
"Makasih sayang. Kamu bener-bener udah berubah sekarang. Kamu bener-bener tepatin janji kamu." Ucap Billa.
"Iya, semua berkat kesempatan yang kamu kasih buat aku." Ucap Dicky.
Dia mulai meraih kedua tangan Billa dan menciumnya dengan mesra.
"Oh ya Ky? Aku boleh tanya sesuatu nggak?" Tanya Billa, dia mulai berbicara dengan serius.
"Tentu dong sayang." Jawab Dicky.
"Apa kamu mau nikahin aku?" Tanya Billa dengan sedikit ragu.
Dicky terdiam sejenak. Seperti ada sesuatu yang mengganjal difikirannya.
"Aku pasti akan nikahin kamu. Tapi nanti. Kamu tau kan keadaan ekonomi keluarga aku kaya gimana sekarang?" Jawab Dicky.
Sekarang giliran Billa yang terdiam, dia menundukkan kepalanya.
Dicky merasa jika perempuan itu kecewa terhadap jawabannya.
"Kamu yang sabar ya! Mungkin 2 sampai 3 tahun kedepan. Seenggaknya sampai Gilsa lulus SMA dan punya kerja sendiri, buat gantiin aku jadi tulang punggung." Lanjut Dicky, Billa menoleh kearah Dicky, tampak raut wajahnya berubah mejadi sedih.
"Iya, aku ngerti. Maafin aku ya udah lancang nanya kaya gitu ke kamu." Ucap Billa, perasaannya menjadi sedikit tak enak.
Dicky tersenyum.
"Ya nggak apa-apa itu wajar kok. Kamu yang sabar ya!" Jawab Dicky.
Billa mengangguk sambil tersenyum.
"Iya Ky, aku akan nunggu kamu. Aku akan selalu sabar sampai tiba waktunya nanti kita naik pelaminan." Ucap Billa sambil tersenyum.
Dicky sedikit tertawa mendengar penuturan kekasihnya itu.
Sedari tadi Dicky tak melepaskan tangan Billa, dia terus menggenggamnya.
Tiba-tiba seorang pelayan menghampiri meja mereka.
"Permisi, mau pesen apa ya?" Tanya pelayan itu dengan ramahnya.
Dicky dan Billa yang tengah asik berceritapun menoleh kearahnya.
"Loe?" Ucap Dicky spontan, dia merasa kaget ketika melihat orang itu adalah Bisma.
Bismapun tak kalah kaget melihat dua pasangan itu ternyata adalah perempuan yang dia cintai dan mantan pacarnya dulu.
Dia tak dapat berkata, bibirnya terasa telah dibungkam paksa.
Bisma tak menyangka jika kekasih yang dimaksud Billa adalah Dicky, orang yang pernah menyakiti hatinya dulu.
Kenapa dengan mudahnya Billa kembali menerima Dicky?
Berbagai pertanyaan terus berputar diotaknya, tapi tak mungkin dia mengungkapkannya sekarang.
Billa melihat Bisma yang berdiri mematung dihadapannya sambil memperhatikan tangannya yang dipegang Dicky.
'Maafin aku ya Bis, semoga kamu ngerti. Aku nggak mau kamu terus berharap sama aku.' Ucap Billa dalam hati.
"Loe jadi pelayan disini?" Tanya Dicky kemudian.
Bisma menelan ludahnya kasar, sedetik kemudian dia mengalihkan pandangannya.
Dia berusaha untuk tetap bersikap sewajarnya.
"Ya, jadi kalian mau pesen apa?" Tanya Bisma yang mencoba tetap profesional.
"Kamu mau apa sayang?" Tanya Dicky.
"Terserah kamu aja Ky." Jawab Billa.
Hati Bisma benar-benar patah, patah untuk kesekian kalinya. Lagi-lagi rasa kecewa akan cinta kembali dia rasakan.
Dia tak sanggup untuk menanggung beban dihatinya yang begitu berat, berat untuk mengikhlaskan perempuan yang dia cintai untuk bahagia bersama orang lain.
Setelah sekian lama dia menunggu apa ini balasan yang dia dapat?
Kenapa Engkau menitipkan rasa sekuat ini jika hanya untuk membuatku terluka?
Aku tak sanggup jika harus seperti ini, aku menyerah. Berilah aku kepastian tentang semua ini.
__ADS_1
Jika memang dia bukan jodohku, kenapa Kau tak hapus saja rasa cinta ini? Mengapa cinta ini semakin menggebu yang kurasa?
***
Haripun berganti, Bisma terus berfikir. Bagaimana cara untuk mendapatkan cinta perempuan itu?
Hatinya benar-benar gelisah, kenapa dengan mudahnya Billa menerima Dicky kembali?
Bisma masih ingat betul bagaimana Dicky memperlakukan Billa dengan kasar ketika kematian Felly.
Dia sangat takut jika nantinya Dicky akan mengulangi perbuatannya dan menyakiti hati perempuan itu lagi.
Bisma tak bisa tinggal diam saja, dia memutuskan untuk menemui Billa dikontrakannya malam ini juga.
Dia sudah tak tahan dengan perasaannya yang tak menentu.
Tok... Tok... Tok...
Billa yang tengah berbaringpun segera beranjak dan membukakan pintu.
Dia berfikir jika itu adalah ibu tirinya yang ingin meminta uang.
Krek!
Billa memutar handle pintu itu.
Billa sangat kaget ketika melihat orang itu ternyata adalah Bisma bukan ibu tirinya.
"Kamu? Ngapain kesini?" Tanya Billa sedikit kaget dengan kedatangan Bisma itu.
"Aku mau bicara serius sama kamu Bill." Ucap Bisma serius.
"Bicara apa lagi sih Bisma? Semua udah jelaskan, nggak ada lagi yang perlu dibicarain antara kita. Aku udah punya Dicky, kamu jangan ganggu aku lagi!" Ucap Billa yang sudah mengerti dengan maksud Bisma.
"Ya tapi kenapa kamu semudah itu memaafkan dan terima Dicky lagi. Sedangkan aku dari dulu nggak pernah kamu kasih kesempatan?" Ucap Bisma dengan mata memerah.
Billa terdiam, dia yang melihat reaksi Bisma menjadi bingung sendiri.
"Apa kamu lupa apa yang udah dia perbuat sama kamu dulu? Kamu nggak takut disakiti lagi sama dia?" Tanya Bisma.
"Cukup Bisma! Aku percaya sama Dicky, dia udah berubah sekarang. Aku mohon jangan racuni fikiran aku buat benci sama Dicky." Sentak Billa dengan nada tinggi.
Bisma terdiam, apa yang harus dia katakan lagi untuk membuat perempuan itu mengerti akan perasaannya?
"Tapi gimana sama perasaan aku, aku cinta sama kamu." Ucap Bisma dengan suara pelan.
Billa menarik nafas sebelum akhirnya kembali berbicara.
"Aku tau kamu cinta sama aku. Aku hargai itu, tapi maaf aku nggak bisa balas perasaan kamu." Ucap Billa.
"Kamu harus bisa terima kenyataan Bisma, kamu nggak bisa paksa aku kaya gini. Sebentar lagi aku akan nikah sama Dicky." Ucap Billa berbohong.
Semoga dengan dia berbicara seperti itu Bisma akan bisa menjauh darinya.
Bisma sangat kaget, dia merasa petir telah menyambarnya dimalam hari mendengar penuturan Billa.
'Menikah?' Fikirnya.
"Kamu nggak serius kan?" Tanya Bisma tak percaya.
"Aku serius Bisma." Jawab Billa cepat.
"Kamu orang baik Bis, aku yakin kamu akan menemukan jodoh yang baik juga. Bahkan jauh lebih baik dari aku." Lanjut Billa.
"Apa yang kamu liat dari aku? Aku rasa kamu cuma terobsesi sama aku." Ucap Billa.
Bisma benar-benar tak dapat menahan perasaannya, dia menarik Billa dan membawanya kedalam pelukannya.
Billa sangat kaget dengan perlakuan Bisma, dia sedikit meronta.
"Aku mohon Bill, aku nggak tau gimana hidup aku tanpa kamu." Ucap Bisma ditelinga Billa.
"Kamu bisa hidup tanpa aku Bisma, buktinya selama ini kamu masih tetap hidup meskipun aku nggak ada." Jawab Billa.
"Nggak Bill, aku cinta sama kamu, aku mau kamu jadi istri aku." Ucap Bisma.
Billa yang mendapat perlakuan seperti itu merasa risih, dia mencoba untuk melepaskan diri.
__ADS_1
Namun Bisma tak membiarkannya terjadi. Dia semakin erat memeluknya.
"Bisma, kamu nggak bisa kaya gini. Lepasin aku." Desak Billa.
"Aku cinta sama kamu, aku nggak mau kehilangan kamu." Ucap Bisma kemudian.
"Tolong kasih aku kesempatan satu kali aja. Aku akan buktiin kalau cinta aku buat kamu lebih besar daripada dia. Aku akan buat kamu bahagia. Tolong terima aku, aku mohon!" Ucap Bisma kekeh.
"Bisma lepasin aku, malu dilihat orang nanti." Ucap Billa.
"Aku nggak perduli, biarin aku peluk kamu kaya gini!" Balas Bisma.
Billa sangat merasa kesal dengan sikap Bisma yang seperti ini.
Kenapa Bisma bersikap sangat keras kepala, Billa sama sekali tak habis fikir.
Apa yang harus dia lakukan untuk membuat laki-laki itu mengerti dan segera pergi dari sana?
Tanpa diduga, Tante Vera mendatangi kontrakan Billa. Dia begitu kaget ketika melihat Billa dan Bisma yang sedang berpelukkan.
"Hey! TERCIDUK kalian!" Teriak Tante Vera heboh.
Reflek Bisma melepaskan pelukkannya ketika mendengar itu, dia menyusut matanya asal, dia begitu terbawa perasaan.
Billa kaget dengan kedatangan ibu tirinya itu, seketika perasaannya berubah menjadi tak enak.
"Hayo ngaku kalian lagi ngapain berdua-duan malem-malem peluk-pelukkan dikontrakan kaya gini. NGAKU!" Ucap Tante Vera dengan nada tinggi.
Bisma merasa sangat bersalah karena telah lancang memeluk perempuan itu dan membuat dia berada dalam masalah.
"Jangan-jangan kalian udah..." Ucap Tante Vera menggantungkan ucapannya.
"Apa sih mah, fikiran mama itu kejauhan." Ucap Billa membela diri.
"Udahlah, nggak usah ngeles, udah kepergok juga. Emang ya kalau buah itu jatuh nggak jauh dari pohonnya. Emak sama anak sama aja, sama-sama murahan, gampangan, nggak tau malu, mikir dong ini tempat apa." Ucap Tante Vera dengan menggebu-gebu.
Billa sangat sedih mendengar perkataan itu, memang ibu tiri sangat kejam. Tak ada habisnya kata untuk menghina dirinya dan ibunya.
Bisma yang melihat perubahan wajah Billa mengerti jika perempuan itu sakit hati.
"Maaf tante, kayanya tante salah faham. Aku datang kesini karena ada tugas kerja. Tante jangan berfikir yang aneh-aneh." Ucap Bisma mengeles.
"Alah, mana ada tugas kerja peluk-pelukkan? Saya nggak bodoh ya! Dari awal saya udah duga kenapa kamu ngotot bangen pengen ngontrak. Ternyata biar kamu bebas ya bawa masuk laki-laki kesini. Ayo ngaku udah berapa banyak laki-laki yang kamu bawa kemari?" Tanya Tante Vera. Dia merasa menang karena dapat memojokan Billa.
Seketika air mata Billa menetes, dia sangat sedih mendapat tuduhan seperti itu, dia tak tau harus dengan bahasa apa dia bicara agar membuat ibu tirinya itu mengerti.
"Tante nggak bisa sembarangan nuduh Billa seperti itu! Billa itu perempuan baik. Tante nggak bisa fitnah kaya gitu. Itu sama aja tante hina diri tante sendiri." Ucap Bisma dengan lantang.
Tante Vera tertawa mendengar ucapan Bisma.
"Tau apa kamu? Jangan ikut campur urusan keluarga saya! Anak bau kencur sok sokan nasehatin saya. Hey, denger ya saya itu tau dia dari kecil. Saya tau bener dia itu sama kaya ibunya. MURAHAN." Ucap tante Vera yang menekan kata murahan.
"Cukup Ma! Aku nggak seburuk yang mama fikir. Mama nggak malu apa bicara kaya gitu? Apapun yang aku bilang mama pasti nggak akan pernah mau ngerti. Percuma aku ngomong sama mama. Lebih baik kalian pergi dari sini sekarang! Aku cape!" Ucap Billa disela tangisnya.
Bisma sungguh tak tega dengan Billa, dia merasa sangat bersalah, bagaimanapun juga dialah yang sudah membuat semua ini terjadi, dia benar-benar tak bisa menahan perasaanya.
Tanpa berfikir panjang Billa segera pergi menghindari mereka.
Billa benar-benar muak menghadapi kedua orang itu.
Brak!
Billa membanting pintu dengan sangat keras. Bisma dan tante Vera dibuat kaget olehnya.
"Ehh tunggu dulu, mana duit saya?" Tanya Tante Vera sambil berteriak. Billa tak menggubrisnya, dia sudah terlanjur sakit hati.
"Kenapa sih tante selalu aja hina Billa? Apa salah dia?" Tanya Bisma.
"Salah dia apa? Kamu masih nanya? Kesalahan paling fatal adalah dia lahir kedunia ini. Gara-gara dia saya menderita. Gara-gara dia saya hampir kehilangan suami saya, saya selalu bertengkar dengan suami saya gara-gara dia." Ucap Tante Vera. Dia melipat kedua tangannya didada.
"Tapi itu bukan kesalahan Billa, itu kesalahan suami tante, ibu Billa dan Tante sendiri." Jawab Bisma.
"Apa kamu bilang? Saya? Tau apa kamu tentang saya? Udahlah, nggak akan nyambung ngomong sama kamu. Pergi sana!" Ucap Tante Vera mengusir Bisma.
"Ya udah tante, saya permisi!" Seru Bisma kemudian.
Diapun berlalu meninggalkan kontrakan Billa.
Lag-lagi dia tidak mendapatkan jalan keluar dari masalah yang dia hadapi, justru masalah baru yang datang.
__ADS_1
Tante Vera menatap kepergian Bisma dengan sinis.
***