
Tanpa sadar Bisma menitihkan air matanya mendengar perkataan Billa. Dia tak kuasa menahan beban dihatinya. Dia sangat menyesal dengan apa yang telah dia lakukan.
Billa sangat tergungcang saat ini, dia memukuli Bisma dengan sekuat tenaganya karena Bisma tak juga melepaskan dirinya, dia sangat marah terhadap laki-laki itu.
Bisma membiarkan Billa melakukan itu, walaupun dia merasa sedikit kesakitan.
Tapi sakitnya dia tak seberapa dibandingkan sakit hatinya perempuan itu, biar bebannya sedikit berkurang dengan memukuli Bisma seperti itu.
"Aku minta maaf Bill, tapi ini demi kebaikan kita." Ucap Bisma.
"Lepasin aku! Aku benci sama kamu. Kamu orang jahat!" Sentak Billa kasar, dia terus meronta-ronta tak karuan.
Bisma semakin mempererat pelukannya.
"Aku mohon kamu jangan kaya gini. Aku janji nggak akan buat kamu sedih lagi. Ini terakhir kalinya aku sakiti kamu." Ucap Bisma tepat ditelinga Billa.
Bisma sangat merasakan kepedihan yang dirasakan Billa, dari sekian orang yang menyakiti perempuan itu dia merasa dialah orang yang paling jahat.
"Lepasin aku." Seru Billa.
Bisma sangat tak kuasa melihat Billa yang histeris dalam pelukannya.
Sedetik kemudian dia melepaksan pelukannya. Dia menyusut matanya yang sedikit basah asal.
"Pergi kamu dari sini. Aku nggak mau liat kamu lagi!" Seru Billa yang terus menangis.
Bisma tak bergeming, dia berdiri dari duduknya.
"Pergi!" Serunya sekali lagi.
"Aku bilang pergi. Kamu ngerti nggak sih?" Teriak Billa tak karuan karena Bisma masih saja berdiri dihadapannya.
Billa melempar bantal kearah Bisma, dia benar-benar muak melihat wajah Bisma.
"Aku bilang pergi-pergi!" Dia terus berteriak tak karuan.
Namun Bisma tak kunjung pergi dia sangat tak kuasa untuk meninggalkan Billa dalam keadaan seperti ini, dia ingin terus berada disamping perempuan itu.
Billa sudah mulai geram dengan Bisma, dia membanting apa saja yang ada disekitarnya. Gelas, vas bunga, bingkai foto. Semua melayang dan seketika pecahan kaca berserakan dilantai.
Bisma merasa sangat kaget, dia tak menyangka dengan kemarahan Billa yang seperti itu.
"Pergi!" Teriaknya lagi.
Dia benar-benar sudah seperti orang yang kehilangan akal.
"Aku nggak mau Bill, aku mau temenin kamu disini. Aku mohon izinin aku." Ucap Bisma.
Billa merasa kepalanya sangat pusing, berhadapan dengan Bisma membuatnya menjadi sakit.
Laki-laki itu sama sekali tak menuruti perkataannya untuk pergi.
Billa sangat muak.
Perutnya seketika terasa mual, dia merasa ingin muntah.
Billapun segera berlari menuju kamar mandi karena sudah tidak tahan.
"Bill!" Seru Bisma saat Billa berlalu.
Bisma merasa sangat khawatir dengan keadaan Billa, dia terlihat panik sendiri.
Diapun dengan cepat menyusul Billa.
"Huek, huek!"
Terdengar suara dari dalam kamar mandi sana.
Billa merasa sangat lemas, sungguh perasaan seperti ini baru pertama kalinya dia rasakan.
Kakinya terasa bergetar, seperti sudah tak sanggup untuk menahan beban tubuhnya.
Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya, dadanya terasa sesak.
"Bill, kamu kenapa? Kamu baik-baik aja, kan?" Seru Bisma.
Bisma terlihat mengetuk-ngetuk pintu kamar mandi.
Seketika Billa tersadar, dia segera keluar, dia berfikir jika dia harus membereskan semua masalah yang sedang dia hadapi, seperti apa yang dikatakan Rafael.
__ADS_1
"Bill, kamu sakit? Kita periksa ya kedokter." Ucap Bisma setelah Billa berada dihadapannya.
Billa menarik nafasnya panjang-panjang sebelum dia berucap.
***
Dicky terlihat kembali kerumah Billa, dia merasa jika dompetnya tertinggal disana.
Dia melihat pintu rumahnya yang terbuka, namun rumah itu terlihat sepi.
"Assalamualaikum." Ucap Dicky.
Namun tak kunjung ada yang menjawab.
Dickypun memutuskan untuk masuk saja, dia juga berfikir untuk menemui Billa terlebih dahulu, siapa tau perempuan itu sudah baikan dan mau bicara kepadanya.
***
"Kalau kamu mau, bawa aku ketempat aborsi!" Ucap Billa kemudian.
Seketika mata Bisma membulat mendengar perkataan Billa.
Dia merasa sangat kaget.
"Kamu h***l, Bill?" Tanya Bisma.
"Ya, aku mau gugurin bayi ini, aku nggak mau dia sampai lahir." Jawab Billa.
Bisma benar-benar tercengang dengan permintaan Billa, mana mungkin Bisma akan mengabulkan keinginan konyolnya itu.
Yang dia harapkan adalah bahagia bersama dengan perempuan itu, bukan menyakitinya berkali-kali.
Bisma mulai meraih tangan Billa.
"Nggak Bill, aku mohon jangan lakuin itu. Itu cuma akan menambah masalah buat kita." Ucap Bisma dengan wajah melasnya.
Billa membuang muka, dia sama sekali tak ingin melihat wajah Bisma.
Dia takut jika nantinya dia akan merasa kasihan kepada laki-laki itu.
"Aku mau nikahin kamu, aku akan tanggung jawab. Kita besarin bayi ini sama-sama, ya!" Ucap Bisma.
"Aku janji, aku bakalan berubah demi kamu, demi anak kita." Ucap Bisma.
Tanpa diduga, ternyata sedari tadi Dicky mendengar apa yang mereka bicarakan.
Dia benar-benar tak menyangka jika kekasihnya itu sudah menghianati dirinya.
Dicky merasa sangat sakit hati.
Diapun segera menimbrung percakapan mereka.
"Jadi ini alasan kamu selalu meghindar dari aku?" Ucap Dicky kemudian.
Sontak Bisma dan Billa menoleh kearahnya.
"Ky, kamu?" Ucap Billa yang terlihat panik.
"Bagus banget Bill, kalian memang hebat! Belum nikah tapi udah bisa punya anak." Ucap Dicky sambil tersenyum sinis.
Bisma melihatnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
Billa mulai mendekati Dicky, dia merasa sesuatu yang buruk akan terjadi jika Dicky marah.
"Ky, dengerin aku dulu." Ucap Billa, dia mulai meraih tangan Dicky.
Namun belum sempat Billa menjelaskan, Dicky sudah menepis tangan Billa dengan kasar sehingga membuat perempuan itu sedikit kaget.
"Gue nggak butuh penjelasan dari loe." Sentak Dicky kasar.
"Loe jangan kasar sama dia!" Seru Bisma yang mencoba menghalangi Billa dari Dicky.
Billa tak tinggal diam, dia bertekuk lutut dihadapan Dicky, berharap laki-laki itu mau menerimanya kembali.
"Ky, aku mohon maafin aku! Kamu mau kan terima aku lagi, aku mohon!" Ucap Billa.
Dicky acuh terhadap Billa yang memegangi kakinya, dia merasa sangat muak.
Bisma benar-benar tecengang, kenapa perempuan itu sampai bertekuk lutut dihadapan Dicky.
__ADS_1
Dia segera menyamai posisi Billa dan memegang bahunya.
"Buat apa kamu ngemis-ngemis sama dia? Kamu nggak perlu lakuin ini. Dia nggak pantes diperlakukan kaya gini." Ucap Bisma.
Billa langsung menepis tangan Bisma, dia menatap Bisma dengan tatapan tajam.
"Diam kamu Bisma, semua gara-gara kamu!" Ucap Billa dengan nada tinggi.
"Iya aku tau, tapi kamu jangan kaya gini. Ayo bangun!" Seru Bisma yang mencoba membantu Billa untuk berdiri.
"Aku bilang diam, diam! Ini urusan aku!" Ucap Billa kasar sambil menepis tangan Bisma.
Bisma benar-benar kaget dibuatnya, dia tidak bisa membuat perempuan itu mengerti.
"Tapi Bill, kamu jangan gini!" Seru Bisma. Billa tidak menggubris perkataan Bisma.
"Kamu maukan Ky terima aku lagi?" Tanya Billa.
Dicky tersenyum kecut mendengar pertanyaan Billa, mana mungkin dia sudi menerima kembali perempuan yang sudah jelas-jelas bekas orang lain.
"Aku nggak nyangka kalau kamu hianatin aku, kamu main gila sama laki-laki lain dibelakang aku. Ternyata yang Tante Vera bilang selama ini bener, ya! Kalau kamu itu murahan, sama seperti ibu kamu!" Ucap Dicky dengan nada tinggi.
Billa sangat tercengang mendengar kemarahan Dicky.
Atas dapar apa dia berani menilai Billa seperti itu. Sedangkan dia tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi kepada dirinya.
"Ky kamu kok bicara seperti itu?" Ucap Billa dengan pelan.
Matanya terlihat berkaca-kaca setelah mendapat hinaan seperti itu.
Bisma yang melihat itu tak hanya tinggal diam, dia harus membela perempuan itu.
"Loe nggak bisa hina-hina dia, gue yang salah disini. Kalau loe mau salahin gue!" Balas Bisma.
"Kalian berdua itu sama aja, sama-sama g****." Ucap Dicky dengan kemarahannya.
Billa sangat tak sanggup untuk mendengar hinaan yang keluar dari mulut kekasihnya itu.
Bisma tak bisa menjawab perkataan Dicky, mulutnya seolah terbungkam.
Tiba-tiba Dicky mendekat kearah Billa, dia mulai merain tangan perempuan itu dengan tatapan aneh.
Billa merasa bingung dengan perlakuan Dicky.
Tadi dia terlihat sangat marah, tapi sekarang dia tersenyum kearahnya.
"Oh ya, kalau kamu aja mau t***r sama dia, berarti kamu juga mau kan t***r sama aku? Setelah itu kamu bebas mau nikah sama dia. Karena aku udah nikmatin t***h kamu sama seperti dia." Ucap Dicky sambil tersenyum licik.
Dia mulai menyentuh wajah Billa.
Deg!
Billa benar-benar tercengang dengan perkataan Dicky, apa laki-laki itu fikir jika Billa serendah itu?
Dia sedikit menghindar dari Dicky, dia terlihat sangat ketakutan.
Bisma membulatkan matanya mendengar perkataan Dicky, dia segera menepis tangan Dicky dari Billa dengan kasar.
"Loe jangan berani-beraninya sentuh dia?" Ucap Bisma dengan nada tinggi.
Bisma mendorong Dicky hingga tubuhnya hampir tersungkur.
"Kenapa? Loe aja berani sentuh dia, kenapa gue nggak boleh? Jadi impas kan?" Tanya Dicky dengan nada yang tak kalah tinggi.
"Ayo sayang!" Seru Dicky.
Dicky kembali meraih tangan Billa.
"Ky! Kamu udah gila!" Balas Billa sambil menepis Dicky.
"Kamu yang udah main gila sama dia sayang." Ucap Dicky.
Dia seperti orang tak waras, tertawa kemudian marah.
Bisma tak hanya tinggal diam, dia melayangkan kepalan tangannya pada wajah Dicky hingga berkali-kali.
"Loe berani sentuh dia gue habisin loe!" Seru Bisma.
Dicky jatuh tersungkur, sedetik kemudian dia beranjak dan membalas pukulan Bisma.
__ADS_1
"Udah! Berhenti!" Seru Billa.