Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Bukan anak Bisma


__ADS_3

Billa membuka matanya perlahan, diapun beranjak dari tidurnya dan duduk untuk mengumpulkan nyawa. Dengan samar-samar dia melihat Bisma yang baru saja pulang dari masjid menunaikan solat subuh.


Terlihat karena Bisma masih mengenakan sarung dan peci.


"kamu udah bangun, Bill? Cepet mandi gih! Solat subuh dulu!" seru Bisma kemudian.


"ngapain kamu solat? Emang Allah bakal maafin perbuatan kamu?" tanya Billa meremehkan.


Bisma tersenyum mendengar pertanyaan Billa. Dia duduk disamping Billa.


"aku yakin kalau kita bersungguh-sungguh ingin berubah, Allah pasti akan mengampuni dosa kita dimasa lalu. Asal kita selalu percaya, berusaha dan terus berdo'a." jawab Bisma dengan diiringi senyumnya. Billa tak menjawab.


"aku percaya kalau Allah itu maha pemaaf, dia akan mengabulkan do'a setiap hambanya. Buktinya do'a aku selama ini untuk memiliki kamu terwujud." lanjutnya.


Billa menganga mendengar penuturan Bisma, dia tak menyangka jika Bisma yang menyebalkan bisa berpikiran sedewasa itu.


"udahlah, cepet kamu mandi dulu. Nanti keburu siang!" serunya kemudian.


Bisma kembali beranjak dan membuka sarungnya, membiarkan Billa berjibaku dengan pikirannya tentang Bisma.


***


Pagi-pagi sekali Papa dan Rafael sudah bersiap pergi ke rumah sakit untuk melakukan cek up.


Sedangkan tante Vera memutuskan untuk tidur lagi setelah kepergian mereka dan menyuruh Billa untuk melakukan pekerjaan rumah.


Bisma baru saja pergi untuk melihat rumah yang akan dia tempati itu sudah sampai sejauh mana pengerjaannya.


Bisma mengajak Billa untuk ikut dengannya, tapi Billa menolak karena dia harus mengerjakan semua pekerjaan rumah pagi ini.


Disaat dia sedang membereskan meja makan, dia tak sengaja menyenggol dan menjatuhkan teko yang masih berisikan air.


Seketika pecahan kaca bersatu dengan genangan air dilantai.


Billa sangat kaget ketika melihat itu, untung saja ibu tirinya masih tidur kalau tidak dia akan marah besar karena teko itu adalah oleh-oleh dari tante Windi ketika pulang dari Eropa.


Dia berpikir untuk segera membereskannya sebelum ibunya terbanguan.


Billapun bergegas menuju teras belakang untuk membawa kain pel dan pengki.


***


Tante Vera terpaksa terbangun dari tidurnya karena merasa ingin buang air kecil.


Dia berjalan dengan sempoyongan karena masih ngantuk, tapi tiba-tiba matanya menjadi terbelakak kaget ketika lantai berubah menjadi licin dan dirinya jatuh tersungkur kelantai.


Apalagi dia merasa kesakitan dibagian pantat dan telapak tangannya akibat pecahan beling yang menyatu dengan air itu melukainya.


Dia meringis kesakitan.


Billa dengan tergesa-gesa kembali dengan membawa peralatannya, dia sangat kaget ketika melihat ibu tirinya yang sudah tersungkur ditempat dia memecahkan teko tadi.


Billa merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, perasaannya mulai tidak enak.


Tante Vera melihat Billa sedang berdiri mematung sambil menatap kearahnya, seketika emosinya memuncak.


Dia pikir jika Billalah yang bertanggung jawab atas semua ini.


Sambil menahan sakit, tante Vera berusaha untuk berdiri.


"hey! Kamu!" sentak tante Vera.


Billa menggigit bibir bawahnya, tamat sudah riwayatnya kali ini.


Ibu tirinya itu pasti tidak akan mebebaskannya dengan mudah.


Billapun segera menghampirinya berniat untuk meminta maaf.


"maafin Billa, ma! Billa nggak sengaja pecahin tekonya." ucap Billa sesampainya di hadapan tante Vera.

__ADS_1


"gampang banget kamu minta maaf? Liat tangan saya, pantat saya. Ini sakit semua? Kamu sengaja mau buat saya celaka?" ucap tante Vera dengan menggebu-gebu.


Billa tercengang ketika mendengar bentakannya.


"kamu sengajakan mau balas dendam sama saya? Kamu senengkan liat saya seperti ini? Atau jangan-jangan kamu mau bunuh saya?" tanyanya dengan nada yang semakin meninggi.


"nggak gitu, ma! Mana mungkin Billa mau celakain mama? Billa minta maaf, Billa nggak sengaja beneran." ucapnya lagi.


Matanya mulai memerah, namun sebisa mungkin dia menahan air matanya agar tidak keluar.


Dia tak ingin buang-buang air matanya lagi hanya untuk hal sesepele ini.


"dasar anak k****g a**r, kamu tau ini teko asli dari Eropa? Kamu kerja seumur hidup jadi p*****r juga nggak akan bisa pergi ke Eropa dan ganti teko ini." ucap Tante Vera dengan kasarnya.


Astaga! Hanya karena sebuah benda mati, lagi-lagi Billa mendapat hinaan. Ibu tirinya selalu saja menyangkut pautkan segala sesuatu dengan kesalahan Billa yang satu itu.


Billa memberanikan diri untuk melawan perkataan ibu tirinya itu,


dia tidak perduli dengan apa yang akan dilakukan Tante Vera terhadapnya.


Kesabarannya sudah terlanjur habis, dia tak mau lagi dihina dan direndahkan.


"cukup, ma! Mama nggak bisa hina Billa lagi, teko itu nggak punya perasaan, dia nggak akan merasa kesakitan. Sedangkan Billa? Billa punya hati mah, Billa cape terus-terusan mama rendahkan seperti itu. Billa rasa mama sama seperti teko itu nggak punya perasaan, mama bukan manusia, tapi benda mati!" ucap Billa yang mencoba menyamai nada tante Vera.


Plak!


Satu tamparan mendarat dengan mulus dipipi kiri Billa.


Tante Vera menamparnya dengan sekuat tenaga, dia benar-benar marah mendapat perlawanan dari Billa, diapun tak terima disebut sebagai benda mati.


Seketika cairan bening yang sedari tadi Billa coba untuk tahan agar tidak keluar akhirnya tumpah juga.


Hatinya benar-benar sakit, ibu tirinya memperlakukannya seperti kucing liar yang berada dijalanan.


"berani kamu sekarang ngelawan saya? Mentang-mentang sekarang udah punya suami? Berani? Hah?" ucap tante Vera sambil mendorong pundak Billa kasar.


Billa merasa sangat kaget.


Biar dia merasakan bagaimana sakitnya terkena pecahan beling. pikir Tante Vera.


"aww, sakit ma!" ucap Billa reflek ketika pecahan beling itu menusuk beberapa bagian kaki dan tangannya.


Seketika air jernih yang menggenang itu berubah menjadi merah menyatu dengan darah yang keluar dari beberapa bagian tangan dan kaki Billa.


Tangisnya semakin menjadi-jadi.


Rasanya sangat perih.


"kamu rasain sendiri, apa yang saya rasain sekarang. Kalau kamu coba-coba mau celakain saya, saya akan balas kamu lebih jahat dari yang kamu lakukan." ucap tante Vera.


Billa tak menjawab, dia hanya menangis sambil menahan sakitnya terkena pecahan beling itu.


Bisma tercengang ketika melihat istrinya diperlakukan kasar oleh Tante Vera, dia melihat dengan jelas ketika Tante Vera menampar dan mendorong Billa.


Tadinya dia kembali kerumah hanya untuk mengambil ponselnya yang tertinggal, tapi Bisma malah melihat kejadian yang dia sangat tak habis pikir.


Bisma setengah berlari menghampiri Billa, dia takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan terhadap istri dan calon anaknya.


"Bill, kamu nggak apa-apa?" tanya Bisma, dia berjongkok menyamai posisi Billa, dia terlihat sangat panik ketika melihat darah Billa yang berceceran.


Billa masih menangis sambil menyusut matanya asal-asalan.


"astaga! Tangan kamu luka." ucapnya kemudian.


Bisma menoleh kearah tante Vera yang sedang menatapnya dengan tatapan masam sambil bertolak pinggang.


Bisma membantu Billa untuk berdiri.


"mama kenapa sih? Mama nggak pernah mau berubah? Kenapa mama selalu begini sama Billa? Mama bener-bener tega. Dimana hati mama?" tanya Bisma yang mencoba mengontrol emosinya.

__ADS_1


"hey! Kamu nggak lihat? Saya yang duluan dia celakain. Dia sengaja mau balas dendam sama saya." balas tante Vera.


"tapi Billa nggak sengaja ma!" ucap Billa dengan suara yang bergetar.


"alah, jangan ngeles kamu. Semua udah jelas kalau kamu itu dendam sama saya dan ini cara kamu membalaskan dendam kamu." ucap tante Vera.


"Billa nggak pernah berpikiran seperti itu, ma! Mama yang selalu berpikiran buruk tentang Billa." balas Billa.


"ma, Bisma mohon, jangan begini. Bisma nggak tega liat Billa terus-terusan diperlakukan seperti ini." ucap Bisma.


"belain aja terus perempuan g***l ini, kamu bakalan nyesel udah nikahin dia. Dia itu p*****r, yang ada diperutnya aja nggak tau anak siapa, saking banyaknya laki-laki yang dia layanin." ucap tante Vera.


Jleb!


Perkataannya sangat menusuk dihati Billa, seolah mulut ibu tirinya itu telah mencabik-cabik hatinya.


Yang tante Vera katakan itu semuanya salah, Billa bukan perempuan seperti yang dia katakan.


Billa menggelengkan kepalanya, dia sudah tidak sanggup untuk melawan semua tudingan tante Vera.


Bisma terdiam mendengar penuturannya, entah apa yang berada didalam pikirannya.


Apa dia sudah terhasut oleh perkataan tante Vera? Apa Bisma akan mempercayai semua kata-katanya dan akan membenci Billa sama seperti tante Vera?


"saya jamin kamu akan menyesal telah mati-matian belain dia, kamu akan menyesal seumur hidup kamu setelah menyadari seberapa murahannya perempuan ini." ucap tante Vera.


Bisma menarik nafasnya panjang-panjang, sedetik kemudian dia mulai menghampiri Billa dan meraih tangannya.


"kita obatin tangan kamu sekarang, ya!" ucap Bisma dengan suara lembutnya.


Billa menatapnya dengan tatapan aneh, kenapa dia tidak terpengaruh dengan perkataan tante Vera dan tetap bersikap lembut terhadapnya.


Tante Vera mendengus kesal karena Bisma tidak juga termakan dengan perkataannya, dia berpikir bagaimana cara agar Bisma membenci Billa dan membuat pernikahan mereka hancur.


"inget, yang didalam perut dia itu bukan anak kamu. Saya saranin kamu ceraikan dia secepatnya sebelum kamu lebih kecewa lagi nantinya." ucap tante Vera memprovokasi.


Billa kembali menitihkan air matanya, ibu tirinya itu benar-benar tega menghasut Bisma.


Billa merasa telah di injak-injak dihadapan Bisma, dia sangat malu.


"jangan dengerin apa yang dia bilang, ayo kita pergi!" ucap Bisma setengah berbisik kepada Billa, diapun menarik tangan Billa.


Billa segera menepis tangan Bisma.


"lepasin aku Bisma, aku nggak pantes diperlakukan gini." ucap Billa.


Bisma kembali membalikkan badannya menghadap kearah Billa.


"apa maksud kamu? Kamu jangan sampai terpengaruh sama omongan mama." balas Bisma.


"buat apa kamu bertahan? Gimana kalau seandainya yang dibilang mama itu bener? Gimana kalau anak ini ternyata bukan anak kamu?" tanya Billa dengan mata yang hampir tidak terlihat saking sembabnya.


Tante Vera tersenyum sinis mendengar penuturan Billa, akhirnya anak itu tau diri juga. pikir tante Vera.


"Nggak Bill, aku yakin itu anak aku." balas Bisma.


"tapi itu kenyataannya Bisma, ini memang bukan anak kamu. Aku juga nggak tau ini anak siapa." balas Billa, tangisnya kembali pecah setelah mengucapkan kata-kata itu.


Dia terpaksa berkata seperti itu agar Bisma tidak berharap kepadanya lagi.


Diapun menginginkan apa yang tante Vera harapkan untuk kembali berpisah dengan Bisma.


Bisma sangat tercengang dengan perkataan Billa, bagaimana mungkin perempuan itu bisa berkata seperti itu.


Padahal dengan jelas dirinyalah yang sudah merenggut kesucian Billa.


Bisma mulai meraih tangan Billa agar perempuan itu sedikit tenang.


"nggak, Bill. Aku percaya sama kamu. Itu memang anak aku." ucap Bisma.

__ADS_1


"bukan, ini bukan anak kamu. Kalau kamu percaya sama aku harusnya kamu juga percaya kalau ini bukan anak kamu." sentak Billa sambil menepis tangan Bisma kasar.


__ADS_2