Takdir Membawa Cinta

Takdir Membawa Cinta
Rafael kasihan terhadap Veni


__ADS_3

"Bisma." ucap Billa lirih.


"ya?" sahut Bisma.


"tadi kenapa kamu bisa jatuh dari motor?" tanya Billa.


"aku nggak konsen nyetirnya, soalnya aku mikirin kamu terus." jawab Bisma sambil tersenyum kearah Billa.


"kamu itu ditanya serius jawabnya gitu." balas Billa.


"udahlah, lupain aja, lagian aku nggak kenapa-napa ini, kan?" ucap Bisma.


"terus, soal permintaan Veni gimana?" tanya Billa.


"nanti aku coba bilang sama Veni buat sabar dulu, karena aku berencana buat nemuin Rafael besok." jawab Bisma.


Billa hanya manggut-manggut saja.


Bisma melihat telunjuk Billa yang dibalut dengan plester, dia reflek meraih tangan Billa, Billa sedikit kaget karena dengan tiba-tiba Bisma meraih tangannya.


"ini kenapa?" tanya Bisma, Billa langsung menarik tangannya.


"nggak kenapa-napa." jawab Billa.


"ayo cerita sama aku!" seru Bisma.


"cerita apa? Orang nggak ada apa-apa juga." balas Billa.


"mulai sekarang kamu harus cerita apapun yang terjadi sama kamu, sekecil apapun kejadian itu, itu sangat penting menurut aku." ucap Bisma.


"ya, tadi tangan aku keiris pisau waktu denger kabar kamu kecelakaan." jawab Billa akhirnya.


"berarti aku yang udah bikin tangan kamu kaya gini. Maafin aku, ya." ucap Bisma.


"nggak Bisma, ini karena kecerobohan aku." balas Billa sambil tersenyum kearah Bisma.


Astaga!


Senyum itu, Bisma merasakan suatu kedamaian ketika melihat senyuman itu, senyuman yang selalu dia rindukan, akhirnya mengembang juga dibibir perempuan yang sangat dicintainya itu.


***


Sepulangnya dari kantor, Veni sengaja menunggu didepan gedung yang tepat berada disamping kantornya itu.


Dia menunggu Rafael yang tak kunjung keluar dari sana, dari percakapannya dengan teman-temannya tadi siang dia menyimpulkan kalau Rafael adalah karyawan perusahaan itu.


Veni memutuskan memilih jalan pintas untuk menyelesaikan masalahnya dengan Rafael, dia akan bersikap manis kepada laki-laki itu dan mengajaknya berdamai.


Dia akan mengorbankan gengsinya agar sim dan ktpnya kembali, tapi itu hanya untuk sementara, sampai tujuannya tercapai.


Dan benar saja, Veni melihat Rafael yang berjalan keluar meninggalkan gedung bertingkat 8 itu.


Venipun segera menghampirinya.


"hai, makasih ya udah bantuin gue tadi." ucap Veni sambil tersenyum kearah Rafael.


Rafael melihat Veni yang tersenyum dengan tatapan aneh.


'kenapa dia bersikap manis seperti ini?' pikir Rafael.


Rafael tersenyum sinis memikirkan hal itu.


"emm, sebagai ucapan terimakasih gue, gimana kalau gue teraktir loe makan?" tawar Veni.


Rafael tertawa mendengar perkataan Veni.

__ADS_1


"loe aja nggak punya duit gimana mau teraktir gue makan? Hahaha :D" Rafael tertawa dengan begitu renyahnya.


'eemh, ini orang bener-bener ngeselin, kalau aja sim sama ktp gue udah balik. Gue pengen cakar-cakar tuh mukanya!' gumam Veni dalam hatinya sambil memperhatikan Rafael dengan tajam.


Rafael menoleh kearah Veni, Veni langsung memasang senyumnya, senyum yang dipaksakan.


"loe pikir gue sekere itu? Gue bakalan ganti kok uang loe nanti, sekarang gue pengen aja teraktir loe." ucap Veni.


"udah, nggak perlu. Gue ikhlas bantu loe." jawab Rafael, dia langsung pergi meninggalkan Veni.


Veni tertunduk lesu mendapat penolakan dari Rafael, ternyata usahanya sia-sia, dia sudah mengorbankan gengsinya, tapi apa hasilnya?


Rafael kembali menoleh kebelakang, dia melihat Veni yang menunduk, itu seperti bukan Veni yang dia ketahui, biasanya dia akan terus berusaha untuk apa yang dia inginkan.


Tapi kenapa sekarang dia bersikap menyedihkan seperti ini? Apa perempuan itu sudah berubah? Tapi, apa berubah secepat itu?


Rafael sedikit tidak tega melihat Veni yang seperti itu, diapun kembali menghampiri Veni.


"ayo!" seru Rafael. Veni yang menunduk langsung menoleh kearah sumber suara.


Dia melihat Rafael dihadapannya, Veni sedikit bingung.


"kemana?" tanya Veni.


"tadi katanya mau teraktir gue makan?" Rafael balik bertanya.


"loe serius?" Veni malah bertanya lagi.


"ya." jawab Rafael.


***


Matahari mulai beranjak menuju ufuk barat, sang surya itu sudah bersiap untuk beristrirahat sejenak sebelum akhirnya esok pagi kembali bersinar, cahaya bulanpun mulai menggantikan sinar matahari, walaupun tak seterang raja siang itu.


Veni dan Rafael berjalan menyusuri setiap sudut jalanan kota Bandung, walaupun hari sudah hampir gelap, tapi suasana jalanan masih terlihat ramai.


"kita cari tempat yang murah." jawab Veni.


"nah, disitu." ucap Veni sambil menunjuk sebuah kedai makanan sederhana.


"hah? Loe yakin?" tanya Rafael sedikit ragu, Veni mengangguk penuh keyakinan.


'biarin aja deh, orang dia sendiri yang makan, biar irit juga. Gue sih ogah.' ucap Veni dalam hati.


"udahlah, nggak usah. Gue nggak lapar ini." balas Rafael, dia merasa malas jika harus makan ditempat itu, diapun mencari alasan agar tidak makan disana.


"lho, kenapa?" tanya Veni.


"gue masih mampu makan ditempat mahal, dan loe mau teraktir gue ditempat itu? Mendingan nggak usah." jawab Rafael dengan sombongnya.


Veni merasa kesal dengan perkataan Rafael, sombong sekali laki-laki itu, pikir Veni.


Veni terdiam, dia berpikir untuk secepatnya membujuk Rafael mengembalikan sim dan ktpnya.


"temenin gue, yuk!" seru Rafael sambil menarik tangan Veni.


"kemana?" tanya Veni sedikit kaget karena tiba-tiba Rafael menarik tangannya.


"kealun-alun." jawab Rafael cepat.


***


Veni dan Rafael duduk tepat diatas rumput sintesis yang berada ditengah alun-alun kota Bandung itu, Veni terlihat senang ketika berada disana, pasalnya suasana malam ditengah kota ini terasa berbeda.


Jika disiang hari tempat itu akan terasa panas, namun ketika malam seperti ini terasa hangat dengan lampu-lampu yang menyala disetiap sudut jalanan, terlihat sangat indah.

__ADS_1


"kenapa loe senyum-senyum gitu?" tanya Rafael.


"ya gue nggak nyangka aja, tempat ini terasa indah kalau malam hari." jawab Veni, senyuman masih mengembang dibibir mungilnya itu.


"loe tau nggak, tempat ini tempat favorit gue. Gue sering kesini waktu malam, kalau siang pasti banyak anak-anak yang main disini." ucap Rafael.


"ya, kalau gue tau suasana malam ditempat ini begitu tenang. Mungkin dari dulu gue bakalan kesini bukan disiang hari." ucap Veni.


Rafael membuka tas punggung yang sedari tadi dia ken, lalu dia mulai merebahkan tubuhnya diatas rumput sintetis itu, Veni melihat apa yang Rafael lakukan.


"loe tau nggak, setelah seharian kita cape kerja. Hal seperti ini akan sedikit mengurangi rasa lelah kita?" tanya Rafael.


Venipun melakukan hal yang sama dengan Rafael, berbaring tepat disamping Rafael, mereka menatap bintang yang sama diatas langit sana.


"loe bener, tiba-tiba aja rasa lelah gue hilang." ucap Veni, Rafael menoleh kesampingnya, kearah Veni, Venipun melakukan hal yang sama sehingga kedua pasang mata itu dipertemukan.


Seketika senyuman mengembang dibibir keduanya, mereka saling melempar senyum.


***


Billa sedang melipat pakaian yang tadi siang dicucinya, kemudian dia mulai berjalan mendekati lemari untuk menyimpan lipatan pakaian itu kedalamnya.


Saat Billa menutup kembali pintu lemari itu, dia sangat kaget mendapati Bisma yang sudah berdiri tepat dihadapannya.


"kamu, ngagetin aku aja." ucap Billa, Bisma tidak menjawabnya, malah menatap Billa dengan tatapan yang sulit diartikan.


Billa merasa ada sedikit yang aneh dengan perilaku Bisma.


"kamu kenapa sih?" tanya Billa.


Bisma selangkah maju mendekati Billa, Billa semakin bingung dibuatnya, Billa melangkah mundur kebelakang, Bisma kembali melangkahkan kakinya selangkah demi selangkah, akhirnya langkah Billa terhenti, punggungnya sudah menyentuh tembok, sedangkah Bisma, dia sudah berada tepat dihadapan Billa, tubuh Billa terhimpit antara Bisma dan tembok itu.


Deg!


Tiba-tiba saja jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya, dia menatap Bisma tanpa berkedip.


"Bisma, kamu mau apa?" tanya Billa sedikit gemetar.


Bisma mulai menyibak rambut Billa yang menutupi pipinya, tanpa berkata apapun, dia langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Billa, Billa memejamkan matanya saat Bisma mulai ******* bibirnya.


Astaga!


Detak jantung Billa semakin tak beraturan, dia sangat kaget dengan apa yang Bisma lakukan, apalagi saat tangan Bisma mulai merayap kemana-mana, tapi Billa sama sekali tidak menolak semua yang Bisma lakukan terhadapnya, dia seolah menikmati hal itu, Billa hanya membiarkan Bisma melakukan apa yang dia inginkan, memenuhi hasrat yang selama ini Bisma simpan sendiri.


***


Veni sedikit bingung untuk memulai perkataannya dari mana, tidak ada kesempatan sebaik saat ini untuk meminta sim dan ktpnya kembali.


"emm, gue..." ucap Veni yang langsung terpotong Rafael.


"gue ketoilet dulu, ya sebentar!" ucap Rafael lalu beranjak dari duduknya.


"ya." balas Veni.


Veni menghembuskan nafasnya asal, usahanya gagal lagi.


Tapi seketika senyum Veni mengembang ketika melihat tas Rafael yang tergeletak disampingnya, dia berpikir jika ktp dan sim miliknya ada didalam sana.


Tanpa berpikir lagi, Veni langsung membongkar isi tas Rafael itu, terlihat banyak sekali berkas didalamnya, Veni terus mengobrak-abrik isi tas itu.


Cukup lama Veni merogoh tas punggung berwarna hitam itu, akhirnya dia menemukan sebuah dompet, diapun mengeluarkannya lalu membuka dompet itu.


"tuh, kan ada." ucap Veni sambil tersenyum penuh kemenangan saat menemukan apa yang dia cari.


"kenapa nggak dari tadi sih? Hahaha :D" gumam Veni yang diiringi tawanya. Diapun segera mengambil surat berharganya itu.

__ADS_1


Rafael yang baru kembali mengerutkan keningnya mendapati Veni yang sedang tertawa sendiri.


"loe lagi ngapain?" tanya Rafael.


__ADS_2