beberapa saat kemudian.


Billa terlihat sedang memakan mie instan itu dimeja makan sendirian.


Entah kenapa rasanya menjadi sangat lezat, padahal sebelumnya dia menganggap mie itu seperti cacing, ketika melihatnya saja Billa sudah merasa geli.


Mungkin karena dia sangat lapar.


Terlihat Tante Vera yang memasuki dapur, dia ingin mengambil air minum.


Tapi matanya langsung tertuju pada Billa yang sedang asik makan sendirian.


Dengan fikiran jahatnya, dia mendekati Billa, untung saja tadi dia melihat suaminya sudah tidur, jadi dengan leluasa dia bisa mengomeli Billa.


Dia mengendap-endap sebelum akhirnya menegur Billa.


"Ehem." Dehem Tante Vera.


Billa yang menyadari kedatangan seseorang sontak menoleh kearahnya.


Seketika perasaan Billa berubah menjadi tidak enak ketika mengetahui jika orang itu adalah ibu tirinya.


"Mama? Mama mau Billa buatin mie juga?" Tanya Billa yang mencoba bersikap biasa saja.


"Enak banget kamu ya. Kerjanya cuma makan, tidur. Saya itu butuh duit, kamu bisa lunasin sisa hutang kamu sekarang? Duit saya sudah habis semua dipakai berobat papa kamu. Papa kamu sakit itu kan gara-gara kelakuan kamu yang nggak bener." Balas Tante Vera.


"Tapi Billa uang dari mana ma? Billa kan udah nggak kerja sekarang." Jawab Billa.


"Ya fikirin aja sendiri gimana caranya. Oh ya, kamu kan suka jual d**i, jangan kamu simpen sendiri uangnya, saya juga kasih dong." Ucap Tante Vera.


Billa tertunduk mendengar ucapan ibu tiri itu, dia sudah sangat lelah untuk menghadapi setiap tudingan darinya.


Dia tidak perduli lagi dengan apa yang ibu tirinya itu fikirkan tentang dirinya. Biarkan saja dia lelah sendiri dan mulutnya sampai berbusa.


Billa memilih untuk diam tanpa membela diri, karena dia fikir apapun yang dia ucapkan ibunya itu tak akan pernah mau mengeri.


"Saya tau kalau jual d**i itu besar bayarannya. Jadi kamu jangan sembunyiin uangnya dari saya." Ucap Tante Vera.


Ternyata sedari tadi Bisma mendengar apa yang dikatakan ibu mertuanya itu.


Dia sangat sakit hati ketika Tante Vera menghina Billa habis-habisan dan perempuan itu hanya diam menghadapinya.


Bisma tidak bisa terima jika istri yang sangat dicintainya diperlakukan semena-mena seperti itu.


Diapun segera menghampiri keduanya.


"Ada apa ini, ma? Kenapa mama selalu menyangkut pautkan segala sesuatu yang buruk sama Billa? Billa nggak sejahat yang mama fikir. Dia perempuan baik-baik menutur saya." Ucap Bisma.


Tante Vera tersenyum sinis mendengar perkataan menantunya itu.


"Perempuan baik-baik kamu bilang? Mana ada perempuan baik-baik h***l diluar nikah?" Ucap Tante Vera, dia merasa sangat senang karena bisa memojokkan Bisma dan Billa.


Bisma terdiam mendengar perkataannya.


"Dan satu lagi, dia masih punya banyak hutang sama saya. Mau dia kerja seumur hidup jadi p*****r juga saya nggak yakin bakalan lunas." Ucapnya kemudian.


Bisma benar-benar tak habis fikir dengan perkataan yang keluar dari mulutnya, kata-kata itu sangat tidak pantas diucapkan oleh seorang ibu.


Tapi Bisma masih menghargainya sebagai orang tua Billa, dia tidak ingin meninggalkan kesan negatif lagi dikeluarga Billa.


Dia menghembuskan nafas asal menahan emosinya.


Billa benar-benar dipermalukan dihadapan Bisma, tapi Billapun sudah tidak perduli apapun yang Bisma fikirkan tentang dirinya.

__ADS_1


"Billa bakal bayar nanti, ma! Tapi mama nggak usah bicara kaya gitu." Bisik Billa pada Tante Vera.


"Maksud mama hutang apa?" Tanya Bisma sedikit bingung.


"Ya bekas biaya hidupnya selama ini lah, kamu fikir itu semua gratisan?" Balas Tante Vera.


Wajah Billa seketika bersemu merah, dia tidak bisa menyembunyikan rasa malunya.


Bisma menggeleng pelan mendengar ucapan pedas tante Vera.


"Berapa lagi sisa hutangnya?" Tanya Bisma.


Sontak tante Vera menolehnya dengan tatapan sumringahnya.


"Kenapa? Kamu mau lunasin hutangnya dia?" Tante Vera balik bertanya.


"Iya, berapa lagi sisanya?" Bisma bertanya lagi.


Billa sedikit menyenggol lengan Bisma.


"Jangan, nanti mama makin besar kepala." Bisik Billa pada Bisma yang sedari tadi berdiri disampingnya.


"Biarin aja Bill, biar dia nggak hina-hina kamu lagi. Aku yang dengernya aja sakit hati." Balas Bisma.


"Ok, ok. Gini deh, kalau kamu mau, kamu bayar 50 juta sekarang. Dan saya akan anggap semua hutang dia lunas. Gimana?" Tawar Tante Vera, wajahnya terlihat sumringah ketika mendengar kata uang.


Mata Billa seketika membulat, dia tak menyangka jika ibu tirinya itu sangat matre.


"Apa? 50 juta? Cari uang sebanyak itu nggak gampang ma!" Ucap Billa yang kaget.


"Alah, palingan kamu jual d**i sekali juga udah bisa dapetin uang sebanyak itu." Balas Tante Vera.


Dia selalu saja bisa membalas perkataan Billa dengan hinaannya.


Billa terdiam karena dia tidak bisa membela diri.


Bisma sudah sangat geram mendengarnya, dia benar-benar merasa sakit hati.


"Ok, saya akan bayar 50 juta." Ucap Bisma kemudian.


Tante Vera tersenyum lebar mendengarnya.


"Tapi dengan satu syarat." Lanjut Bisma.


"Syarat apa?" Tanya Tante Vera.


"Saya mohon jangan sekali-kali lagi mama hina Billa, saya sangat mencintai Billa. Saya nggak bisa melihat dia sedih karena hinaan dari mama." Ucap Bisma.


Jleb!


Perkataan Bisma terasa menusuk dihati Billa, dia sedikit menoleh kearah Bisma.


Terlihat mata sayu itu yang berkaca-kaca, Billa merasa sedikit kasihan ketika melihat wajah orang yang berekspresi seperti itu.


Tapi dia segera menepis perasaan itu, karena tidak seharusnya dia memiliki perasaan seperti itu terhadap Bisma.


"Ok lah, itu bisa diatur." Balas Tante Vera.


"Saya pegang kata-kata mama, kalau sampai mama hina Billa lagi, saya akan ambil paksa uang itu kembali. Besok saya transfer uangnya." ucap Bisma.


Tante Vera semakin senang mendengarnya, dia terlihat berbinar-binar akan mendapatkan rejeki nomplok.


"Ayo Bill!" Seru Bisma, dia segera meraih tangan Billa.


"Lepasin! Aku bisa sendiri!" Balas Billa.


Reflek Bisma melepaskan tangan Billa.


"Ya udah, ayo kita istirahat!" Seru Bisma.


Tanpa membalas perkataan Bisma, dia segera beranjak dari duduknya dan melangkah pergi terlebih dahulu.


Dia menjadi tidak berselera untuk menghabiskan makanannya karena ibu tirinya itu.


Bismapun mengikuti langkah Billa, meninggalkan Tante Vera yang sedang asik memikirkan seberapa banyak uang yang akan diterimanya besok.


***


Malam semakin larut, tapi Billa masih tidak bisa tidur, dia terlihat seperti cacing kepanasan yang guling-guling kesana kemari.


Perasaannya benar-benar tak karuan, dia merasa masih lapar karena tadi dia baru memakan beberapa suap.


Nafsu makannya tadi seketika hilang ketika melihat Tante Vera.


Bisma yang sudah terlelap merasa ada yang aneh, dia sedikit membuka matanya yang terasa berat.


Terlihat Billa yang sedang guling-guling tak karuan.


"Bill, kamu belum tidur?" Tanya Bisma kemudian.


Billa tak menjawab, sebenarnya dia merasa ngantuk, tapi dia tidak bisa tidur karena perutnya yang keroncongan, dia jadi kebingungan sendiri karena tidak ada makanan.

__ADS_1


"Ayo tidur! Ini udah malam." Seru Bisma.


Tiba-tiba terdengar suara perut Billa yang berbunyi.


__ADS_2