Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Pengakuan Bisma yang tidak digubris Billa


__ADS_3

"Itu si Dicky kan? Apa gue nggak salah liat dia sama Fely?" Ucap Bisma.


Dia sedikit tak percaya, dia harus segera memastikan dan langsung menghampiri keduanya.


"Jadi ini yang loe lakuin dibelakang dia?" Ucap Bisma.


Dicky merasa sangat terkejut dengan kedatangan Bisma, Dicky merasakan feeling tak enak ketika melihatnya.


Felly mengernyitkan dahinya, dia sedikit kaget karena dengan tiba-tiba Bisma menghampirinya dan berbicara seperti itu. Dia tak mengerti dengan apa yang Bisma katakan.


Dicky terlihat gelagapan telah diciduki Bisma, dia takut jika Bisma akan bicara yang sebenarnya kepada Felly.


"Ini ada apa sih?" Tanya Felly.


"Iya, loe ngomong apa sih? Nggak jelas banget." Ucap Dicky sedikit ngeles.


"Alah, udah deh nggak usah ngeles lagi, loe itu udah ketauan busuknya. Apa loe lupa yang loe bilang sama gue?" Ucap Bisma dengan amarahnya.


"Iya, tapi maksud kamu apa? Coba jelasin pelan-pelan. Jangan emosi kaya gini." Ucap Felly dengan kedewasaannya.


Dari kejauhan Billa melihat Bisma, Dicky dan Felly yang sedang berbincang.


Seketika perasaannya berubah menjadi tak enak, dia merasa mereka bukan tengah berbincang biasa, dia fikir sesuatu yang buruk akan terjadi.


Tanpa berfikir lagi dia setengah berlari menghampiri mereka.


Semoga tak terlambat. Fikirnya.


"Loe udah dibohongin sama cowo ini, sebenernya dia pac..." Ucap Bisma yang terpotong karena tiba-tiba Billa datang dan menyela perkataannya.


"Ehh, ada kamu juga Bisma. Jadi rame banget ya disini." Ucap Billa sambil cengengesan.


Dicky menghela nafas, dia masih diberi keberuntungan. Sandiwaranya dapat terselamatkan, untung saja Billa segera datang.


"Aku pinjem dulu ya Bismanya. Bye!" Ucap Billa sambil menarik tangan Bisma untuk menjauh dari Dicky dan Felly.


"Apa sih maksudnya si Bisma itu?" Tanya Felly yang tak habis fikir dengan perkataan Bisma.


"Nggak tau, dia emang orangnya nggak jelas." Ucap Dicky.


"Udahlah jangan difikirin! Ayo aku antar kekelas kamu!" Elak Dicky, kemudian dia menggandeng tangan Felly.


Felly sedikit bingung, tapi dia tak ingin ambil pusing. Dia kembali tersenyum dan mengikuti langkah Dicky.


***


Billa sengaja membawa Bisma untuk menjauh dari Felly dan Dicky, dia takut Bisma akan berbicara yang tidak-tidak.


Dia benar-benar kesal kepada Bisma.


Bisma balik menarik tangan Billa yang memegangi tangannya. Billa sedikit kaget dibuatnya.


"Kamu kenapa?" Tanya Bisma.


"Kamu yang kenapa? Kamu mau hancurin semua yang udah aku sama Dicky buat cape-cape selama ini?" Tanya Billa dengan kasar.

__ADS_1


"Maksud kamu apa?" Tanya Bisma tak mengerti.


"Kamu nggak perlu ngerti apa yang aku sama Dicky lakuin, yang harus kamu lakukan adalah tutup mulut tentang hubungan aku sama Dicky. Dan kamu jangan ganggu hubungan mereka, biarin Felly bahagia sama Dicky." Ucap Billa kemudian.


Bisma semakin bingung dengan perkataan Billa.


"Apa kamu udah putus sama Dicky?" Tanya Bisma.


"Aku sama Dicky nggak putus, kita backstreet dari Felly." Jawab Billa.


"Kamu korbanin perasaan kamu demi Felly?" Tanya Bisma.


"Ya, aku nggak tega liat Felly yang mohon-mohon sama aku." Jawab Billa.


Bisma melihat perubahan wajah Billa yang tadinya dia marah kini terlihat menjadi sedih.


"Kenapa kamu cinta sama Dicky, padahal ada seseorang yang tulus cinta sama kamu." Ucap Bisma dengan tatapan yang serius.


"Siapa?" Tanya Billa.


"Aku. Aku cinta sama kamu." Ucap Bisma. Billa menyunggingkan sudut bibirnya mendengar penuturan Bisma.


"Tapi aku udah punya pacar Bisma, ya meskipun kita backstreet. Jawab Billa.


"Aku nggak apa-apa kok jadi selingkuhan kamu juga, aku mau." Ucap Bisma meyakinkan.


"Ngaco kamu Bisma." Balas Billa, dia tak ingin lebih lama berbincang dengan Bisma, dia tak ingin membuat Bisma berharap kepadanya.


Billa meninggalkan Bisma yang menunggu jawaban darinya.


Billa tak menggubrisnya, dia akan merasa bersalah jika terus berhadapan dengan Bisma.


Bisma tersenyum tak jelas, dia menepuk jidatnya, dia merasa dia adalah manusia paling bodoh dimuka bumi ini.


***


Malam minggu terasa begitu kelabu, seharusnya bagi perempuan yang telah memiliki kekasih akan menjadi momen yang paling ditunggu-tunggu.


Namun tidak dengan Billa, menurutnya malam apapun tetap sama, tak ada bedanya dan tak ada yang spesial.


Rafael menemui Billa dikamarnya, dia melihat adik tirinya itu tengah bermalas-malasan.


"Bill, kamu lagi apa sih? Nggak enak banget Coco liatnya." Ucap Rafael.


"Ya gini deh." Balas Billa sekenanya.


"Dari pada kamu ngelamun-ngelamun nggak jelas mending ikut Coco yuk! Kita dinner diluar." Ajak Rafael.


"Nggak Co ahh, nanti mama marah lagi." Tolak Billa.


"Mama nginep dirumah Tante Windi, pokoknya nggak ada alasan lagi. Coco tunggu kamu setengah jam lagi dibawah!" Ucap Rafael sedikit memaksa.


Rafael kemudian melangkahkan kakinya pergi.


"Tapi Co?" Ucap Billa, namun Rafael telah berlalu, dia menutup kembali pintu kamar Billa.

__ADS_1


Mau tak mau Billa segera bersiap-siap untuk menuruti permintaan kakak tirinya itu.


***


Rafael dan Billa memasuki sebuah kafe yang cukup ramai, Billa memperhatikan sekitar. Terlihat beberapa pasangan yang juga hendak memasuki kafe itu.


"Kita ngapain kesini sih Co?" Tanya Billa.


"Kamu nggak gaul banget sih, ini tempat lagi ngehits tau." Jawab Rafael.


Billa hanya manggut-manggut saja.


"Kalau aja aku datang kesini sama Dicky." Ucap Billa dalam hati.


"Kamu kenapa? Ayo masuk!" Seru Rafael.


Billa menggeleng pelan, kemudian dia mengikuti langkah Rafael.


Mereka duduk disalah satu meja.


"Ini kafe unik banget lho Bill, setiap malam minggu selalu ngadain konser mini. Yang ngisi acaranya juga keren-keren." Ucap Rafael. Billa hanya manggut-manggut saja.


Tak berapa lama kemudian datang seorang laki-laki menghampiri mereka.


"Hai Raf, gimana jastip loe yang kemaren?" Tanya Rangga.


"Wah, gue puas banget Ga, barangnya bener-bener keren. Temen kantor gue juga pada ngiler liatnya, pada kepengen katanya. Tapi mereka nggak nemu dionline juga belum ada yang jual." Ucap Rafael antusias.


"Jelas lah, itukan limitid edition cuma ada di Belanda." Jawab Rangga.


"Jadi gimana trip berikutnya loe siap gabung kan?" Tanya Rangga.


Billa merasa menjadi obat nyamuk disana, apa lagi kakaknya dan Rangga berbincang dengan sangat akrabnya.


Dia sangat bosan dengan suasana disana. Dia hanya membolak balik buku menu, namun tak juga mendapat makanan yang sesuai.


Billa tak mengerti dan tak mau mengerti dengan apa yang Rafael dan Rangga bicarakan.


"Ehh, gue pinjem Rafael sebentar ya!" Pinta Rangga.


"Oh, ya udah. Tapi jangan lama ya." Ucap Billa.


"Nggak akan, kamu pesen aja duluan. Sekalian pesenin Coco ya!" Ucap Rafael yang kemudian mengikuti Rangga.


Billa hanya mengangguk, dia kembali sibuk dengan buku menu itu.


Tak berapa lama kemudian seorang pelayan menghampiri meja Billa.


"Silahkan mau pesen apa mba?" Tanya pelayan itu pada Billa yang tengah sibuk tak karuan dengan buku menu.


Tapi tunggu...


Sepertinya Billa mengenali suara itu.


Billa sedikit menoleh kearahnya.

__ADS_1


"Bisma?" Ucap Billa reflek.


__ADS_2