Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Bisma telah tiada


__ADS_3

Siang ini Billa memasak banyak sekali makanan kesukaan Bisma, rasanya dia sangat bersemangat melakukan aktifitas apapun, pasalnya dia merasa hidupnya sangat lengkap, dia beruntung karena telah dipertemukan dengan keluarga yang selama ini jauh darinya.


Bip.. Bip...


Tiba-tiba ponselnya berbunyi, Billa yang sedang mengiris bawangpun langsung meraih ponselnya lalu meletakkannya diantara pundak dan telinganya, sedangkan tangannya tidak berhenti mengiris bawang.


"halo." ucap Billa.


"ya, hallo. Apa benar ini dengan keluarga dari tuan Bisma?" tanya seseorang itu dari sebrang sana, terdengar seperti suara seorang perempuan.


Deg!


Tiba-tiba saja perasaan Billa berubah menjadi tidak enak ketika mendapat pertanyaan seperti itu.


"ya, saya istrinya." jawab Billa.


"Oh ya, saya hanya ingin mengabarkan kalau tuan Bisma baru saja mengalami kecelakaan, kondisinya kritis saat ini. Mohon kehadirannya untuk mengurus administrasi pasien." Ucap perempuan itu kemudian.


Astaga!


Tiba-tiba saja pisau yang Billa gunakan untuk mengiris pisau malah mengiris tangannya, Billa sangat kaget dengan apa yang disampaikan orang itu.


Billa menyusutkan tangannya pada dress putih yang dia kenakan, sehingga dress putih itu berlumur darah Billa yang merah segar.


Jantungnya terasa berhenti berdetak, nafasnya terasa habis untuk dia hembuskan, dia merasa panik, tak disangka ini adalah kabar paling buruk yang pernah dia dengar.


"halo, nona?" ucap orang itu.


"ya, jadi dimana Bisma sekarang?" tanya Billa yang terdengar gemetar.


"diklinik pindad, nona." jawab orang itu.


"ya, saya kesana sekarang." ucap Billa lalu kemudian mengakhiri panggilannya, tanpa memikirkan apapun lagi Billa langsung berlari keluar, perasaannya benar-benar tak tenang ketika mendapat kabar itu.


Untung saja ada sebuah taksi yang kebetulan lewat, Billapun langsung menyetopnya.


...Didalam taksi, Billa benar-benar tidak bisa diam, dia gelisah tak menentu memikirkan tentang Bisma yang entah bagaimana keadaannya sekarang, dia terus berpikiran yang tidak baik tentang saat ini, dia tidak bisa membayangkan betapa kesakitannya Bisma sekarang, apa dia akan sanggup melihat Bisma yang berada dalam keadaan kritis?...


Astaga!


Pikiran Billa benar-benar kacau saat ini.


"pak, lebih cepat lagi!" seru Billa.


"baik, nona." sahut supir taksi itu.


Billa masih saja berharap cemas, tak berselang lama taksi itupun berhenti tepat didepan sebuah tempat yang didepannya bertuliskan KLINIK PINDAD.


Billa segera turun setelah membayar ongkos taksi itu, dia dengan tergesa-gesa memasuki klinik itu.


Seorang perawat berjalan tepat dihadapannya, Billa langsung menegur perawat itu.


"maaf, dimana suami saya?" tanya Billa dengan nafas yang tidak beraturan.


"siapa nama suami nona?" tanya perawat muda itu.


"emm, Bisma." jawab Billa cepat.


"nona ini siapanya ya?" tanya perawat itu lagi.


"saya istrinya, tadi pihak dari klinik ini mengubungi saya tentang kecelakaan yang suami saya alami." jawab Billa.


"ohh, silahkan ikut saya!" seru perawat itu, Billapun mengikuti langkah perawat itu.


Langkah mereka terhenti tepat didepan sebuah ruangan yang cukup luas, pintu ruangan itu sedikit terbuka.


"tuan Bisma berada didalam, tapi saya harap nona tidak kaget dengan keadaannya saat ini." ucap perawat itu yang kemudian pergi.

__ADS_1


Billa mengerutkan keningnya tanda tak mengerti dengan perkataan perawat itu, separah apa keadaan Bisma sampai-sampai Billa harus kaget dengan kondisinya?


Billa memasuki ruangan itu dengan langkah yang sangat pendek, dia sedikit ragu untuk menemui Bisma, apa dia akan sanggup melihat Bisma yang kesakitan?


Deg!


Langkah Billa terhenti ketika melihat sehelai kain putih yang menutupi seluruh tubuh seseorang yang kaku diatas sebuah kasur klinik itu.


Seketika kaki Billa terasa lemas, kenapa Bisma meninggalkannya secepat ini?


Air matanya mulai menetes, mengalir diantara kedua pipinya.


Sedetik kemudian dia berlari menghampiri orang yang sudah terbujur kaku itu sambil menangis, dia langsung mendekapnya, berharap semua ini hanya sebuah kesalahan.


Dia sangat menyesal karena sudah menyia-nyiakan dan mengabaikan Bisma selama ini.


"Bisma, bangun! Maafin aku." ucap Billa disela tangisnya.


"Bisma aku mohon bangun, kamu nggak bisa tinggalin aku secepat ini. Aku sama anak kita butuh kamu." Billa semakin kuat saja mendekap mayat itu.


"Bisma, bangun! Aku sayang sama kamu, aku cinta sama kamu. Jangan tinggalin aku." Billa terus saja meraung-raung tak karuan.


"aku sayang sama kamu." tangis Billa semakin kencang saja terdengar, dia menangis sambil terus mengulang kata-kata cintanya untuk Bisma.


Namun itu semua hanya akan sia-sia, Bisma tidak akan pernah kembali lagi kepadanya karena memang waktunya sudah habis.


Astaga!


Bisma benar-benar telah tiada, apa tidak ada lagi kesempatan untuk Billa memperbaiki kesalahannya, Billa sangat menyesal karena dia belum sempat membalas cinta Bisma yang sangat tulus terhadapnya.


"Bisma bangun! Aku sayang sama kamu." teriak Billa tak karuan.


"Kamu nggak bisa kaya gini Bisma, kamu harus bangun dan tanggung jawab atas semua perbuatan kamu ke aku. Aku nggak akan maafin kamu kalau kamu nggak bangun." ucap Billa yang terus menangis.


"sayang!" seru seseorang dari balik tirai yang berada disebelahnya.


Billa sangat hafal dengan suara itu, suara serak basah yang khas, itu suara Bisma, Billa menyusut pipinya asal lalu menoleh kearah mayat yang sedari tadi dia tangisi.


Tidak ada pergerakkan sama sekali.


'Apa aku halusinasi?' pikir Billa.


"sayang, kamu kenapa?" suara itu kembali memanggilnya.


Sontak Billa menoleh kesamping, tempat suara itu berasal.


Astaga!


Billa melihat Bisma yang sedang terduduk ditepi kasur itu sambil menahan tirai yang menjadi penghalang.


"Bisma, kamu nggak mati?" tanya Billa, dia terlihat seperti orang bodoh.


"ya nggaklah sayang, ini aku." jawab Bisma sambil cekikikkan, dia berdiri untuk menyamai posisi Billa.


Billa menoleh kearah mayat itu, lalu siapa yang sedari tadi dia tangisi itu? Billa sedikit membuka kain putih yang menutupi wajah orang itu, Billa sangat kaget ketika melihatnya, dengan cepat Billa menutupnya kembali.


'astaga, jadi dari tadi aku salah nangisin orang.' gumam Billa dalam hatinya, Billa terdiam, dia masih terlihat syok dengan kejadian ini, semua ini terjadi dengan sangat cepat.


"kenapa? Kamu mikir apa?" tanya Bisma lagi.


Billa menggigit bibir bawahnya, kakinyapun masih terasa gemetar.


"kamu nggak kenapa-napa?" tanya Billa kemudian.


"nggak sayang, kamu liat sendiri, kan? Cuma lecet-lecet sedikit aja. Kamu nggak usah khawatir" balas Bisma sambil menunjukkan sikut dan betisnya yang memar sudah terbungkus perban.


"tapi kata perawat tadi?" tanya Billa menggantung.

__ADS_1


"apa kata perawatnya?" Bisma balik bertanya.


"katanya kamu kecelakaan dan keadaan kamu kritis, aku pikir itu kamu." jawab Billa.


Bisma tertawa mendengar penuturan Billa.


"kenapa kamu ketawa?" tanya Billa.


"nggak, ya lucu aja. Kamu nangisin aku kaya gitu tadi, sambil bilang kalau kamu sayang sama aku." ucap Bisma terkekeh geli.


Astaga!


Pipi Billa langsung bersemu merah, dimana dia harus menyembunyikan wajahnya sekarang?


"aku nggak bilang gitu, mungkin kamu salah denger." balas Billa sambil menunduk malu.


"aku nggak salah denger, aku jelas banget denger kamu bilang gitu." ucap Bisma.


"nggak." elak Billa cepat.


Bisma menghembuskan nafasnya asal menghadapi sikap Billa yang keras kepala.


"ya udah, kalau kamu nggak sayang sama aku, mendingan aku mati aja bareng dia." ucap Bisma, dia mulai rebahan disamping mayat itu.


"Bisma, jangan!" seru Billa, dia menarik tangan Bisma agar Bisma kembali berdiri.


"ya buat apa hidup kalau kamu nggak sayang sama aku." ucap Bisma sedikit menggoda.


"iya, aku sayang sama kamu." ucap Billa kemudian, suaranya yang kecil hampir tidak terdengar, tapi Bisma masih bisa mendengarnya karena jaraknya yang sangat dekat.


"apa? Aku nggak denger." tanya Bisma berpura-pura.


"ihh, kamu ngeselin." Billa dengan sengaja mencubit perut Bisma.


"aww, sakit sayang!" Bisma sedikit meringis.


"kamu jahat Bisma." seru Billa.


"iya, aku minta maaf, aku juga sayang sama kamu." balas Bisma, dia membawa Billa kedalam pelukannya agar perempuan itu sedikit tenang.


Billa tidak menolaknya.


"tadi kamu mau kemana memangnya?" tanya Billa.


"tadi aku mau kekantornya Rafael buat minta sim sama ktpnya Veni, ehh nggak taunya ada insiden kecil ini." jawab Bisma, Billa tidak menjawab, dia mengatur nafasnya yang yang tak beraturan.


"Bill!" ucap Bisma lirih.


"apa?" tanya Billa.


"makasih ya udah khawatir sama aku, aku mau sakit biar dikasih perhatian sama kamu." balas Bisma.


"kamu nggak boleh sakit Bisma, kalau kamu sakit siapa yang jaga aku sama anak kita nanti?" tanya Billa.


Bisma tersenyum mendengarnya.


"iya, aku janji aku nggak akan sakit." jawab Bisma.


"kita pulang sekarang, ya!" seru Bisma.


"memangnya kamu udah diizinin pulang?" tanya Billa.


"udah, cuma lecet gini aja. Tinggal kita urus biaya admnya." jawab Bisma.


Bisma terus tersenyum, dia sangat bahagia karena akhirnya dia mendapatkan cinta dari perempuan yang sangat dia cintai.


Dia tak menyangka jika dibalik peristiwa ini ternyata ada hikmahnya juga, Billa mau mengakui perasaannya.

__ADS_1


***


__ADS_2