Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Monopoli


__ADS_3

Veni sangat kesal karena sedari tadi dia disuruh untuk memotret Bisma dan Billa, berbagai macam gaya Bisma dan Billa tunjukkan, dari mulai Bisma yang memeluk Billa, Bisma mencium Billa, sampai dia menggendong Billa, terlihat sangat romantis, Veni sengaja memotret mereka dengan asal-asalan karena merasa iri.


Lionapun mengikuti Veni, memotret kedua pasangan sweet itu menggunakan ponsel miliknya sendiri.


"apa-apaan sih ini? Kalian mau ngerjain gue?" tanya Veni yang sudah mulai habis kesabaran.


Dia melempar ponsel Bisma asal, untung saja dengan sigap Bisma menangkapnya hingga ponsel itu tidak terjatuh.


"kenapa? Kamu mau foto juga? Katanya kamu udah bosen sama tempat ini?" tanya Billa yang terkesan mengejek.


Bisma cekikikan melihat Veni yang kalah telak dengan perkataan Billa.


'ternyata dia bisa bersikap menyebalkan juga.' pikir Bisma.


"ohh, loe mau foto juga? Ayo!" seru Bisma yang langsung menghampiri Veni, dia dengan sengaja merangkul pundak Veni dengan sangat kencang.


Veni sedikit kaget dengan apa yang dilakukan Bisma, seketika jantungnya berdebar tak beraturan melihat tangan Bisma yang melingkar dipundaknya.


Cekrek!


Bisma memotret dirinya dan Veni, terlihat Bisma yang menunjukkan deretan giginya, sedangkan Veni dengan ekspresi kagetnya.


Tapi Veni juga merasa sebal karena Bisma memperlakukannya dengan kasar.


Veni berusaha melepaskan tangan Bisma, tapi Bisma semakin kuat mencekamnya.


'apa sih maksudnya?' tanya Veni dalam hati.


Cekrek...


Bisma kembali memotret, dia memperlihatkan senyum termanisnya, sedangkan Veni terlihat sangat kesal dengan perlakuan Bisma.


Billa sama sekali tidak merasa cemburu, malahan dia menertawakan kelakuan suaminya yang memang suka jahil itu.


Lionapun ikut-ikutan tertawa.


"udah, stop! Loe sengaja ya bikin gue kesel?" ucap Veni sambil menghempaskan tangan Bisma kasar.


"bukannya loe pengen foto bareng gue, kan?" tanya Bisma.


"idih, kepedean loe." sahut Veni sambil melipat kedua tangannya.


"ya udah udah, kita selfi berempat ya sekarang!" ucap Billa melerai pertengkaran mereka.

__ADS_1


Merekapun ambil posisi, tapi Veni masih dengan ekspresi kesalnya.


"ciiiis." ucap Billa, Liona dan Bisma sambil menunjukkan deretan gigi.


Satu fotopun berhasil diambil dengan bantuan alat yang bernama tongsis itu.


"aduuuh!" ringis Veni, dia terlihat memegangi perut ratanya.


"loe kenapa kak?" tanya Liona sedikit khawatir.


"perut gue sakit banget." jawab Veni.


"makan apa kamu tadi Ven, kok bisa sakit perut gitu?" tanya Billa.


"makan hati kali." jawab Bisma yang langsung ditertawawakan oleh Liona.


Billa mencubit pinggang Bisma sehingga pemiliknya meringis kesakitan dengan manja, membuat Veni semakin sebal melihatnya.


"aduh sakit sayang." Bisma meringis manja.


"yaudah kita pulang sekarang aja ya Ven, sebentar lagi juga mau gelap." ucap Billa.


Veni nyelonong pergi duluan tanpa menunggu yang lain, karena sudah tidak tahan dengan rasa sakit siperutnya.


***


Liona mengak Bisma dan Billa untuk bermain monopoli bersamanya, permainan masa kecilnya yang masih saja sering dia mainkan bersama anak tetangga.


Mama Dinarpun jadi ikut-ikutan main setelah melihat keseruan mereka. kini keempatnya duduk dihadapan kertas berbentuk segi empat itu.


Kali ini giliran Liona yang mengocok dadu, dia mendapatkan angka 3 dan 4 dari kocokan itu.


"satu, dua, tiga, empat, lima, enam... Oh no!" Liona mulai menghitung dan orang-orangan yang dia mainkan tepat menginjak di dinegara milik Billa.


"haha, kamu harus bayar 150.000 sama kakak." ucap Billa yang merasa puas karena dirinya menjadi orang yang paling kaya diantara ketiganya.


Dengan terpaksa dan berat hati Lionasa memberikan uangnya kepada Billa, itu membuat uangnya semakin sedikit.


"sudahlah Li, namanya juga permainan." ucap mama Dinar yang melihat kekesalan Liona.


"sekarang giliran aku." ucap Bisma dan mengambil alih kocokan dadu dari Liona.


Mereka terhanyut dalam keseruan permainan itu, sementara Veni merasa sangat lemas karena sedari tadi dia bulak-balik ke kamar mandi, entah apa yang dia makan tadi sehingga perutnya terasa melilit.

__ADS_1


Mama Dinar harus mengakhiri permainan yang sedang seru-serunya karena Liona sudah benar-benar bangkrut dan jadi bahal olok-olokan, tapi Liona tidak berkecil hati, dia bertekad untuk bangkit, tapi mama Dinar dipanggil oleh om suryo keruang kerjanya, entah untuk apa.


"yah, mama udah mau bangkrut malah kabur." ucap Liona saat mama Dinar berlalu pergi.


Tapi mama Dinar tidak mengindahkan ucapan Liona karena pasti ada sesuatu yang penting yang ingin suaminya bicarakan.


"yah, kurang satu orang nih, gimana dong?" ucap Billa yang masih menduduki orang terkaya disana.


Tiba-tiba Veni berjalan mendekat kearah mereka, wakahnya terlihat sangat lemas, niatnya sih untuk pergi kedapur untuk mengambil minum karena merasa sangat haus setelah banyak mengeluarkan cairan.


"ehh, ehh, kak. Ayo terusin orangnya mama!" seru Liona saat melihat keberadaan Veni.


"ogah, gue lemes banget." ucap Veni.


"ayolah Ven, lagi seru nih. Loe gabung ya!" ucap Bisma, ketika Bisma yang memintanya, entah kenapa Veni jadi mau ikut gabung bersama mereka.


Veni mengocok dadu dengan tangan lemasnya, merekapun silih bergantian mengocok dadu.


Billa terlihat antusias sekali memainkannya, sesekali Bisma memperhatikan Billa yang tertawa menyeringai manakala mendapatkan uang dari Liona atau Veni.


"ayo giliran kak Bisma." tapi Bisma malah keasikan memperhatikan Billa sehingga dia tidak sadar sekarang gilirannya.


"ayo Bisma, kamu kenapa jadi bengong gitu sih?" ucap Billa yang langsung membuyarkan lamunannya tentang istri yang baru mencintainya itu.


"ehh, iya." ucap Bisma reflek. Diapun mulai mengocok dadunya.


Permainan berjalan dengan begitu sengit, Veni yang awalnya hampir bangkrut, malah jadi orang paling kaya sekarang, bahkan beberapa perusahaan yang Billa miliki harus dia jual kepada Veni untuk membayar denda.


"hah, sekarang loe bayar 150 ribu, karena menginjak negara milik gue." ucap Veni kegirangan. lagi-lagi Bisma harus menyerahkan uangnya, sekarang malah dia yang hampir bangkrut dibuat Veni.


Memang permainan yang membuat lupa waktu, tak terasa jam sudah menunjukkan pukul 11 malam, Billa dan Bisma sudah tidak punya apa-apa sekarang, mereka bangkrut, Lionapun hanya memiliki uang seribuan dan lima ribuan, semua uang sekarang dimiliki oleh Veni yang berhasil mengalahkan mereka.


Billa terlihat sudah tidak sesemangat sebelumnya, dia menopang dagu diatas tangan sambil sesekali manggut-manggut, dia sudah merasa ngantuk sekarang. Lionapun terlihat sudah menguap beberapa kali, Bisma yang melihat Billa seperti itu, mengajaknya untuk segera pergi tidur.


"Bill, kita tidur sekarang ya!" ucap Bisma , Billa hanya mengangguk.


"ehh, mau kemana loe? Loe nggak bisa kabur, tadi aja maksa-maksa gue buat ikut main." ucap Veni yang tidak terima permainannya akan berakhir disaat dirinya sudah mulai kaya.


"udahlah kak, kita tidur sekarang. Gue juga udah ngantuk banget nih." ucap Liona dengan mata lima wat nya.


"nggak bisa, baru juga jam 12, ayo kita main sebentar lagi!" seru Veni dengan geramnya, Bisma, Billa dan Liona beranjak untuk pergi.


"udahlah Ven, kita lanjutkan besok lagi.!" ucap Bisma, merekapun pergi meninggalkan Veni yang marah-marah tak jelas.

__ADS_1


"sialan kalian, giliran udah gue kalahin malah kabur. Cemen loe semua." ucap Veni dengan menggebu-gebu melihat kepergian mereka.


Dasar Veni ini, tadi saja menolak ikut bermain, tapi akhirnya dia yang tidak terima permainannya harus berakhir.


__ADS_2